Ta’aruf vs Pacaran.. bag 2

(lanjutan dari yang ini)

Yang perlu dipahami adalah bahwa Ta’aruf itu sendiri bukanlah amaliyah semacam ibadah Mahdah yang telah tetap rukun dan tata caranya, tetapi ia adalah anjuran Qurani agar kita saling mengenal dengan cara yang ma’ruf, dimana dari perkenalan itu, ketaqwaan seseoranglah yang menjadi ukurannya. Apakah itu ta’aruf dalam arti dan maksud yang umum atau dalam arti dan maksud yang khusus seperti ta’aruf pranikah. Allah SWT dan rasulNya hanya memberikan batasan-batasan terkait bagaimana interaksi yang sesuai dengan syariat, dan mengenai detail teknisnya seperti apa, dikembalikan kepada yang bersangkutan. Lantas apakah benar penalaran SPPI tentang kesimpulan beliau yang menyatakan adanya sejumlah aktifis dakwah yang berusaha menetapkan aturan yang tidak berasal dari Allah dan RasulNya(atau jangan-jangan SPPI sendiri yang justru melakukannya..)??, untuk itu kami hendak menyoroti 10 bentuk (yang katanya) bid’ah (sesat!!!..tung..tung..tung..hehehe) yang ditemukan SPPI didalam buku itu :

“1. Pembatasan Tujuan Taaruf
Katanya, “Tujuan taaruf sudah jelas, untuk menikah.” (hlm. 12 dan 31) Menurut penulis buku tersebut , kita tidak boleh taaruf bila tujuannya bukan untuk menikah. Katanya, “Sebelum kamu taaruf, kamu harus yakin apakah kamu sudah benar-benar siap untuk menikah.” Padahal, penetapan (pembatasan) tujuan taaruf itu bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya.”

Kalaulah SPPI membaca dengan utuh dan benar buku itu, asumsi seperti SPPI diatas seharusnya tidak terjadi, karena ide dasar tentang ta’aruf, pacaran dsbnya itu seharusnya lah dipahami dalam konteks penyikapan rasa suka atau cinta yang terjadi pada laki-laki atas wanita dan begitu juga sebaliknya. Karena judul bukunya sudah jelas dan sekaligus sebagai batasan masalah penggunaan istilah ta’aruf yang menjadi pembahasan (“Taaruf, Keren..! Pacaran, Sorry Men!”). Seharusnya SPPI tahu hal ini, selain beliau adalah seorang penulis, beliau juga pernah mengenyam bangku kuliah, sehingga sangat akrab dengan “paper2” dan sejenisnya. Ketika ada sebuah paper yang berjudul “Manajemen Bisnis Perusahaan”, kemudian ada kata-kata “organisasi” didalamnya apakah kemudian kita protes “masa organisasi olahraga begitu juga sih..ngga ilmiah neehh..”? Kan ngga, kita langsung paham bahwa “organisasi” yang dimaksud oleh “paper” itu adalah oragnisasi bisnis dan sejenisnya.

Begitu juga mamahami istilah “ta’aruf” dalam buku “Taaruf, Keren..! Pacaran, Sorry Men!, tentu saja ta’aruf disitu dalam konteks penyikapan rasa suka atau cinta kepada lawan jenis, dimana harus diupayakan perkenalan yang efektif, efisien dalam koridor yang dibenarkan oleh syariat. Misalnya, perempuannya memakai hijab dengan benar, ditemani oleh muhrim, tidak berdua-duaan dan yang paling penting ada tujuan yang jelas, dimana dalam konteks buku itu adalah kesiapan dan kemampuan untuk menikah. Jadi apakah ada yang membatasi makna ta’aruf?? kayanya ga ada deh..kalaupun ada ya SPPI sendiri yang membatasi maknanya sesuai dengan seleranya sendiri..hehehe..baca lagi bukunya dengan hati yang tenang, dan tidak tergesa-gesa.

“2. Penetapan Durasi (Lamanya) Taaruf

Katanya, “Deadline taaruf maksimal tiga bulan.” Jadi, kalau “taarufmu lebih dari tiga bulan dan tidak ada perkembangan menuju pernikahan, berarti kamu sedang PACARAN dan bukan TAARUF.” (hlm. 16) Padahal, penetapan (pembatasan) durasi taaruf itu bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Untuk menuju pernikahan, Islam hanya menganjurkan pelaksanaannya sesegera mungkin, tanpa menetapkan lamanya.”

‘Ojo’ terburu nafsu..hehe. Perhatikan dikalimat “..kalau taarufmu lebih dari tiga bulan dan tidak ada perkembangan menuju pernikahan, berarti kamu sedang pacaran dan bukan ta’aruf..” apakah kalimat diatas berarti bahwa harus 3 bulan? Tidak, tetapi 3 bulan itu dapat menjadi isyarat untuk mengukur keseriusan seseorang dalam proses ta’aruf yang sedang dijalaninya. Buat apa berlama-lama dalam proses perkenalan menuju pernikahan jika tidak ada kejelasan arah perkenalan itu hendak dibawa kemana, malah yang sering terjadi, syetan semakin bermain-main dengan hati dan berusaha menjauhkan kita dari tujuan awal ta’aruf itu diadakan. Hati-hati dengan kalimat ini “..Islam hanya menganjurkan pelaksanaannya sesegera mungkin, tanpa menetapkan lamanya..”, kalimat ini benar, tetapi kesimpulannya bisa salah jika belum memahami dengan utuh segala tuntunan Islam yang terkait dengan laki-laki dan perempuan.

Sebagai contoh, ada hadits yang mengabarkan bahwa pandangan(laki-laki yang memandang non muhrim) pertama halal, dan selanjutnya adalah haram (..Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh..” Hadits Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tarmizi)..tetapi ada hadits lain yang memerintahkan untuk kita melihat wanita yang hendak kita nikahi itu dengan baik hingga hati bisa memutuskan ada rasa suka atau tidak, terkait dengan konteks hendak melamar, atau tujuannya untuk pernikahan “..Rasulullah SAW bersabda “Apabila salah seorang diantara kamu meminang seorang wanita, maka tidak ada dosa atasnya untuk melihatnya, jika melihatnya itu untuk meminang, meskipun wanita itu tidak mengetahuinya” (HR Ahmad-Shahih Jami’ush Shaghir, hadits no 521, KW jilid 5).

Hadits pertama adalah pada kondisi umum, bagaimanapun bentuk interaksi kita kepada lawan jenis, maka pandangan mata (dan hati) harus benar-benar terjaga, tetapi ketika pada kondisi khusus dalam konteks hendak melamar, maka dibolehkan oleh syariat untuk melihat non muhrim untuk pandangan kedua, ketiga, dstnya sampai hati bisa memutuskan ada rasa suka atau tidak.

Kembali ke permasalahan ‘apakah harus 3 bulan?’, tentu tidak, boleh jadi ada proses yang cuma berjalan 1 bulan, bahkan ada yang 6 bulan dan bahkan lebih (ini mungkin saja terjadi ketika misalnya ada salah satu ortu calon meninggal dunia, sehingga keluarga meminta agar ta’aruf dijeda dulu, sampai kondisinya benar2 tenang, atau dikarenakan sebab2 yang lain) tetapi dalam kondisi yang ideal, ta’aruf itu umumnya tidak lebih dari 3 bulan.

“3. Jaminan Kehalalan

Katanya, taaruf itu “100% halal” (hlm. 18). Padahal, kehalalannya tidak dijamin oleh Allah dan Rasul-Nya. Adanya bid’ah pada konsep taaruf ini jelas membuktikan bahwa taaruf itu tidak dijamin “100% halal”. Taaruf yang halal hanyalah yang islami.”

Hehehe..ta’aruf(yang syar’i bukan pacaran) itu pasti halal pak. Baca yang ini (https://pacaranislamikenapa.wordpress.com/2007/09/25/tinjauan-taaruf-sebuah-istilah-asal-keren/).

“4. Pengharusan Adanya Perantara

Katanya, “Kamu tidak bisa taaruf berdua saja [tanpa perantara atau mediator].” (hlm. 21) Padahal, pengharusan adanya perantara itu bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya.”

Hehehe..kenapa ‘perantara’nya yang disorot? Kok bukan “..tidak bisa ta’aruf BERDUA SAJA”..kalimatnya kan itu :). Tanya ken..napa?
Nah terkait dengan tidak bolehnya ta’aruf berdua saja tadi, ada tuntunan syar’inya, yakni sabda rasulullah SAW “Nabi bersabda,”Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita (asing) kecuali bersama mahramnya .. ”
(Dari Ibn ‘Abbas, dalam kitab Shahih Bukhari nomor 5233).

kemudian SPPI melanjutkan “..Kita justru dapat menjumpai banyak contoh bahwa Nabi saw. dan para sahabat itu berkomunikasi langsung dengan seorang lawan-jenis tanpa perantara. Contohnya: “Seorang wanita dari kalangan Anshar datang kepada Nabi saw.. Lantas Nabi saw. berduaan dengannya [di dekat orang-orang] dan berkata, ‘Sesungguhnya kalian [kaum anshar] ialah orang-orang yang paling saya cinta’.” (HR Bukhari dan Muslim)”

Hehehe..konteksnya bukan seperti orang pacaran pak, rasulullah SAW tidaklah bertemu dengan wanita-wanita itu kecuali dengan suatu keperluan. Begitu juga dengan para sahabat, masa bapak hendak menyamakan pertemuan rasulullah SAW dan para sahabat r’anhum seperti pertemuan pacarannya ala bapak itu. Kalaupun rasulullah SAW berbicara berdua ditambah lagi disekitarnya ada para sahabat, dari kalangan Anshar lagi, insyaAllah tidak akan terjadi apa-apa apalagi terjadi semacam khalwat, na’udzubillah(karena rasulullah SAW pasti ma’shum, dalam penjagaan Allah SWT).
Hadits yang bapak sertakan juga menunjukkan bahwa rasulullah SAW tidak mengkhususkan diri untuk bertemu langsung dengan wanita, tetapi untuk kaum Anshar, jadi janganlah dihubung-hubungkan sesuatu yang jauh keadaannya, apalagi sebagai pembenaran atas nama rasulullah SAW(na’udzubillah), para sahabat r’anhum, serta para ulama hanif lainnya.

“5. Pengharusan Mengajukan Pertanyaan

Katanya, “segala hal yang ingin kamu ketahui tentang calon pasangan hidupmu … wajib kamu tanyakan”. (hlm. 21) Padahal, pengharusan mengajukan pertanyaan itu bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya.

Kita justru dapat menjumpai banyak contoh bahwa Nabi saw. dan para sahabat itu berusaha mengenal seorang lawan-jenis, termasuk dalam kaitannya dengan menikah, tanpa mengajukan pertanyaan. Contohnya: “Seorang wanita datang kepada Rasulullah saw. seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku datang untuk memberikan diriku kepadamu.’ Lalu Rasulullah saw. memandangnya dengan menaikkan dan menurunkan pandangan beliau kepadanya, kemudian beliau menundukkan kepala.” (HR Bukhari dan Muslim)”

Yang namanya ta’aruf itu artinya perkenalan. Yang namanya perkenalan itu pasti ada bicaranya ada melihatnya ada penilaian dsbnya. Apalagi jika hal itu terkait dengan perkenalan menuju pernikahan. Dan hadits yang disertakan SPPI itu juga ada di KW jilid 5 (Ustadz Abu Syuqqah) dalam sub bab B. Melihat Wanita Pada Waktu Meminang dalam Bab Meminang. Dalam memahami dalil juga jangan setengah-setengah, apakah karena rasulullah SAW saat “nazhar” itu tidak bertanya lantas bertanya menjadi haram?? Makanya jika kita tidak tahu, tanya sama ahlinya, tanya sama ahli syariah, dan SPPI juga harusnya mampu mengukur diri, jika bukan ahli syariah, tidak perlu menyimpulkan seperti itu. Disamping itu kalaupun ada ‘pengharusan’ mengajukan pertanyaan pada saat ta’aruf itu tidak sama kategorinya dengan pengharusan penambahan gerakan2 diluar rukun2 sholat misalnya. Adapun ‘pengharusan’ untuk mengajukan pertanyaan pada saat ta’aruf  adalah dalam rangka meyakinkan para peserta ta’aruf agar memanfaatkan momen ta’aruf itu sebaik-baiknya sehingga pertemuan yang terjadi tidak untuk hal-hal yang sia-sia.

“6. Penetapan Kriteria Hafal Surat an-Nisa’

Katanya, “Seorang teman saya bahkan mengatakan, untuk pasangan yang berencana menikah, setidaknya sudah menghapal dan memahami arti dari keseluruhan Al Quran surat Annisa.” (hlm. 34) Padahal, penetapan kriteria tersebut bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya.”

Hehehe..masa karena penulisnya bercerita tentang temannya yang berpendapat seperti diatas, lantas dimaknai bahwa hal itu juga sebagai kriteria. Surah Annisa memang paling banyak berbicara tentang wanita, diantaranya berbicara tentang poligami, keharaman menikahi wanita kakak beradik, ciri-ciri wanita/istri sholehah dll. Artinya anjuran diatas layak untuk kita tempuh(baca:memahami Surah Annisa dan surah2 lainnya yang terkait dengan interaksi dengan lawan jenis). Bagaimana mungkin kita mampu melaksanakan tuntunan Allah SWT jika ayat-ayat yang berbicara tentang hal itu tidak pernah kita pahami maksudnya? Dan tentu saja untuk memahami Al Quran harus bertanya kepada ulama ahli tafsir, atau ulama ahli syariah, karena pada sisi mereka lah Allah SWT berikan pemahaman. Karena salah bertanya(baca:bertanya bukan kepada ahlinya) malah akan menjerumuskan kita kepada perbuatan dosa, na’udzubillah.

7. Pelarangan bagi Calon Istri untuk Mendatangi Keluarga Calon Suami

Katanya, “proses perkenalan kepada orangtua secara langsung, hanya bisa dilakukan oleh calon suami kepada keluarga calon istri. Sebab, tidak baik jika calon istri mendatangi keluarga calon suami.” (hlm. 3 8) Padahal, pelarangan tersebut bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya.”

Sekali lagi, jika kita ingin memahami proses ta’aruf ini dengan lebih jujur dan lebih bijak, tentu saja kita tidak akan berkesimpulan “ekstrim” seperti SPPI ini. Adapun hikmah yang ada dibalik penitikberatan kunjungan calon suami kepada keluarga calon istri adalah, karena hak perwalian(bapak calon perempuan) memiliki porsi besar dalam hal persetujuan untuk terjadinya pernikahan, sehingga lebih berhak didahulukan(kunjungan laki2 ke calon perempuan) daripada kunjungan calon perempuan ke keluarga calon laki-laki, jadi bukan berarti terlarang seperti yang dipahami oleh SPPI. Disamping itu, untuk menghindari fitnah diawal-awal ta’aruf. Artinya tidak ada larangan bagi calon perempuan untuk mendatangi keluarga calon laki-laki, selama si wanita ditemani oleh muhrimnya, dan terpenuhinya syarat-syarat syar’i lainnya.

“8. Pembatasan Perkenalan Calon Istri dengan Foto Saja

Katanya, “untuk memperkenalkan calon istri kepada keluarga calon suami, calon suami cukup membawa foto keluarga besar calon istri dan menceritakan secara lengkap tentang keadaan dan kondisi keluarga calon istri …” (hlm. 3 8) Padahal, pembatasan dan penetapan tersebut bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya.”

Hehehe..lagi-lagi bapak kita ini terburu nafsu menyimpulkan sesuatu. Hal diatas tidak lebih sebagai saran untuk calon laki-laki agar mengkondisikan keluarganya terlebih dahulu sebelum masuk pada tahapan ta’aruf yang lebih jauh. Kalau belum apa-apa keluarga calon perempuan sudah datang ke keluarga calon laki-laki..ya..kalaupun bukan hal yang salah..sepertinya kurang nyaman saja. Nanti pada saat lamaran, insyaAllah semua datang, dan semua bisa lebih saling mengenal.

“9. Pengharusan Adanya Foto dalam Biodata

Katanya, dalam biodata yang hendak diserahkan ke si dia, “Kamu [yang belum tingkat tinggi] juga harus menyertakan menyertakan foto yang jelas dan berwarna. Biasanya, kalau sudah tingkat tinggi, alias yang menikah benar-benar ingin beribadah, foto bukan lagi hal yang penting.” (hlm. 46) Padahal, aturan pengharusan adanya foto dalam biodata itu bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya. (Di zaman Rasul itu belum ada fotografi, bukan?”

Sama seperti sebelumnya, “harus” diatas tidak dalam rangka kaitannya dengan ibadah mahdah, hanya sebatas penekanan kepada masing-masing peserta ta’aruf mengenai teknis ta’aruf yang bisa dilakukan, agar perkenalan itu menjadi lebih efektif dan efisien. Adapun penyertaan foto itu termasuk dalam pengaplikasian dari dalil-dalil “nazhar”(melihat calon agar lebih yakin). Katakanlah dari data(termasuk foto) tadi, dari calon laki-laki ataupun dari calon perempuan ternyata ga ada rasa “sreg”, berarti ta’aruf tidak perlu dipaksakan dan dilaksanakan, dan masing-masing pihak bisa kembali sebagaimana adanya tanpa ada yang merasa sakit hati.
Jadi bukan fotonya yang “harus”, tapi pada point “melihat” nya itu, dimana dengan adanya foto, proses melihat itu menjadi lebih mudah, bandingkan dengan yang terjadi pada zaman rasulullah SAW yang terkadang harus sembunyi-sembunyi, seperti yang dapat kita pahami dari hadits berikut “..Muhammad bin Salamah berkata “saya hendak meminang seorang wanita, lalu saya bersembunyi, sehingga saya dapat memandangnya dikebunnya” Lalu ditanyakan orang kepadanya “Apakah anda berbuat begitu, padahal Anda sahabat Rasulullah SAW?” Dia menjawab “Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda “Apabila Allah telah mencampakkan ke dalam hati seseorang keinginan untuk meminang seorang wanita, maka tidak mengapa dia melihat kepada wanita itu” (HR Ibnu Majah)

Meski demikian, foto tidaklah dapat mengganti proses “melihat”nya itu sendiri. Para peserta ta’aruf “harus” melihat calonnya secara langsung.

“10. Penghentian Pertemuan Bila Tidak Berlanjut ke Taaruf Berikutnya

Katanya, “Setelah pertemuan pertama ini, kamu akan semakin tahu kecenderungan hatimu. … Kalau mantap, berlanjut ke taaruf berikutnya. Kalau tidak, ya di-cut.” Padahal, penghentian pertemuan dengan ketentuan seperti itu bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya.

Wallaahu a’lam.”

Penghentian pertemuan itu seharusnya dikaitkan dengan konteks ta’aruf pranikah. Jika kemudian ta’aruf pranikah itu tidak berlanjut, lantas apakah ada manfaatnya melanjutkan pertemuan? Bahkan kecenderungan mafsadatnya lebih besar, atau jika pertemuan itu tidak dikarenakan alasan-alasan yang penting. Dan sekali lagi hal (pengehentian pertemuan) tadi tidak sedikitpun menghalangi jika memang ada kebutuhan untuk bertemu, bekerja sama, dsbnya dilain waktu.

Nah ikhwahfillah, dari 10 point yang SPPI tuduh sebagai perbuatan bid’ah sesat, tidak terbukti sedikitpun, bahkan sebagian besar tuduhan itu menggunakan dalil yang tidak tepat, baik secara naql maupun aql. Ditambah lagi sebagian alasan yang dibuat oleh SPPI untuk mendukung tuduhannya tersebut tidak rasional, dan menunjukkan bahwa yang bersangkutan belum benar-benar memahami terminologi syariat atas bid’ah. Sebaiknya SPPI dapat mengukur kemampuan diri, dan tidak bersikap layaknya seorang mujtahid, menetapkan hal ini itu sebagai bid’ah sesat, serta banyak melakukan introspeksi ke dalam, karena jangan-jangan beliaulah yang telah melakukan bid’ah karena menetapkan pacaran sebagai sunnah, dan ‘menyesatkan’ orang lain dengan pemahamannya, na’udzubillah.

Wallhu’alam
wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Advertisements

6 Comments (+add yours?)

  1. M ihsan wahyudi
    Nov 25, 2008 @ 18:02:18

    analisa………hebat……+ dalil………gmna mau nikah nih…kacau……..egak ada yang mau jelason agama…..,trus agama yang egak ada dibuat ada……kacau……,tanda2 kiamat…..egak yang mau kasih ilmu…..ilmu udah mulai hilang kecuali…..ilmu2 lain………kena deh…..baik pacaran aja kali…………?[ ]??

    Reply

  2. riki ranoto
    Mar 09, 2009 @ 18:22:22

    pokoknya namanya pacaran itu ga boleh haram!!!

    Reply

  3. t2h
    May 01, 2009 @ 02:05:56

    adoooooo stress dehhhh.. pacaran yang halal jadinya gimana????

    admin: adoooo.. tong stress atuh :). jangan bingung “pacar saya seperti apa?”..waktu tersia2kan, tapi harus “bingung” suami saya seperti apa?. Yang pertama mikirnya cuma sebatas dapet pacar..tapi setelah dapat pacar..bertahun2 dipacari ternyata ngga cocok tuk jadi suami. Tapi yang kedua, mikirnya cari suami..tidak sampai bertahun2, suami sholeh insyaAllah jadi kenyataan. Ga percaya?? buktiin ajah :D. Kuncinya 2, pertama berusahalah untuk menjadi wanita yang sholehah, dan kedua bergaullah dengan orang2 sholeh/ah..insyaAllah.

    intinya..kalau mau pacaran yang halal, nikah dulu ya.. 🙂

    Reply

  4. atika
    Dec 02, 2010 @ 16:59:48

    bener bener

    Reply

  5. Putra Heenk Henk
    May 16, 2011 @ 14:03:40

    assalamu’alaiku,,,sy mau tanya apakah dlm ta’aruf itu kita di perbolehkan melebihi dr satu orang,,misalnya kita ta’aruf dengan 3 at 4 orang,,,,klo boleh jawabanya dengan hadistnya,,,

    admin :
    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Mungkin maksudnya untuk ta’aruf pranikah, apakah diperbolehkan ta’aruf dengan lebih dari 1 orang (2,3,4,5 dstnya) dalam waktu yang bersamaan?
    Tidak ada larangan dalam agama berta’aruf dengan 2,3 atau lebih orang dan seterusnya. Tetapi bukan juga berarti ‘boleh’, dalam artian.. jika tidak ada dalil yang secara tegas membatasi sesuatu, tetapi ada adat istiadat/ bentuk kesepakatan kesopanan/ atau keumuman/ kepantasan dan sejenisnya yang berlaku dalam suatu masyarakat yang melarang hal itu yang mana larangan itu tidak bertentangan dengan syariat, maka agama membenarkan hal tersebut.

    Dalam kasus perkenalan pranikah yang dilakukan dengan lebih dari 1 orang pada waktu bersamaan, tentu mengusik rasa “adil” kita/siapapun yang memposisikan diri sebagai orang yang “dinomordua/tigakan dsbnya”.

    Bayangkan jika anda sedang berta’aruf dengan seorang akhwat..yang mana sang akhwat pun sedang berta’aruf dengan ikhwan lain. Kemudian anda dibanding2kan dengan ikhwan lain itu, dan setelah dibanding2kan, sang akhwat lebih memilih ikhwan yang lain tersebut daripada anda. Bagaimana perasaan anda yang dibanding2kan dengan orang lain? Dia bukan anda, begitu juga sebaliknya. Masing2 punya kelebihan dan kekurangan, menganggap yang satu lebih baik daripada yang lain dalam proses perkenalan yang sangat2 subjektif(baca: selera orang), menghasilkan keputusan yang juga subjektif. Sedangkan perkenalan pranikah membutuhkan porsi penilaian objektif yang jauh lebih besar selain pertimbangan subjektif.

    Apakah anda setuju dibanding2kan seperti itu? saya yakin jawabannya tidak, dan begitu juga orang lain, tidak mau dibanding2kan seperti itu. Alangkah baiknya, jika memang ada banyak ‘pilihan’, lakukanlah ta’aruf dengan satu orang terlebih dahulu yang paling kita rasa cocok, yang jika dari ta’aruf itu semakin banyak kecocokan maka jangan ragu untuk segera meminang(khitbah) atau jika banyak ketidakcocokan, maka ta’aruf dapat diselesaikan, dan kita dapat memulai ta’aruf kembali dengan orang lain.

    Kembali kepada “boleh tidaknya kita ta’aruf dengan 3 at 4 orang?” .. artinya kembali lagi kepada pantas atau tidaknya perbuatan itu dalam sebuah masyarakat, jika tidak pantas..maka agama kita membenarkan atau dengan bahasa lain, perbuatan seperti diatas meski tidak dikatakan haram..tetapi sangat tidak dianjurkan, Allahu’alam.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  6. M. IHSAN WAHYUDI
    Mar 28, 2012 @ 02:55:45

    Reblogged this on M. IHSAN WAHYUDI Blogs.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: