Pacaran again..!!

Pacaran dalam Islam

Kamis, 02/07/2009 16:04 WIBapakah benar dalam islam di perbolehkan pacaran,…???? padahal sudah jelas dlm AL-Quran tidak di terangkan nya adanya pacaran itu! tapi ada sebagian yang menyatakan bahwa pacaran boleh2 aja……

Syla

Source

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Syla yang dimuliakan Allah swt.

Allah swt menjadikan bahwa kaum laki-laki membutuhkan keberadaan kaum wanita didalam kehidupannya dan memberikan didalam diri kaum laki-laki kecenderungan kepada kaum wanita begitu pula sebaliknya.

Hal demikian bisa dilihat dari ayat-ayat Allah swt yang meminta setiap laki-laki maupun perempuan untuk menjaga pandangannya dari melihat aurat atau sesuatu yang bisa mengundang fitnah dari diri lawan jenisnya. Firman Allah swt :

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ ﴿٣٠﴾
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ

Artinya : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya.” (QS. An Nuur : 30 – 31)

Tak syak lagi bahwa adanya kecenderungan atau perasaan suka kepada lawan jenis ini menjadikan kehidupan di dunia ini terus berlangsung hingga bergenerasi dan berabad-abad lamanya hingga waktu yang telah Allah tentukan.

Namun demikian islam tidaklah melepaskan kecenderungan, perasaan suka kepada lawan jenisnya dan cara berhubungan diantara mereka begitu saja sekehendak mereka. Islam memberikan batasan dalam hubungan antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bukan mahramnya demi mencegah terjadinya kemudharatan diantara mereka.

Islam tidak membolehkan menumpahkan perasaan suka diantara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya atau sebaliknya dengan cara berpacaran dikarenakan hal itu memberikan peluang kepada setan untuk membisikkan kalimat-kalimat kotornya kedalam diri mereka yang kemudian bisa membuka pintu-pintu perzinahan. Firman Allah swt :

Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Israa : 32)

Pintu-pintu zina yang tidak jarang muncul dari perbuatan ini (baca : pacaran) adalah memandang lawan jenis yang bukan mahramnya dan tidak jarang disertai dengan syahwat diantara mereka berdua, saling bersentuhan kulit bahkan tidak jarang berakhir dengan perzinahan. Tepatlah apa yang dikatakan oleh Syauki tentang memandang yang dilarang ini yaitu : “Memandang (berpandangan) lalu tersenyum, lantas mengucapkan salam, lalu bercakap-cakap, kemudian berjanji dan akhirnya bertemu.”

Wallahu A’lam

43 Comments (+add yours?)

  1. margono eko prasetyo
    Aug 06, 2009 @ 21:15:05

    waduh2,,,, subhanallah… terima ksih ya

    Reply

  2. rjanuard
    Aug 31, 2009 @ 10:46:52

    tp lw seandainya kita pacaran hanya sebatas lewat HP, pakah itu jg di larang….
    trus g menimbul kan seperti apa yang tertulis di bawah:

    Namun demikian islam tidaklah melepaskan kecenderungan, perasaan suka kepada lawan jenisnya dan cara berhubungan diantara mereka begitu saja sekehendak mereka. Islam memberikan batasan dalam hubungan antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bukan mahramnya demi mencegah terjadinya kemudharatan diantara mereka.

    Islam tidak membolehkan menumpahkan perasaan suka diantara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya atau sebaliknya dengan cara berpacaran dikarenakan hal itu memberikan peluang kepada setan untuk membisikkan kalimat-kalimat kotornya kedalam diri mereka yang kemudian bisa membuka pintu-pintu perzinahan.

    admin : yang perlu digaris bawahi bahwa yang dilarang itu adalah “berpacarannya”. Media berpacaran bisa beragam, bisa lewat Telephon, sms, chatting, bertemu langsung dsbnya.. tapi sebagaimana yang antum kutip diatas “Islam tidak membolehkan menumpahkan perasaan suka diantara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya atau sebaliknya dengan cara berpacaran dikarenakan hal itu memberikan peluang kepada setan untuk membisikkan kalimat-kalimat kotornya kedalam diri mereka..”. Bisikan yang menjelma menjadi khayalan itulah sejatinya bentuk dari zina hati, meski ini tergolong zina kecil, sungguh merugi bagi mereka yang mengotorinya secara terus menerus. Allahu’alam.

    Reply

  3. V.Rizqi
    Sep 04, 2009 @ 08:42:55

    kalo hanya sebatas menahan tak di tumpahkan lewat apapun boleh?
    soalnya suka pada lawan jenis itu dah fitrah.. jadi akhwat mencirikan seorang ikhwan juga bisa saja terjadi…

    admin : “Menahan” dalam konteks tidak menjadikan perasaan itu “menguasai” perasaan dan pikiran kita, tentu itulah yang dikehendaki didalam Islam. Tetapi jika yang dimaksudkan dengan “menahan” perasaan itu hanya sekedar tidak menunjukkannya lewat media apapun, dimana perasaan dan pikiran masih saja disibuki oleh hal itu, maka hal ini pun mestilah kita hindari. Karena menyimpan perasaan akan menimbulkan rasa rindu, sedangkan rindu kepada seseorang yang tidak halal bagi kita, hanya cenderung menghadirkan masalah. Syaikh Al Qarni pernah menuliskan hal ini didalam bukunya “Laa tahzan”, semoga bisa diambil sebagai perenungan, Allahu’alam.

    Reply

  4. fathulmaarif
    Sep 05, 2009 @ 02:19:05

    waahhhh bener banget lebih baik tuh pacaran dalam pernikahan lebih aman (ta’aruf maksud nya) hahahahha

    Reply

  5. enda
    Sep 08, 2009 @ 12:49:02

    saya mau bertanya, klo di atas menyebutkan bahwa laki-laki dan perempuan itu tidak diperbolehkan bersentuhan jika bukan mahramnya…
    yg jadi pertanyaan :

    ” seandainya laki-laki dan perempuan itu hanya sekedar berteman apa itu juga tidak diperbolehkan bersentuhan kulit seperti misalnya bersentuhan tangan atau semacamnya ”

    terima kasih

    admin: pertemanan adalah fitrah karena manusia sejatinya adalah makhluk sosial. Bahkan Al Quran berbicara secara khusus mengenai hal ini(pertemanan/ perkenalan/ ta’aruf- QS Al Hujurat :11). Tetapi tentu sebagai muslim/muslimah, cara berteman yang paling benar adalah sesuai dengan tuntunan Allah SWT, karena Allah SWT lah yang paling mengetahui karakter ciptaannya yang bernama “laki-laki” dan “wanita” ini. Pertemanan yang benar itu mestilah dilandasi oleh semangat “taqwa”, sehingga pertemanan yang terjadi tidaklah kemudian menyimpang menjadi “hubungan tanpa status”, “pacaran”, dan sejenisnya. Tetapi pertemanan yang melahirkan sikap saling menjaga, saling menghormati dan saling mencintai karena Allah.
    Persentuhan dengan lawan jenis tanpa ada keperluan yang sangat mendesak(seperti: dokter yang memeriksa pasien, dsbnya), menurut jumhur ulama sangat harus kita hindari. Karena apa? Jika untuk urusan pandangan kepada lawan jenis saja Allah SWT mengharuskan kita menjaganya, dan Rasulullah SAW menyatakan agar tidak mengikutkan pandangan pertama kepada pandangan kedua dstnya, apalagi jika urusannya sentuh-menyentuh, karena efek negatif yang ditimbulkan dari persentuhan dengan lawan jenis lebih kuat dibandingkan dengan efek melihat, Allahu’alam.

    Reply

  6. BUDAX STRICT"FAJAR BABEH"
    Sep 13, 2009 @ 11:46:38

    saya mau nanya:bagaimana cara pacaran yang islami?kalau saya boleh jujur menahan diri supaya tidak pacaran itu susah.bagaimana caranya supaya kita bisa menahan supaya tidak berpacaran?

    admin : jika saya ditanya “bagaimana cara pacaran yang islami?”, jawaban saya bagi mereka yang menduga bahwa pacaran islami adalah sarana untuk menjemput jodoh secara efektif, efisien, dan bebas dari zina.. maka jawaban saya “sadar teman.. tidak ada mereka yang terbebas dari zina.. Allah SWT dan RasulNya menawarkan jalan yang lebih baik, perkenalan yang syar’i, dan itu bukanlah dengan men-declare-kan diri dengan “aku pacarmu..dan kamu pacarku”. Tidak ada dalil yang membenarkan pacaran, pacaran islami, dan pacaran2 lainnya, dan semua klaim mereka yang mengatakan adanya pacaran islami, tidaklah berdasar, penuh dengan syubhat, dan melenceng dari maksud dalil-dalil yang digunakan untuk membenarkan prasangka mereka. Dan blog ini hadir untuk meng-counter ide mereka yang hendak memunculkan adanya pacaran dalam islam.

    Apakah menahan diri itu susah? saya punya pengandaian.. kenapa puasa dibulan ramadhan itu terasa lebih ringan dibandingkan dengan bulan lainnya? karena dibulan ramadhan, semua umat islam yang beriman tanpa terkecuali melaksanakan ibadah ini, sehingga lingkungannya mendukung, tidak ada yang ngajak makan, tidak ada pemandangan makan, dsbnya. Lain halnya jika puasa yang kita lakukan bukan pada selain bulan ramadhan, pagi-pagi sudah ada yang mengajak sarapan, siang-siang begitu juga, jika yang kerjanya dilapangan, pemandangan menyantap makanan dan minuman begitu “menggoda” lapar dan dahaga pada diri kita untuk juga dipuaskan. Tetapi inilah makna keimanan, kenapa kita tidak berbuka? karena kita melakukan ini karena keimanan kita kepada Allah SWT, kita mengharapkan sesuatu yang lebih baik yang dipersiapkan Allah untuk kita, insyaAllah. Begitu juga dengan segala “tantangan” menahan diri lainnya.

    Disaat banyak teman dan lingkungan kita melakukan aktifitas pacaran, sedangkan kita meyakini bahwa pacaran lebih banyak mendatangkan mudharat dibandingkan manfaat, maka lakukanlah “inventarisasi” manfaat apa yang kita dapatkan ketika kita tidak melakukan pacaran? Lakukan dengna jujur, mohonlah petunjuk dari Allah SWT, sesungguhnya yang benar itu terang dan yang salah itu gelap. Kemudian perbanyaklah lingkungan mereka-mereka yang tidak berpacaran, ngaji, perbanyak aktifitas yang bermanfaat lainnya, kalo kata Om Opick “berkumpul dengan orang2 sholeh”. Allahu’alam.

    Reply

  7. BUDAX STRICT"FAJAR BABEH"
    Sep 13, 2009 @ 11:51:43

    saya mau bertanya:apa hukumnya kalau misalkan pacaran hanya dgn media sms?dan bagaimana cara berpacaran yang islami?kalau boleh jujur menahan diri utk tidak berpacaran itu susah.bagaimana caranya supaya kita bisa menahan diri dari yang namanya pacaran?HATUR NUHUN

    admin : ada kaidah didalam Islam yang menyatakan, jika banyaknya juga haram, maka sedikitnya pun juga haram. Contoh : Khamr-zat yang dapat membuat orang mabuk- adalah haram. Tetapi ada yang bilang, “kalo minumnya sedikit ngga bakalan mabuk, jadi boleh”🙂. Padahal tidak, karena yang dihukumi oleh dalil itu bukanlah pada “banyak” atau “sedikit”-nya, tetapi keharaman zat itu untuk masuk ke dalam tubuh kita.

    Begitu juga dengan zina, zina itu memiliki tingkatan. Tingkatan yang paling tinggi, tentu saja zina besar – bertemunya farji(kelamin) dengan farji tanpa adanya suatu ketetapan yang dibenarkan oleh syariah (baca: pernikahan) -. Tetapi ada juga zina kecil, Rasulullah SAW:“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian utk berzina & ini suatu yg pasti terjadi, tdk bisa tdk. Zina kedua mata adlh dgn melihat. Zina kedua telinga dgn mendengar. Zina lisan adalah dgn berbicara. Zina tangan adalah dgn memegang. Zina kaki adalah dgn melangkah. Zina hati adalah dgn berkhayal. Lalu kemaluanlah yg nanti akan membenarkan atau mengingkari yg demikian” (HR.Muslim no.6925). Keharaman zina2 kecil tadi bukanlah pada medianya(semacam sms, telp, email, facebook, dsbnya), tetapi pada penggunaannya apakah kemudian mendekati zina ataukah tidak. Jika kemudian dengan sms itu ada pembicaraan yang sia-sia bahkan mengarah2 ke pada maksiat, bujuk rayu, menjadikan kita berkhayal, dsbnya, maka aktifitas itu masuk kepada perkara mendekati zina, dan dihukumi haram, meski terkadang pelakunya tidaklah sedang berpacaran, misalnya sedang ‘pdkt’. Artinya, jika yang tidak berpacaran saja berkemungkinan memasuki wilayah mendekati zina tadi, apalagi mereka yang berpacaran. Karena status ‘aku pacar mu..dan kamu pacarku” sama sekali tidak dikenal didalam Islam. Allah dan RasulNya telah mensyariatkan ta’aruf yang baik, maka pelajarilah bagaimana Islam mengatur hubungan antara laki-laki dan wanita, mengenal batasan-batasannya, sehingga kemudian perkenalan yang kita lakukan dengan lawan jenis dalam rangka menjemput jodoh yang dijanjikan Allah SWT(laki-laki yang baik untuk wanita yang baik..) benar-benar bernilai ibadah dalam pandangan Allah SWT, bukan malah sebaliknya bernilai dosa. Allahu’alam.

    Reply

  8. willy suhendrabb
    Sep 28, 2009 @ 13:16:42

    Assalamualaikum wr.wb.
    ust. yg dimuliakan Allah, dr prnyataan yg tlah sy lihat dan saya baca diatas, timbul pretanyaan pd diri sya. ” Bagaimana kiat kita utk menghindari hal2 trsbt jk kita sndri sdah sering bersentehan tagn/barjabat tgn dgn rekan/tmn yang bukan mahram ??. pd umumnya, tmn2/orang lain merasa tersinggung jk kita tak mau berjabat tgn dgnnya, apa yag harus kita lakukan tuk menghadapi hal itu?? tyerima kasih. wassalamualaikum wr.wb.

    admin;
    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Akh willy yang dirahmati Allah SWT.. apakah antum yakin bahwa teman kita pasti tersinggung ketika kita “menolak” bersentuhan(menyambut jabat tangan tetapi menghindari persentuhan) ?🙂. Kuncinya ada pada “bahasa tubuh” yang kita gunakan. Pernah melihat “salam”nya orang sunda, yang hanya bersentuhan di ujungnya saja.. ? secara teknis kita bisa ambil cara salamnya orang sunda, tetapi bedanya tanpa ada persentuhan. Intinya gunakan bahasa tubuh yang wajar dan tidak berlebihan, jangan juga terlihat seperti orang yang menolak bersalaman, pura2 tidak melihat, terkesan sombong, dsbnya🙂.

    Dan jika “lawan” salam kita penasaran “kok salamannya ga mau sentuhan?”..nah inilah moment untuk akh willy mensyiarkan ajaran Islam, akh willy bisa mengatakan “Iya mbak.. didalam Islam, semua wanita sangat dimuliakan tanpa terkecuali, jika diibaratkan perhiasan, maka wanita yang sholehah adalah perhiasan yang paling indah yang ada didunia, dan ibarat perhiasan yang paling indah(tentunya paling mahal), hanya boleh disentuh jika sudah disahkan siapa pemiliknya..yang kalau dalam Islam itu bisa melalui pernikahan atau karena ada hubungan darah (anak, kakek-nenek, dsbnya)..gitu mbak, btw mbak udah makan siang?”🙂 misalnya, jadi kesan yang ditangkap, sopan, memuliakan, ramah, dan sikap positif lainnya. Allahu’alam.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  9. aulia rahman
    Oct 07, 2009 @ 11:32:35

    AssalamualaiQum. . .
    Saya mau brtanya , Saya bru klas 1SWMK , saya mmpunyai keinginan utk melamar seorang prenpuan yg sy kasihi, nmun tdk saat ini , sy akn mlaksanakan k’inginan sy ini stlh sy lu2s 7 tntunya stlh mndpt pkrjaan, nmun sy mmpunyai sdikit k’tdk branian trhdp ortu prmpuan itu..
    Apkh sLh sy mMpunyai niat sperti itu pdhl sy bru brumur 16thn ???

    admin ;wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    🙂 wah bagus.. masih muda tetapi sudah punya satu sikap yang jelas dalam memandang jodoh, tidak dengan berpacaran tetapi dengan melamar. Point pertama niatnya sudah benar🙂.

    Didalam Islam, sebuah amal baru dikatakan benar dan bernilai ibadah, jika terpenuhinya 2 point. Pertama, point “niat yang benar”, untuk ini akh rahman sudah memilikinya🙂. Kedua, point “prosesnya juga harus benar”, nah ini yang belum dan harus akh rahman pelajari dengan sungguh-sungguh🙂. Bicara “benar” artinya tidak bertentangan dengan aturan Allah SWT dan RasulNya, untuk itu akh rahman harus tahu ilmunya, harus ngaji, harus banyak bergaul dengan orang-orang yang berusaha untuk menjadi sholeh, agar ilmu yang didapat dengan lingkungan yang dilihat mendukung kita untuk mengamalkan apa yang sudah dipelajari.

    Ilmu yang mesti dipelajari pertama adalah ilmu2 fardhu ‘ain, seperti ilmu tauhid, tata laksana rukun iman dan Islam, konsep keimanannya haruslah benar, agar kemudian tidak mudah diombang-ambingkan pemikiran2 yang mengarah kepada jalan kesesatan. Ibadah hariannya juga harus benar, mulai dari sholat, puasa, tilawahnya dll. Ibadah muamalahnya juga harus benar, dimulai dengan interaksi kita dengan keluarga, dengan ortu sendiri, apakah amanah ortu yang telah merawat dan menjaga kita, menyekolahkan kita, dll kita tunaikan dengan maksimal? Kalaulah kita masih lebih sering “mengkhayal” wanita yang kita sukai, hingga mengalihkan waktu belajar kita disekolah, pendek kata kita belum memberikan kemampuan yang terbaik kita sebagai seorang pelajar, maka kita belum memenuhi kewajiban kita terhadap ortu.

    Kemudian pahami juga ilmu syariat yang mengatur perkenalan dan pertemanan terutama dengan lawan jenis. Agar kemudian pertemanan kita jauh dari “fitnah”, tidak menjadi “ha te es-an” dsbnya. Buatlah tujuan jangka pendek, menengah dan panjang dengan lebih baik, sesuaikan dengan realita kita saat ini, dan tentukan prioritasnya. Jika saat ini peran kita adalah sebagai seorang anak dan seorang pelajar, maka prioritas kita adalah menjadi seorang anak yang berbakti, dan pelajar yang cerdas. Artinya pada titik ini, akh rahman belum terlalu perlu untuk memikirkan masalah jodoh, ada banyak prioritas yang mesti mendapat perhatian lebih akh rahman. Yakin deh.. nanti ada saatnya memikirkan masalah jodoh, setelah memiliki kemampuan, tidak tergantung kepada pemberian ortu, bahkan sudah bisa memberi kepada ortu secara rutin, dsbnya🙂, karena pernikahan adalah ibadah, suatu perjanjian yang besar antara pelakunya dengan Allah SWT, sehingga dibutuhkan kematangan diri dalam segala hal, baik fisik, materi, maupun mental, dan semua kematangan itu tidak akan dicapai kecuali dengan sebuah proses menjadi seorang muslim sejati, yang mampu membedakan mana yang benar dan mengikutinya, serta melihat dengan jeli apa yang salah agar dapat dijauhi🙂. Allahu’alam.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  10. elfina_maulida@yahoo.com
    Oct 11, 2009 @ 10:08:41

    Begitu indahnya Allah yang anda terangkan…
    Tak terasa rasanya saya ingin menangis….
    Dulu saya bimbang dengan namanya pacaran, saya selalu mencari jawaban atas pertanyaan2 saya..Alhamdulillah saya sdh di ingatkn…

    Reply

  11. Nur
    Oct 14, 2009 @ 05:45:40

    Kalo gini caranya
    gmana gue bs dapet istri,,,
    ada solusi??

    admin :
    Pasti bisa !!🙂, kan udah pasti itu, Allah SWT menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Artinya ini hanyalah soal “cara” dan “waktu”. Bagaimana kemudian kita memilih cara “menjemput” istri, dan “kapan” kemudian Allah SWT pertemukan keduanya dalam indahnya mahligai cinta, Pernikahan!🙂.

    Kuncinya, perbanyak mengaji, belajar bagaimana Islam mengatur pertemanan dengan lawan jenis, bagaimana menjemput jodoh yang syar’i, perbanyak lingkungan orang-orang yang berusaha untuk sholeh, dll, insyaAllah nanti pertanyaan anda akan berubah “Siape bilang kalo mo punye istri mesti pacaran.. ade-ade aje lu pade”..hehehe.

    Reply

    • Nur
      Oct 14, 2009 @ 21:17:38

      sy setuju dengan tidak brpacaran,,
      tp bgmn cara sy hrus menjemput istri..

      td d atas dsbutkan jg klo pdkt tu (“not recomended, maybe”)
      so bgmana kt bs tau calon istri yg harus d jmput td..
      jngan2 kt salah pilih lg..

      klo misal pdkt dprbolehkan,bgmana carana pdkt ma akhwat yg
      pake jilbab gede2 itu lho,,
      mslhnya jngankan pdkt,,liat aj mreka kagak mau.
      apa aq hrus dtng krumahnya n lngsung mlamarna??
      (i think it’s not gud ide..:D)

      admin :
      Yang “not recomended” itu adalah pdkt(pendekatan/ perkenalan) yang mengumbar “romance”/ romantika🙂, karena hal2 yang berbau romantis semacam pacaran, rayu-merayu, pandang-memandang, pegang-pegangan, dll karena itu..adalah “domain”(daerah)nya orang yang sudah menikah. Asalkan pendekatannya syar’i, kenapa tidak? Tetapi persoalannya kemudian jangan digampangkan dengan berkata “berarti pacaran aja dengan gaya islami?.. pacaran gue islami lho?” dsbnya. Standar islaminya harus jelas, dan tidak diwilayah abu-abu, misalkan untuk istilah “pacaran islami”, dimana-mana(baik dibarat, ditimur, utara atau selatan🙂 ) yang namanya orang pacaran itu pasti ada “session” nembaknya, jika “ya” jawabannya, maka saat itulah “diproklamirkan” -aku pacarmu..dan kamu pacarku- artinya ada “penisbatan status hubungan romantis antara 2 insan lain jenis” yang ini tdk dipernah dibenarkan didalam Islam, kecuali pernikahan. Konsekuensinya jelas, boleh jalan-jalan, boleh antar jemput, boleh rayu-merayu, boleh pegangan tangan, dll yg bahkan banyak kemudian yang terjatuh kepada perkara zina besar. Jika istilah pacaran ini mewakili sesuatu yang diharamkan oleh agama, akankah ia pantas digandengkan dengan istilah “islami”?.

      Kemudian pelajari dahulu, apa yang dimaksud dengan perkenalan didalam Islam? bagaimana Islam mengatur interaksi laki2 dan wanita non mahrom? kenali apa2 saja perihal yang dapat dikategorikan perkara mendekati zina? sudahkah kita memperbanyak lingkungan orang-orang yang berusaha untuk sholeh? bagaimana dengan sholat kita, ngaji kita, bakti kita terhadap ortu dsbnya?. Ini adalah prioritas dan sebuah proses untuk membentuk pribadi yang sholeh, yang jika hal itu sudah kita lakukan maka apapun keinginan(misalnya :menikah) kita nantinya akan selalu dekat dengan pertolongan Allah SWT.

      Bagaimana pdkt yang baik? caranya banyak!🙂, salah satunya seperti yang antum sebutkan, datang langsung ke ortunya, bilang “pak.. anak bapak saya lamar ya.. boleh ga?”, itu boleh, sah, gentlement, daripada krasak-krusuk pacaran ga jelas. Cuma kalo gini persoalannya, “kita ini siapa?..sekelas Rasulullah bukan?-kalo bukan- ulama terkenal bukan? -kalo bukan- temen babenya ngaji bukan?-kalo bukan- sholat berjamaah kita gimana? ngaji dah bisa belon?, dll🙂 “. Artinya cara ini, cara orang yang memang sudah dikenal pribadinya dengan baik oleh si keluarga perempuan, dan keluarga si perempuan juga paham bagaimana agama mengatur hal ini. Yang seperti ini banyak terjadi dizaman rasulullah SAW dan para sahabat Ra. “Kalo zaman sekarang masih ada ga yg kaya gini?” masih !🙂, kalo dilingkungan orang2 sholeh, para kyai,para ustadz, para ulama, cara seperti ini masih lazim(biasa).

      Cara lainnya, bisa melalui perantara (teman, keluarga, guru ngaji, dsbnya). Silahkan dipilih cara apa saja asalkan syar’i. Batasan2 yang diberikan agama,sejatinya bukanlah hambatan untuk manusia mendapatkan jodoh yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Justru batasan2 itu adalah skenario Allah SWT agar proses yang kita jalani guna menjemput jodoh yang dijanjikan Allah SWT itu mudah dan segera menjadi kenyataan. Bayangkan, mereka yang menjalani perkenalan yang syar’i hanyalah dalam hitungan bulan hingga sampai kepada pintu pernikahan, berbeda dengan kebanyakan mereka yang berpacaran. Karena apa? karena setiap prosesnya jelas, tidak ada yang meragukan. Tetapi kebanyakan manusia tidak yakin dengan janji Allah SWT, mereka lebih senang berimprovisasi, pacaran disana, pacaran disini, akhirnya pilihan yang diambil dan dianggap baik, ternyata bukanlah pilihan yang baik dalam pandangan Allah SWT, dan ini akan dibuktikan pada masa-masa yang akan datang, akankah keluarga yang dibentuk ini kembali kepada skenario Allah SWT ataukah masing-masingnya asyik dengan “improvisasi”. Allahu’alam🙂.

      Reply

      • Nur
        Oct 26, 2009 @ 09:58:38

        Ok, thank you..
        Now,, I’m clear..

        dan untukadmin,,please bantu doain aq ya..
        insyaalloh aq bisa mengambil n mlaksanakan cara2 syar’i
        bukan hanya jodoh ttp jg yg laen amin..

  12. riep_shie
    Oct 26, 2009 @ 08:40:18

    pacaran?
    m…… aku emang dari awal banged gak setuju sama yang namany P_A_C_A_R_A_N, pie knp aku bisa kejerumus yach sama hub ini?
    cz aku fikir, pacaran itu boleh adja asalkan kita tetep tau syariat islam!
    pacar bisa juga jadi motivasi kita dalam belajar, cz low kita lagi di school, yang ada wat kita khan pacar, malah temen aku ada yang bisa jadi juara umum cz pacarnya ngasih suport ke dy……………
    jadi jaga diri aja para muslimah…………

    admin :
    Ga setuju pacaran, tapi ngelakuin.🙂. Kakak ambil perumpaan gini.. Shie ngga cocok pake sepatu ukuran 45 (karena misalnya, kaki Shie ukuran 38), tapi tetap Shie lakuin. Karena ternyata informasi yang Shie dapet, misalnya ada yang bilang ke Shie “kalo Shie pake sepatu ukuran 45, maka perkembangan kaki Shie akan normal, sehat, enak dilihat dsbnya”, karena informasi itu, meski Shie tidak nyaman, tetapi tetap Shie pakai.

    Shie bilang “pacaran buat motivasi belajar,bahkan ada yg bisa jadi juara umum karena pacarnya”. Sekarang coba Shie perhatikan kembali, ada berapa banyak teman Shie yang pacaran? Kemudian ada berapa banyak dari teman Shie yang pacaran itu yang jadi juara umum, minimal posisinya dekat dengan juara umum? Termasuk Shie yang juga pacaran, apakah Shie yang jadi juara umum itu..atau Shie runner-upnya juara umum? Pertanyaan ini Shie jawab didalam hati aja🙂. Artinya gini, kadangkala kita terlalu menyederhanakan sesuatu untuk membenarkan pendapat kita. Karena kebetulan teman yang pacaran itu juara umum, kemudian kita ambil kesimpulan bahwa karena pacar-nyalah si teman bisa jadi juara umum. Berarti apakah kalau tidak pacaran tidak bisa jadi juara umum? kan tidak seperti itu, jadi juara umum jelas karena si teman belajar lebih serius dibandingkan dengan yang lain, bukan karena si pacar..atau motivasi si pacar(karena biasanya sih..kalo yg pacaran masih sekolah, pasti ada “motivasi” rajiin belajar dsbnya buat si pacar..”standar” ‘speak-speaknya cowok lho itu.. nothing special )🙂.

    Adakalanya kita melakukan sesuatu dikarenakan kita sesungguhnya tidak benar2 mengerti dengan apa yang sesungguhnya sedang kita lakukan itu. Kita hanya mendapatkan informasi sekilas dari orang yang katakanlah lebih senior(baca:tua) dari kita, lebih “berpengalaman” dari kita, lebih “baik” dari kita dsbnya, padahal kesenioran, banyaknya pengalaman, dan kelihatan baik itu tidak menjamin bahwa dia juga pasti lebih benar dari kita. Artinya kita harus melakukan cek-ricek informasi apakah suatu informasi itu memang benar ataukah tidak, dengan cara menanyakannya kepada mereka yang lebih tahu, misalnya dalam masalah halal-haram pacaran, maka ustadz/ah lah tempat kita bertanya.

    Nah..sedari awal kita harus sudah punya bingkai yg benar, baik tentang diri, tujuan hidup, memahami fenomena yang kita lihat semacam pacaran, dsbnya, agar kemudian pilihan-pilihan yang kita buat nantinya adalah pilihan yang minimal mendekati kebenaran.Yang pasti, kalaulah saat ini kita masih sekolah, masih punya orang tua, maka minimal ada 2 amanah besar yang harus kita penuhi, pertama menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, dan kedua menjadi pelajar yang sungguh-sungguh. Sudahkah amanah itu kita penuhi dengan benar dan maksimal? Nanti ada masanya Shie memikirkan jodoh Shie yang seperti apa. Allahu’alam.

    Reply

  13. jingga
    Oct 31, 2009 @ 01:52:13

    Assalaamu’alaikum…

    ssejak dulu, saya memnag berprinsip tidak melakukan proses pra nikah dgn cara yg umum dilakukan (baca: pacaran). maka proses ta’aruf yang terjaga dari berdua2an dan juga adanya kontak fisik hingga saat ini tidak pernah saya lakukan.

    tahun ini usia menginjak 30 tahun dan alhamdulillah Allah masih meminta saya bersabar hingga dipertemukan dengan pasangan dunia akhirat saya.

    masalah yang sedang saya hadapi sekarang adalah… saya sedang dekat dengan satu ulaki-ltraki. kebetulan saat ini kami berdua hidup di dua kota yang berjauhan. sebenarnya dia teman lama saya yg baru bertemu kembali ,secara tidak sengaaja di jakarta. terus terang, pertemuan yg tidak sengaja itu membuat kami dekat. hingga akhirnya saya harus pindah kota karena tugas, kami berdua tetap intens berkomumunikasi via email dan telepon.

    selama komunikasi.. kami saling mengenal, bertukaran CV yg sangat personal, dan berdikusi banyak hal, mulai dai Islam, pernikahan, prinsip hidup dan lain-lain.sempat terjadi beberapa kali perselisihan dan perdebatan, tapi selalu bisa kami selesaikan dengan baik .singkatnya kami berdua merasa sangat cocok. kami berniat meresmikan hubungan kami dengan pernikahan insyaAllah tahun depan setelah masa tugas saya berakhir.

    masalahnya… akhir2 ini kami berdua sudah tidak segan mengungkapkan perasaan sayang, cinta, dan rindu…

    apalagi pembicaraan berkaitan dgn hal2 remeh untuk saling memberikan perhatian dan juga mimpi2 jika kami telah jadi suami istri

    dia selalu mengingatkan saya untuk makain berserah diri dan merayu Allah agar kami kelak berjodoh… tapi di lain waktu dia dan juga saya saling merayu….

    jika gejolak jiwa terasa sangat mengganggu… kami berdua sepakat untuk mengurangi intensitas komunikasi…

    bagaimana menurut admin?

    maaf satu lagi… karena begitu seriusnya gejolak di hati kami… kami berkomitmen untuk sama sekali tidak ada pertemuan yg hanya berdua saja (sepulangnya saya dari tugas nanti) karena takut tidak dapat mengendalikan diri… masyaAllah.. semoga Allah dapat melindungi kami dari syahwat yang belum halal… Amin.,..

    Wassalam, terimakasih

    admin:
    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Prinsip yang mbak pegang dari dulu untuk tidak melakukan proses pranikah (baca : pacaran) adalah sebuah hal yang sangat baik. Tentunya keputusan mbak untuk berprinsip seperti itu didasari oleh ilmu dan keyakinan kepada Allah SWT bahwa jodoh itu adalah perkara yang pasti dari Allah SWT, tinggal bagaimana kita mengusahakannya dalam koridor yang dibenarkan oleh Allah dan RasulNya.

    Tapi kemudian mbak menyadari, realitas saat ini ternyata mulai melenceng dari tujuan dan prinsip yang mbak pegang dari dulu, berarti ada sesuatu yang mengubah cara pandang mbak, meski tidak secara “tegas” berpacaran, tetapi arah-arahnya proses ini mulai seperti mereka yang memang secara “lantang” memproklamirkan diri sebagai pelaku pacaran.

    Rasulullah SAW bersabda “Kebajikan itu adalah budi pekerti yang baik, dan dosa itu adalah segala sesuatu yang menggelisahkan perasaanmu dan yang engkau tidak suka bila dilihat orang lain.” (HR. Muslim), adalah peringatan untuk kita umatnya, agar selalu dalam setiap pilihan yang akan kita buat, menimbang segala sesuatunya dengan baik dan mendengarkan kata hati. Ketika pilihan itu membuat kita gelisah, malu jika hal itu diketahui oleh orang lain,dsbnya, maka insyaAllah inilah bagian dari nasehat hati kecil kita kepada kita, maka jangan kita abaikan nasehat itu. Karena sekali kita mengabaikan nasehat hati ini, maka berikutnya kita akan jauh lebih mudah mengabaikan nasehat hati itu kepada kita, seterusnya dan seterusnya, hingga tidak terdengar lagi nasehat hati, dan hilangnya rasa malu, na’udzubillah.

    Cobalah untuk melihat ke dalam, mengingat masa-masa mbak ketika memutuskan untuk memiliki prinsip tidak berpacaran sebelum menikah, bandingkan dengan masa sekarang ketika mbak mulai mengendurkan prinsip yang sudah mbak yakinkan dalam diri, adakah mbak melihat perbedaannya? Adakah perbedaan kualitas kedekatan mbak kepada Allah SWT dulu dan sekarang? Adakah perbedaan kualitas lingkungan mbak dulu dan sekarang? dll, jawaban-jawaban itu mudah2an akan mengembalikan keyakinan dulu yang sudah mulai pudar.

    Setelah itu, buatlah step-step baru untuk memperbaiki “hubungan” yang sudah terjadi ini. Jikalau masing-masing sudah sepakat untuk segera menikah, maka menikahlah, tanpa harus menunggu masa tugas selesai. Artinya, kalaupun setelah akad msaing-masing harus segera berpisah karena tugas, maka manfaatkanlah moment “jarak jauh” itu untuk semakin mengakrabkan diri dan menumbuhkan kecintaan, telpon2an, rayu2an, gunakan ungkapan2 mesra, dsbnya dan ini halal! bahkan insyaAllah bernilai pahala, sebagaimana berdosanya hal2 itu, jika dilakukan tanpa diawali dengan ijab qobul(baca: pacaran). Kalaulah masa tugas mbak mensyaratkan untuk tidak dulu menikah, sedangkan semua persiapan pra nikah sudah selesai, maka bersabarlah untuk tidak terlalu sering berkomunikasi. Kalau mau bertemu, sertakan mahram, jagalah intensitas dan materi komunikasi hanya untuk hal-hal yang memang perlu dan terkait dengan persiapan pernikahan, selebihnya tawakal kepada Allah SWT. Gunakan masa-masa itu untuk memperbaiki kedekatan kita kepada Allah SWT, selalu berdoa agar Allah SWT ridho dengan proses ini, agar hati-hati yang salling merindu ini Allah SWT jaga dari dosa hingga ijab qobul diucapkan. Begitu saja mungkin yang bisa kami sampaikan, semoga prosesnya dimudahkan oleh Allah SWT, Allahumma aamiin. Allahu’alam.

    wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  14. icsan
    Oct 31, 2009 @ 23:57:33

    Assalamu’alaikum

    wah, bagaimanaya bila kita sudah terlanjur terperangkap dan terinfeksi virus merah jambu, rasanya susah banget untuk melepaskan diri,
    rasa takut kehilangan sudah terlalu besar.
    ada ga’ya tips untuk kembali….?

    admin:

    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    “Give thanks to Allah” kata zain bikha dalam salah satu lirik nasyidnya🙂. Terlalu banyak nikmat yang kita lupakan, nikmat diberikan tubuh yang sehat dan sempurna, nikmat diberikan wajah yang cantik/ tampan, nikmat diberikan pekerjaan yang layak, nikmat diberikan keluarga yang baik, nikmat ini dan itu..Alhamdulillah.

    Dan ketika kita dianugrahkan oleh Allah SWT suatu nikmat (mata misalnya) maka ada amanah yang menyertainya. Sudahkah mata kita digunakan untuk melihat yang halal saja, tangan kita untuk memegang yang halal saja, lidah kita untuk berkata dan mengecap yang halal saja, kaki kita hanya melangkah ke tempat yang halal saja, dan hati kita hanya berharap yang halal-halal saja, dll? Kenyataannya terlalu banyak nikmat Allah SWT yang tidak kita gunakan dijalan Allah SWT.

    Saya ingin mengutip apa yang pernah disampaikan KH. Ahmad Rifa’i Arief “Orang-orang yang mengingkari(tdk menjaga, tdk menggunakannya untuk hal yg baik, dll) nikmat Allah, setidaknya disebabkan oleh 2 hal : pertama, karena ia tidak tahu/ lupa darimana nikmat hidup itu ia dapatkan, kedua karena jiwa orang tersebut telah rusak karena hawa nafsunya sendiri“.

    Berikut tips untuk keluar dari perangkap virus merah jambu :
    1. Ingatlah bahwa nikmat hidup ini, adalah dari Allah SWT. Allah SWT hanya menginginkan kebaikan untuk kita, maka diturunkanlah petunjuk/rambu-rambu kehidupan melalui RasulNya, bukan untuk mempersulit hidup kita, tetapi agar kita mendapat keselamatan di dunia dan akhirat.
    2. Kenali awal mula kita mulai terinfeksi virus itu, dari mana, dan dengan proses seperti apa? Mohon ampun kepada Allah SWT, mohon petunjukNya, perkuat benteng diri, pelajari dan amalkan agama ini karena Allah SWT, dan carilah lingkungan orang-orang yang berusaha untuk menjadi sholeh.
    3. Ketahuilah..bahwa rasa kehilangan terhadap sesuatu yang tidak halal untuk kita adalah bagian dari bisikan syetan. Sama halnya dengan perasaan seorang wanita yang malu berjilbab, tetapi berbangga ria mengenakan pakaian seksi. Perasaan itu muncul ketika bisikan syetan itu sering kita menangkan atas fitrah kita yang suci. Maka kembali lagi ke diri kita, apakah kita hendak menghamba kepada syahwat, dan semakin terikat kepadanya..ataukah membebaskan diri dan berserah diri kepada aturan Allah SWT dan RasulNya. Allahu’alam.

    Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

    Reply

  15. cahaya
    Nov 12, 2009 @ 23:28:45

    bagaimana memelhara hub dg lwan jenis ktka ikwan tersebut sudah mengkhitbah kita dan waktu pernikahan msh beberapa bulan lagi, bagaimana batasan nya? ?

    admin :
    Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Khitbah tidak berarti bahwa hubungan diantara dua lawan jenis ini menjadi halal. Batasan2 syariat terhadap keduanya terkait dengan hubungan lawan jenis masih berlaku, seperti tidak boleh berdua2an, tidak boleh ada persentuhan, tidak boleh ada rayu2an, dsbnya.

    Peliharalah hubungan dengan lawan jenis yang sudah menyentuh level khitbah, dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan memperbanyak kajian dan perenungan tentang perkara-perkara yang terkait dengan rumah tangga. Sehingga masa-masa penantian menyambut hari pernikahan itu, tidak diisi oleh hal-hal yang tidak bermanfaat dan bahkan dapat mengundang murka Allah SWT.

    Ditambah lagi syetan tidak akan senang dan rela ketika ada keturunan anak adam yang ingin melakukan perbuatan baik termasuk pernikahan, maka syetan akan dengan segala cara membisikkan kita bermacam “pembenaran-pembenaran” agar kemudian kita tergelincir sedikit demi sedikit ke jalan yang buruk bernama perzinahan. Meski mungkin bukan perzinahan yang besar(zina kemaluan), tetapi cukuplah zina-zina yang kecil(zina mata dengan memandang, zina telinga dengan mendengar, dsbnya) itu akan juga bernilai besar, jika dilakukan secara terus-menerus. Laksana kita mengumpulkan sebuah batu disetiap detik waktu, maka akan terkumpul 60 batu disetiap menitnya, kemudian bayangkan jumlah batu yang kita kumpulkan dalam satu hari, satu bulan, satu tahun? Begitu pula dengan dosa kecil yang lakukan secara terus menerus, na’udzubillah.

    Apakah kemudian tidak boleh bertemu/ berkomunikasi sama sekali? Tidak juga, silahkan bertemu jika masih ada keraguan, agar hilang keraguan itu, agar juga bertambah rasa suka diantara keduanya, tetapi ingat agar selalu menyertakan muhrim dalam setiap pertemuan. Bicarakanlah mengenai perkara-perkara yang memang penting untuk dibicarakan, terkait dengan masalah persiapan pernikahan, misalnya perkara mahar, kelengkapan surat2 nikah, model dan berapa banyak surat undangan yang akan dicetak, tempat, prosesi nikahan, dsbnya,sampai kepada masalah-masalah pasca pernikahan,seperti apakah tinggal dengan orang tua ataukah langsung mengontrak, dsbnya.

    Selebihnya banyak bersyukur, bersabar, dan menyerahkan segala harapan hanya kepada Allah SWT, Allah SWT Maha Berkehendak dan Maha Menyayangi hamba-hambaNya, meskipun kita sudah dikhitbah, kadangkala ada peristiwa yang Allah SWT tunjukkan kepada orang-orang yang dikehendakiNya, sehingga mengharuskan orang itu untuk membatalkan khitbah dan itu berarti tidak ada pernikahan. Artinya jangan terlalu berharap banyak kepada makhluk, berharaplah hanya kepada yang Maha Menguasai Makhluk, Allah SWT. Allahu’alam.

    Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  16. yhan
    Nov 17, 2009 @ 15:39:56

    Assalamuallaikum…
    lw jabat tgan dgn bpk guru gmn hukum nya?
    bahkan cium tgn..

    admin:
    Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Dalam fatwa kontemporer Syaikh Yusuf Qardhawi, tentang “BERJABAT TANGAN ANTARA LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN”, apa yang menjadi penekanan Syaikh adalah sebagai berikut :

    bahwa berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan itu hanya diperbolehkan apabila tidak disertai dengan syahwat serta aman dari fitnah. Apabila dikhawatirkan terjadi fitnah terhadap salah satunya, atau disertai syahwat dan taladzdzudz (berlezat-lezat) dari salah satunya (apalagi keduanya; penj.) maka keharaman berjabat tangan tidak diragukan lagi.

    Contoh jabat tangan yang mesti kita hindari, seperti jabat tangan dengan lawan jenis yang seumuran/ tidak terlalu jauh usianya dengan kita, sekuatnya dihindari. Seringkali diawali dari pandangan mata(biasanya laki2) terhadap lawan jenis sudah didomplengi oleh syahwat, ditambah lagi dengan persentuhan(melalui perkenalan), maka level syahwatnya akan semakin kuat.

    Kemudian dikatakan “boleh..jika tidak disertai syahwat serta aman dari fitnah”, kondisi ini misalnya ketika kita berjabat tangan dengan kakek2..atau anak kecil yang belum baligh, tetapi ini pun harus memperhatikan kebiasaan orang tsb sehari2. Jika dikenal sebagai kakek genit yang keladi..tua2 makin jadi..:), maka wajib dihindari.

    Untuk pak Guru ini, dek Yani coba mulai menganalisa, mulai dari usia, sikapnya sehari-hari terhadap murid perempuan, dll.. kalau termasuk pak guru yang genit, diusahakan sekuat mungkin menghindari jabat tangan/ persentuhan. Tapi jika dikenal baik/ terpaksa harus berjabat tangan, maka bisa mengambil contoh salamnya orang sunda..sentuh diujung sembari menundukkan kepala, sebagai bentuk hormat kita dan agar orang yang lebih tua itu juga tidak merasa tersinggung.

    Tetapi seperti yang ditekankan Syaikh Yusuf Qardhawi “yang lebih utama bagi seorang muslim atau muslimah -yang komitmen pada agamanya – ialah tidak memulai berjabat tangan dengan lain jenis”. Kaji lagi bagaimana agama kita mengatur masalah muamalah dengan lawan jenis, kenali yang boleh yang tidak boleh, perbanyak lingkungan yang dekat dengan nilai-nilai agama, dsbnya. Allahu’alam.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  17. chyntia
    Nov 20, 2009 @ 16:51:28

    kalau putusin pacar karena dya udh g pduli lagi sm qt, gak perhatian, jarang komunikasi,alesan’a c byk ksibukan,tapi kalau mnurut aku c g bgtu sibuk2 bgt, boleh gak ?
    tapi pas diputusin dya gak mau .
    apa yang harus saya perbuat ?

    admin :
    Kalau memutuskan pacar karena dia ga peduli lagi sama kita, berarti setelah putus, kita cari pacar baru lagi donk yang kita anggap peduli sama kita🙂.

    Seyogyanya apapun pilihan hidup yang kita pilih, kita sandarkan karena Allah SWT semata. Putus dari pacar bukan karena pacar tidak peduli lagi sama kita, tetapi putuslah dengan pacar, dengan sebuah kesadaran bahwa pacaran memang membawa mudharat yang besar bagi kita(terutama wanita). Aktifitas pacaran lebih dekat dengan perbuatan-perbuatan yang mendekati zina, dan itu berarti dosa dalam pandangan agama.

    Yang bisa de chyntia lakukan, kembalikanlah setiap persoalan kepada rambu-rambu aturan Allah SWT dan RasulNya. InsyaAllah mudah kok, termasuk untuk urusan jodoh. Sekali-kali agama ini tidak menghendaki kesusahan bagi pemeluknya, hanya saja setiap kesenangan, kebahagian, dan keberkahan yang dijanjikan didalam agama ini, ada dibalik satu-dua-tiga-dst ujian, agar kemudian kita menghargai dan memaknai setiap persoalan hidup itu sebagai bagian dari rahmat Allah SWT. Beda halnya jika kita melakukan kemaksiatan, kemaksiatan itu bungkusnya indah, menyilaukan, dan melenakan, sehingga membuat pelakunya tertipu dengan hal itu, padahal ada bahaya yang besar menanti setiap jiwa yang tersesat kepadanya, na’udzubillah. Begitu juga keadaannya dengan aktifitas “pacaran”..bungkusnya indah, menyenangkan, dan melenakan, padahal dibalik itu ada kesusahan yang besar menanti, bayangkan saja, pacaran bertahun-tahun lamanya, kenyataannya malah semakin tidak saling mengenal satu sama lain, pernikahan tak kunjung ditentukan dengan pasti hingga tak disangka umur sudah tidak muda lagi, ditambah lagi dengan stimulan-stimulan perbuatan-perbuatan yang mendekati zina, saling berpegangan tangan, berciuman, dan bahkan jatuh kepada perzinahan, na’udzubillah. Lagi-lagi wanita lah yang kemudian menjadi pihak yang paling dirugikan.

    Padahal, jika ia kembali kepada aturan Allah SWT, mempelajari agamanya dengan benar kepada para ahlinya, memperbanyak lingkungan teman-teman yang mencoba untuk terus menjadi sholeh/ah, dll, insyaAllah urusan apapun termasuk jodoh menjadi mudah bagi kita. So, be your self..be agood muslimah🙂.

    Reply

  18. ashy
    Nov 21, 2009 @ 11:56:22

    duh berat juga aturan agama…tapi ada kata bijak mengatakan, “kadang kita dijinkan bertemu dgn orang2 yg salah dulu sebelum ketemu yg benar.” apa kita tidak boleh belajar mengenal kaum laki2 or perempuan karena ada batasan agama yang mengikat sehingga kita seolah terjebak pada batasan tsb?
    bagaimana kita tau psangan kita itu benar kalo kita aja ga kenal dia?
    apa ga boleh pacaran itu mrpk suatu proses prkenalan utk berusaha mencari pasangan hidup yg terbaik?
    meskipun Allah telah memberikan yg terbaik tp bagaimana kita tau itu yg terbaik kalo kita tidak berusaha mengenalnya…?
    mohon diberi penjelasan…terimakaih sebelumnya, maaf jika pertanyaannya agak kontra

    admin :
    Aturan agama ga ada yang berat🙂. Sama saja dengan kita bersekolah, ada aturan jam masuk dan jam pulang, ada aturan berseragam, ada aturan mata pelajaran apa saja yang mesti kita pelajari, kemudian masing2 mata pelajaran itu akan diuji dsbnya. Kira2 perjalanan hidup kita pun sebagai seorang yang mengaku muslim seperti itu adanya, ada aturan peribadatan langsung kepada Allah SWT, ditetapkan waktunya, ditetapkan batasan2nya dsbnya, termasuk untuk urusan menjemput jodoh. Artinya, aturan itu ada agar muncul ketertiban, menciptakan harmoni/ keindahan, agar semua hak orang-orang yang ada disekitarnya terpenuhi dan tidak terzalimi, dsbnya.
    Persoalannya, fitrah keislaman kita sesungguhnya telah terkontaminasi atau bahkan terjajah dengan pemikiran2 diluar Islam semacam liberalisme, sehingga kita melihat aturan2 Islam itu sungguh menyulitkan dan memberatkan. Sholat hanyalah kita pandang sebagai sebuah kewajiban, sehingga tidak ada kenikmatan ketika melaksanakannya, tidak juga kemudian menjauhkan kita dari perbuatan maksiat kepada Allah SWT, padahal adalah janji Allah SWT bahwa dengan sholat dapat mencegah seseorang dari melakukan perbuatan maksiat.
    Islam tidak pernah melarang laki2 berteman dengan wanita, hanya saja Islam memberikan rambu-rambu dalam interaksi lawan jenis itu, agar kemudian memberikan rasa aman dari fitnah, saling menghormati, menjauhkan keduanya dari perbuatan2 yang dapat mendekatkan mereka kepada zina, na’udzubillah. Mungkin bukan zina besar, tetapi jangan salah, yang zina kecil tapi terus menerus dilakukan akan mengarahkan kita kepada zina yang besar, itulah sunnatullah-nya, jika sudah terjadi, lagi2 wanita lah yang paling dirugikan.

    Aktifitas pacaran itu sangat dekat dengan perkara2 yang mendekati zina, bahkan mungkin dalam bentuknya yang sangat halus, seperti pandangan mata kepada wanita yang bukan mahromnya, atau gambaran2 lintasan hati perbuatan2 yang jika dilakukan didunia nyata, belum pantas bagi dua orang lain jenis yg belum menikah, dsbnya.

    Lantas jika pacaran tidak boleh, bagaimana kita mengenal calon pasangan kita? Islam menawarkan proses ta’aruf..proses perkenalan yang syar’i, yang berlandaskan niat yang baik, niat ingin menyelamatkan diri dari derasnya gerakan bebas syahwat, niat ingin mendapatkan pasangan yang baik, niat ingin membangun keluarga samara, niat ingin membentuk generasi Qurani, dan niat-niat karena Allah SWT lainnya. Bagaimana caranya? salah satunya dibahas secara mendalam oleh Ustad Muhammad Fauzhil Azhim dalam bukunya “Kado Pernikahan untuk Istriku”, kita bisa merujuk kepada situs2 Islami semacam eramuslim.com, muslim.or.id, syariahonline.com, dsbnya yang membahas bagaimana perkenalan yang baik didalam Islam. Bersamaan dengan kita mempelajari bagaimana Islam, perbanyak pula lingkungan-lingkungan mereka yang berusaha untuk menjadi sholeh/ ah, lingkungan yang baik akan membantu kita menjadi lebih baik, dan tentu saja dalam kaitannya dengan jodoh yang baik, maka peluang kita untuk mendapatkan jodoh yang baik, insyaAllah semakin mudah.

    Yang perlu juga digarisbawahi adalah pasangan yang terbaik menurut kita, belum tentu terbaik dalam pandangan Allah SWT. Tetapi pasangan yang terbaik dalam pandangan Allah SWT, pastilah yang terbaik untuk kita. Kalaupun..jika semua proses yang baik dalam menjemput jodoh itu sudah kita lalui dan melibatkan Allah SWT, kemudian kita sampai kepada proses ijab qobul, dan ternyata setelah menikah, pasangan yang kita nikahi “jauh” dari apa yang kita impi2kan, maka inilah hikmah dan rahmat dari Allah SWT untuk kita. Faktanya tidak ada manusia yang sempurna termasuk diri kita, tetapi tanpa kita sadari konsep kita tentang pasangan yang baik pun sudah terkontaminasi, karena banyaknya tulisan, tayangan, tontonan dan doktrin2 yang beredar saat ini tentang konsep pasangan yang terbaik digambarkan dengan pasangan yang “sempurna”, pasangan yang siap selalu memberikan perhatian penuhnya kepada kita, pasangan yang selalu menjaga perasaan kita, dsbnya, padahal pasangan kita hanyalah manusia2 akhir zaman yang juga berusaha menjaga dirinya dan kita agar tidak terikut arus gerakan bebas syahwat. “Tidak ada manusia yang sempurna”. Pasangan yang terbaik, bukanlah pasangan yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi pasangan yang jika ia diingatkan akan kesalahannya, maka ia akan berusaha untuk memperbaikinya. Allahu’alam🙂.

    Reply

  19. lingga88
    Dec 31, 2009 @ 19:20:50

    Kalau liat cewek yang nggak mahromnya berarti nonton TV jg haram dong!
    nonton berita ( presenternya cewek ) haram, apalagi infotainment, apalagi sinetron.. saya muslim, tapi mungkin sudah terjerumus ke pola pikir liberal., mgkn saya sulit utk bangkit karena saat ini saya juga berpacaran, tinggal di lingkungan non muslim dan terlalu sering saya membaca teks, artikel, karangan dan situs – situs serta forum – forum yang menyudutkan islam.. ironinya tak ada muslim yang mengkontra hal itu. Tak jarang pula saya menemui orang non muslim itu lebih baik dari islam sendiri..

    admin : Nonton tv-nya tidak haram, tetapi jika non tv yang isinya mengumbar aurat, membangkitkan birahi, berbicara tentang aib orang lain, ghibah dsbnya jelas haram.

    Penekanan utamanya bukan pada tidak boleh melihat wanita non-mahrom, tetapi lebih kepada bagaimana kita menjaga pandangan kita kepada wanita non-mahrom. Termasuk ketika kita mendengarkan berita yang dibawakan oleh reporter wanita, apakah kita melulu melihat wajah si wanita? kan tidak, perhatian kita bisa kita alihkan kepada hal lain, sambil terus menyimak berita yang disampaikan. Artinya, pada kondisi yang bukan pacaran pun, seorang laki2 boleh jadi melakukan zina mata, apalgi pada kondisi dimana dia sudah berpacaran.

    Menjadi seorang muslim yang baik, bukanlah seorang muslim yang tidak pernah berbuat kesalahan. Apakah itu kesalahan dalam tindakan, bicara, ataupun pemikiran, tetapi menjadi seorang muslim yg baik adalah ketika mengetahui dirinya melakukan kesalahan, maka bersegera memohon ampunan Allah SWT. Jangan kemudian menyalahkan lingkungan, orang lain, atau apapun diluar kita, atas kesalahan yang kita lakukan sendiri. Dan menjadi seorang muslim, tidak kemudian menghalangi dia untuk berteman dari golongan manapun, dengan catatan identitas keislamannya haruslah terlebih dahulu ia bersih dan kuatkan agar kemudian dia tidak mudah terombang-ambing dalam arus pemikiran yg ada pada lingkungan tersebut dan orang tersebut bukanlah dari golongan yang jelas2 memusuhi islam. Kalau jelas forum2 yang kita ikuti, atau teks2 yang kita baca lebih banyak menydutkan Islam, maka solusinya sederhana, jangan mengikuti forum2 seperti itu dan membaca teks2 seperti itu. Kalaupun mau menyanggah, merujuklah kepada ahlinya, dan mengenyampingkan rasa marah serta menjauhi debat kusir. Tidak penting jika kemudian mereka merasa menang. Alangkah bijaknya jika kemudian kita ganti forum2 yang tidak baik itu kepada forum2 yang jauh lebih baik. Membaca teks2 agama yang benar dari para ulama yang hanif. Kemudian kita sebarkan tulisan2 yang baik itu agar kemudian banyak orang ikut merasakan manfaatnya. Artinya jangan sampai energi dan waktu yang kita habiskan selama ini, hanya malah membuat kita jauh dari jalan Allah SWT disatu sisi, dan disisi yang lain inilah salah satu bentuk “counter” kita terhadap mereka yang menyerang Islam melalui tulisan.

    Terkadang kita harus menyendiri, memberikan kesempatan bagi diri untuk mengingat-ingat apa saja yang sudah kita lalui. Pada momen seperti itu, seringkali kita dapat melihat persoalan secara lebih jernih, dapat menilai diri secara objektif, persinggungan apa saja mungkin yang sudah kita lalui selama ini yang telah menyakiti dan melukai perasaan ortu kita, saudara2 kita, teman-teman baik kita, bahkan diri kita sendiri, agar kemudian kita mempunyai dasar yang kuat untuk segera memperbaiki diri, karena seperti ungkapan yang mungkin kita pernah dengan “life is so short”.

    Pernyataan – orang non terlihat “lebih baik” dari orang islam – itu agak sulit dihindari, meski tidak seluruhnya benar, karena sangat2 subjektif. Ditambah lagi ukuran untuk menyatakan “lebih baik” itu sendiri belumlah disepakati. Positifnya untuk kita, ini adlaah nasehat yang baik, jadi harus kita terima dengan lapang dada. Tunjukkan bahwa pernyataan itu tidak benar. Tanggung jawab siapakah itu?, tanggung jawab saya, anda, dan semua umat islam. Jadi kembali lagi, sudahkan kita menjadi seorang muslim sejati?🙂.

    Reply

  20. d'mira
    Feb 11, 2010 @ 13:06:39

    alhamdulillaah, saya termasuk muslimah yang sedang menghindari larangan satu ini.

    tapi ada sedikit masalah yang mengganjal di pikiran saya.
    1. kita tau bahwa pacaran haram hukumnya, tapi ternyata, saya sebagai seorang penuntut ilmu tinggal dengan teman2 yang notabene punya pribadi dan sifat yang tidak sama. lalu, bagaimana kah cara kita mengingatkan adanya “larangan” dalam hubungan mereka ??

    2. rasa suka terhadap lawan jenis memang fitrah, tergantung bagaimana kita mampu memenej hati dengan baik. jika kemudian ada seorang ikhwan atau akhwat yang menyatakan perasaan sukanya pada kita, apakah yang bisa kita katakan sebagai alasan untuk tidak melakukan atau menjalani hubungan tersebut ???

    mohon maaf sebelumnya dan terima kasih atas jawabannya.

    admin :
    alhamdulillah..sesungguhnya Allah SWT selalu bersama mereka yang istiqomah dijalanNya.

    1. “Bil hikmah”..mengingatkan dengan tauladan dan kalimat-kalimat yang baik. Seringkali kita sulit menasehati mereka yang sedang “dimabuk” asmara..yang lagi kasmaran..:)..karena hati mereka sedang diselimuti kabut “kebahagiaan yang semu”. Pada kondisi seperti ini, terkadang kita harus bisa menahan diri, menyampaikan hal-hal yang prinsip tetapi secara umum dan kadang melalui sindiran. Lebih menekankan kepada kesan bahwa “saya adalah temanmu” bukan malah menimbulkan kesan “sirik tanda tak mampu”🙂. Tidak menghakimi “kesalahan” mereka, karena seringkali perbuatan itu mereka lakukan karena ketidaktahuan atau mungkin karena mereka sedang lupa.
    2. Bisa dengan mengatakan “akhi..jodoh itu perkara yang pasti. jika tidak disini maka Allah SWT telah menyiapkannya di surga. Tinggal sekarang bagaimana cara kita menjaga agar proses menjemput jodoh itu agar sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan RasulNya. Islam tidak melarang orang untuk menyukai dan mengenal lawan jenis, tetapi Islam mengatur agar kemudian proses perkenalan itu tidak terjerumus kepada perkara2 yang mendekati zina. Silahkan akhi mempelajari kembali bagaimana Islam memberikan arahan mengenai perkenalan yang syar’i kepada para ustadz/ulama, tapi bukan kepada saya/ akhwat lainnya, agar bisa lebih objektif, lurus niat, dan terhindar dari khalwat. kalaulah memang sudah jodoh tentu tidak akan lari kemana, dan berharaplah hanya kepada Allah SWT dan jangan pernah berharap kepada makhluk”. Kira2 bisa seperti itu🙂. Allahu’alam.
    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  21. iga handayani
    Mar 26, 2010 @ 14:49:10

    ass…wr…..wb……
    Sya ingin bertanya?
    1. Saya sudah pacaran tapi mnurut saya pacaran yg saya lkukan krang bk krena wktu saya sdang berduaan slalu melakukan sesuatu hal yg di lrang (ciuman) apa saya slah ya?
    2. Bgaimana utuk menolak’y scara halus?
    Terima ksih sblum’y……

    admin:
    wa’alaykumussalam warhamatullahi wabarakatuh

    1. Iga yang dirahmati Allah SWT, Allah SWT mengkaruniakan mata, hidung, bibir, tangan, tubuh yang sehat, dan semua yang nikmat ini tentunya dengan sebuah amanah atau tanggungjawab. Agar kemudian nikmat yang telah Allah SWT berikan ini tidak kita gunakan untuk malah menjahati atau bermaksiat kepada Allah SWT. Gunakanlah mata hanya untuk memandang yang halal, begitu juga tangan, bibir, dan lain sebagainya.
    Berduaan dengan lawan jenis non mahram inipun sebenarnya sudah disinyalir oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya `Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan` (HR Ahmad). Artinya apa? artinya jika kita melakukan apa yang dilarang oleh Allah SWT dan RasulNya maka keimanan yang kita nyatakan menjadi dipertanyakan/ diragukan kebenarannya (katanya beriman kepada Allah SWT dan hari akhir..kok malah berduaan dengan lawan jenis?) dan disisi lain ada bahaya yang menanti akibat kita lalai dan mengikuti syahwat diri.
    2. Jangan berpacaran!. Kalaulah pacaran itu diniatkan untuk mendapatkan jodoh yang baik, maka ketahuilah jodoh yang baik tidak akan didapat melalui cara-cara yang tidak baik semacam pacaran. Pacaran telah diteliti oleh para ahli, dan dapat kita lihat secara nyata baik melalui berita maupun yang terjadi disekeliling kita, telah membuka pintu-pintu zina bagi masing-masing pelakunya. Tinggal seberapa cepat masing2nya menyadari bahaya yang keji yang sedang mengintai dibelakangnya dan segera bertaubat menjauhi perbuatan itu, merekalah orang-orang yang selamat. Dengan kata lain, jangan pernah memberi kesempatan untuk terjadinya perbuatan zina itu dengan menutup pintu-pintu masuknya seperti memandang yang bukan haknya, memegang yang bukan haknya, mencium yang bukan haknya dll sebagainya.
    Jika ada yang mencoba untuk melakukan itu, maka tolaklah dengan tegas! tunjukkan bahwa kita punya izzah/ harga diri sebagai seorang muslimah yang telah Allah SWT tetapkan halal jika telah ada ijab qobul(pernikahan) sebagai pendahuluannya🙂. Pernikahan adalah sebuah harga mutlak, bagi dua orang lain jenis yang saling mencintai dan beriman kepada Allah SWT dan hari akhir untuk dapat berbagi romantisme dan mengeksplore rasa cinta diantara keduanya, diluar itu(pernikahan) maka semua romantisme yang ada hanyalah akan bernilai dosa dan mengundang kesulitan hidup dan murka Allah SWT, na’udzubillah.

    Akhirnya, selalu dan selalulah memohon petunjuk dan pertolongan Allah SWT, karena hanya dengan itulah kita dapat menjalani hidup dengan baik dan mengakhirinya dengan baik pula. Allahu’alam.

    Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  22. unee
    Mar 28, 2010 @ 20:33:40

    subhanallah menark sekali pembahasannya mbak..
    tapi jujur saat ini sy sendiri sedang melakukan hal tersebut (pacaran) bahkan hubungan kami sudah mendekati zina.
    awalnya sy berprinsip dan berkomitmen untuk tidak berpacaran dan tidak ingin menyukai lawan jenis..tetapi pada kenyataannya sy dipertemukan dengan orang yang menyukai sy dan begitu pun sebaliknya..bagaimana sy harus menghadapinya.? apa kah sy harus memutuskan hubungan ini,,? sedangkan saya menyayanginya mba..mohon petunjuknya/
    trima kasih

    admin :
    alhamdulillah..segala puji hanya milik Allah SWT.
    Pertama-tama, kami bukan “mbak”🙂..
    Unee yang dirahmati Allah SWT, bahwa menyukai dan disukai oleh lawan jenis adalah fitrah yang dianugrahkan Allah SWT untuk setiap manusia. Dan karena Allah SWT Maha Mengetahui ciptaanNya(manusia dan syetan) untuk itu Allah SWT telah menyiapkan aturan yang indah dalam kaitannya menyikapi perasaan suka kita kepada lawan jenis agar manusia yang patuh terhadap aturan syariah tidak tergelincir oleh bujuk rayu syetan yang menggoda melalui fitrah ingin menyukai dan disukai ini.
    Artinya tidak ada yang salah dengan keinginan kita menyukai dan disukai lawan jenis. Yang perlu menjadi perhatian kita adalah bagaimana kemudian kita memahami dan mengaplikasikan ilmu syariah yang mengatur hubungan lawan jenis itu dengan kenyataan yang kita hadapi. Tetapi bagaimana kita mau mengaplikasikannya, jika belum memahaminya..dan bagaimana kita dapat memahaminya..jika selama ini kita tidak pernah mempelajarinya?.

    Sehingga yang terjadi kemudian, banyak muda-mudi muslim kita yang beramai-ramai “menuntut” pemenuhan fitrah menyukai dan ingin disukai ini tanpa sebelumnya memahami bagaimana agama mengatur persoalan ini. Mereka menduga-duga dan hanya “mempelajarinya” dari contoh2 yang salah yang tersedia disekitar mereka, melalui film2 barat, melalui sinetron, novel2 picisan, dsbnya, yang akhirnya mengarah kepada perbuatan zina dan bahkan melakukan perzinahan itu sendiri, na’udzubillah.

    Jika saya ditanya terkait dengan kondisi yang unee ceritakan(sudah mendekati zina), apakah harus putus? Iya! no compromise🙂. Tenangkan diri dan pikiran terlebih dahulu, jauhi hal-hal yang dapat menarik kita kepada memori yang kemarin. Perbaiki kedekatan kita dengan Allah SWT, melalui ibadah harian, menghadiri majelis-majelis ilmu, mencari teman-teman yang sholehah, dsbnya, sambil merenungi apa yang sudah unee lewati selama ini, bagaimana perhatian unee kepada ortu, keluarga, saudara, teman-teman yang selalu mengingatkan unee ketika melakukan kesalahan, berapa banyak kebaikan yang sudah unee lakukan, berapa banyak kemaksiatan yang sudah unee perbuat, yang pada akhirnya akan mengarahkan unee untuk membuat target baru, target yang benar, yang berlandaskan kebaikan dan dengan cara-cara yang baik. Termasuk dalam kaitannya dengan urusan jodoh. Jangan khawatir jodoh kan tertukar, karena Allah SWT telah menetapkan, laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik dan begitu juga sebaliknya. Singkatkata, urusan/ tujuan/ target apapun yang kita miliki sejatinya harus mengarahkan kita menjadi manusia yang baik, jika ia perempuan .. menjaid perempuan yang sholehah, insyaAllah jodoh yang akan didekatkan Allah SWT pun adalah jodoh yang sholeh, dengan proses yang jauh dari perkara yang mendekati zina, dan itu bukanlah dengan berpacaran🙂. Allahu’alam.

    Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

    Reply

  23. al-dhaif
    Apr 02, 2010 @ 21:49:38

    Assalamu’alaikum warahmatullah

    Semoga rahmat Allah slalu tercurah pagi sang pencinta, sang pecinta yng tulus ikhlas……

    Nah, mnaggapi masalah “pacaran”. Bagi saya, sblm kita mmbahas tntang boleh-tdk, ato haram-halal nya suatu prkara, kita harus spakat dlu tntang definisi “pacaran”. Mnurut saya, pcran itu adalah proses perkenalan antara laki2 dan perempuan yang berkeinginan utk menikah, dgn hrpn mndptkan yg ssuai atau sepadan. Nah, dari dfinisi itu saya rasa tdk ada slh nya utk brpcran, selagi msi dlam kaidah2 ato pngertian yang diatas. Kita g bs mnyamaratakan smua pcaran itu sama, krn ideologi yng d gunakan dlam pcran utk msing2 org itu gak sama. Kita umat islam terlalu gampang tertipu dengan “simbol2” ato “istilah2” yg trkdang kita gak pernah mnelaah esensinya. Klo dah namanya “pcran” psti lgsung kita haramkan tanpa kita mau mndengar penjelasan dari si pelaku. Klo pake istilah ”
    ta’aruf” kita langsung stuju, smntara di kenyataannya, kita sering ngeliat pnyimpangan kaidah didalam bertaaruf. Bahkan saya prnh liat satu kasus yg ta’rufannya itu gak jauh beda dgn gaya pcran yng kita ributkan…….
    Islam saat ini mesti crdas
    Dan satu lagi, pcran yng tidakdi snggung di alQuran, atau nggak d sbut scra gmblang dlm alQuran bukan berarti pcran itu haram. Terlalu gmpang kaidah ushul fiqh kita klo bgtu…..
    Sy rasa ada 2 hal yg paling mndasar knapa pcran tdk d snggung d alQuran:
    1. pd msa alQuran turun, istilah ato tradisi pacaran tdk dikenal oleh bangsa arab saat itu. Sbg contoh, hkm jual beli menyaratkan penjual n pmbeli hrs dlm 1 majelis sbg slah satu syarat sah jual beli. Tp skrg gmn klo mmbeli brg pke internet???????? Mmbeli pke internet g prnh diatur oleh alQuran n hadis, krna ga ada pada zaman itu.
    2. Allah hnya mngatur hal2 yg umum dlm brgaul,,,,sprti mnjga pndangan, syahwat n sbgainya. Jadi mnusia diberi ksemoatan utk mnilai dirinya,apakah dlm pcran aku sanggup mnjga pndangan, mnjaga kebersihan hati, n tahan utk gak mnyentuh pasangannya…..
    Klo kira2 yakin, ya silahkan….klo hti nurani bilang gak sanggup, ya jangan…..klo mau ngetes dulu,eh tiba2 wktu d coba ternyata g bisa, ya cpet2 mundur……
    Klo mmg da mmg cocok dgn pilhan ya langsung di nikahin aja………
    Simpel n lbh leluasa……..

    Wallahu ‘a’lam

    admin:
    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Semoga Allah SWT selalu menunjuki kita yang benar itu benar dan memiliki kesabaran untuk mengikuti kebenaran itu, meski harus sendirian..aamiin..

    Mas dedy yang dirahmati Allah SWT, tidak ada yang melarang jika kita memiliki definisi tertentu terhadap suatu hal, katakanlah definisi “Pacaran” yang telah mas dedy sebutkan.
    Tetapi yang perlu diingat, sebuah definisi haruslah sesuai dengan kenyataan dan fakta yang ada. Artinya jika definisi yang kita buat itu hanya mewakili sebagian dari keseluruhan kenyataan dan fakta yang ada atau bahkan bertentangan maka definisi yang kita buat itu tentu akan tertolak secara meyakinkan. Menerima definisi dengan kualitas seperti yang kami sebutkan diatas sama saja dengan menutupi kebenaran, dan membohongi diri sendiri. Mengenai definisi pacaran yang disesuaikan dengan “selera” sendiri kami membahasnya pada tulisan tersendiri disini.

    Kita juga ngga perlu “ngetes” seberapa besar pemahaman ilmu agama kita tentang pergaulan dengan “berpacaran”, worthless..ga berharga, yang ada malah kita menjerumuskan diri kita sendiri ke dalam kekejian🙂. Pemahaman semakin tinggi “ilmu” semakin boleh menyerempet perkara maksiat sama saja dengan menipu diri sendiri. So.. ngaji lagi yuk, “ojo jotos2an”🙂. Allahu’alam.

    Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  24. niina
    Apr 04, 2010 @ 09:26:30

    makasih sudah mengigatkan

    Reply

  25. Rif'atun Nasyizah
    May 28, 2010 @ 15:52:00

    saya mau nanya,,,
    blh gk?sepasang tunangan itu berkomunikasi layaknya pacaran?

    admin:
    meski sudah bertunangan, sebaiknya dihindari komunikasi layaknya orang berpacaran, yang penuh pujian dan rayuan, dikhawatirkan perkara-perkara itu dapat memanjangkan khayalan sehingga tidak saja zina mulut yang dilakukan tetapi juga zina hati. Berkomunikasilah sesuai dengan kebutuhannya, dan bersabarlah, karena tatkala ijab qobul sudah diikrarkan maka komunikasi yang lebih dari orang berpacaran sekalipun sangat dianjurkan, dan akan mendapat ampunan serta pahala Allah SWT🙂.

    Reply

  26. surya
    May 31, 2010 @ 14:12:53

    Assalalmualaikum . .wr.wb.
    maaf sebelum nya saya mw bertanya .apkah dalam islam menunggu seseorang yg kita cintai diperboleh kan atau tidak?

    dan selagi menunggu apkah hal baik yg harus saya lakukan?

    wassalam . . . .

    admin:
    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Menunggu dari lamaran ke akad nikah atau menunggu seseorang yang belum jelas (belum ada lamaran) ? Pada prinsipnya, tidak ada larangan ‘menunggu’ pada kondisi kedua terlebih yang pertama.

    Jika pada kondisi kedua..menunggu sesuatu yang belum jelas, pertimbangannya pertama, apakah seseorang itu layak kita tunggu? Dengan bahasa yang lain, apakah seseorang yang kita tunggu itu memang juga memiliki sinyal yang sama seperti yang kita miliki. Karena jangan sampai, ketika sampai pada akhir masa penantian, ternyata seseorang yang kita tunggu itu memilih orang lain, tentunya ada banyak waktu yang terbuang untuk itu, belum lagi kekecewaan yang dirasakan akibat kenyataan yang berbicara lain.

    Jika menunggu setelah ada proses lamaran, maka ketahuilah bahwa “lamaran” tidak menjadikan apa2 yang sebelumnya berlaku “tidak boleh” diantara dua lain jenis yang belum menikah(seperti: berdua2an, merayu-rayu, berpegangan tangan, dsbnya) menjadi “boleh”. Artinya masing2 pihak selama menunggu ke arah proses ijab qobul, harus dapat saling menjaga dan menahan diri daripada perkara yang dapat mendekatkan mereka kepada perbuatan zina. Kalaupun harus bertemu, bertemulah untuk sebuah kepentingan yang memang penting, seperti membicarakan prosesi walimatul ursy/ syarat2 surat nikah, dsbnya, selebihnya bersabar dan menyibukkan diri dengan pekerjaan, hobby, dan yang terpenting menjaga kedekatan kita kepada Allah SWT. Allahu’alam.

    Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  27. Sila
    Jun 01, 2010 @ 09:43:58

    Assalamu’alaikum
    mksih ats pjlsan2 nya.Sya akn mncba mrubah dri agar mnjdi lbih baik, krn slma ne rasanya sdah bnyk dosa2 kcil yg sya perbuat. Do’akan sya…

    admin:
    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    alhamdulillah..semoga Allah SWT menunjuki kita yang benar itu benar dan yang salah itu salah, dan diberikan kesabaran untuk mengikuti kebenaran itu walau kadang hanya sendirian, aamiin ya Allah..

    wassalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh

    Reply

  28. imah
    Jul 08, 2010 @ 10:46:53

    assalamualaikum….
    pak saya siswi kelas 2 SMK say mau tanya saya ada kenalan cowok melalui hp…
    cowok ini sudah berumur 23 thn,,dan sekarang di sudah kerja tetap…… sya gak pernha mengaggap dia sebagai pacar tapi sya menganggap dia sebagai abng saya
    kami juga kenalan melaui hp yang awalnya dia yang terlebih dulu menelpon saya….trus nonya tu gaksaya simpan pada awalnya…trus kira2 1 mnggu di nelpon lagi… sampai saat ini kami brkontak hp trus…malah dia ngotot untuk berjumpa dengan saya tapi sya tidak mau?malah dia akan nunggu sampai saya tamat skul…karna saya bilang kalau saya akn jmpa ma dia tamat skul nanti…
    yang mau saya tanyakan …
    bolehkah kami smsan menggunakan kata abng dan adik malah pernah menggunakan kata sayang.. walaupun gak pernah berjumpa?
    apakah smsn ini termasuk dosa besar juga?
    apa solusinya agar dia mengerti akan permasalahannya ini?

    admin:

    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Pada prinsipnya..tidak ada larangan berbicara/smsan menggunakan kata “abang” dan “adik” atau kata “sayang”. Tetapi kata2 diatas akan memiliki makna yang berbeda ketika digandengkan dengan kalimat dan dari orang yang berbeda. Contoh : disumatra misalnya lazim kami menggunakan ungkapan “Abang” dan “adik” untuk membahasakan diri kepada laki2 yang lebih tua atau perempuan yang lebih muda. Atau misalkan kata “sayang” yang diucapkan oleh seorang guru kepada muridnya, dsbnya. “Subjek” yang mendengar itu pun tidak ada perasaan yang ‘bagaimana’ mendengar kata2 itu.

    Tetapi ketika kata2 itu diucapkan oleh dua orang lain jenis yang diketahui memiliki rasa suka kepada yang lainnya, maka kata2 ini menjadi agak ‘beresiko’. Beresiko dalam arti, ianya dapat memanjangkan angan2.. membuat subjek yang membacanya menjadi lebih “berharap” terhadap lawan bicaranya(zina hati).. terlebih2 jika kita sebagai lawan bicaranya, justru pada kenyataannya tidak berharap orang tersebut menjadi lebih suka..karena mungkin dalam pandangan kita, ungkapan “abang” yang kita gunakan adalah sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua.

    Apakah ini termasuk dosa besar? Jika sudah tergolong zina hati(Allahu’alam) ini sudah masuk kepada perkara dosa, meski hanya dosa kecil🙂, tetapi ketahuilah, bukan perkara yang kecil lagi jika dosa kecil itu kita lakukan terus menerus, ditambah lagi bahwa dosa kecil yang dilakukan secara terus menerus akan menjadi pintu untuk terjadinya dosa yang lebih besar (saling menatap/ betemu, kemudian saling bepegang tangan..kemudian saling berdua2an..kemudian saling kis2an dan akhirnya zina kemaluan..na’udzubillah).

    Solusinya? sampaikanlah kepada si Abang untuk tidak mengiriminya sms lagi, karena didalam Islam, hal ini sudah menjurus kepada perbuatan membuka pintu zina/ mendekati perkara zina. Nasihatilah ia untuk banyak mengkaji bagaimana Islam mengatur pertemanan diantara lawan jenis, bisa melalui internet/ buku/ menghadiri pengajian disekitar tempat tinggalnya. Dan disaat yang bersamaan imah juga terus mengkaji dan mengkaji lagi bagaimana Islam mengatur interaksi dengan lawan jenis, kenali apa yang boleh dan apa yang tidak boleh menurut agama kita. Persoalan apakah si abang akan segera mengerti atau tidak setelah semua ini kita sampaikan, bukanlah menjadi tanggungjawab imah. Dan jika si abang masih berusaha menghubungi imah..maka segeralah mengganti no hp, dan sharinglah no itu hanya kepada orang2 yang benar2 dapat kita percaya untuk tidak disalahgunakan. Allahu’alam.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

    Reply

  29. runa
    Sep 14, 2010 @ 12:10:55

    AssQum
    sya tau pcran th gk bleh,tapi sy sdh pcaran..bagaimana ya?

    admin :
    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Gampangnya gini.. prinsip larangan itu jangan didekati. Contohnya.. ada kotoran dijalan yang akan kita lewati, kita tahu kotoran itu najis untuk kita, akan menyulitkan kita ketika akan sholat, bersilaturahim dengan orang dsbnya, meskipun begitu masing-masing orang dengan tingkat kedewasaan, kecerdasan, dan keimanannya(jika terkait persoalan agama) akan menyikapinya secara berbeda, ntah dengan melewati sisi jalan yang lain, ntah dengan memasang papan peringatan agar juga tidak diinjak orang lain, ntah dengan menyingkirkan kotoran itu, atau dengan menguburnya, dsbnya.
    Persoalannya ketika berbicara larangan dalam syariah, banyak dari kita tidak memahaminya sebagai sesuatu yang “kotor” atau “najis”. Padahal ianya memiliki sifat yang sama..sama2 mengotori hati, menyulitkan orang yang mendekati bahkan melakukan larangan itu, dsbnya. Tapi pada akhirnya, kembali ke masing-masing individu, apakah ia berusaha membersihkan “najis”2 maksiat dalam hati dan amaliahnya ataukah ia semakin cinta dan merasa butuh dengan “najis”2 maksiat tersebut?, na’udzubillah. Allahu’alam.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  30. Tofit
    Sep 18, 2010 @ 22:14:04

    Assalamu alaikum wr. wb.
    Pak saya mau nanya
    hukum kawin lari itu apa p4k,terus kasih penjelasany p4k..makasih
    wassalamu alaikum wr. wb.

    admin :

    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabaramatuh

    Karena keterbatasan pengetahuan dan ilmu mengenai hal yang ditanyakan diatas, berikut kami kutipkan jawaban dari website eramuslim, mudah2an jawaban dibawah cukup mewakili🙂 :

    Source/Sumber tulisan

    Bolehkah Nikah Sirri
    Kamis, 04/06/2009 14:01 WIB | email | print | share

    Saya pria menikah berumur 30 tahun, telah menikah lagi dengan seorang gadis tapi dengan cara sirri, hal tersebut kami lakukan karena selalu terbayang dosa setiap kami telah melakukan zina. Tapi dalam menikah sirri tersebut kami tidak diketahui oleh kedua keluarga, karena kami tahu pasti semua keluarga tidak akan setuju.

    Sekarang hal tersebut sudah diketahui oleh seluruh keluarga kami, termasuk istri saya, saat ini pihak keluarga gadis tersebut tidak mengakui pernikahan sirri, karena dianggap tidak sah dan merupakan aib masyarakat, mereka tidak sudi putrinya menjadi isteri kedua. Sekarang kami tidak boleh bertemu maupun berkomunikasi. Pertanyaan saya adalah

    1. Apakah pernikahan sirih yang kami lakukan sah di hadapan Allah SWT?
    2. Jika saya memaksa untuk menjemput gadis yang saya nikahi tersebut, apakah saya benar-benar berhak sebagai seorang suami?

    Mohon jawabannya Pak Ustadz.

    Wassalam

    ying
    Jawaban

    Waalaikumussalam Wr Wb

    Apabila pernikahan yang anda lakukan dengan perempuan itu tidak dihadiri dan mendapatkan izin dari wali pihak perempuan maka pernikahan tersebut dianggap tidak sah. Hal itu dikarenakan seorang wanita tidaklah bisa menikahi dirinya sendiri atau diwalikan orang lain selama walinya masih ada kecuali jika walinya sudah tidak ada atau berhalangan maka perwaliannya berpindah kepada wali yang lainnya atau kepada hakim (petugas negara) sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Tidak sah nikah tanpa wali.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)

    Juga hadits yang diriwayatkan dari Aisyah bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Siapa pun wanita yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya batal, nikahnya batal, nikahnya batal.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah)

    Sedangkan urutan wali didalam pernikahan—sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qudamah—adalah ayah kandungnya kemudian ayah dari ayahnya kemudian anak laki-laki wanita itu kemudian anak laki-laki dari anak laki-lakinya—apabila wanita itu memiliki anak—kemudian saudara laki-laki kandung wanita itu kemudian saudara laki-laki wanita itu yang sebapak kemudian anak-anak laki-laki dari saudara laki-laki wanita itu kemudian paman-paman wanita itu dari jalur bapaknya kemudian anak-anak laki-laki dari paman-paman wanita itu dari jalur bapak kemudian penguasa. (Al Mughni juz IX hal 129 – 134)

    Adapun dalil tentang dibolehkannya penguasa (hakim) menjadi wali ketika wali pihak perempuan sudah tidak ada atau berhalangan adalah apa yang diriwayatkan dari jalur Aisyah bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Tidak ada pernikahan kecuali dengan seorang wali, dua orang saksi yang adil. Suatu pernikahan yang selain itu (tidak adanya mereka) maka nikahnya batil. Apabila terjadi perselisihan diantara mereka maka penguasa adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali.” (HR. Ibnu Hibban)

    Dengan demikian dikarenakan batalnya pernikahan yang anda lakukan maka anda dan pasangan anda haruslah dipisahkan dari pernikahan yang batal itu. Adapun cara pemisahan antara anda berdua adalah dengan cara anda sebagai suami diharuskan menjatuhkan talak (cerai) terhadapnya jika anda rela untuk melakukannya sendiri namun apabila anda tidak ingin melakukannya maka pemisahan dilakukan oleh hakim dengan cara pasangan anda meminta kepada walinya agar mengadukan permasalahannya ke KUA untuk kemudian hakimlah yang melakukan pemisahan diantara anda berdua.

    Sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Qudamah bahwa apabila seorang wanita dinikahkan dengan pernikahan yang rusak (batal) maka tidaklah boleh dirinya denikahkan dengan selain orang yang telah menikahinya sehingga orang yang menikahinya itu menceraikannya atau dipisahkan pernikahannya. Apabila suaminya itu tidak mau menceraikannya maka hakimlah yang harus memisahkan pernikahannya, dan nash ini dari Ahmad. (al Mughni juz IX hal 125)

    Dan jika setelah anda menceraikan pasangan anda itu atau telah dipisahkan oleh hakim lalu anda ingin menikahinya kembali maka hendaklah si wanita meminta izin kepada walinya untuk menikahkannya dengan anda. Namun sebagian ahli ilmu juga mensyaratkan bersihnya kandungan wanita itu dari janin setelah berlalu satu kali haidh apabila suaminya ingin memperbaharui kembali akad dalam pernikahan yang batil itu.
    Kemudian hendaklah anda berdua senantiasa beristighfar dan bertaubat kepada Allah swt atas kelalaian ini terlebih lagi apabila anda berdua sebelum melakukan “pernikahan” itu telah melakukan perbuatan zina. (baca: Istri Minta Dirajam).

    Firman Allah swt :

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

    ”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At Tahrim : 8)

    Juga firman Allah swt :

    قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

    Artinya : “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar : 53)

    Setelah itu hendaklah anda meminta maaf kepada istri serta kedua orang tua pasangan anda karena kekeliruan dan kesalahan yang anda lakukan dan janganlah anda mengambil pasangan anda itu dengan cara memaksa seperti yang anda inginkan karena hal itu akan merugikan diri anda sendiri.

    Dengan begitu hubungan silaturahim diantara anda dengan mereka tidak terputus karena silaturahim yang terjalin akan mendatangkan curahan rahmat dan kasih sayang Allah kepada mereka-mereka yang menghubungakannya.

    Wallahu A’lam

    Reply

  31. firmansyah
    Sep 19, 2010 @ 21:58:45

    Kalok gk pcrn truz…
    langsung lamar…??

    mna lah cwe nya mau…
    kenal PDKT aja belumm….

    admin :

    Bisa dan banyak tuh cewek yang mau🙂. Mau tahu siapa aja…Rasulullah SAW ga pacaran, para sahabat radhiallahu’anhum ga pacaran, para tabi’in ga pacaran, para tabi’ut tabi’in ga pacaran, para ulama dahulu dan sekarang banyak yang ga pacaran, orang yang selalu berusaha untuk sholeh dulu dan sekarang banyak yang ga pacaran, dst-dstnya.

    Mereka langsung lamar setelah berkenalan secara syar’i🙂. Nanti setelah nikah baru deh PDKT yang kaya orang pacaran gitu.., dijamin lebih tenang..dan bernilai pahala🙂.

    So..masih ragu kalo ga pacaran ga bisa dapet jodoh? hehehe..

    Reply

  32. Ikhwan
    Oct 05, 2010 @ 21:41:31

    Assalamu’alaykum wr.wb

    Tanya Ustadz..
    saya seorang cowok umur 23 tahun,dan kini saya dekat dengan seseorang dengan umur 18 tahun.emang sih kami punya komitmen mau nikah,tapi kami pasang target sekitar 2 tahun lagi..
    dan itu sudah diketahui kedua orang tua kami.
    saat ini kami memang berhubungan dengan hp,karena kesibukan kami masing2,tapi setiap 1 bulan sekali kami bertemu.tapi sekedar main kerumahnya.tidak sampai keluar berdua..
    yang saya tanyakan,apakah yang harus saya lakukan agar tidak mendekati zina.maunya sih pengen cepet nikah,tapi belum siap.dari saya pribadi maupun dari pihak perempuannya..dan kami udah punya rencana mau nikah antara 2 tahun lagi.
    mohon penjelasannya

    Wassalamu’alaykum wr.wb

    admin:

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Ikhwan yang dirahmati Allah SWT, “kemampuan” adalah syarat utama mereka yang hendak menikah.

    “Hai golongan pemuda, siapa di antara kamu yang mampu untuk menikah, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih memelihara kemaluan. Tetapi, siapa yang tidak/belum mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat mengurangi syahwat. (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Darami).

    Bukanlah sebuah aib jika seorang laki-laki menyukai seorang wanita. Bahkan rasa suka itu adalah fitrah manusia dan menjadi sebab keberlangsungan hidup manusia. Tetapi Islam bukanlah agama yang membebaskan kita dalam mengekspresikan rasa suka itu.

    Karena Islam menghendaki kebaikan, kemuliaan, dan kesucian fitrah mereka yang saling mencintai, maka Islam mengatur batasan2 agar rasa suka itu tidak mudah didomplengi oleh Iblis yang dengan berbagai macam cara dan pembenaran hendak menghinakan kedua orang yang saling mencintai itu dengan perbuatan yang mendekati zina.

    Dalam hadits diatas ada solusi bagi mereka yang belum memiliki kemampuan menikah, yakni dengan berpuasa. Puasa dalam arti yang luas..apakah dengan berpuasa senin – kamis, atau berpuasa “Daud” puasa sehari -berbuka sehari, puasa dari menghayalkan orang yang disukai, puasa dari tontonan yang dapat memancing birahi, dan “puasa2” lainnya. Dan disaat yang bersamaan, kita meningkatkan kemampuan diri agar apa yang dicita2kan(menikahi wanita yang kita cintai dan mencintai kita) dapat segera terwujud, yang tentunya dengan mengedepankan tuntunan Al Quran dan Sunnah. Allahu’alam.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  33. m.fauzi
    Oct 09, 2010 @ 15:30:25

    klo kita ber pacaran tp kita tdk prnh melakukan perzinahan maupun persentuhan apkh boleh???

    admin:
    Ada sebagian kita yang berujar “yang penting kan ga zina farji’..pegang2 dikit, cium dikit, dsbnya dikit mah ga papa…ga asik juga kan pacaran ga ngapa-ngapain..”, na’udzubillah. Padahal didalam agama kita, mendekati zina itupun sudah dikategorikan sebagai perbuatan yang haram. Allah SWT berfirman,

    Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Israa : 32)

    Apa sajakah perbuatan yang dikategorikan mendekati zina itu ?

    Rasulullah SAW bersabda : “Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhasrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR Bukhari).

    Cara berfikirnya sederhana, jika yang tidak berpacaran saja sangat memungkinkan untuk melakukan pendahuluan zina seperti zina mata dsbnya, bagaimana bagi mereka yang jelas-jelas menyatakan diri sebagai kasih-kekasih, tentu peluang untuk semakin sering melakukan pendahuluan zina yang dapat menyeret pelakunya kepada zina farji’, semakin besar. Alllahu’alam.

    Reply

  34. Budi Saputra
    Nov 30, 2010 @ 09:38:18

    السلام عليكم
    Apakah ada batasan waktu khitbah sebelum menikah, mksdnya brapa lama wktu yg di perlukan dr mengkhitbah menuju pernikahan? secara umum di lingkungan saya ada yg meminta jangka waktu hingga 2 thn. dan bagaimana cara menjaga hubungan setelah khitbah? tolong penjelasannya.

    admin :
    wa’alaykumussalan warahmatullahi wabarakatuh

    Tidak ada satupun dalil yang menyatakan masa antara khitbah dan akad nikah/ walimatul ursy. Hanya saja dari semua dalil dan penjelasan para ulama, pernikahan haruslah disegerakan. “Kalo bisa sekarang lebih baik” kita2 begitu😀. Karena satu dari hikmah pernikahan adalah “menjinakkan syahwat birahi”(terutama bagi laki2), sehingga jika masa antara khitbah dan akad nikah terlalu lama, maka dapat dibayangkan betapa beratnya bagi si laki2 ini akan berusaha menjauhkan pikirannya dari hal2 yang dapat mendekatkannya kepada perbuatan zina, dstnya.

    Bagaimana cara menjaga hubungan setelah khitbah? khitbah, tidak menjadikan sang calon laki-laki dan calon wanita menjadi “setengah” halal🙂. Apa-apa yang menjadi batasan syariat terhadap kedua insan lain jenis ini sebelum khitbah, tetap berlaku meski khitbah sudah dilakukan. Karena khitbah, hanyalah mekanisme syariat agar orang yang sudah dikhitbah tidak dapat dikhitbah oleh orang lain. Selebihnya, aturan syariat yang mengatur pergaulan diantara dua insan lain jenis tetaplah berlaku, seperti, tidak saling bersentuhan, tidak bepergian berduaan, tidak bersepi2an, dsbnya hingga akad nikah selesai diikrarkan.Allahu’alam

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  35. Alind
    Dec 06, 2010 @ 15:55:51

    jadi sebenernya pacaran itu boleh ngga sih ?
    soalnya di sekolah . temen2 aku banyak yang pacaran . :))

    admin :
    🙂.. salah satu ciri tanda2 kiamat itu, ketika kemaksiatan merajalela.. alias ada dimana-mana.. alias banyak yang ngelakuin.. dsbnya dan yang mengingatkan akan dosa itu semakin sedikit.. alias jarang.. alias banyak yang “memaklumi” dsbnya.
    Tinggal kita pelajari aja.. pacaran itu banyak mudharatnya apa ngga? pacaran itu membuka pintu zina apa ga (baca: pegang2an tangan dengan non muhrim, saling berpandangan, saling merayu, mencari cara untuk berdua2an/bersepi2an dstnya-dstnya) ? jika iya, maka pacaran termasuk ke dalam perkara yang tidak boleh kita lakukan, meski banyak orang disekeliling kita yang melakukannya.
    Tetap saling nasehat-menasehati dalam kebenaran, dengan hikmah dan kesabaran.

    Reply

  36. nanda
    Dec 22, 2010 @ 21:44:58

    asslm,
    saya mw bertanya saya pernah berpacaran lalu saya menyadari bhwa itu slah dan saya menghindarinya,
    nmun perasaan saya tidak dapat berubah kepada pria itu.
    apakah saya boleh memendam perasaan saya?
    Apakah saya berdosa bila seperti itu?

    admin :

    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Persoalannya bukan pada “perasaan” yang tidak dapat berubah, tetapi pada diri kita yang memang belum mau mengubah perasaan itu. Kita lah “panglima” dari seluruh yang ada pada diri kita, kitalah yang menentukan apa yang mau kita pandang, kitalah yang menentukan apa yang mau kita ucap, kitalah yang menentukan langkah kita mau kemana, kitalah yang menentukan perasaan kita seperti apa dsbnya.

    Dan setiap pemimpin(baca: diri kita) akan dimintai pertanggungjawabannya pada yaumil akhir nanti atas apa yang dia pimpin, termasuk “perasaannya”. Jika mba memilih untuk tidak berpacaran karena Allah SWT, maka iblis tidak akan rela dengan itu semua. Iblis akan berusaha mencari cara agar kita kembali ke “jurang” sama, maka dibisikkanlah hati kita akan kenangan2 “indah” masa lalu, yang jika kita iyakan maka akan membuahkan perasaan rindu yang sulit terobati. Jika sudah begini, maka akan dekat kepada zina hati. Syaikh Al Qorni pernah menulis tentang rindu, silahkan direnungi, dan semoga dapat kembali meluruskan niat dan teguh pendirian dijalan Allah SWT, aamiin.

    Reply

  37. Fitri Nur Aprianti
    Jan 06, 2011 @ 10:47:14

    gimana klo kita jatuh cinta?~_^
    tapi umur masih terlalu muda untuk menikah???

    admin:

    benarkah jatuh cinta ataukah hanya ketertarikan fisik(karena akibat kedekatan yang tidak syar’i..alias virus pink) ?. artinya, kenali lagi rasa “suka/cinta” apakah muncul karena kekaguman akhlak, ataukah karena kedekatan yang tidak syar’i. jika karena kekaguman akhlak, maka tutuplah cinta itu dengan doa kepada Allah SWT. jika karena kedekatan yang tidka syar’i, maka menjaga pandangan dan jarak adalah jauh lebih baik dan menyelamatkan. artinya, jika terlalu muda untuk menikah/ belum memiliki kesiapan untuk menikah, maka cinta kepada lawan jenis belumlah menjadi hal yang utama. perasaan cinta adalah energi, arahkan saja energi itu kepada kegiatan positif lainnya, belajar dengan lebih giat lagi, perbaiki ibadah kita kepada Allah SWT, berdakwah dilingkungan sekitar, dan berbagai kegiatan positif lainnya. InsyaAllah hal itu akan menambah kedewasaan dan kesiapan kita menuju pintu pernikahan. Allahu’alam.

    Reply

  38. diah
    May 18, 2011 @ 21:18:40

    tpi klau ada cowok yg istilah nya “nembak” trus ngajak pacaran , pdahal kta tau klau pcarn itu gak boleh , kta hrus kayak mana pak ?
    sbenar nya suka juga sama dia. Jdi bingung mau kayak mana ?

    admin :
    tpi klau ada cowok yg istilah nya “nembak” trus ngajak pacaran , pdahal kta tau klau pcarn itu gak boleh , kta hrus kayak mana pak ? gampang..tinggal kasih tahu apa yang kita tahu, bahwa pacaran itu ga boleh dan mengundang murka Allah SWT. kalo jodoh yakin deh ga bakal kemana, biar terpisah samudera, terpisah benua, kalo udah jodoh pasti Allah pertemukan :d. OK, jd hidup kita juga tenang, tidak terganggu dengan “problematika” pacaran, jauh dari pintu zina, sehingga target2 hidup bisa lebih optimal.

    sbenar nya suka juga sama dia. Jdi bingung mau kayak mana ? nah ga semua yang kita suka, kemudian kita lakuin kan?🙂. contoh : ada orang suka makan tongseng kambing, tapi dia ada darah tinggi, sedangkan dokter sudah memerintahkan agar jangan makan kambing, tujuannya baik agar darah tingginya ga kambuh, dan dia bisa terhindar dari stroke. karena orang ini menggunakan akalnya, dia tahu bahwa kambing bisa bikin darah tingginya naik, dan bahkan bisa memicu terjadinya stroke, yang pada akhirnya akan bikin keluarganya susah, tanpa kesulitan dia meninggalkan “kesukaannya” itu(makan tongseng kambing) karena yakin bahwa apa yang dikatakan si dokter benar, dan jika dia melanggar maka akan banyak mudharat daripada kebaikannya.

    Begitu juga dengan kita, ga ada laki2 yang ga suka deket sama wanita cantik, apalagi wanita yang dia sukai :d, begitu juga sebaliknya, tetapi kemudian Allah SWT dan RasulNya memerintahkan kita untuk jangan mendekati zina, banyak2 menahan pandangan, yang perempuan menutup aurat dengan jilbab yg lebar dan pakaian yang longgar, jangan berduaan, dsbnya..yang kalau sudah mampu maka menikahlah, artinya ketika kita tahu ada banyak mudharat ketika kita memaksakan diri berpacaran, maka diri kita lah sesungguhnya yang zhalim, lantas mengajak orang lain(si pacar) untuk juga berlaku zhalim, maka zhalimnya udah kuadrat, insyaAllah hidupnya serasa bahagia diawal, tetapi susah kemudian🙂. Keep istiqomah sist!.

    Reply

  39. Trackback: KEKERASAN DALAM PACARAN (Posesif Vs Tindak Kekerasan) « Sesungguhnya Pacaran Adalah Perbuatan Keji Dan Haram. Maka Jangan Pacaran Agar Selamat Dunia Akherat. (silahkan add FB teman saya: tundher_cary@yahoo.com & ainuamri5@yahoo.com)
  40. amarinda
    Aug 27, 2011 @ 23:26:14

    saya mau bertanya ,jika kita sekarang sudah berpacaran dan setelah itu baru kita tau ternyata dilarang untuk berpacaran dan yang harus kita lakukan sekarang ini adalah memutuskan hubungan itu tapi kita takut menyakiti perasaan pasangan kita ,dan apa yang sebaiknya sekarang kita lakukan ?


    admin :
    putus.. jawablah “karena Allah sayang sama kita semua, maka Allah mengharamkan zina dan perkara-perkara yang mendekati zina karena keburukan2 yang menanti setelahnya. pacaran yg kita lakukan adalah nama lain dari perkara yang mendekati zina.. jadi putus adalah agar kita selamat dari keburukan2 itu.”

    mungkin dia akan marah, tetapi mudah2an itu menjadi jalan untuk dia mengenal Allah, mengenal Islam. jauhi kontak dengannya dalam bentuk apapun(hingga keadaan sdh seperti biasa kembali), dan sibukkan diri anda dengan kegiatan positif serta ikuti kajian2 remaja islam, dimana saja, insyaAllah anda dalam penjagaan malaikat-malaikat Allah🙂

    Reply

  41. mas bro
    Dec 17, 2011 @ 21:46:46

    Assalamu’alaykum wr.wb

    Tanya Ustadz..
    pada saat kita menjalani tunangan, apakah boleh dalam islam kita minta pada pasangan kita untuk menjalani tes kesuburan… mohon atas jawabannya.. terimakasih.

    wassalamu’alaikum wr wb


    admin:
    waálaykumussalam warahmatullah

    karena saya bukan ustadz, saya tidak dapat memberikan jawaban “boleh tidaknya dalam islam” terkait permintaan kepada calon pasangan untuk menjalani ts kesuburan🙂.

    tetapi saya akan menjawab secara etika umum. pada dasarnya permintaan tes kesuburan adalah sesuatu yang boleh2 saja. hanya saja tes kesuburan bagi sebagian orang adalah persoalan yang sensitif dan dianggap sebagai sebuah aib. sehingga ada baiknya jika sebelum permintaan itu diajukan, keluarga masing2 pihak dikondisikan terlebih dahulu, atau juga dengan tidak melibatkan keluarga kedua belah pihak, artinya persoalan tes kesuburan ini hanya anda berdua dengan calon pasangan yang tahu.

    untuk itu calon pasangan perlu juga dikondisikan untuk memahami pentingnya tes kesuburan ini menurut sudut pandang anda, terutama apakah hasil dari tes kesuburan ini(misalnya ternyata kurang subur/ bahkan mandul) akan mempengaruhi proses pertunangan(baca: jadi batal)? jika iya, dan masing2 pihak memahami hal ini dengan baik, maka tdk mengapa hal itu dilakukan, tetapi jika difikir akan kurang baik setelahnya/ atau malah mendatangkan mudharat, maka lebih baik, tdk perlu disounding-kan, mengalir saja bismillah🙂.

    Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, ada hikmah yang besar bagi mereka yang belum/tidak dikaruniai anak, dan pada akhirnya, kita semua hanya berharap menjalani skenario Allah dengan kesabaran dalam setiap kondisi yang susah ataupun yang senang🙂.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: