Kecenderungan Hati (khitbah Langsung Vs Melalui Perantara)

Sourcenya disini,

Kasus 1:

Assalamualaikum wr wb

Wahai ibu yang di rahmati Allah, Bu, dalam tujuan hidup sya yang telah saya rencanakan, sya berniat untuk menikah inysa Alllah 6 bulan-satu tahun lagi. Alhamdulillah saya berkomitmen untuk tidak pacaran dan sebenarnya saya telah menyukai seorang akhwat yang luar biasa shalelahnya.
Dalam suatu kesempatan saya membaca situs Islami bahwa apabila kita sudah siap untuk menikah maka lakukan dengan cara yang baik, yakni bisa dengan cara langsung, atau dengan perantara.

Pertanyaan saya bu, apakah benar Islam memperbolehkan kita untuk menyatakannya secara langsung kepada pihak perempuan. Syukron

Erik

Kasus 2:

Assalamualaikam, Bu Siti yang saya hormati, Langsung saja ya bu,

  1. Bolehkah saya menentukan sendiri/memilih saya calon isteri saya? Maksudnya bolehkah tanpa dicarikan guru ngaji (tentu saja tidak pacaran).
  2. Boleh kah saya mengajak akhwat taaruf atau bahkan khitbah secara langsung? Tanpa perantara.

Terimakasih ya Bu, Wassalamualaikum wr.wb

Ibadurahman

Kasus 3:

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadzah rahimahullah, saat ini saya sedang dihadapi sebuah masalah. Saya sudah siap untuk menikah, tetapi ada kendala yang membuat saya belum mantap untuk menjalaninya.

Saya memiliki kecenderungan dengan seorang wanita/akhwat dan saya menganggap bahwa dia mungkin adalah pasangan yang cocok buat saya. Selama ini saya tidak pernah berhubungan yang menjurus kearah percintaan dalam bentuk komunikasi apapun.

Yang saya tanyakan, bolehkan saya langsung mengungkapkan perasaan saya dan mengajak beliau menikah. Atau mengikuti saran guru ngaji saya, untuk menikah melalui biro samara; saya sudah terlanjur jatuh cinta, khawatir jika melalui biro samara tidak mendapatkan apa yang saya inginkan.

Jazakallah atas jawabannya, Syukron

wassalamu’alaikum wr. wb.

awan

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

Sdr Erik, Ibadurrahman & Awan yang disayang Allah, Alhamdulillah, mari kita bersyukur kepada Allah swt. karena  atas kasih sayang-Nya kita telah mendapat jalan hidayah, yakni jalan Islam yang lurus. Semoga kita tetap istiqomah.

Di dalam sunnah terdapat beberapa cara mengkhitbah akhwat/ wanita, di antaranya :

  1. Lamaran melalui fihak keluarga wanita, ”Dari Urwah bahwa nabi saw melamar Aisyah kepada Abu Bakar, lalu Abu Bakar berkata, ”ssungguhnya aku adalah saudaramu.” Nabi menjawab, ”Engkau adalah saudaraku dalam agama Allah dan kitabNya dan dia halal bagiku.” (HR Bukhori)
  2. Meminang dengan berbicara langsung kepada si wanita. Dalam kitab-kitab fiqh hal ini diistilahkan dengan: ”meminang wanita dewasa langsung kepada yang bersangkutan sendiri.’ Contoh peristiwa ini adalah saat Anas bin Malik menceritakan proses khitbah ibunya, ”Abu Thalhah melamar Ummu Sulaim, lalu Ummu Sulaim berkata, ”Demi Allah, orang yang sepertimu ini tidak patut ditolak, wahai Abu Thalhah. Tetapi engkau orangkafir sedang aku wanita muslimah, dan aku tidak halal kawin denganmu.Jika engkau mau masuk Islam, maka yang demikian itu sudah cukup sebagai maskawinku, dan aku tidak meminta yang lain lagi kepadamu…” (HR Nasai)
  3. Orang tua si wanita atau kerabatnya menawarkan kepada orang-orang yang mereka ridhai Akhlak dan agamanya. Contoh peristiwa ini adalah saat Umar bin Khattob menawarkan Hafshah, putrinya yang menjadi janda karena suaminya Khunais bin Khudzafah as Sahmi wafat di Madinah. Ia menawarkannya kepada Utsman bin Affan, lalu karena Utsman menolah, ia tawarkan ke Abu Bakar. Mereka berdua menolak karena telah melihat isyarat bahwa Rasulullah menginginkannya.
  4. Pihak laki- laki melamar wanita melalui pemuka masyarakat, guru ngaji atau tokoh. Rasulullah SAW pernah menjadi perantara di mana beliau mengutus seorang shahabat datang kepada keluarga wanita untuk melamar putrinya, dan lamaran ini atas saran beliau SAW.
  5. Wanita menawarkan dirinya kepada laki-laki yang shalih, Anas berkata, ”Seorang wanita datang kepada Rasulullah saw menawarkan dirinya secara langsung seraya berkata, ”Wahai Rasulullah, apakah engkau berhasrat kepadaku?”

Sdr Erik, Ibadurrahman & Awan, sesungguhnya, permasalahan yang Anda hadapi itu sudah pernah dialami di zaman Rasul dan para sahabat. Pernikahan saat ini sering diwarnai pendahuluan berupa pilih sana-sini, coba ini-itu, lirik sana-lirik sini, dan para aktivis menyebutnya virus merah jambu. Kalau hal ini terjadi pada masyarakat yang masih awam agama, tentu dimengerti. Para aktivis islam seyogyanya membersihkan hatinya dalam hal ini; agar pilihan pertama dalam kriteria calon pasangan benar-benar semata karena agamanya, baru yang lain. Tentang bagaimana agar hati tetap bersih dan tidak terkotori nafsu, secara teknis bisa melalui perantara maupun dengan cara lain, termasuk memilih akhwat yang Anda tahu keshalihahannya secara langsung. Meskipun begitu, Anda tetap harus memperhatikan kaidah syar’i, misalnya tidak membicarakannya dengan berkhalwat (bersendirian tanpa disertai orang ketiga), seriusnya agenda pertemuan, tidak dalam kondisi yang mencurigakan dan menimbulkan fitnah.

Adapun dengan murabbi (pembina/guru mengaji), usahakanlah melakukan komunikasi yang santun dengan beliau. Bagaimanapun beliau tentu memiliki pAndangan tertentu yang didasarkan pada pengalaman dan hikmah. Dengarkanlah pendapatnya, lalu berterus teranglah bahwa Anda sudah memiliki pilihan. Melibatkan beliau sejak awal, tentu lebih baik daripada Anda melakukan segala sesuatunya sendiri dan mengundang beliau setelah undangan jadi. Ini tentu tidak baik dan akan menimbulkan prasangka yang berujung pada fitnah, kelurusan dakwah Anda dan keikhlasan niat. Demikian, semoga Anda tetap dinaungi dengan cahaya petunjuk-Nya, amiin…
Wallahu a’lam bissshawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Ibu Urba

12 Comments (+add yours?)

  1. inoors
    Dec 17, 2008 @ 10:18:07

    Setuju Ustdzh…! Walaupun dibolehkan oleh Islam untuk memilih jodoh, tetapi masalah etika, ihsan, dan apalagi syar’i harus diutamakan!

    Reply

  2. Awam agama
    Dec 21, 2008 @ 21:23:15

    Assalamualaikum..
    Alhamduli4W1.. ber+ lg ilmu 4 aq z9 msh awam bgt dg islam.. Btw da z9 bhas ttg cara mengetahui kualitas cal0n suami/istri g’.? Biar g kyk beli kucing dlm karung geth0.?😉

    Reply

    • pacaranislamikenapa
      Dec 22, 2008 @ 08:26:17

      @awam agama
      wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

      alhamdulillahirabbil’alamiin..
      mm..sebenernya dah ada..cuma memang dalam bagian2 yang terpisah, insyaAllah kala sempat nanti akan coba dirangkumkan. Ok, usul ditampung🙂.

      wassalamu’alaykum warahmatullah

      Reply

  3. Alfadany
    Jan 15, 2009 @ 17:30:48

    Assalamualaykum Warohatulloh,
    Untuk menikah tidak harus melalui murobbi, karena menikah itu hak setiap muslim,….

    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    setuju sekali..🙂

    berapa banyak contoh – contoh yang sangat memilukan hati, ketika seorang Akhowat ingin menikah dihalang – halangi oleh murobbinya dengan alasan “akhwat yang satu binaan yang lebih tua ada yang belum menikah, jadi ditunda aja dulu”..walhasil akhowat tersebut tertunda menikahnya dan sampai sekarang akhowat itu belum menikah karena usianya sudah agak tua dan ikhwan yang tadi melamarnya sudah menikahi akhwat lain beberapa tahun yang lalu.

    Inilah salah satu kesalahan dalam beragama, karena apabila ada seorang lelaki ataupun perempuan yang sudah siap menikah maka menikahlah

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: Wahai kaum pemuda! Barang siapa di antara kamu sekalian yang sudah mampu memberi nafkah, maka hendaklah ia menikah, karena sesungguhnya menikah itu lebih dapat menahan pandangan mata dan melindungi kemaluan (alat kelamin). Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penawar bagi nafsu
    (Hadits marfu’ Nomor: 2485 Shahih Muslim)

    jika kejadiannya seperti itu, tentu kesalahan itu adalah kesalahan pribadi si murabbiyah. cuma seharusnya kita2 sebagai mutarabbi, juga harus kritis. dalam perkara jodoh, jangan membatasi diri hanya melalui jalur liqo saja, “gunakan” keluarga, teman2 yang sholeh, dsbnya..asalkan syar’i, insyaAllah barakah.

    Ana rasa metode murabbi – murabbi yang ada di liqo – liqo perlu ditinjau ulang :

    1. Apakah seorang murobbi itu Ahli dalam AGAMA?
    2. Apakah punya disiplin Ilmu AGAMA?
    3. Jangan menafsirkan Ayat Al Qur’an dan Hadits sendiri.

    Seandainya mereka bukan ahli Agama maka takutlah kepada Alloh, karena jika mereka salah memberi fatwa kepada Mutarabbinya bisa – bisa dia terkena dosanya
    Dari Urwah, [dia berkata, “Kami diberi keterangan 8/148] Abdullah bin Amr bin Ash, [maka saya mendengar dia] berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu (agama) dengan serta-merta dari hamba-hamba Nya. Tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan (mematikan) ulama, sehingga Allah tidak menyisakan orang pandai. Maka, manusia mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Lalu, mereka ditanya, dan mereka memberi fatwa tanpa ilmu. (Dan dalam satu riwayat: maka mereka memberi fatwa dengan pikirannya sendiri). Maka, mereka sesat dan menyesatkan.”
    Shahih Bukhari (8/148).

    hehehe.. pada prinsipnya ane setuju akhi..bahkan bagi mereka yang sudah dikenal sebagai ahli agama pun sebenarnya tidak ada jaminan bahwa ijtihad mereka pasti benar..apalagi yang memang ‘kurang’ dikenal sebagai ahli agama.

    tetapi sebenarnya yg perlu juga ditinjau adalah, mindset kita tentang “ahli agama” itu sendiri. seperti apakah yang dimaksud dengan “ahli agama”? jika ianya mendapat pengajaran agama dari seseorang, kemudian dia menyampaikan pengetahuan itu kepada orang lain..meski hanya satu ayat..apakah ia menjadi “ahli agama”? jika banyak ayat alquran dan hadits menghiasi ucapan2nya..apakah kemudian ia menjadi “ahli agama”? apakah pengajaran itu harus dari “disiplin” ilmu tertentu(baca: sejenis sekolah resmi) ataukah yang seperti apa? lantas siapakah yang berhak melabeli si fulan “ahli agama” dan yang lain bukan? atau apakah “ahli agama” mereka kira hanya Allah SWT takdirkan dari kalangan mereka sendiri..misalnya dengan membuat list ustadz2 yang “shahih” menurut selera..diluar itu dianggap bukan ustadz yang shahih..bahkan tidak sedikit yang kemudian menganggap “sesat dan menyesatkan”..dsbnya.
    begitu banyak “ide2” diluar sana,yang berperang merebut perhatian kita, disinipun sikap kritis, ilmiah(baca: mendasarinya dengan ilmu), dan pertolongan dari Allah SWT sangat kita harapkan agar kita selalu bersama-sama dengan orang2 yang sejatinya sholeh.
    lantas apakah seorang murabbi harus “ahli agama”?. idealnya ya..dalam artian memiliki disiplin formal agama..seperti ilmu syariah, fiqh, hadits dsbnya. tetapi kenyataannya berapa banyak orang2 yang memiliki kualitas seperti itu? sedangkan lapangan dakwah itu sangat luas? bukankah Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk menyampaikan kebenaran walau hanya satu ayat?..tanpa perlu ditambah2i..atau dikurang2i. dan kenyataannya tidak sedikit orang yang belajar agama tanpa melalui jalur formal itu jauh lebih “baik” pemahaman dan pengamalannya dalam beragama. artinya seberapa besar sikap adil dan objektif kita dalam melihat dan menakar sesuatu, sangat berpengaruh dalam menganalisa sebuah persoalan.
    jazakallahu khairan katsiir..

    Baarokallahu Fiik

    aamiin ya Allah, wa iyya kum.
    wassalamu’alaykum warahmatullah

    Reply

  4. Ade Sal
    Jan 21, 2009 @ 13:57:47

    tidak selamnya khitbah itu harus melalui perantara misalnya murabbi, Nabi pernah mengatakan “bahwa tidak ada dosa bagi kamu untuk mengkhitbah wanita2 yang kamu suka itu secara sendirian”

    Untuk kasus ketiga, sbenarnya seorang akhwat tdk selalu menunggu bola saja(tunggu dilamar) tapi boleh jg mengungkapkan peasaanya kepada pria yang saleh untuk menikahi dirinya.

    Pernah di masa rasulullah ada soerang akhwat yg bagus akhlaknya menawarkan diri kepada Nabi untuk menikahi dirinya.

    admin:
    bahwa khitbah itu tidak harus melalui perantara, setuju sekali🙂. tidak juga ada keharusan ta’aruf itu hanya lewat jalur murabbi. cuma didalam sebuah komunitas semacam tarbiyah, murabbi sebaiknya diinformasikan perihal ta’aruf yang hendak dilaksanakan. tetapi tentu saja porsi murabbi tidak untuk menggagalkan/ memaksakan sebuah proses ta’aruf kepada mutarobbinya. nah jika yang memiliki murabbi saja tidak ada keharusan, apalagi yang tidak memiliki murabbi, kira2 gitu.

    seorang akhwat memang sebaiknya tidak menunggu bola, sampaikan saja keinginan menikah dengan cara yang ma’ruf dan syar’i, jika dirasa ada calon yang sesuai. sejarah mencatat wanita-wanita mukminat yang menawarkan dirinya kepada laki-laki yang sholeh, bahkan Ibunda Khadijah pun melakukan hal yang sama, melalui perantara paman rasulullah SAW.

    Oya.. yang antum maksudkan dengan hadits pada “bahwa tidak ada dosa bagi kamu untuk mengkhitbah wanita2 yang kamu suka itu secara sendirian” itu sepertinya kurang tepat.
    Pertama, kalimat itu adalah firman Allah SWT pada surat Al Baqarah : 235.
    ““Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran”.
    Kedua, kalimat nya bukan “secara sendirian”, tetapi “secara sindiran”. tentu akan menjadi berbeda maksudnya ketika kata2 itu tidak ditempatkan pada tempatnya.
    wallahu’alam..
    jazakallah atas masukannya🙂.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  5. Ade Sal
    Jan 21, 2009 @ 14:08:39

    mau kritik dikit nih….
    dari alamat blog, kayaknya antum ini mendukung pacaran ya….? pada hal di dlm Al-quran sudah dijelasan “jnglah kamu mendekati zina” padahal pacaran merupakan suatu sarana untuk cenderung dekat kepada zina.

    walau dikemas bagaimanapun rupanya, ya namanya pacaran ya tetap aja pacaran, iyakan..?

    “Janganlah seorang laki-laki berkholwat (berduaan) dengan seorang wanita kecuali bersama mahromnya…”[HR Bukhori: 3006,523, Muslim 1341, Lihat Mausu’ah Al Manahi Asy Syari’ah 2/102]

    “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian sehari semalam tidak bersama mahromnya.” [HR Bukhori: 1088, Muslim 1339]

    Katakanlah kepada orang-orang beriman laki-laki hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya..” (Al Qur’an Surat An Nur ayat 30)

    “Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

    itu di atas adalah beberapa nash2 yang bertentangan dgn pacaran, dan nash2 semacam itu masih banyak lg.

    Syuqran

    admin :

    mo kirim kritik banyak juga ga papa kok😀, apalagi kalo mo kirim coto makasar..wah enak tuh😀 ..
    hehehe.. emang judulnya menyiratkan ‘mendukung’ pacaran ya?

    pastinya kami sangat tidak merekomendasikan setiap muslim/ah berpacaran, apalagi ditambah embel2 “islami”. blog ini bertujuan untuk mengcounter ide pacaran secara umum, dan mereka yang menduga(memiliki ide) ada pacaran secara “syar’i” atau “pacaran islami”.

    gitu kali ya.., pokoknya kritikannya saya terima, dan terima kasih banyak😀. wa iyya kum.

    wassalamu’alaykum warahmatullah

    Reply

  6. Habibi
    Feb 08, 2009 @ 22:48:24

    assalamualaikum.,.,.,.
    saya mo bertanya nich tentang masalah pacaran dalam islam.,.,.

    gini ceritanya.,.,.,.
    ada seorang wanita yang tidak mau sama sekali ber rumahtangga?
    bagaimana tu.,.,.,
    kalau saya bertanya kepadanya, hanya dijawab pacaaran itu haram,.,.,., bagai mana itu… saya gak mengerti.,.,.,.?

    admin:
    wa’alaykumussalam warahmatullah
    🙂 kalau antum bertanya “mau pacaran ngga?” dan dijawab “pacaran itu haram”, harusnya antum bersyukur, bahwa insyaAllah jawaban wanita seperti itu adalah bentuk penjagaan dirinya dan pemahaman terhadap aturan Allah dan RasulNya dari laki2 yang belum halal untuknya.
    Jawaban seperti itu juga setidaknya mengindikasikan 2 hal, pertama.. si wanita tidak menginginkan proses rumah tangga yang didalam Islam senilai dengan menggenapkan setengah agama itu diawali dengan proses yang haram layaknya pacaran. kedua, si wanita hendak mengingatkan ke penanya bahwa pacaran bukanlah cara yang baik untuk memulai sebuah perkenalan, sebagai isyarat untuk penanya belajar kembali bagaimana Islam mengatur perkenalan yang syar’i, terkait dengan usaha menjemput jodoh ini.

    Jadi, jawaban si wanita tidak sama sekali menunjukkan bahwa dirinya tidak mau berumah tangga, tetapi lebih kepada dalam rangka nasehat menasehati. Mudah2an ada gambaran, wallahu’alam.

    wassalamu’alaykum warahmatullah

    Reply

  7. ...
    Mar 23, 2009 @ 20:29:00

    Assalammu’alaikum wr wb…

    Saya deni umur 15 tahun…
    Saya mau cerita tentang kejadian yang sedang saya alami, asya harap… ustadzah bisa bantu saya…

    Begini,
    Ketika masuk ke bangku SMA, saya menyukai seorang akhwat…
    Beberapa hari, saya gunakan untuk mengenal dia lebih dekat dengan CHATing…

    Kebetulan, saat saya baru masuk ke SMA ini, saya langsung memeilih eskul keagamaan…
    Saya aktif di ekskul ini…
    Hingga saya ditunjuk menjadi sie silahrutahmi…

    Berbulan-bulan…
    Saya chating dengan akhwat tersebut…
    Hingga suatu saat…
    Saya menyatakan perasaan saya sama dia…
    Dan akhirnya,
    dia jadi pacar saya…

    Hingga saat ini, sudah hampir 2 bulan kita menjalin hubungan…
    Memang, hubungan kita, tidak diikut sertai dengan zina tangan, kaki atau apalah itu…
    Dan jika ada zina yang terjadi, saya rasa, itu zina hati dan pandangan…

    saya tahu, apa yang saya lakukan salah…
    tapi, saya merasa, saya akan kehilangan dia jika saya tidak seperti ini…
    kebetulan, dia bukanlah seorang akhwat yang paham betul dengan agama…

    Hingga hari ini,
    Organisasi keagamaan di SMA saya, mulai menyindir-nyindir kita berdua dengan berbagai macam perkataan…
    Saya merasa malu dengan apa yang tlah terjadi…
    Saya bingung, harus melakukan apa…

    Beberapa orang dari organisasi keagamaan di SMA saya, telah memperingatkan saya, dan meminta saya supaya memutuskan hubungan kita…

    Saya tak tahu harus apa…
    tapi, saya tidak ingin kehilangan akhwat itu…
    meski saya sekarang berstatus pacaran,
    disisi lain, saya berusaha membuat dia aktif di kegiatan keagamaan… dan alhamdulillah sudah mulai ada keinginan…

    Apa yang harus saya lakukan?
    Saya masih muda…
    Mungkin, asya bisa bilang dengan akhwat itu, untuk menikah tapi, saya masih bersekolah dan dia pasti berfikiran jelek kepada saya, karena, dia tidak paham apa maksud saya melamar dia….

    Bagaimana ini?
    Kalau saya putus hubungan dengan dia, saya takut, dia malah pacaran dengan orang lain…
    dan kalau begitu…
    saya pasti akan menyesal dengan diri saya sendiri…

    Kalau memang harus putus, saya mengharapkan sebuah perubahan pada dirinya…
    saya mau, dia menjadi seorang akhwat sejati…
    akhwat yang tak kenal dengan pacaran..
    akhwat yang paham dengan agama…

    Saya meminta saran, solusi dan cara menghadapi ini semua..

    Afwan saya kurang bisa mengetik maklumi kalau ada kesalahan…
    wassalammu’alaikum….

    admin:

    akh Deni yang dirahmati Allah SWT.. Tidak ada yang salah dengan munculnya perasaan menyukai lawan jenis, ini fitrah setiap laki-laki normal🙂.

    Tetapi tentu penyikapannya mestilah sesuai dengan tuntunan kita sebagai seorang yang mengaku beriman kepada Allah dan RasulNya. Keimanan yang kita “declare”kan setidaknya dalam 5 waktu, menjadi janji/ sumpah bagi kita untuk mengisi waktu disetiap jeda 5 waktu itu agar sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya. apa jadinya, jika kemudian kita tahu apa yang Allah dan rasulNya benci, tapi justru kita lakukan? Tidakkah kita telah membohongi diri kita sendiri? Membohongi Allah SWT? Membohongi Rasulullah? bahkan membohongi orang yang kita cintai? Bagaimana tidak..jika kita katakan “aku mencintaimu karena Allah”..tetapi pada kenyataannya kita menyikapi cinta itu dengan sikap-sikap yang tidak sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya.

    Akh Deni yang dirahmati Allah..usia antum masih sangat muda. Katakanlah paling cepat antum baru memiiki kesiapan untuk menikah itu diusia 25 th, maka setidaknya ada masa 10 th untuk kemudian mempersiapkan diri. Jika saat ini, antum sudah sebegitu “dekat”nya dengan lawan jenis, kami khawatir hal itu justru dapat “merusak” pribadi/fikrah(pemikiran) antum lebih jauh. Menjadi dewasa adalah bagaimana kita mengambil intisari/ hikmah dari pengalaman-pengalaman hidup itu, dan hikmah itu hanya akan didapat ketika kita lulus menghadapi ujian bukan dengan memperturutkan hawa nafsu. Sedangkan berpacaran, sejatinya adalah sebentuk sikap memperturutkan hawa nafsu, sebentuk kepura-puraan, berpura-pura menjadi pribadi yang sangat perhatian, yang sangat sayang, dsbnya, padahal sejatinya sangat jauh dari kenyataan, yang semua itu dnegan harapan menuai simpati dari orang yang dicintai. Pun, jika kita benar-benar mencintai seseorang itu dengan cinta yang sesungguhnya, maka seharusnya kita akan menjauhkan diri kita dan dia kepada perkara-perkara yang dibenci oleh Allah dan RasulNya.

    Akh Deni yang dirahmati Allah..bertaqwalah dengan sebenar-benarnya taqwa. Taqwa itu ibarat jalan yang kecil lagi berduri, maka seringkali kita harus berjalan perlahan, sabar ketika duri itu mengenai diri kita, dan terkadang kita berhenti sejenak, mencabuti duri-duri yang menancap, untuk kemudian melanjutkan perjalanan itu dengan lebih hati-hati lagi. Tapi jalan ketaqwaan itulah satu-satunya jalan yang akan menyelamatkan kita, yang jalannya terang, dan tujuannya jelas. Jalan-jalan yang selain itu, penuh dengan fatamorgana yang menggodakan setiap mata yang memandang, remang-remang bahkan gelap, tidak ada tujuan, dan hanya berputar-putar. Itulah kenapa kita seirng mendengar ungkapan “lingkaran setan”.

    Akh Deni yang dirahmati Allah.. jodoh itu sekali lagi bukan karena ‘design’ kita, tetapi karena ‘design’ Allah. Sehebat apapun kita merencanakan sesuatu, keputusan akhirnya ada ditangan Allah. Yang baik pasti untuk yang baik, begitu juga sebaliknya. Kebayangkan “sakitnya” hati kita ketika rencana sudah dibuat, harapan sudah terlanjur melambung tinggi, dll, ternyata kenyataan berkata lain. Betapa banyak kemudian mereka yang putus asa, dikarenakan pengharapan yang tidak pada tempatnya, bahkan ada yang berakhir dengan bunuh diri, na’udzubillah. Adapun teman-teman satu organisasi yang “menyindir” antum, sejatinya adalah bentuk kecintaan mereka kepada antum karena Allah. Mereka mungkin melihat ada pergeseran sikap dalam keterlibatan antum didalam organisasi yang diawali oleh pergeseran niat, tentunya ibarat sebuah tubuh, anggota organisasi itu adalah bagian dari organnya, maka jika ada satu saja “organ” yang sakit maka akan mempengaruhi “perjalanan”(menjadi beban) dan “izzah”(harga diri/ kehormatan) organisasi tersebut. Bayangkan jika kemudian ada junior antum yang menjadikan antum, sebagai pembenarannya dalam berpacaran, padahal sejatinya antum sendiri tidak setuju dnegan pacaran?. Dan proses “sindir/ menyindir” ini haruslah juga antum pahami dalam rangka ‘wa tawa showbil haq..watawa show bish shobr’, bentuk kecintaan dari saudara seiman.

    Akh Deni yang dirahmati Allah..niat yang benar(ingin menjadikan dia akhwat sejati) haruslah juga diwujudkan dengan cara yang benar(bukan dengna berpacaran). Niat yang baik, tetapi dengan cara yang kurang baik, selain dapat melunturkan niat malah akan menimbulkan fitnah. Kewajiban kita dalam berdakwah adalah hanya sebatas menyampaikan, apakah kemudian orang tersebut semakin beriman/ atau malah semakin menjauh, kita tidak bertanggungjawab sampai sejauh itu. Yang kalau misalkan teman kita yang akhwat yang ingin kita dakwahi, mungkin dapat kita arahkan ke teman akhwat kita yang lain yang jauh lebih paham baik secara syar’inya ataupun secara psikologisnya. Selebihnya kita serahkan kepada Allah, kita curhat sama Allah..🙂, curhat tentang apa saja, tentang ketertarikan kita, tentang pengharapan kita, dan memohon agar Allah selalu menjaga antum dan dia, tetapi tetap, ketika kita kembali berhadapan dengan orang tersebut dalam dunia nyata, maka jagalah “izzah” antum sebagai seorang muslim, jagalah pandangan..agar kita dapat menjaga kemaluan, yang jika kita lulus, maka lezatnya iman akan menjadi energi baru bagi kita. Dengan energi inilah kita bergaul secara syar’i dan mewarnai lingkungan sekitar. Allahu’alam.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  8. doez
    May 03, 2009 @ 09:00:49

    trim artikelnya

    Reply

  9. syamsul bahri
    Sep 25, 2010 @ 16:32:58

    assalamu alaikum ustads,,,,aku ingin tanyakan ,,,,aku menyanyagi seorang perempuan yang bertittle janda,,,,,dan rencana ingin menikah ama dia,,,,,sedangkan aku udach menghitbah seorang gadis dari tetangga kampung,,,
    yang saya ingin tanyakan apakah aku boleh menikah dengan janda tersebut dengan syarat aku harus menarik ucapan yang pernah aku ucapkan terhadap gadis tersebut,,,,,makasih sebelumnya ustads

    admin :

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Terlepas dari bolehnya menikahi janda setelah membatalkan lamaran seorang gadis dari tetangga kampung, saya ingin mengajak akh Syamsul merenungi kembali apa yang antum akan lakukan.

    Bayangkan jika “gadis dari tetangga” itu adalah adik/kakak perempuan akh Syamsul, bagaimana perasaan antum mendapati kenyataan bahwa lamaran adik/kakak antum dibatalkan hanya karena sang calon tiba2 kesengsem sama janda sebelah??. Kecewa tentunya.

    “Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai”, ungkapan ini sering kita dengar sebagai nasehat agar memikirkan dengan baik setiap pilihan tindakan yang akan kita ambil. Jika tindakan itu kita pilih hanya berdasarkan keinginan syahwat sesaat yang menggebu-gebu, maka ketahuilah dengan pasti bahwa tindakan kita itu telah mendzalimi orang lain. Doa orang yang didzalimi tidak ada hijab dihadapan Allah SWT, apa yang dia minta itu yang akan Allah SWT kabulkan.

    Jadi intinya, secara adab, jika hanya ingin menikahi perempuan yang satu padahal disaat yang sama sudah melamar perempuan yang lain, maka secara jantanlah membatalkan lamaran itu secara baik-baik dihadapan sang perempuan dan keluarganya. Tapi yang perlu diingat, setiap tindakan yang kita pilih memiliki konsekuensinya tersendiri, terlebih jika dengan meyakinkan bahwa tindakan kita itu telah mendzalimi hamba Allah SWT(baca: sang gadis dan keluarganya yang terlanjur berharap) yang lain. Allahu’alam.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  10. Abi Al Kahtani
    Oct 08, 2011 @ 21:22:16

    Assalamualaikum. . . .

    Takut Di Tolak Saat Mengkhitbah Dia . . . Mohon Sarannya Ustadz/Ustadzah!

    Trimakasih.

    admin:
    wa’alaykumussalam warahmatullah

    Itulah kenapa diperlukan perkenalan aka ta’aruf sebelum mengkhitbah, agar tingkat kepastian diterimanya khitbah semakin besar. Baik ta’aruf kepada si dia, ataupun kepada keluarganya. Dari perkenalan itu kemudian akan terlihat, kecenderungannya apakah khitbah kita diterima ataukah ditolak. Tetapi yang paling penting dari itu adalah meluruskan niat dan harap hanya kepada Allah SWT dan meyakini bahwa urusan jodoh adalah takdir Allah SWT. Artinya sehebat apapun sepasang anak manusia mengusahakan perjodohan diantara mereka, jika Allah SWT tidak menghendaki maka tidak akan berjodoh, sehingga seharusnya setiap insan fokus kepada memperbaiki proses untuk menjemput jodoh itu dengan sebaik-baiknya sesuai aturan Allah SWT dan Rasulullah dan menyerahkan hasilnya hanya kepada Allah SWT.

    Tapi bagaimana jika ternyata ditolak? contohlah sikap bilal bin rabah dalam soal khitbah, jika diterima ia mengucap alhamdulillah, dan jika ditolak ia mengucap Allahu Akbar, Allahu’alam.

    Wassalamu’alaykum warahmatullah.

    Reply

  11. Gradasi Collor
    Feb 15, 2012 @ 13:14:38

    Assalamualaikum Wr. Wb…Trim`s tausiah dan penyegarannya…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: