Ta’aruf vs Pacaran.. bag.1

(Jawaban atas 3 tulisan, ‘Pacaran Sesudah Menikah Lebih Nikmat?’,‘Ta’aruf dan Pacaran Islami, mana yang lebih efektif’, dan ‘Awas, Taaruf praNikah = bid’ah sesat!!!’)

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Jawaban ini akan disusun berdasarkan urutan sub judul diatas, kebenaran hanyalah dari Allah Azza wajalla.

1. Tinjauan ‘Pacaran Sesudah Menikah Lebih Nikmat?’.

SPPI berkata “Benarkah pacaran sesudah menikah itu nikmatnya melebihi pacaran sebelum menikah? Benarkah pacaran itu halal hanya jika sesudah menikah?

Eh, saya tidak hendak memperdebatkannya. Di sini saya hanya mengajak kita semua untuk kembalikan makna kata pacaran ke makna aslinya (bukan makna palsunya). Lalu Anda bisa menilai sendiri apa benar bahwa pacaran setelah menikah itu nikmat banget, bla bla bla.

Kata “pacar” berasal dari bahasa Kawi (Jawa Kuno). Artinya: “calon pengantin“. Kata ini kemudian mendapat akhiran “-an” yang bermakna kegiatan. Jadi, pacaran adalah aktivitas persiapan menikah.

Nah, mungkinkah persiapan menikah dilakukan sesudah menikah? Mustahil. Titik.”

=====

“Ya iya lha..masa ya iya donk” hehehe..Sejak kapan SPPI mengganti makna pacaran yang dikatakannya dibanyak tempat sebagai “bercinta dengan kekasih tetap”, dengan makna “aktifitas persiapan menikah”??. Tapi..ternyata setelah kita cek en ricek, SPPI tidak pernah mengganti makna pacaran yang katanya “bercinta dengan kekasih tetap”, karena makna pacaran yang biasa beliau gunakan itu masih dapat kita baca dengan jelasnya dalam banyak artikel beliau. Lantas makna yang baru saja SPPI sematkan lagi dalam tulisannya untuk kata “pacaran” diatas buat apa ya? Wallahu’alam, terkesan jawaban itu seadanya untuk menutup keterbatasan diri dalam mencari jawaban yang meyakinkan.

Disamping itu beliau berkata “..kembalikan makna kata pacaran ke makna aslinya (bukan makna palsunya)..”, bukankah yang punya makna-makna “palsu” itu ya SPPI sendiri?, mendefinisikan fenomena pacaran yang nyata-nyata ada didepan mata dengan makna yang jauh dari kenyataan dan fakta-fakta yang ada, dan berubah-ubah mengikuti tiupan angin. Padahal..bagaimana kita mendefinisikan(atau menyetujui sebuah definisi) sesuatu, menunjukkan tingkat objektifitas kita sejauh mana.

2. Tinjauan ‘Ta’aruf dan Pacaran Islami, mana yang lebih efektif’

SPPI berkata “.. supaya lebih mengenal dia, manakah yang lebih efektif: [1] perhatikan isi rumahnya, amati lingkungan pergaulannya, kenali latar belakang pendidikannya, telusuri bacaannya, cari keterangan dari saudara dan temannya, dan berdiskusi saat silaturahmi; ataukah [2] menjalin hubungan cinta yang mendalam dengan dia, yang mengandung segala makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan, dan kerinduan, di samping mengandung persiapan-persiapan untuk menempuh masa depan bersama, serta menyelinginya dengan tanda-tanda cinta yang manis dan makruf, seperti tukar-pikiran dan tukar-bantuan?

Apabila Anda sudah mendalami metodologi penelitian kualitatif, tentulah Anda sudah mengerti dan sangat yakin bahwa cara nomor 2-lah yang lebih efektif untuk lebih mengenal seseorang yang diteliti. (Lihat, misalnya, buku karya Prof. Dr. S. Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif (Bandung: Tarsito, 1992), terutama Bab IV, “Metode Pengumpulan Data”.)”

=====

Hehehe..dari 2 kondisi diatas, kami kira akan ada penjelasan ilmiahnya seperti apa, minimal diungkapkannya sisi kelebihan dan kekurangan dari 2 kondisi yang diumpamakan, sehingga pembaca kemudian dapat menganalisa, menimbang-nimbang, apakah memang sudah benar, jujur, dan adil pemaparan serta ukuran-ukuran yang digunakan untuk membandingkan 2 kondisi tadi? Tapi seperti biasa, “blink” langsung dengan sebuah kesimpulan “..cara nomor 2-lah yang lebih efektif..bla..bla..” hehehe..dilengkapi dengan keterangan buku rujukan bagi pembaca yang ‘meragukan’ kesimpulan beliau tadi, padahal tidak selalu linier antara dalil yang benar dengan kesimpulan akhirnya, sebagaimana yang sering SPPI tunjukkan dimana beliau mengambil dalil ini dan itu untuk mendukung dugaan-dugaannya tentang adanya pacaran islami ala beliau, padahal kesimpulannya seringkali jauh dari maksud dalil yang digunakan.

Kenapa tidak dikupas dulu, apa dan seperti apa ta’aruf yang syar’i itu..kemudian dikupas juga apa dan seperti apa pacaran ala SPPI yang katanya islami itu? Nah..berdasarkan fakta-fakta yang relevan, jujur, dan adil itulah, kemudian baru ditarik sebuah kesimpulan bahwa cara 1 atau cara 2 lebih baik dari cara lainnya. Kalau tidak, hal-hal semacam ini tidak lebih hanya menunjukkan sikap prejudice, subjektif, dan asal beda serta menyesatkan.

3. Tinjauan ‘Awas! Taaruf praNikah = bid’ah sesat!!!’

SPPI sepertinya memang sedang terlihat bersemangat sekali..hehehe, sampai-sampai judul yang tidak rasional pun beliau tampilkan. Terlalu bersemangat itu memang beda tipis dengan tergesa-gesa, kedua-duanya cenderung untuk menyebabkan seseorang ‘tergelincir’ dan ‘tergelincir’ lagi.

Btw, biasanya tanda seru itu diartikan juga sebagai ‘pentungan’. Pas kita baca judul diatas “Awas…Tung”..”awww…astaghfirullah” satu pentungan mendarat ke pembaca, lanjut “Ta’aruf praNikah = bid’ah sesat…Tung..tung..tung”..”wadowww..astaghfirullah” tiga pentungan mendarat di ‘jidat’ pembaca..hehehe. Pertanyaan mendasar, sebenarnya SPPI tahu ngga sih makna ta’aruf, pranikah, dan bid’ah..itu ? masa orang kenalan yang syar’i untuk tujuan menikah dikategorikan sesuatu yang “bid’ah”, pake “sesat” lagi hehehe.

Lanjutnya “Disamping bahaya zina pada budaya pacaran, kita juga perlu mewaspadai bahaya lain yang bahkan lebih mengerikan, yaitu bid’ah pada budaya ta’aruf praNikah. Mengapa lebih mengerikan? Sebab, bahaya ini cenderung kurang disadari. (Pelakunya menyangka menunaikan sunnah Rasul, padahal melakukan bid’ah yang sesat dan menyesatkan.)”

Na’udzubillah tsumma na’udzubillah..:)..

Setelah sebelumnya menyangka bahwa istilah ta’aruf kurang tepat bahkan menuduh tidak adanya dalil untuk digunakan juga pada perkenalan pra nikah, sepertinya SPPI kurang puas kalau tidak menempatkan ta’aruf pranikah itu sendiri sebagai salah satu dari amaliyah yang buruk, yakni bid’ah sesat. Tetapi sudahkah SPPI memahami dengan benar istilah “bid’ah” sebelum beliau menuduh orang lain melakukan hal itu? Atau jangan-jangan hanya bermodalkan pemahaman yang bias seperti pada saat beliau memahami definisi “pacaran” selama ini? Karena ketahuilah setiap tuduhan itu akan kembali kepada si penuduh.

Penjelasan tentang bid’ah dan sunnah sendiri sebenarnya panjang sekali, tidak cukup dengan membawa satu atau dua perkatan orang lain, kemudian menyimpulkan sesuatu perbuatan sebagai bid’ah, karena jika itu yang dilakukan, maka ia telah menyesatkan orang lain dengan perkataannya, dan telah bersikap tidak adil terhadap ilmu itu sendiri. Karena ada beberapa aspek yang mesti dipahami terkait dengan bid’ah, pertama tentang makna makna bid’ah secara bahasa dan terminologi syar’i terkait dengan hadits “..kullu bid’ah dhalalah..”(setiap bid’ah itu sesat), kedua mengklasifikasi(dengan bertanya kepada para ulama.. misalnya meski sholat dengan shodaqah itu sama2 ibadah tetapi berbeda karakteristiknya) mana ibadah yang telah tetap rukun-rukun dan syarat-syaratnya, dan mana ibadah yang tidak ditetapkan rukun-rukun dan syarat-syaratnya, mana perkara pokok dan mana perkara cabang yang boleh jadi ada ruang untuk terjadinya perbedaan pendapat, serta ketiga memahami amaliah duniawi yang bisa bernilai ibadah karena sebab-sebab ianya dekat dengan Sunnah Rasulullah SAW, keempat..dll. Jadi seharusnya untuk sampai pada sebuah kesimpulan bahwa perbuatan itu dapat dihukumi ianya bid’ah harus dengan alasan-alasan yang jelas, dalil-dalil yang qath’i, dan pemahaman yang benar. Dalil benar tetapi pemahamannya salah, tidak boleh kita merujuk kepada pendapat seperti itu.

Kemudian SPPI berkata “Pada budaya taaruf pranikah, ternyata ada sejumlah aktivis dakwah yang berusaha menetapkan aturannya, padahal aturan tersebut bukan berasal dari Allah atau Rasul-Nya. Untuk contoh, marilah saya tunjukkan sepuluh bentuk bid’ah yang terdapat di sebuah buku terbitan Lingkar Pena, 2006. Judulnya: Taaruf, Keren..! Pacaran, Sorry Men! (Nama penulisnya tidak saya sebut. Sebab, saya tidak bermaksud menyerang penulisnya. Yang saya kritik hanyalah tulisannya.)”

Hehehe..masa sih pak, karena menyebut nama penulis sebuah buku ketika ada kritik terhadap tulisannya dianggap menyerang pribadi? kayanya ga gitu deh :). Tapi okelah..kita abaikan hal itu.

bersambung

Advertisements

3 Comments (+add yours?)

  1. Trackback: Ta’aruf vs Pacaran.. bag 2 « Pacaranislamikenapa’s Weblog
  2. cuing
    Sep 16, 2008 @ 14:31:23

    yah..gw kira dg masuk blog ini gw dpt bantahan nanmumpuni ternyata isinya cuma bantahan tanpa dasar jelas, isinya cm asumsi bin emosi doank.
    kata blog sebelah si admin ga paham akan ilmu hadits, nah disini malah gw ga dpt sumber sama sekali (isinya cuma mengejek-ejek ga jelas)
    hoi kang admin, belajar kitab dulu sono, ga malu apa ma blog sebelah yg kaya akan sumber – kl cuma bantahan atas dasar praduga anak SD jg bs.

    admin :
    hehehe.. opo ne sing ndak jelas? (ning jogja yo)..

    ngomongin cinta itu harus pake “asumsi bin emosi”, lha wong cinta itu hanya bisa dikenal dengan perasaan.. a.k.a emosi, cuma memang kadarnya jangan berlebihan, dan mungkin asumsi orang yang satu tidak masuk/ tidak diterima oleh orang yang lain, tapi dalam ranah pemikiran hal itu sah-sah saja. Semua bisa berargumen, semua bisa berpendapat, semua boleh setuju, atau semua boleh tidak setuju.

    kalo kata blog sebelah si admin ga paham ilmu hadits, saya tegaskan si admin memang ga paham.. hehehe.. si admin cuma berbagi tentang apa yang si admin pahami, tidak untuk berijtihad, beristinbath, dsbnya. Sebagai contoh, buku KW, ustadz Abu Syuqqah telah menemani pemikiran si admin tentang ta’aruf jauh sebelum blog sebelah “memahami” perkataan Ustadz Abu Syuqqah yang membolehkan “bercinta sebelum meminang”, ditarik ke dalam sebuah kesimpulan bolehnya berpacaran secara “islami” ala blog sebelah, padahal tidak satupun perkataan Ustadz Abu Syuqqah(baca dari sumer aslinya ya.. jangan katanya..katanya.. dan ngga perlu paham ilmu hadits dulu kok buat paham, insyaAllah penjelasan Ustadz Abu Syuqqah sudah cukup jelas) yang mengarah kepada pacaran meski itu pacaran (katanya lagi) “islami”.

    kalaupun blog sebelah “kaya” akan sumber, dan boleh jadi sumbernya adalah sumber yang benar, tetapi banyak kesimpulan yang ditarik terhadapnya melenceng dari apa yang disampaikan didalam sumber itu sendiri. Dalilnya benar tetapi kesimpulannya salah, tentu pemikiran yang dihasilkan oleh pendalilan seperti itu tidak boleh kita terima. Btw, terima kasih sarannya, mudah2an kita bisa jauh lebih baik lagi.

    selamat berpuasa ya.. semoga Allah SWT menerima amal-amal kita.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  3. linaluaini
    Feb 10, 2012 @ 19:33:15

    ngapain ribuut,,,toh semua orang boleh berargumen…lagian kalo nanya sumber , dalil dll,,pacaran mah emang gxda dalilnya kaleee,,,kalo saya pikir,,pikiran orang kan masing2,,biar hidup lebih berwarna gitu,,,kalo qta cuma manuuut tok,,,nho pikiran qta kapan maw brkembang to,,,yang pnting menurut saya bisa mengimbangi mana yang baik mana yang gx baik,,,

    admin : setuju.. ga ada gunanya ribut 🙂
    masing2 boleh berargumen, dan dihari akhir nanti Allah lah yang akan menjadi hakim bagi mereka yang menghalalkan/menganjurkan pacaran..dan bagi mereka yang mengharamkan/mengajak untuk menjauhi pacaran..

    yang manut juga hanya ada 2, pertama manut karena sesuai dengan hawa nafsunya, dan kedua manut karena dia menggunakan akal sehatnya berdasarkan dalil2 yang shahih..inipun nanti Allah akan memberikan balasan bagi kedua model manut ini, apakah hidupnya berkah..ataukah hidupnya penuh kesulitan 🙂

    dan menurut saya, untuk bisa mengimbangi mana yang baik dan mana yang gx baik, adalah dengan mengetahui ilmunya, omong kosong jika tdk tahu ilmunya, bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: