Motivasi Perbaikan Dalam Pergaulan Pemuda

Source

Assalamu’alakum Wr. Wb.

Ust. Dalil yang melarang aktivitas pacaran itu seperti apa? Kalau  motivasi ingin memperbaiki kepribadian dengan melakukan pacaran, misal saling mengingatkan untuk kebaikan seperti apa?

Muarif Khoerus Siddiq

Jawaban

Ananda Muarif yang dirahmati Allah SWT, pacaran memang bukan aktifitas yang pernah dibahas pada masa Nabi. Hanya ada satu kisah terkait dengan seorang pemuda yang minta izin ingin berzina. Lantas Nabi Muhammad saw mengajaknya dialog, sehingga pemuda tadi mengurungkan niatnya. Dalil yang menjadi alasan dilarangnya pacaran dalam Islam adalah Al Qur’an Surah Al Isro’ ayat 32 : “Dan janganlah kamu mendekati zina, itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk”.
Bandingkan ayat ini dengan hukum Taurat dalam 10 perintah Tuhan (The Ten Commandiment), yang salah satunya “Dilarang berzina”. Bagi agama kita, mendekati zina atau segala sesuatu aktifitas terkait dengan zina (baca : pacaran) hukumnya haram. Barangsiapa yang melakukannya, maka ia berdosa. Sedangkan dalam agama non Islam yang dilarang hanya kalau berzina. Mengapa Islam mengaturnya demikian? Batas antara pacaran dan zina itu sangat tipis, apalagi banyak sekali rangsangan yang terjadi lewat paparan iklan, film, lagu, novel dan pergaulan masa kini. Banyak yang tergoda, sehingga banyak yang tergelincir, akhirnya melakukan perzinaan.
Bahkan Nabi Muhammad saw pernah bersabda bahwa zina itu banyak cabangnya, dari zina mata, zina tangan, zina hati, dan pada akhirnya zina kemaluan. Jadi sebelum masuk pada pokoknya (yakni zina kemaluan), kita dilarang masuk dalam cabangnya seperti bicara mendayu-dayu, merayu, berduaan, berpegangan, berpelukan, berciuman, dan seterusnya. Intinya, hati kita perlu dijaga dari bisikan ingin berzina.
Bila kita ingin saling mengingatkan dalam kebaikan, maka pilihannya bukan berpacaran, tapi pertemanan biasa yang yang aman dari ujian atau godaan lawan jenis. Yakinlah bahwa seseorang akan lebih baik dinasihati secara pribadi oleh sesama jenisnya daripada dengan lawan jenisnya. Sebab sesama jenis fitrahnya lebih mengetahui kepribadian sesama jenis daripada lawan jenisnya. Rasa kasihan dari lawan jenis untuk menasehati kita biasanya akan menimbulkan rasa sayang dan cinta. Dan hal itu tidak baik bagi mereka yang belum menjadi suami isteri. Banyak cara bagi kita untuk menasihati orang lain, tidak perlu dengan menjalin ikatan cinta (pacaran) yang belum sah oleh akad nikah, yang ujung-ujungnya hanya membawa kita kepada dosa dan kesengsaraan.
Semoga jawaban ini cukup bermanfaat buat Ananda.
Salam,

(Satria Hadi Lubis)
Mentor Manajemen Kehidupan

22 Comments (+add yours?)

  1. rian setyo
    Dec 02, 2009 @ 16:16:45

    Kereeeeeeeeeeeeeeeennnn….

    Kunjungi bLog aku doonk……”

    Reply

  2. Sugeng Kurniawan
    Jan 07, 2010 @ 02:27:49

    artikel bagus 🙂

    ijin nyimak dulu …

    Reply

  3. L Phy'
    Jan 08, 2010 @ 23:51:41

    thanks,atas pncrhnnya.

    Reply

  4. sinta
    Jan 13, 2010 @ 14:34:10

    baik pisaaan…soalnya dapat memotivasi kaum muda mudi..mudah-mudahan pada menyadari..

    Reply

  5. saschya
    Feb 10, 2010 @ 08:42:22

    ingatlah wahai orang2 yang beriman. . .

    sadar tuch. . . .

    Reply

  6. Anak kecil
    Feb 14, 2010 @ 18:57:27

    Saya pria yg masih kls 3 sma..Bentar lg lulus..

    Jujur..Saat ini saya memiliki seorang pacar, dan sudah cukup lama dia menjadi pacar saya..Dia begitu membantu saya..Bahkan prestasi saya terus meningkat, yg asalnya bodoh sekarang bisa jd yg terbaik..Terbukti dari grafik rank yg meningkat drastis, teman2 bahkan banyak yg tak percaya..Dan asal anda tw, saya jd memiliki motivasi seolah bisa menggapai apapun, saya merasa kuat..

    Aku mendapatkan terang saat hidupku gelap..Itulah pendapatku tentang pacaran, orang yg pacaran tidak harus negatif..Walau memang banyak yg seperti itu, tapi apakah aku tak bisa menjadi berlian di tengah lumpur..? Aku bisa..

    Berkat dia..Sekarang saya shalat(asalnya tidak), mencoba belajar agama, bagaimana nantinya bisa menjadi imam yg baik buat dia..

    Saya saat ini sudah lulus masuk ke salah satu universitas terbaik di bandung..Tinggal menunggu kelulusan dari sekolah..

    Bahkan saya udah silaturahmi ke seluruh keluarganya( dari ayahnya, ibunya, kaka, adik, nenek..Semua pokonya)

    kami sudah berkomitmen serius, dan tidak main2..

    Sepertinya ga mungkin meninggalkan dia begitu saja..Apakah anda punya pendapat untuk saya?

    admin:
    Pendapat saya terhadap point2 ini :

    1. “Saat ini saya memiliki seorang pacar, dan sudah cukup lama dia menjadi pacar saya..dst..Dan asal anda tw, saya jd memiliki motivasi seolah bisa menggapai apapun, saya merasa kuat..”. Didalam Islam, boleh tidaknya sebuah perbuatan(dalam hal ini pacaran) tidak diukur dari akibat lahiriahnya saja(misalnya kita menjadi termotivasi belajar, menjadi lebih dewasa, dsbnya yang notabene adalah “motivasi” semu) tetapi mulai dari niat dan prosesnya haruslah tidak bertentangan dengan aturan Allah SWT dan RasulNya. Bagaimana dengan pacaran? tentunya lazim kita ketahui bahwa pacaran hanya terjadi bagi dua jenis manusia yang belum menikah dan menyatakan kerelaan masing2nya untuk menjadi pacar, dengan konsekuensi bahwa mereka tidak mungkin menjadi pacar orang lain, akan berbagi romantisme dengan beragam tingkatannya dsbnya. Artinya dari point awalnya saja, hal ini sudah jelas bertentangan dengan aturan Islam. Karena Islam tidak mengenal “kehalalan” sebuah hubungan romantisme dua jenis manusia sebelum adanya ikatan pernikahan🙂. Untuk apa? untuk menjaga izzah/ harga diri manusia itu secara umum, dan harga diri sebagai seorang muslim yang menjaga kesucian dirinya dari perkara-perkara yang dapat mengarahkan mereka kepada perbuatan zina.

    2. Dikatakan “..Dia begitu membantu saya..Bahkan prestasi saya terus meningkat, yg asalnya bodoh sekarang bisa jd yg terbaik..Aku mendapatkan terang saat hidupku gelap..Itulah pendapatku tentang pacaran, orang yg pacaran tidak harus negatif..Walau memang banyak yg seperti itu, tapi apakah aku tak bisa menjadi berlian di tengah lumpur..? Aku bisa..” dsbnya.
    Kalau seperti ini keadaan adik🙂, saya balik bertanya ? kenapa sebelum berpacaran adik adalah orang yang “bodoh”(meminjam istilah adik)? kenapa adik malas belajar? kenapa hidup adik terasa gelap? kenapa..dan kenapa lainnya?
    karena sesungguhnya siapa yang telah melahirkan adik? Siapa yang pertama-tama dan hingga saat ini merawat dan mendidik adik dengan keringat dan air mata? siapa yang telah membiayai makan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan fasilitas adik lainnya? dll..bukankah jawabannya adalah orang tua adik sendiri? tidakkah adik jauh harus lebih bertanggungjawab kepada orang tua adik dahulu sebelum kepada pacar yang notabene adalah orang lain? begitu banyak nikmat yang kita dapatkan melalui orang tua, kemudian kita sia-siakan begitu saja, tanpa ada usaha untuk memperbaiki diri. Lantas setelah ada pacar, seolah-olah karena pacar-lah adik berubah menjadi pribadi yang lebih “baik”. Padahal, orang tua jauh lebih berhak untuk dijadikan motivasi agar kemudian adik berubah menjadi lebih baik, bahkan dibalik itu semua sesungguhnya nikmat yang adik rasakan adalah sejatinya karunia dari Allah SWT, dan lagi2 Allah SWT jauh lebih berhak untuk dijadikan motivasi bagi perbaikan diri.

    Persoalan sesungguhnya bukan pada “meninggalkan si dia”, tetapi lebih kepada mengembalikan pemahaman kita kepada aturan-aturan Islam, karena hanya dengan itu, kita semua memperoleh keselamatan. Wallahu’alam, wassalamu’a’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

    Reply

  7. nainawati zakiyah
    Feb 23, 2010 @ 16:27:28

    Assalamualiakum…
    Artikelnya sangat menarik buat sobat muda….

    Reply

  8. indahkasihku
    Mar 15, 2010 @ 09:44:30

    Salam hormat dari Indah.

    Pergaualan antara lelaki dan wanita telah dibataskan dengan indah dan sempurnanya dalam ajaran Islam. Atas tujuan mencari ilmu dan menambah pengetahuan di samping melakukan perbincangan yang menjurus kepada kebaikan adalah diharuskan asal sahaja menjaga tatasusila yang disyariatkan. Mudahan dengan cara demikian tidak berlaku salah tingkah yang akhirnya merosak kesantunan asal kebaikan tersebut. Wallahu’alaam.

    Reply

  9. iga handayani
    Mar 26, 2010 @ 14:39:52

    duh pcaran tuh gm yah yg bner jd bingung w…. hahaha

    admin :
    ga usah bingung.. ga ada pacaran yang bener kecuali setelah menikah hehehe..
    jadi jangan pacaran biar ga bingung.. jodoh pasti kok, tinggal mempelajari bagaimana Islam memberikan batasan2 dalam menjemput jodoh itu, yang pasti tidak dengan berpacaran.. hehehe

    Reply

  10. Biftahul
    Apr 10, 2010 @ 20:19:43

    Pak Ustad yang saya hormati…. Pak Gi mana cara ya kalau pacaran itu untuk status semata bukan karna didasari Cinta AtauSilaturahmi. Meliankan Untuk Diri Kita sendiri……

    admin :
    Bifta yang dirahmati Allah SWT..
    Islam tidak mengenal “pengikatan” hubungan romantisme yang halal diantara 2 lawan jenis kecuali melalui PERNIKAHAN. Artinya segala bentuk hubungan antara 2 insan lawan jenis yang diperuntukkan berbagi “romantisme” (ada yang menyebutnya Pacaran, “HTS-an”, Cem2an, dll), meski “berkedok” fase untuk mempersiapkan pernikahan adalah Haram. Karena sebagaimana larangan Allah SWT dalam surat Al Isra ayat 32, yang artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” memberikan pemahaman kepada kita bahwa mendekati zina saja dilarang, apalagi sampai melakukannya.

    Apa saja perbuatan yang dikategorikan mendekati zina itu? Jawabannya ada pada keterangan Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925). Dari hadits ini setidaknya kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa tidak ada seorang manusiapun yang terbebas dari perkara mendekati zina (baca: zina kecil) ini, paling tidak zina mata dengan memandang(melalui acara2 ditelevisi..pemandangan dibus..jalan..dsbnya) dan zina hati dengan membayangkan. Dengan kata lain, pacaran justru hanya semakin membuka peluang pelakunya untuk melakukan zina-zina kecil tadi, dan menjadikan jarak untuk terjadinya zina besar(zina kemaluan) itu pun semakin dekat, na’udzubillah.

    So..tidak ada pacaran yang baik..apalagi dikatakan “islami”. Pacarannya itu sendiri mengandung makna yang tidak islami..bagaimana mungkin ada pacaran yang islami atau baik🙂. Allahu’alam

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  11. niyna fryan
    May 15, 2010 @ 16:25:24

    hm…artikeknya bgus bwt motivasi anak muda.q ska..

    Reply

  12. sandra
    Jul 07, 2010 @ 15:50:37

    kreeeeeen bgt,
    tp gmna y??????
    q msih kcil sh uat pcran,q ru az msux SMA,ru klaz x
    tp gmna y??????
    q jg tkut jg,scra q cwex
    tp cwoq tu udh knal ma ortuq
    dy jg udh bilg ma q lo dy mo sriuz ma q n dy gag bkal mcam2 ma q
    stlah q bc artikel tu,q sdar
    pcran tu yg byza2 az,gag leh mcem2
    thank uat pnulizny

    admin :
    pertama..mmm.. membaca tulisan diatas jadi agak menerka-nerka maksudnya .. yo wis lah.. satu kata aja deh.. kreatif😀.

    kedua.. jika disimpulkan jadinya ‘pacaran yang biasa2 aja’.. justru saya jadi pengen nanya.. ‘biasanya yang seperti apa?’.. karena pacaran itu sendiri udah ga ‘biasa’.

    Katakanlah kalo cuma ga pegangan tangan, ga berdua2an, ga ‘kiss2’an dsbnya.. tapi jangan salah lho.. ada hati.. ada khayalan, dan hal ini tergolong zina hati.. dan berbicara perkara hati.. ga ada lagi yang bisa ‘memantau’ kecuali dirinya sendiri dan perasaan bahwa Allah SWT Maha Tahu..Maha Melihat.

    So.. ga ada deh pacaran yang biasa2 aja😀.. karena pacaran dilevel terendah sekalipun pasti ‘luar biasa'(baca: ada zina hati)😀, jadi lebih baik fokus terhadap tujuan hidup saat ini yang kalau adek masih jadi pelajar, masih jadi anak..:).. maka amanat belajar dengan baik dan menjadi anak sholehah, yang sejuk jika dipandang mata haruslah menjadi prioritas saat ini. Urusan jodoh ga bakal kemana..yakin deh.. sehebat apapun dua orang lain jenis ‘mempertahankan’ sebuah hubungan..kalo ga jodoh, pasti ga jadi, karena intinya bukan di’saya cinta kamu’ tetapi bagaimana semua proses hidup itu sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan RasulNya, insyaAllah.

    Reply

  13. jast
    Aug 07, 2010 @ 22:33:48

    jadi tanggapan ustad mengenai kawin kontrak yang marak di indonesia.bukankah itu lebih tidak baik dari yang namanya pacaran????

    admin :

    wew.. ada hubungannya dengan tulisan diatas?😀. Jika yang dimaksud “kawin kontrak” yang terjadi di sebagian wilayah puncak Jabar, maka saya memilih pendapat para ulama yang mengatakan bahwa hal tersebut adalah perzinahan terselubung, Allahu’alam.

    Reply

  14. kneazle
    Aug 25, 2010 @ 08:45:21

    pada zaman sekarang sangat jarang sekali bila perempuan tidak berbaur dgn lakilaki ..
    tp saya ingin bertanya : Saya sejak lama berteman dengan teman lakilaki saya mungkin sudah hampir 5 th, kami sering curhat dengan masalah masingmasing, pokoknya seperti sudah saya anggap saudara saya sendiri. Bagaimana hukumnya haram atau tidak ??

    admin :

    Islam tidak melarang pertemanan, bahkan mendorong agar memperbanyak teman. Islam juga tidak melarang wanita berteman dengan laki-laki, begitu juga sebaliknya. Tetapi Islam memiliki aturan yang cukup “ketat”(baca: penting..mendasar..tidak boleh tidak..wajib..dsbnya🙂 ) ketika berbicara interaksi wanita dengan laki-laki. Bagi laki-laki simaklah firman Allah SWT berikut : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS An nur : 30), dan bagi yang wanita simaklah firman Allah SWT yang ini “Katakanlah kepada wanita yang beriman :”Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka meukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”(QS An nur: 31)

    Ketika aturan-aturan Islam itu kita “langgar”(mungkin dikarenakan belum sampainya ilmu), karena mungkin dalam anggapan kita, teman laki-laki itu sudah kita anggap sebagai saudara, sehingga kita merasa ‘bolehlah’ untuk tidak secara ketat memperhatikan pakaian yang menutup aurat kita, maka bukan tidak mungkin, bagian-bagian dari tubuh kita yang sejatinya aurat -bagi wanita, bagian yang tidak wajib ditutupi adalah muka dan telapak tangan- akan sering terlihat oleh teman laki-laki kita itu. Sedangkan bagi laki-laki, Allah SWT jadikan fitrah pandangannya senang kepada aurat wanita(meski itu hanya sekedar melihat tangan/ betis/ apalagi yang lebih jauh daripada itu), karena itulah Allah SWT mengingatkan laki-laki beriman agar menahan pandangannya(tidak melanjutkan pandangan ketika melihat aurat), dan Allah SWT ingatkan kepada wanita untuk menjaga pakaiannya(menutup aurat secara sempurna) agar dirinya tidak menjadi fitnah(baca: ujian) bagi laki-laki.

    Begitu juga dengan curhat dengan lawan jenis, sejatinya Islam tidak melarang curhat dengan lawan jenis. Banyak kolom/ruang/acara konsultasi agama yang entah diisi oleh seorang ustadz mendapatkan curhatan dari seorang wanita, atau seorang ustadzah mendapatkan curhatan dari seorang laki-laki, selama dalam batas-batas yang dibenarkan oleh agama maka hal itu bukanlah sesuatu yang terlarang.

    Tetapi ketika curhatan itu masuk ke dalam ruang yang lebih private(bukan hanya pada persoalan merahasiakan nama si pencurhat atau isi curhatan), misalnya dengan membumbuinya dengan rayuan, candaan yang dapat membuat lawan bicara (maaf) terangsang, memprovokasi orang untuk berbuat tidak baik, dsbnya, maka curhatan jenis ini sudah termasuk curhatan terlarang/ atau curhatan yang dihukumi sebagai perbuatan yang haram.

    So, kenali lagi macam2 bentuk curhatan kamu selama ini, apakah masih dalam batas2 yang dibenarkan oleh agama, atau justru telah banyak menyimpang dan menyebabkan kesalahpahaman diantara kalian? Jika iya, maka menjaga jarak, dan hanya saling kontak untuk sebuah keperluan yang mendesak, akan menjadikan hubungan pertemanan kalian lebih aman, nyaman, dan insyaAllah berpahala. Intinya, jadikanlah setiap bentuk interaksi kita (apakah dengan sesama wanita atau dengan laki-laki) memiliki nilai ibadah, yakni dengan bersemangatkan taqwa kepada Allah SWT. Allahu’alam.

    Reply

    • Deny Lamani Putra
      Nov 20, 2010 @ 17:21:18

      Assalamu’alaikum….
      Oya Pak… begini agar kita tidak terjebak pada sebuah istilah….
      Yang Bapak maksud tadi bukan “Curhat” melainkan “Konsultasi”.
      Hal ini sangat berbeda baik dari tatacaranya (menjaga kata dan niat) maupun bentuknya secara umum (baca : pergaulan terutama muda-mudi).
      Begini Pak…. dalam ilmu Psikologi sendiri kita mengetahui bahwa manusia terkadang membutuhkan sebuah komunikasi yang bukan untuk mencari jalan keluar (informatif) melainkan hanya agar ingin didengar saja permasalahan miliknya agar tenang (pada level ini bahkan kita tidak menjawab apapun, dia sudah senang karena sudah didengarkan keluh-kesahnya). Nah… Curhat pada dasarnya bukan komunikasi informatif tersebut (perbedaannya dengan Konsultasi).
      Dalam Curhat, pada dasarnya permasalahan itu sudah diketahui oleh dirinya sendiri jalan keluarnya atau kalaupun belum tapi dia tidak mengharapkan dapatnya jawaban yang tepat dari yang ditanya melainkan hanya ingin memulai suatu pembicaraan yang tentunya sangat bisa lebih intens karena adanya “Permasalahan” tersebut tentunya (bahkan kalau bisa mencari-cari permasalahan atau mendramatisir masalah, termasuk juga niat untuk “Melemahkan” tingkat kemampuan diri dia sendiri dalam merespon masalah/ cengeng). Hal ini tidak tertutup kemungkinan untuk “Romantisme Haram” itu tadi bahkan memang jelas niatnya seperti itu.
      Sehingga logikanya adalah…. Curhat hanya boleh dengan Mahram (bukan “Muhrim” istilahnya sering salah dipakai awam) entah itu orang tua, kakak adik ataupun suami/istri. Sedangkan dengan lainnya adalah Konsultasi (yang informatif tentunya). Jaga juga untuk tidak berkhalwat (berdua-duaan) non-mahram.

      admin :
      wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

      Terima kasih atas masukannya akh Deny :d.

      Terus terang saya ga begitu paham sudut pandang psikologi, tentang adanya perbedaan “curhat” dan “konsultasi”. Tetapi mendengar penjelasan Akh Deny, bertambah lagi informasi yang bermanfaat buat saya khususnya dan pembaca lainnya.

      Mengenai “muhrim” dan “mahram” betul secara bahasa arab, kedua kata ini berbeda, tetapi yang dimaksudkan oleh kebanyakan kita dengan “muhrim” disini adalah bahasa serapan (istilah arab yang diindonesiakan). Hal ini dapat kita cek di KBBI, dan banyak digunakan didalam buku2 islami.

      anyway..jazakallah tambahan informasinya🙂.

      wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

      Reply

  15. Rizzi
    Sep 07, 2010 @ 15:11:31

    Artikelnya dapat memperbaiki cara dalam memandang hal yang bernama ” Pacaran ” …

    Reply

  16. leeback
    Oct 15, 2010 @ 00:45:10

    thanks y infonya…

    Reply

  17. elly
    Dec 21, 2010 @ 19:04:50

    klw ungkapkn prasaan ke lwan jenis tp dia g’ ada mksud tuk pcaran atw pun ta’aruf……gmn hukumx

    admin :

    Wah kalo ditanya “hukum” saya tidak tahu, silahkan ditanyakan kepada ulama yang memang memiliki kemampuan menyarikan hukum. Mungkin kalo maksudnya bercanda, ya ga papa, hanya saja bercanda lah yang tidak terkait dengan perasaan, karena khawatir lawan bicara yang dimaksud menjadi salah paham, Allahu’alam.

    Reply

  18. Trackback: ARTIKEL « TKJ
  19. Trackback: KEKERASAN DALAM PACARAN (Posesif Vs Tindak Kekerasan) « Sesungguhnya Pacaran Adalah Perbuatan Keji Dan Haram. Maka Jangan Pacaran Agar Selamat Dunia Akherat. (silahkan add FB teman saya: tundher_cary@yahoo.com & ainuamri5@yahoo.com)
  20. Rahul Raj
    Aug 26, 2011 @ 16:38:45

    ingatlah wahai orang2 yang beriman. . .

    sadar tuch. . .
    hha

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: