“Do u Wanna Know About Pacaran??” II

Lanjutan yang ini :

Sumbernya disini

Bapak memberikan saya dua pertanyaan ini:

1. Apa kau punya data lain (yang ilmiah) mengenai “definisi pacaran yang memang berlaku di masyarakat umum”?

2. Apakah kau punya data obyektif mengenai efek buruk istilah ini?

Jawabannya: Ya, saya punya.

Saya melakukan observasi berupa pengamatan lapangan dan survey yang dilakukan terhadap puluhan responden berusia 19-21 tahun. Tapi, sebelum saya memberikan hasil observasi saya, saya ingin berkomentar tentang satu hal dari tulisan “Ciuman: PR untuk penentang pacaran Islami”. Kita mulai dari hal yang paling mendasar: definisi. Sebenarnya, apa definisi “mendekati zina” yang Bapak maksudkan?. Masalahnya, jika kita ingin mengaitkan dengan apakah pacaran itu mendekati zina atau tidak, maka kita harus tahu hal-hal seperti apa yang disebut “mendekati zina”. Jika aktivitas-aktivitas yang mendekati zina hanya seperti ciuman dan persenggamaan, maka data yang Bapak berikan valid dan tidak bisa dibantah. Karena sejujurnya kita masih bisa berbangga terhadap kultur ketimuran yang cenderung santun yang masih cukup melekat dalam budaya kita, sehingga, ciuman dan seks bukanlah hal yang mudah dilakukan bagi sepasang sejoli yang belum terikat pernikahan. Nah, karena itu, saya mencoba menurunkan standar aktivitas “mendekati zina” itu beberapa tingkat. Salah satunya, yang saya anggap sebagai hal yang mendekati zina adalah berpegangan tangan. Menurut saya, berpegangan tangan termasuk perilaku yang mendekati zina. Banyak dalil yang menyebutkan bahwa pria dan wanita yang belum muhrim diharamkan bersentuhan. Saya melakukan survey terhadap puluhan muda-mudi yang pernah atau sedang menjalankan aktivitas pacaran dengan sebuah pertanyaan: Apakah Anda pernah berpegangan tangan dengan pacar Anda ketika Anda berpacaran. Hasilnya cukup mengejutkan: 100% menjawab pernah. Dan, seorang responden memberikan jawaban yang sangat konklusif: “Ya pernah lah, sering malah. Pegangan tangan itu bisa dikatakan hal yang wajib dalam pacaran, karena dengan begitu kita bisa ngerasain kenyamanan tersendiri.” Ini data pertama saya.

Lalu, yang kedua, saya melakukan uji dengan memberikan pertanyaan “apakah yang pertama kali terbesit di pikiran Anda ketika mendengar kata ‘pacaran’?”. Dan, lagi-lagi, hasilnya cukup baik sebagai data referensi saya. Sebanyak 50% responden menjawab bahwa istilah pacaran identik dengan hal-hal yang negatif, bahkan sangat negatif seperti pegangan tangan, berdua-duaan, cara pelampiasan nafsu, hingga ciuman dan zina. Sebanyak 28,13% responden memberikan jawaban yang cenderung negatif seperti nge-date bareng, seneng-seneng, eksotis dan sejenisnya. Lalu, hanya sebanyak 9,3% responden yang memberikan jawaban dengan tendensi positif seperti menyenangkan, asyik, dll. Dan hanya 12,5% responden yang memberikan respon positif seperti masa-masa ta’aruf, atau metode ta’aruf jaman sekarang.. Jika kita jumlahkan, maka responden yang memberikan persepsi negatif terhadap pacaran sejumlah 50% + 28,13% = 78, 13%, sedangkan yang positif hanya sejumlah 9,37% + 12,5% = 21,87%. Data-data di atas, beserta jawaban yang saya sisipkan sama sekali tidak dimanipulasi. Responden yang dipilih pun heterogen, tidak hanya yang “putih”, tapi juga yang “abangan” dengan komposisi yang seimbang. Ini data kedua saya.

Dua data ini saya berikan untuk membuktikan bahwa sebenarnya definisi pacaran yang berlaku di masyarakat adalah hal-hal yang memiliki konotasi negatif, dan tentunya memberikan dampak yang negatif. Semoga data ini bisa menjawab pertanyaan Bapak tadi.
Tapi, saya ingin mengingatkan, bahwa saya tidak ingin mengkonfrontasi ide pacaran islami yang Bapak angkat. Silahkan saja jika Bapak berpendapat demikian. Toh, Bapak menawarkan sebuah solusi yang metodis supaya orang-orang bisa terhindar dari pacaran dan masuk ke pernikahan, dan itu (hanya di bagian itu) sangat baik.

Saya hanya ingin mengkritik penggunaan istilah “pacaran” tadi. Yang saya angkat sejak kemarin, dan semoga jadi perhatian Bapak adalah: kekhawatiran saya atas persepsi parsial orang-orang yang membaca tulisan Bapak. Bapak adalah da’i dan penulis yang memiliki pengetahuan Islam yang sekiranya tidak perlu diragukan lagi. Dan tulisan-tulisan yang Bapak tulis, akan menjadi referensi paradigma bagi banyak orang. Bagus jika mereka mengambil hal-hal yang baik. Tapi, bagaimana jika mereka mengambil bagian-bagian yang buruk akibat dari pengambilan intisari secara parsial? Maka, tujuan Bapak yang menghindarkan mereka dari jurang pacaran jahiliyyah justru malah tidak tercapai dan akan terjadi yang sebaliknya. Mereka akan tambah kuat terjerumus di jurang pacaran jahiliyyah, karena mereka menemukan sebuah landasan kuat yang membuat mereka bisa berkata “Yeah, ada ustadz yang ngebolehin pacaran!”. (Dan seperti data yang saya ambil, istilah pacaran yang berlaku di masyarakat adalah hal-hal yang negatif).

Saya menuliskan ini dengan memandang subjektivitas saya sebagai pembaca. Hal pertama yang terlintas saat saya membaca tulisan Bapak adalah “Wah, kacau juga nih ada orang yang menghalalkan pacaran!”, walaupun selanjutnya mungkin sebagai orang yang mencoba terbuka saya menjadi sedikit maklum dengan alasan Bapak berpendapat demikian. Tetapi, saya sangat khawatir jika orang-orang “abangan” membaca dan tidak mendalami lebih lanjut, sehingga mereka bukannya mengambil kesimpulan “pacaran islami ternyata boleh”, malah “pacaran islami ternyata boleh”. Saya tahu bagaimana bagaimana pola pikir orang yang berpacaran, karena saya menjalani banyak waktu saya sebagai orang-orang seperti itu. Jadi, sekiranya Bapak bisa mempertimbangkan penggunaan istilah pacaran tersebut atau, setidaknya, dengan selalu memberikan penegasan yang benar-benar jelas apa itu pacaran yang Bapak maksudkan. Karena, menurut data saya tadi, definisi pacaran adalah hal-hal yang negatif. Dan terasa aneh rasanya jika Bapak membuat definisi pribadi dan mengembangkannya sebagai ide-ide umum, sedangkan orang lain masih menggunakan paradigma umum dalam mempersepsikannya. Jadi, dengan data-data di atas, sejujurnya saya kurang setuju atas tulisan bapak yang menyarankan orang untuk berpacaran.

Sebagai penutup, saya hanya ingin mengulang apa yang saya ucapkan pada komentar sebelumnya.

Sesungguhnya kita tahu bahwa manusia hanya mencoba berfikir sesuai dengan kapasitas intelektualnya, maka semoga Allah, sang pemilik segala intelektualitas tanpa batas, sang mahatahu atas apapun yang bahkan tersembunyi, mengampuni saya jika terdapat kesalahan dan kekurangajaran pada komentar ini. Semoga Allah menjauhi kita, saya, Anda, dan semua pembaca, dari segala macam prasangka..

Advertisements

7 Comments (+add yours?)

  1. Trackback: “Do u Wanna Know about Pacaran??” I « Pacaran Islami ?
  2. Mifta
    Dec 25, 2008 @ 16:33:27

    Bersambung ya??? :((

    admin: ngga kok, dah segitu aja.. 🙂

    Reply

  3. magina
    Jan 21, 2009 @ 00:25:24

    quote nih:karena saya menjalani banyak waktu saya sebagai orang-orang seperti itu.

    trz gmn dunk bu dngn saya yg sedang menjalani nya??
    saya belum boleh nikah, tp dah suka ma cwe baik,santun,lucu. dia pun juga suka ke saya. klo ga’ di kuatin status nya sebagai pacar, ntar disamber orang lain gmn??klo mnrt saya sih pacaran ok ok aja??<<pribadi, dgn pengetahuan dangkal nih. kan ga ngapa2en, spt berteman ma teman wanita lain nya, cuma status dan perhatian ke dia nya aja yg beda n spesial

    admin:
    wah saya bukan ibu :).. saya bapak 3 anak.. alhamdulillah.
    suka sama lawan jenis itu “lumrah”, manusiawi, normal, dsbnya :). Tapi tentu penyikapannya haruslah dengan penyikapan yang terbaik, apalagi bagi kita yang mengaku muslim/ah.
    pertama yang mesti kita pahami dan yakini perihal jodoh adalah, bahwa jodoh itu sudah PASTI ada, karena Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu berpasang2an. Jadi ngga perlu khawatir ngga bakal dapat jodoh :d.
    kedua, jika jodoh itu pasti, maka pertanyaan berikutnya adalah “jodoh saya sama siapa?”. Untuk inipun Allah SWT telah memberikan janji(dan janji Allah SWT itu PASTI), yakni laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik. Kalo “barat” melalui film2 dsbnya punya konsep, jodoh itu harus sempurna, dsbnya, makanya harus pacaran dan sejenisnya, buat “mengukur” sejauh mana kesempurnaan calon tersebut. Tetapi sesungguhnya lama atau tidaknya sepasang manusia berpacaran, faktanya, tidak dapat dijadikan ukuran bahwa keduanya lebih saling mengenal, belum lagi mudharat yang ditimbulkan dari hubungan yang tidak syar’i tersebut.
    ketiga, ketika Allah SWT menjanjikan “laki2 yang baik untuk wanita yang baik”, sesungguhnya Allah SWT hendak mengarahkan hambaNya untuk menjadi lebih baik terlebih dahulu, sebelum mencari jodoh yang baik. Fokus kita adalah perbaikan diri, bukan mencari-cari calon yang “menurut pertimbangan mata atau mungkin nafsu” kita sebagai orang yang “baik”. Orang-orang yang berusaha mensucikan diri, berusaha menjauhi larangan2 Allah, tidak meremehkan dosa-dosa kecil, dsbnya inilah yang insyaAllah masuk kedalam kategori “laki2/wanita2 yang baik yang berhak untuk mendapatkan wanita2/laki2 yang baik” pula. Mulai dari Rasulullah SAW, para sahabat radhiallahu’anhum, para ulama dimasa lalu dan masa sekarang, dan banyak orang2 hanif dimasa lalu dan sekarang yang telah membuktikan janji Allah SWT itu. Mereka tidak berpacaran, bahkan proses perkenalan mereka sangat2 “singkat”, tetapi kualitas pernikahan dan keluarga yang mereka bangun sangat luar biasa.
    keempat, ketika rasa suka sudah begitu “menggebu”, tetapi kemampuan(termasuk perkara belum/ sudah boleh menikah karena mungkin faktor sekolah dsbnya) belumlah menghampiri. Maka jadikan “SABAR, SHOLAT, dan PUASA” sebagai penolong kita. Tetaplah menjadi pribadi yang berusaha untuk sholeh/ah, carilah lingkungan2 yang positif, yang mengkaryakan berbagai macam kegiatan yang positif, jauhi perkara2 yang dilarang oleh agama, dll, sehingga kemudian energi kita terhadap “ketertarikan” pada lawan jenis itu, beralih menjadi energi dalam beramal sholeh. Sambil terus berdoa kepada Allah SWT, agar semua dipermudah, insyaAllah, pada waktunya, menjadi sebuah nikmat yang luar biasa dahsyatnya. wallahu’alam.

    wassalamu’alaykum warahmatullah

    Reply

  4. putrililin
    Feb 12, 2009 @ 10:03:12

    Assalamualakum…
    Saya perempuan usia 21 tahun..
    Saya muslimah berjilbab modis
    Saya juga sedang menjalani pacaran dengan seorang teman 1 kosan saya, hub qta baru jalan satu bulan, saya mau menerima dia menjadi pacar saya karena dia mau menjadi lebih baik lagi (sebelum mengenal saya, dia bukan orang baik2, dia pemabuk, dll ) dan dia butuh saya sebagai motivator dia, sejauh ini saya merasa dia jauh lebih baik, namun blum sesuai yang saya harapkan, dia sudah mau meninggalkan dunia hitam nya dan mau menjalankan sholat walaupun blm 5 waktu, tapi saya merasa telah berdosa karena saya sering du2k berdua dengan dia, berpegangan tangan, saya merasa di belenggu dosa, apa yang harus saya lakukan?
    Saya mau mengakhiri hub ini, tapi saya khawatir dia akan kembali ke dunia hitam nya..

    Terima kasih, saya sangat butuh jawaban dari Bapak.

    admin:
    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Mbak yang dirahmati Allah SWT.. niat(ingin membantu orang lain, mengajak kepada kebaikan, dsbnya) yang baik saja tidaklah cukup, jika tidak diikuti dengan cara yang benar. Apalagi pihak yang hendak kita “bantu” adalah lawan jenis, maka harus lebih ekstra “hati-hati” lagi. Karena bukan apa-apa, “salah” sedikit saja akibat interaksi yang sering itu, jadinya malah seperti pepatah jawa, “witing tresno, jalaran suko kulino”, iya kalau langsung menikah, kalau hanya pacaran? dan kemudian “menyerempet” ke perkara-perkara yang mendekati zina, hati siapa yang kan tenang.

    Dalam berdakwah, kita hanya diwajibkan untuk menyampaikan kebenaran sebatas yang kita ketahui. Perubahan yang seperti apa, dan bagaimana bukanlah menjadi tanggungjawab kita. Dalam artian, kita tidak bisa memaksa orang (yang mungkin bertahun2 berada didunia hitam) “berubah” dalam waktu cepat, seperti apa yang kita harapkan. Kalaupun ada perubahan pada orang yang kita dakwahi, yakinlah bahwa perubahan itu bukan karena “kerja” kita, tetapi adalah kehendak Allah SWT. Allah SWT lah yang berhak dipuja, dipuji, dan menjadi sandaran kita, bukan makhluknya yang lemah, sering alpa dan lupa. Allah SWT berfirman “Dan (bukanlah tanggungjawabmu wahai Muhammad menjadikan seluruh umat manusia beriman), jika Tuhanmu menghendaki niscaya berimanlah sekalian manusia yang ada di bumi. (Janganlah engkau bersedih hati tentang kedegilan orang-orang yang ingkar itu; kalau Tuhan tidak menghendaki) maka patutkah engkau pula hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman? (QS Yunus:99)

    Perasaan bersalah yang mbak rasakan, ketika melakukan sesuatu hal yang bertentangan dengan aturan agama, insyaAllah menunjukkan “alarm pendeteksi” benar dan salah, yang dianugrahkan Allah SWT masih berfungsi dengan normal. Perasaan itu menunjukkan bahwa masih ada cahaya yang menyinari hati kita. Hanya saja jika amaliyah yang kurang baik itu kita lakukan terus menerus, “alarm pendeteksi” benar dan salah itu akan semakin lemah, tidak terdengar, dan bahkan menjadi rusak, na’udzubillah.

    Apa yang bisa kami sarankan kepada mbak, pertama : berazzam (tekad yang kuat) untuk mulai memperbaiki diri. Memperbaiki kualitas pemahaman keislaman, dan kualitas ibadah kita kepada Allah SWT. Memperbanyak menghisab diri, agar kepekaan hati untuk mendeteksi sebuah perkara apakah mendekati arah yang baik atau yang salah semakin kuat.
    kedua : jagalah interaksi kita dengan lawan jenis. Pelajari kembali bagaimana Islam mengatur interaksi pria dan wanita, yang dengan modal itu, insyaAllah diri kita mendapat jaminan penjagaan dari Allah SWT. Mulai dari memperbaiki cara kita berbusana, cara kita berdandan, cara kita menatap, cara kita berbicara, dsbnya. Dari tulisan mbak, kami menyimpulkan mbak dan laki-laki itu berada dalam satu area kost yang sama. Sangat berpeluang untuk terjadinya interaksi yang kurang islami, “laporan pandangan mata” terhadap aurat diantara laki-laki dan wanita, dll yang lagi-lagi..iblis sangat-sangat diuntungkan dengan kondisi seperti ini guna “memanasi” naluri para lelaki. Segeralah pindah ke kost-an yang semuanya wanita, lebih baik lagi jika mereka juga berjilbab dengan baik.
    ketiga : jauhi pacaran apapun alasannya, karena bagaimanapun orang merekayasa bentuk dan mengganti namanya, pacaran tetaplah akan sarat dengan amalan-amalan yang mendekati zina. Mulai dari pandangan mata, bujuk rayu kata, pegangan tangan, dan lain sebagainya. Kalaupun “akibat” setelah putus itu, si cowok kembali ke dunia hitamnya, sesungguhnya mbak sedikitpun tidak bertanggungjawab terhadap hal itu. Sesungguhnya Allah SWT Maha Berkehendak menentukan siapa diantara kita yang beriman dan siapa yang tidak. Hidayah Allah SWT melalui mbak sudah sampai kepada cowok itu, yang jika pada akhirnya cowok itu lebih memilih untuk kembali terjun ke dalam dunia hitam, daripada meniti jalan yang terang benderang, maka hanya doa yang bisa kita panjatkan, semoga Allah SWT selalu menunjuki kita dan dia jalanNya yang lurus.
    keempat : carilah atau mendekatlah ke lingkungan orang-orang yang berusaha untuk menjadikan dirinya dan orang disekitarnya menjadi sholeh/ah. Sempatkan diri untuk mengikuti kajian-kajian keislaman, apakah dengan mendatangi guru, murabbi, ulama, atau mengikutinya melalui kajian-kajian online.

    Mungkin itu saja yang dapat kami sampaikan, kurang lebihnya kami mohon maaf. Semoga Allah SWT menguatkan hati kita untuk menyegerakan kebaikan dan menghindari kesalahan..aamiin. Wallahu’alam bish showab.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  5. Jasmine
    Apr 04, 2009 @ 17:32:05

    Bism Allahi Ar Rahmaan Ar Rahiim,

    Salaam alaikum wa Rahmat Allah wa Barakatuh,

    Ketika membaca tulisan2 di blog http://pacaranislami.wordpress.com, karena saya dibesarkan di metropolitan dengan segala bentuk pergaulannya dan saat ini memiliki anak, saya juga merasakan kekhawatiran yang sama seperti pengasuh blog ini.

    Apa jadinya kalau kita terus menerus memberi sinyal2 yang abu2 seperti itu kepada generasi muda/masyarakat kita, sedangkan Islam sudah menggariskan dengan jelas mana yang hitam mana yang putih.

    Saya (memilih) tinggal di lingkungan dimana masyarakatnya tidak memakai istilah abu2 dalam menjalankan syari’ah Islam. Dimana tidak dipraktekkan sama sekali istilah pacaran, karena apapun dalihnya, pacaran adalah bentuk penghindaran terhadap komitmen (baca tanggung jawab nyata) sekaligus pengesahan terhadap hal2 yang seharusnya dihindari (dengan penambahan kata “Islami” untuk berbagai hal yang tadinya tegas-tegas dikatakan oleh Rasul SAW sendiri harus dihindari).

    Sebagai ilustrasi saja. Di sini seorang pemuda/pemudi yang merasa sudah siap menikah akan menyampaikan kepada orang2 yang dipandang berilmu (agama) dan punya banyak relasi dengan latar belakang (agama) yang baik pula untuk dicarikan calon istri/suami. Para perantara inilah yang nantinya akan mencarikan calon. Setelah (sebut saja) “target” ditemukan, maka para perantara dan peminat akan mencari segala informasi yang dibutuhkan tentang sang target. Jika informasi sesuai dengan kriteria peminat, maka peminat bersama wali/orang tuanya akan membuka dialog dengan wali/ortu target. Tahap berikut adalah mempertemukan kedua pihak, peminat, orang yang diminati, beserta wali/ortu kedua belah pihak. Di dalam pertemuan ini kedua pihak diperbolehkan melihat calonnya. Untuk perempuan, jika calonnya menghendaki, ia diperbolehkan menanggalkan jilbabnya dan menyingkap pakaiannya hanya sebatas betis ke bawah. Dalam proses ini juga dibicarakan segala hal yang ingin diketahui dari masing2 pihak. Semacam fit and proper test, begitu. Setelah itu, biasanya dilakukan istikharah dan dalam waktu sesingkat mungkin kedua pihak harus memberikan jawaban apakah proses yang sudah dijalani akan dilanjutkan atau tidak. Jika diputuskan untuk dilanjutkan, maka ditentukanlah hari pernikahan yang umumnya tidak lebih dari 3 bulan setelah hari perkenalan tersebut.

    Apakah dalam waktu 3 bulan itu calon pengantin laki2 dan perempuan diberi keleluasaan untuk bertemu berdua saja? Tidak. Pertemuan antara keduanya tetap dalam koridor pengawasan para wali/ortu dan mahram. Maksudnya, meski sudah “bertunangan” keduanya tetap hanya bisa berbicara dengan didampingi mahram atau dipisahkan dengan tabir.

    Ada nilai2 yang sangat luhur dalam penerapan proses seperti ini.

    Pertama seorang perempuan diperlakukan sebagai mahluk yang terhormat. Bukan sebagai properti individu (sebagaimana yang tersirat dalam istilah “pacar” bahwa sesorang menjadi “milik” pribadi seseorang lainnya, dimana ia harus terikat kepada sang pemilik padahal “ikatan kontrak”nya saja tidak ada)

    Kedua, kepastian bahwa ikatan pernikahan sebagai wujud tanggung jawab satu terhadap lainnya bisa segera diketahui. Jadi kalau setelah pertemuan ternyata dirasakan tidak cocok, masing2 pihak bisa segera mencari calon lain, sebelum ada rasa keterikatan yang lebih jauh, yang kalau oleh karena sesuatu hal terputus, akan menimbulkan luka.

    Ketiga, pihak laki2 yang dalam Islam ditempatkan sebagai pemimpin dalam sebuah rumah tangga betul2 diajar untuk berani bertanggung jawab sejak awal langkahnya.

    Keempat, sudah tentu, jauh…jauuuuuh sekali dari pintu2 zina.

    Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih jalan mana yang ingin ditempuh. Ada yang memilih untuk sama sekali menjauhi larangan, ada yang mencari-cari peluang. Di sinilah letak kebesaran Islam. Tidak ada istilah paksaan. Kalau mau dekat pada Allah dan Rasulnya, silakan ikuti perintah dan jauhi larangan. Kalau mau jauh, (baca : cari2 peluang) ya tanggung sendiri risikonya…

    Gitu aja kok repot….

    Jazaka Allah khairan buat pengasuh blog ini…

    admin:
    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    wa iyya kum ibu.. 🙂

    Wah.. terima kasih sekali atas komentarnya, lengkap dalam tataran praktis guna menjemput jodoh yang syar’i itu seperti apa, alhamdulillah.

    Ya kita sepakat dengan apa yang ibu sampaikan, sungguh menyedihkan dan mengkhawatirkan(karena saya sendiri memiliki 3 anak perempuan :d), jika melihat fenomena “pacaran” saat ini. Kalaulah dulu, orang tua-orang tua kita “berpacaran”, saya masih berkesimpulan bahwa hal itu dilakukan lebih banyak dikarenakan ketidak tahuan mereka bagaimana menjemput jodoh yang syar’i. Masih sopan, ngga bawa anak perempuan orang, kalo main ditemani ortu perempuan, dll. Tetapi kalau sekarang ada fenomena “pacaran” yang jelas-jelas salah tapi “dibenarkan”, “pegangan tangan” pake dalil, “pandang-memandang” pake dalil, dll, yang notabene semua itu adalah perkara-perkara yang pasti secara dalil, adalah perkara yang mendekati zina, na’udzubillah.

    Semoga kita dimudahkan oleh Allah SWT untuk melihat yang benar itu benar dan yang salah itu salah, serta diberi kekuatan untuk melakukan perubahan, meski itu hanya sedikit. amiin.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  6. doez
    May 03, 2009 @ 08:30:26

    ok thx artikelnya yaw…:D

    Reply

  7. annisa'
    Jul 05, 2009 @ 11:03:35

    assalamu’alaikum wrwb.
    saya muslimah baru berumur 17 tahun berjilbab, tapi saya punya pacar. alhamdulilah saya belum pernah pegangan tangan sama dia dan sebagainya, karna dari awal kami juga punya komitmen tidak ada saling menyentuh diantara kmi. tapi kami sering pulang sekolah b’sama bncengan pake sepeda motor, tapi sekali lagi kmi gak ada bersentuhan. tapi saya sering kepikiran, masih boleh gak kmi pacaran dngan cara seperti ini….? kmi pacaran hanya untuk saling membantu dalam belajar, saling mengingatkan dikala lupa sma kwjban kepada Allah, jg slg menasehati jka salah satu dari kmi melakukan kesalahan, seperti aku sering malas bantuin ortu, dia nshti br gak malz gi…. atw menshti dia yang malz bca alqur’an tiap slsai shlt mgrb, kami saling mencintai dan menyayangi. selama ini ortu kmi gak da yang ngelarang asalkan kmi tahu batasan hub antara lawan jenis..
    bagaimana menurut bapak hubungan kami ini…?
    wassalam…

    admin : wa’alykumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Nisa yang dirahmati Allah.. Pacaran baik ditimur ataupun dibarat dipahami sebagai sebuah “legitimasi”(pengesahan) untuk kemudian dapat berdekatan, bermesraan, “sayang-sayangan”, dll dengan lawan jenis yang bukan mahromnya padahal mereka belum menikah:). Pacaran juga dipahami sebagai sebuah “deklarasi kepemilikan” sepasang lawan jenis yang katanya sedang jatuh cinta, hal ini bisa kita lihat, dimana sang pacar tidak diperbolehkan menjadi pacar orang lain.. padahal sekali lagi..mereka belum menikah :).

    Sedangkan didalam Islam, baik “legitimasi” ataupun “deklarasi kepemilikan” diantara dua orang lawan jenis yang saling mencintai adalah dengan sebuah proses yang kita kenal dengan istilah “Pernikahan”. Diluar itu, maka apapun namanya, apakah itu “pacaran”, “hts-an”,”cem-ceman” dan lain sebagainya, yang dimaksudkan agar selalu dapat berdekatan dengan orang yang dicintai adalah sebentuk zina(meski kadang termasuk pada kategori zina kecil, tetapi tentu semua yang besar diawali oleh yang kecil). Bahkan pada bentuk yang paling halus sekalipun.. yakni zina hati yang diawali dengan rasa rindu. Kepastian terjadinya “zina” bagi seluruh manusia ini dikabarkan oleh Rasulullah SAW sendiri, artinya tidak seorangpun didunia ini yang tidak pernah “berzina”, meski itu hanya zina kecil, tapi tentu saja.. sebagai seorang yang beriman, ketika bertemu dengan hal-hal yang dapat mengarahkan dan mendekatkan kita kepada perkara2 zina, maka mengindarinya dengan segera adalah lebih menyelamatkan. Dan jika terlanjur masuk ke dalamnya, segera bertobat, memohon ampunan Allah SWT, karena sesungguhnya Allah SWT Maha Pengampun dosa-dosa. Rasulullah SAW bersabda “Setiap anak adam telah ditulis baginya bagian dari zina. Ia pasti melakukannya tanpa bisa dihindari, zina mata adalah memandang, zina lisan adalah berbicara, zina telinga adalah mendengar, zina tangan adalah menggunakannya, zina kaki adalah melangkah, jiwa berharap dan berhasrat, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakannya”(HR Bukhari dan Muslim).

    Jika dikatakan “kmi pacaran hanya untuk saling membantu dalam belajar, saling mengingatkan dikala lupa sma kwjban kepada Allah, jg slg menasehati jka salah satu dari kmi melakukan kesalahan, seperti aku sering malas bantuin ortu, dia nshti br gak malz gi..dst”, pertanyaannya kemudian adalah “kenapa harus pacaran dahulu.. baru mau belajar giat, rajin ibadah, rajin membantu ortu, dll?”.. bukankah hak Allah SWT untuk diibadahi sebagai bentuk syukur kita atas segala nikmat yang telah dianugrahkanNya kepada kita, nikmat ortu yang baik, nikmat kesehatan, kesempurnaan fisik, nikmat iman dllnya..bukankah hak ortu juga untuk kita berikan bantuan, belajar dengan baik, dll melalui merekalah Allah takdirkan kita ada, diasuhnya kita, dibiayainya kita, disayanginya kita, dll.. tentu kedua hal ini jauh lebih utama untuk kita utamakahn haknya daripada sekedar mencari pembenaran untuk bisa “dekat” dengan orang yang kita ‘cintai’.

    Niat Nisa yang berpacaran untuk “saling membantu belajar, saling mengingatkan untuk sholat dll” itu baik, tapi tentu saja perlu diperhatikan juga amaliyahnya. Artinya, diterimanya sebuah amal oleh Allah SWT itu haruslah dengan menyeleraskan niat yang baik dengan amaliyah yang sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya, yang jika segala niat yang baik itu diwujudkan dengan aktifitas bernama pacaran, maka jelas.. amaliyah dibalik itu tidak akan diterima oleh Allah SWT :).. kitanya jadi ga ikhlash gitu :).

    Saat ini fase mencari ilmu dan mengenali cinta yang benar itu seperti apa. Kalo kata Raihan “Cinta kepada Allah, cinta kepada Rasul, cinta kepada ibu bapa”.. baru deh seterusnya, cinta kepada teman.. dan cinta kepada pasangan hidup :). Semoga Nisa dimudahkan Allah SWT untuk memutuskan masalah ini dengan baik dan benar hehe..aamiin.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: