Tinjauan komentar SPPI CS di” Awas!Ta’aruf ..”

Komentar pertama

akh aldo berkomentar “ah anda saja yang terlalu mencari-cari kesalahan

coba liat deh, semua bagian yang di kutip dari buku itu juga sebenarnya gak salah, dan juga gak ada pewajiban so bukan bid’ah.

Masalah bahasa aja, anda seorang penulis seharusnya mengerti, terutama jika ditujukan ke kalangan muda, kata-kata “wajib” belum berarti wajib, dan semua orang udah paham itu cuma penganjuran aja (kecuali yang picik, dan emang ingin cari kesalahan, he3x”

Tanggapan SPPI : “Bersangka baik sih baik-baik saja. Tapi kalau tanpa bukti sama sekali, itu sama saja dengan membiarkan orang mempermainkan agama.

Memang bahasa perempuan pada umumnya tidak eksak. Namun hampir setiap hari saya bergaul dengan aktivis dakwah yang “bersemangat tinggi” seperti sang penulis tersebut. Dari diskusi dengan mereka, saya dapati bahwa mereka justru memperlakukan yang “wajib” itu sebagai “sangat wajib”, bukan sekadar anjuran. Karenanya, saya menganggapnya bukan sekadar persoalan bahasa.”

Tanggapan kami atas komentar SPPI :

Jangan gitu donk pak Shodiq.. masa jangan gitu lha (hehehe..apalagi coba). Pertama, apa yang dimaksud dengan “bukti” oleh SPPI? bukankah beliau yang menuduh sehingga beliaulah yang (memang) menyodorkan “bukti”. Bahkan bukti itu ada 10 butir. Sayangnya, dari 10 “bukti” itu tidak ada satupun yang layak disebut dengan bid’ah sesat. Dalil yang digunakan pun tidak nyambung, dan terkesan asal menyimpulkan saja. Jadi siapakah yang sedang mempermainkan agama?na’udzubillah.

Kedua, dikatakan “bahasa perempuan pada umumnya tidak eksak” (so what gicu loh..masa so what gicu donk..halah..hehe) oo gitu ya, padahal bahasa laki-laki juga pada umumnya hanya kelihatan eksak saja, padahal ngga juga hehehe. “Hampir setiap hari..”nya SPPI ‘bergaul’ dengan aktifis dakwah yang “bersemangat tinggi” tidak menjamin bahwa kesimpulan SPPI terhadap mereka itu pasti benar. Bahwa kelihatannya ada dari mereka yang memperlakukan sesuatu yang “wajib” itu sebagai “sangat wajib” adalah boleh jadi karena penyampaian dan pemahaman mereka yang kurang, atau juga disebabkan subjek yang mendengarkan tidak/kurang paham, tidak suka, prejudice dsbnya sehingga kesimpulan yang diambilpun terlalu prematur.

Komentar kedua

Akh Donny berkomentar “Wah, saya malah sering menemukan yang lebih ‘aneh’ lagi pak … ada Murrobi yang merasa lebih ‘berhak’ daripada orang tua dan bisa menggagalkan pernikahan…

Akh Kaezzar : Maaf, bukannya menjelek2an, just sharing

Pernah jg di forum ad yg curhat kalo sang MR mengcut prosesi taaruf krn bacaan si pelamar krg lancar. Dalihnya, kalo bacaannya aj g lancar, gmn bisa mo mimpin RT

Komen:Apa hubungannya bacaan lancar ma kepimpinan RT…Bacaan lancar n bagus memang nilai plus.Tapi kualitas seeorang akn terlalu dini kalo cuma diliat dari lancar bacaan n banyakny apalan. Sayangnya 2 item tersebut srg dijadikan patokan awal dlm judgement taaruf

“Pilihlah yang paling baik agamanya”

Agama dsitu bwt saya jauh lbh dalam ketimbang bacaan n apalan… walopun bacaan n apalan memang bs jadi slh satu tolak ukur…namun sifatnya g absolut…

Just sharing…mari kita ambil hikmahnya

Wassalam”

tanggapan kami : wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Akh Donny, jika dikatakan “sering menemukan yang lebih aneh” apakah memang “sesering” itu? kalau “sering” kenapa contohnya cuma satu? minimal lebih dari 2 lha..(masa lebih dari 2 donk..hehehe). Dan ketika ada yang meragukan pernyataan antum, antum ngga perlu bertanya “perlu saya hadirkan saksi langsung?”, langsung saja hadirkan, boleh jadi ada yang kenal, atau boleh jadi murobbinya baca dan akhirnya semua yang terlibat bisa memberikan konfirmasi, btw antum belum konfirmasi kan sama murobbinya? Kalau sudah dan memang seperti itu adanya, berarti murobbinya telah bersikap berlebihan, tetapi kalau belum..kan kurang ahsan. Bagaimana jika akibat pengabaran kita tersebut membuat pembaca awam menjadi “manggut2” sambil berkata dalam hati “ooo..syerem juga ya ikut tarbiyah2 gitu”.
Ketika antum mengatakan “Hanya barangkali saya sepakat juga bahwa kata ta’aruf yang maknanya lebih luas menjadi sempit jika ditujukan untuk pranikah saja..”, sekarang siapa yang mempersempit makna ta’aruf itu? para aktifis tarbiyah kah atau orang-orang yang diluar itu semacam SPPI? Kalau antum pernah ‘mengenyam’ tarbiyah, atau mungkin masih ‘tarbiyah’, ketika ada ikhwah baru bergabung, maka lazim bagi kita untuk melakukan ta’aruf, apakah kemudian semua peserta liqo itu berfikir bahwa mereka sedang melakukan ta’aruf pranikah?? tidak kan?

Akh Kaezzar ternyata ngga mau ketinggalan, turut menambahkan “keanehan” yang ditemuinya pada aktifis tarbiyah dengan menyampaikan apa yang didapatnya dari forum(ntah forum apa) bahwa ada MR yang meng”cut” proses mutarobbinya hanya karena masalah hafalan dan bacaan yang kurang lancar. 2 kriteria itu yang kata akhuna kaezzar ini “sering..” dijadikan kriteria judgement(penilaian) diawal.
Akh Kaezzar..bahwa keadaan fisik, bacaan, hafalan, kegiatan sehari2, hobi, sifat baik dan sifat buruk, dll memang adalah penilaian awal dalam proses ta’aruf/perkenalan. Dan penilaian awal itu bukanlah penilaian akhir :d. Jadi tidak ada masalah tho yang penting kan penilaian akhirnya seperti apa. Disamping itu, jika ada kabar-kabar seperti diatas, sebelum disebarkan, konfirmlah terlebih dahulu, tabayyun. Karena kecil sekali kemungkinannya seorang murabbi yang bertanggungjawab mendampingi proses ta’aruf bersikap seperti itu. Bukan meniadakan, tetapi sungguh sebuah “keanehan” yang nyata jika dikatakan “sering”, na’udzubillah. Silahkan tunjukkan buktinya, jika antum mengaku benar.

Akhirnya, siapa yang “aneh” dan tidak, tergantung ditempat mana kita “berdiri”, dari sudut mana kita memandang, dari ukuran-ukuran apa yang digunakan. Kalaulah berbicara perkara agama, maka dalil-dalil Al Quran dan Hadits, serta penjelasan ulama terhadap keduanya lah yang kita ambil dan kemudian kita pegang. Tetapi satu yang pasti, kalau ingin tahu agama, tanya sama ahli agama, jangan sampai salah. Jika salah bertanya bakalkan sesat paham, jika sesat paham maka rusaklah amal, jika rusak amal maka dosalah yang didapat, jika dosa yang didapat maka .. you know lha..masa you know donk, hehehe, wallahu’alam.

Mohon maaf atas segala perkataan yang kurang berkenan, saran dan kritik sangat kami harapkan. Tetaplah menjadi pembaca yang kritis dan adillah terhadap ilmu.

wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: