Tinjauan “Dosa kecil = Perkara Kecil”

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata itu bisa berzina dan zinanya adalah pandangan. Lidah itu bisa berzina dan zinanya adalah perkataan. Kaki itu bisa berzina dan zinanya adalah anyaman langkah. Tangan itu bisa berzina dan zinanya adalah tangkapan yang keras. Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.”(Diriwayatkan Bukhari-Muslim, An Nasa’iy dan Abu Daud).

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Anda pernah mendengar ada ungkapan “Bagaikan membangun rumah pasir ditepi pantai” ? Nah..apa pula itu, kata orang melayu. Ungkapan itu kira-kira bisa kita artikan sebagai berikut, kita mengusahakan sesuatu yang “baik” tetapi ditempat yang kurang baik. Kita sedang membangun rumah pasir, ketika rumah pasir itu baru berdiri setengah, ianya disapu ombak. Kita perbaiki lagi bagian yang rusak itu, tidak lama kemudian disapu ombak kembali, begitu seterusnya, hingga tenaga kita habis, bangunan itu pun tak jadi-jadi, sedangkan kita berfikir bahwa usaha kita “sangat” bermanfaat. Itu kalau bicara membangun rumah pasir, yang tidak ada sangkut pautnya dengan perkara baik atau buruk, perkara pahala atau dosa, perkara manfaat atau mudharat. Bagaimana jika kemudian perkara yang kita usahakan itu terkait dengan pahala dan dosa?? Seharusnyalah diri kita lebih hati-hati dalam berkata-kata dan menyampaikan sesuatu.

Ada yang menarik dari tulisan “Dosa kecil = perkara kecil”, pertama.. tulisan tentang dosa kecil ini muncul setelah puluhan tulisan yang mengajak orang berpacaran (yang katanya ‘islami’), dan ‘ditentang'(meminjam istilah SPPI)..padahal insyaAllah ikhwah disini hanya ingin saling menasehati. Kedua, tulisan yang ‘benar’ itu ternyata tidak dipahami dengan benar, ini dapat kita lihat dengan tidak ada satupun “perkara” pacaran ala SPPI ini yang ditinjau menggunakan dalil-dalil tadi. Ketiga, sehingga jika ‘dalil’ yang benar ini tidak dipahami dengan benar, tulisan tersebut hanyalah menjadi pembenaran atas ide-ide pacaran yang ganjil, dan kita semua berlindung kepada Allah atas pemahaman yang tidak benar itu, na’udzubillah.

Persamaan yang sama-sama kita miliki dengan SPPI adalah bahwa setiap orang tidak mungkin terbebas dari dosa kecil. Dosa kecil bukan sesuatu yang kemudian bisa kita remehkan, karena sejatinya kemaksiatan itu tetaplah kemaksiatan, bukan hanya perkara itu kecil atau besar saja. Karena akhirnya bisa jadi sama, antara orang yang sekali melakukan zina besar dengan mereka yang sering kali melakukan zina kecil. Perbedaannya adalah, bahwa dari tulisan yang ‘benar’ tadi, kesimpulan yang diambil meragukan! dan setiap yang meragukan wajib kita tinggalkan. Seorang ahli agama seperti SPPI sudah selayaknya mengarahkan pembacanya kepada arah yang jelas. Memilih mana yang kuat, dan menyampaikannya kepada para pembaca. Bukan dengan menyerahkan interpretasi atas dalil itu kepada para pembaca, seperti yang dapat kita lihat pada komentar beliau menanggapi ikhwah yang menyimpulkan sering ‘terjebak dengan zina hati’ dimana SPPI ‘meluruskan’ dengan mengatakan “Aku tidak yakin kau banyak melakukan zina hati. Zina hati itu bukanlah semua pikiran/khayalan mengenai si dia. Yang tergolong zina hati adalah yang mengharapkan kesempatan untuk berzina.”

Lantas apakah definisi tentang zina?? apakah hanya sebatas zina farji(kemaluan) saja? ataukah termasuk zina-zina kecil seperti yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW diatas? Jika kita mengikuti pengertian yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW, maka ketika kita membayangkan aurat (wanita itu yang bukan aurat hanya wajah dengan telapak tangan), membayangkan menyentuh bagian-bagian dari aurat tersebut, atau sekedar membayangkan wajah orang yang tidak halal untuk kita tersebut(apalagi membayangkan perzinahan), maka hal itu dapat dihukumi sebagai zina hati. Membatasi makna zina hati hanya pada pengertian ‘mengharapkan kesempatan untuk berzina’ adalah hal yang tidak tepat.

Selang beberapa lama tulisan SPPI tersebut turun, saya mengirimkan sebuah komen dalam bentuk pertanyaan, yang lengkapnya seperti ini “Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

pertama, Bagaimana menurut Pak Shodiq maksud dari “..‘Allah telah menentukan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang PASTI dia lakukan..”? Apakah kita masih bisa menduga2 ada orang yang terbebas dari zina kecil ini?

kedua, Bagaimanakah peluang (baca: persentase) orang yang berpacaran (katakanlah pacaran islami ala pak Shodiq) dengan mereka yang tidak berpacaran(baca: ta’aruf) dalam kaitannya “pasti” terkena zina “kecil” tadi?
Jazakallah atas jawabannya.

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh”, komen ini tidak diapprove. Btw, ada yang bisa bantu menjawab pertanyaan diatas mewakili SPPI?? Silahkan..Mudah-mudahan ini baik sangkanya saya, komen saya yang tidak diapprove itu mungkin terdeteksi sebagai spam, makanya langsung didelete, yo wis ndak popo :). Maksud saya adalah, jika yang tidak pacaran saja pasti melakukan zina-zina kecil tadi, apalagi yang pacaran. Apa iya..kalo orang yang jauh dari api saja dapat merasakan panas, sedangkan orang yang jelas-jelas mendekati api itu tidak merasakan panasnya??. Akal sehat kita pasti akan mengatakan “tidak mungkin” hal itu terjadi, tapi anehnya ide-ide seperti ini justru dibenarkan oleh SPPI dalam pacaran ala beliau itu.

Mungkin setali empat(tiga biasanya :d) uang dengan komen akh Rosyidi, yang akhirnya mendorong akh Rosyidi untuk mengirimkan komen kembali, dimana dikatakan “Mengapa komentar saya tidak di approve?
Apakah memang anda berniat untuk menyembunyikan akhiran dari hadis tersebut dengan memotongnya ditengah.
Sampaikanlah apa adanya. Pengartiannya akan berbeda jika ada ayat atau hadis yg disampaikan setengah-setengah.
Barokallahu fiikum.”..hal ini penting untuk diperjelas, karena memang zina-zina kecil yang tersebut didalam hadits itu sejatinya sebagai awalan terjadinya zina besar a.k.a zina kemaluan. Kemudian ditanggapi oleh SPPI dengan mengatakan

“1) Maaf, saya tidak punya waktu untuk berdebat. Kalau menentang islamisasi pacaran, silakan kunjungi http://wppi.wordpress.com/

2) Teks hadits yang ditampilkan adalah yang relevan dengan topik pembahasan, yaitu “dosa kecil”.

3) Bagian akhir dari hadits tersebut (yaitu “zina farji” yang merupakan dosa besar) justru menunjukkan kebenaran pengertian di atas.

4) Terjemahan dan pengertian Anda terhadap hadits tersebut kurang tepat. Sebab, ada banyak hadits shahih lain yang menunjukkan bahwa tidak semua pandangan mata thd nonmuhrim itu tergolong “zina mata”; begitu pula pada “zina hati”, “zina lisan”, dsb. Semua hadits shahih yang saya maksud ini sudah pernah saya bahas di blog saya.”

Subhanallah..saya tidak melihat ada tendensi akh Rosyidi untuk mengajak debat SPPI, tetapi sekedar nasihat dari seorang saudara kepada saudaranya yang lain. Tetapi apa mau dikata, terlanjur menempatkan orang yang ‘berseberangan’ dengan beliau sebagai seorang penentang, sehingga nasihat dari orang lain pun dianggap sebagai ajakan untuk berdebat. Pada point 4, SPPI sedikit ‘mengungkapkan’ apa yang hendak disampaikan oleh akh Rosyidi, dimana SPPI mengatakan “..pengertian Anda terhadap hadits tersebut kurang tepat. Sebab, ada banyak hadits shahih lain yang menunjukkan bahwa tidak semua pandangan mata thd nonmuhrim itu tergolong “zina mata”; begitu pula pada “zina hati”, “zina lisan”. Pada point ‘tidak semua pandangan mata terhadap non muhrim itu zina’ secara umum iya, tetapi terhadap orang yang kita “naksir” alias kita “cintai” apalagi terhadap seorang pacar yang belum kita nikahi, tidak diragukan lagi pandangan yang mengarah padanya bukan lagi pandangan pertama, sehingga dihukum sebagai pandangan yang haram. Dalilnya apa? Rasulullah SAW bersabda “..Hai Ali! Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh..” (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tarmizi). Nah, seringkali SPPI memperlakukan dalil yang umum itu ditarik ke perkara khusus, perkara-perkara yang khusus ditarik ke perkara yang umum, terbolak-balik, ditambah lagi dengan pemahaman dalil yang terlihat parsial tidak utuh..padahal ada banyak dalil yang menjelaskan maksud ‘mendekati zina’, seperti pada perkara pandangan mata yang dimaksud Akh Rosyidi, seharusnyalah dipahami terkait dengan konteks ‘pacaran’ ala SPPI tersebut tidak dengan pandangan yang umum, artinya jika yang tidak pacaran(baca: yang menjaga pergaulan sesuai dengan syariat islam) saja sulit untuk menghindari(dikarenakan ‘aurat’ sekarang ada dimana-mana) zina-zina kecil tadi..apakah kemudian dengan berpacaran ala SPPI(dengan jurus2 penangkal zinanya??) jadi ‘terbebas’ dari zina kecil?? Allahu Akbar.

Jadi, dosa kecil juga dosa. Sebisa mungkin untuk kita hindari. Kalaupun saat ini ada yang sedang berpacaran, segeralah menggantinya dengan perkara yang halal, yakni pernikahan jika sudah memiliki kemampuan. Jika belum mampu, berpuasalah dan berusahalah untuk mengubah diri kita agar segera memiliki kemampuan . Allah SWT tidak pernah menyia-nyiakan amal hamba-hambaNya, wallhu’alam.

wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Kurang lengkap jika belum membaca yang ini..lanjut..yuksss mariii..:)

atau… yang ini

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. alkalinesky
    Jun 24, 2008 @ 03:19:47

    sengketa tentang zina hati, ‘basi’ yang tetap up to date.. saatnya kembali menjalankan aturan yang menciptakan manusia lengkap dengan hatinya.. 😀

    admin : hehehe..insyaAllah ga basi..kan manusia itu “tempatnya” salah dan dosa. Seperti apapun kita menjaga diri, menjaga kesesuaian prilaku dengan aturan Allah SWT, tetap saja “masih” melakukan kesalahan. Apalagi yang tidak “terlatih” menjaga diri, pasti sering melakukan kesalahan yang sama, kemudian mencari pembenaran, kemudian mengajak orang untuk melakukan kesalahan yang ia lakukan, dstnya..dstnya. Jadi tetep istiqomah dalam menjaga diri, bahkan terhadap dosa-dosa kecil yang seringkali kita remehkan, sebagaimana pesan Rasulullah SAW, “Setiap Anak Adam pasti berbuat kesalahan (khilaf), tetapi sebaik-baik (mereka) yang berbuat kesalahan adalah mereka yang bertaubat”).wallahu’alam.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: