Ta’aruf Praktis

Ditranslasi “bebas” dari http://islam.about.com/blcourtship.htm

“Jika pacaran dilarang didalam Islam, bagaimana muda-mudi Islam mendapatkan pasangan mereka?”

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Pertanyaan yang biasanya sering saya dapat dari muda-mudi adalah, “Apakah orang islam pacaran?” dan “jika mereka tidak pacaran, bagaimana cara mereka memutuskan siapa yang akan mereka nikahi?”

“Pacaran” sebagaimana dipraktekkan hampir diseluruh belahan dunia tidak dikenal di dalam Islam — dimana seorang pemuda dan seorang pemudi (atau boys en gals) memiliki hubungan yang intim, mesra, menghabiskan waktu bersama-sama, “saling mengenal” dengan cara yang sangat akrab meski mereka telah memutuskan untuk menikah, terlebih lagi bagi mereka yang belum memutuskan untuk menikah. Secara sederhana, didalam Islam hubungan yang akrab sebelum menikah(pacaran — premarital relationship) dalam bentuk apapun antara dua manusia lain jenis adalah haram.

Menentukan pilihan atas seorang yang akan kita nikahi adalah keputusan yang sangat penting yang akan kita buat dalam hidup kita. Seharusnya hal itu tidak dianggap enteng, atau diabaikan atau sekedar mengikuti hormon. Hal tersebut harus kita prioritaskan, sebagaimana keputusan-keputusan besar lainnya sepanjang hidup – dengan doa(keterlibatan Allah SWT), dengan kehati-hatian, dan keterlibatan keluarga dan teman-teman terpercaya.
Jadi, bagaimana pemuda-pemudi Islam memanage hal ini pada masa sekarang? Pertama-tama, muda-mudi Islam harus memperkuat persahabatan, ukhuwah islamiyah, dengan sesamanya (bukan sebaliknya, berakrab-akrab ria dengan lawan jenis). Kemudian komunitas “sister” dan komunitas “brother” ini akan saling menguatkan, dan saling memperbaiki diri dan kehidupan mereka. Ketika seorang muda-mudi siap untuk menikah, maka ada beberapa langkah yang bisa diambil :

  • Perbanyaklah berdoa kepada Allah SWT, mohonkanlah agar Allah SWT memberikan kemudahan dalam rangka menjemput jodoh yang baik dan tepat bagi mereka.
  • Ajaklah keluarga untuk berdiskusi, tentang berbagai hal, mengenai calon dsbnya. Jika dianggap perlu, keluarga inti dapat mengajak keluarga besar yang lain yang dapat dipercaya untuk bertukarpikiran. Biasanya ayah atau ibu mendekati keluarga lain untuk mengadakan pertemuan.
  • Kemudian masing-maisng calon setuju untuk mengadakan pertemuan yang ditemani oleh muhrim masing-masing, atau teman-teman yang dapat dipercaya. Dari Umar, bahwa Rasululah SAW bersabda “ Janganlah seorang lelaki berduaan dengan seorang perempuan, kecuali disertai mahramnya “(Bukhari/Muslim). Rasulullah SAW dalam kesempatan lain bersabda “Tidaklah seorang laki-laki bersendirian dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) kecuali yang ketiganya adalah syaithan”(tirmidhi). Ketika pemuda-pemudi mulai memiliki rasa untuk saling mengenal, maka kondisi berdua-duan keduanya akan menjadi godaan untuk melakukan perbuatan maksiat. Disetiap waktu, umat Islam harus mengikuti aturan perintah Allah SWT yang termaktub didalam Al Quran (An Nur: 30-31) agar “..rendahkanlah pandangan mereka dan jagalah kemaluan mereka..”. Islam mengenalkan bahwa kita adalah manusia yang memiliki kelemahan, dan aturan ini untuk menjaga kita.
  • Keluarga kemudian menyelidiki calon lebih jauh – berbicara dengan teman-temannya, keluarganya, guru ngajinya, teman-teman kerjanya dsbnya. untuk mengetahui dan mengenal lebih jauh tentang sifat dan karakter sang calon.
  • Masing-masing calon melaksanakan sholat Istikharah (memohon petunjuk yang terbaik atas pilihan yang ada) agar mendapat kemantapan hati dari Allah SWT dalam membuat sebuah keputusan.
  • Jika cocok, maka masing-masing calon menyegerakan pernikahan. Jika tidak maka berpisah dengan baik-baik. Islam memberikan hak penuh bagi muda-mudi untuk memilih calonnya masing-masing – mereka tidak boleh dipaksa untuk menikah jika mereka tidak menginginkannya.

Cara meminang terfokus seperti ini membantu untuk menjamin kekuatan pernikahan, yang dibangun dengan kebijaksanaan dan petunjuk dari keluarga dalam keputusan hidup yang penting. Keterlibatan keluarga dalam usaha menjemput pasangan akan memberikan jaminan bahwa pilihan yang kita buat tidak didasarkan nafsu semata, tetapi lebih kepada bentuk keseriusan, kehati-hatian, pertimbangan yang objektif, atas kecocokan dan kesesuaian dengan calon pasangan. Itulah kenapa pernikahan yang diawali dengan proses seperti ini seringkali sukses dunia akhirat, insyaAllah. Wallahu’alam.
Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Advertisements

6 Comments (+add yours?)

  1. neilhoja
    Nov 27, 2008 @ 04:35:09

    salam alaikum…

    tetep semangat mas!!!

    aku yakin, biar bagaimanapun orang-orang ‘kiri’ sana, berkoar… agama Islam tak kan ternoda sedikitpun.

    alhamdulillah.. dah ada counternya.

    oya, ingin sedikit berkomentar… mungkin ada sedikit masukan buat tulisan, mohon maaf kalo sekiranya sudah pernah dimuat.

    setelah saya baca, dan saya baca lagi di situs pacaranislami.*** saya sepertinya mulai mengerti maksud dan tujuan pak shodiq.

    mungkin salah satunya adalah adanya benturan istilah, pacaran dan ta’aruf. dalam salah satu komentarnya, pak shodiq ini bilang, kalo istilah pacaran digunakan karena pembacanya adalah orang abangan dan orang putihan. maka gak relevan dong, kalo kita cuma pake istilah ta’aruf, karena bisa jadi istilah ta’aruf tersebut gak disukai oleh orang abangan…

    nah, di situ masalahnya. mungkin, sedikit terbuka ke mana arah pak shodiq tadi.

    kalo saya pikir, … bila memang logika tersebut yang kita pake… maka analoginya begini, – memakai analogi adian husaini dalam counter islam liberal –

    istilah pahlawan, tidak bisa kita sematkan kepada si Pitung. karena, si PItung yang dianggap pahlawan oleh orang Betawi, ternyata adalah musuh bagi orang Belanda. maka lebih baik kita gunakan istilah pemberontak dan penjahat kepada si Pitung, demi menghormati kesukaan orang Belanda…

    lha, kalo kek gini gimana? apa logika berpikir seperti ini bisa dipake??

    mungkin segini dulu inspirasi dari saya, lebihnya mungkin bisa dituliskan lebih detail dan ilmiah terkait ide tulisan ini. lalu bisa segera didiskusikan dengan pak shodiq

    wassalamu’alaikum.

    Reply

  2. pacaranislamikenapa
    Nov 27, 2008 @ 07:54:43

    @neilhoja
    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Siaapp..!!

    Gimana kabar kairo saat ini? apakah disana lagi musim hujan dan mangga? :d

    alhamdulillahirabbil’alamiin.. iya memang secara logika, istilah, definisi, analogi, kesimpulan, dsbnya dari pak Shodiq tersebut banyak yang bermasalah. Sangat dipaksakan agar kelihatan “nyambung”. Ironisnya, hal itu menjadi seperti “gayung bersambut” bagi mereka yang hatinya dengan “sakit”. Bukan “penawar” obat yang didapat, malah mendapatkan “candu” pembenaran terhadap maksiat yang dianggap wajar saat ini(baca: pacaran).

    InsyaAllah, kita “tampung”(weleh..bahasanye ky pejabat aje) idenya :), karena “kebetulan” masih banyak “hutang” terkait beberapa tulisan, salah satunya tinjauan terhadap buku pak shodiq yang berjudul “Istikharah Cinta”.

    Atau kalo antum(atau siapapun) sempat, silahkan dibuat dulu, nanti tinggal ana copas disini :).

    Jazakallah akhi.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  3. magina
    Jan 21, 2009 @ 00:34:19

    klo ngajak cwe pegi nonton termasuk berdua2an apa ga ya??kan rame tuh yg nonton, ga kita berdua aja??

    ya iya lha.. masa ya iya donk :d. rame2nya dibioskop atau pantai atau rumah makan dan tempat publik lainnya tidak menyebabkan cowok dan cewek itu merasa malu untuk saling lirik, pegangan tangan, dan mungkin lebih dari itu.

    Kecuali kalo ngajak ceweknya lewat kakak cowoknya, terus setelah sampe bioskop, yang laki2 duduk didepan, dan yang wanita duduk dibelakang, terus filmnya juga tidak menunjukkan adegan zina(baik yang kecil maupun yang besar)..misalnya film tentang keganasan zionis israel terhadap saudara2 kita dipalestina, dsbnya, insyaallah yang kaya gini ga papa.

    trz,mungkin pertanyaan nya gini: bagaimana cara mengenali calon yang akan kita nikahi???klo keluarga yang tanya sini situ,yg kenal malah keluarganya,bukan yg mau nikah dunk.

    lihatnya jangan parsial gitu atuh :). ada sesi kita bertemu dengan calon, ditemani dengan muhrim, dan ada juga sesi keluarga untuk bertemu dengan calon. karena pernikahan itu tidak hanya menyatukan 2 insan, tetapi juga menyatukan 2 keluarga. Dan ketika keluarga tahu lebih awal tentang kondisi calon kita dsbnya, kalaupun ada “penolakan”, ada waktu untuk pengkondisian keluarga tersebut. wallahu’alam.

    wassalamu’alaykum warahmatullah

    Reply

  4. yusufabdulloh
    Jan 29, 2009 @ 11:54:59

    dari tulisan di atas:
    “Kemudian masing-maisng calon setuju untuk mengadakan pertemuan yang ditemani oleh muhrim masing-masing,…”

    Pertanyaan saya muhrim itu apa sih? Setahu saya, muhrim itu adalah “seseorang yang sedang ihram” disebut muhrim.

    Kalo seseorang yang diharamkan dinikahi kayanya itu mahram deh.

    Istilah pacaran sebaiknya tidak digunakan lagi, sebab sangat jauh berbeda pacaran dengan ta’aruf, dan ga ada pacaran islami.

    admin:
    assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Jazakallah masukkannya :). Iya antum benar, tata bahasa arab memang “membedakan” maksud muhrim dan mahram, sebagaimana yang antum sampaikan.
    Tetapi tentu kita mengenal ada kata serapan dari bahasa luar(termasuk bahasa arab) ke dalam bahasa Indonesia, salah satunya adalah kata “muhrim”, yang menurut informasi yang berhasil saya peroleh, kata “muhrim” dalam KBBI itu diartikan sama seperti mengartikan kata “mahram” (orang yang haram untuk dinikahi), silahkan dikroscek di KBBI :). Jadi sebagai orang indonesia dan sebagaimana yang dipahami oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, saya pikir bukan sebuah masalah menggunakan kata serapan itu. Itulah kenapa, banyak kita temui tulisan2 orisinil Indonesia ataupun terjemahan dari bahasa arab, menggunakan kata “muhrim” untuk menjelaskan “orang yang haram dinikahi”.

    Sekali lagi, terima kasih atas informasinya. Tentu hal ini sangat berguna sebagai tambahan pengetahuan istilah-istilah dalam agama Islam yang kita cintai.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  5. neilhoja
    May 18, 2009 @ 07:43:49

    assalamu’alaikum..

    hehehe… maaph nih, mas.. lama gak mampir, lupa kalo pernah suka baca2 artikel di sini. soalnya template baru, jadinya semua link ilang.. 🙂

    alhamdulillah kabar kairo baik. kita di sini lagi ujian, mohon doanya ya.. moga bisa ngejalani ujian dengan baik, diberi kesabaran dan taufiq.. amin99x.

    segitu dulu akhi, moga kapan2 bisa disambung lagi. kalo sempet silahkan berkunjung ke blogku 🙂

    oiya, soal mahram dan muhrim, emang begitu adanya. penggunaan serapan yang dipakai masyarakat kita emang salah. tapi karena itu udah menjadi istilah.. ya, kita ngikut aja. 🙂

    wassalamu’alaikum wr wb

    admin : wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh..

    wah lagi ujian ya.. moga2 dimudahkan Allah SWT ujiannya, diberi kepahaman ilmu dan keistiqomahan dalam amal.. amin100X :d.

    insyaAllah.. mampir, ini lagi baca2.. :).

    wassalamu’alaykum warahmatullah

    Reply

    • roni
      Jul 25, 2010 @ 20:13:12

      Alhamdulillah.. Hari ini aku dapat hidayah dari artikel2 ini..
      Pacaran yang telah aku jalani tidak ada dalam ajaran islam..
      Terima kasih saudara ku.. Dalam kenal -roni-

      admin :
      alhamdulillah.. salam kenal :).

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: