Mengubur maksiat, Menebar Manfaat

Mengubur Maksiat, Menebar Manfaat
(oase iman)
Oleh Sabrul Jamil

Siang itu, salah seorang teman yang bertugas menjadi administrator server lalu lintas internet menunjukkan sesuatu kepada saya.

“Lihat ini, pak. Ada yang sedang berkunjung ke situs-situs terlarang… “, katanya lirih.

Sambil sesekali mengawasi trafik tadi, teman ini kemudian mengetik serangkaian program (dalam bahasa mesin) yang berfungsi menghambat orang mengakses situs-situs porno tadi. Saya cuma memperhatikan dia bekerja. Namun dalam hati ini, terlintas beberapa hal sekaligus.

Pekerjaan teman saya ini, menurut pendapat saya, merupakan salah satu wujud sabda nabi, “jika engkau melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu…” .

Mencegah dengan tangan maksudnya adalah mencegah dengan kekuasaan, ketrampilan dan segenap kemampuan yang kita miliki. Dan ini tataran tertinggi pencegahan kemungkaran. (Oleh sebab itu, mukmin yang kuat lebih Allah sukai daripada mukmin yang lemah. Kuat secara fisik, harta, dan ilmu). Tataran berikutnya adalah dengan lisan (baik teguran langsung, dengan tulisan, dan seterusnya). Yang terakhir adalah
menolak dengan hati. Nah, ini disebut nabi sebagai selemah-lemahnya iman.

Di sisi lain, orang-orang yang mengakses situs internet terlarang tadi pada dasarnya tengah membukukan beberapa kesalahan sekaligus.

Pertama, mereka memanfaatkan usianya untuk hal-hal yang tidak Allah ridhoi.

Kedua, mereka memanfaatkan waktu kantor bukan untuk pekerjaan kantor.

Ketiga, mereka memanfaatkan fasilitas kantor bukan untuk kepentingan kantor. Fasilitas kantor itu berupa PC, AC, listrik, dan lain sebagainya.

Keempat, akses mereka ke internet pada dasarnya mengurangi jalur akses orang lain di kantor tersebut. Jadi, perbuatan mereka sebenarnya juga merugikan orang lain.

Kelima, mereka mengotori hati pemberian Allah, yang pada gilirannya akan menyulitkan mereka sendiri untuk melaksanakan ketaatan. Dampaknya bisa berbagai macam. Sholat yang sulit khusyu’, enggan berzikir, malas tilawah Al-Quran, dan seterusnya. Intinya, mereka akan semakin jauh dari Allah.

Keenam, jika mereka sudah berumah tangga, sebenarnya mereka mengkhianati kepercayaan keluarganya. Isteri dan anak-anak yang melepas keberangkatan mereka ke kantor tentunya dengan harapan sang ayah pergi menunaikan salah satu kewajiban mulia, mencari nafkah untuk keluarga.

Mudah-mudahan pembaca dapat memahami bahwa tujuan saya menyampaikan ini semua adalah sebagai bahan renungan bagi kita, bahwa sepercik maksiat saja sebenarnya dapat berdampak simultan, dan tidak sesederhana yang kita bayangkan. Dan bentuk kesalahan bisa bermacam-macam, tidak cuma soal akses-mengakses internet.

Selain itu, ada cara lain untuk memandang persoalan ini. Kembali ke fasilitas internet. Di tangan orang yang tepat, fasilitas ini dapat menjadi penebar manfaat yang luar biasa. Internet dapat menjadi wadah pertukaran dan penyebaran ilmu, yang dapat membantu meningkatkan peradaban umat manusia.

Salah satu contoh yang saya kagumi adalah situs http://www.ilmukomputer. com. (Maaf untuk pembaca yang bukan dari kalangan Teknologi Informasi, saya akan jelaskan kenapa saya mengagumi situs ini).

Situs ini dibuat oleh para sukarelawan. Isinya menampung artikel-artikel dari manapun yang bertemakan teknologi informasi. Artikel yang ada merentang pada hampir seluruh aspek yang ada di teknologi informasi. Seorang mahasiswa komputer pasti akan menyadari betapa lengkapnya artikel yang tersedia. Artikel-artikel tadi, yang bobotnya sekelas dengan diktat-diktat perkuliahan, dapat diambil (didownload) oleh siapapun, gratis! Setelah didownload, tentunya isinya dapat diprint, dan diperbanyak lagi dengan difotocopy.

Pada logo situs itu tertulis kata-kata Imam Ali, ikatlah ilmu dengan menuliskannya.

Jika dikerjakan dengan ikhlas, betapa besar manfaat yang diperoleh teman-teman yang membantu membangun situs tersebut.

Anggap saja salah satu artikel tersebut ternyata bermanfaat, dan digunakan oleh seseorang dalam pekerjaannya. Pekerjaan tersebut ternyata memberikan solusi untuk suatu perusahaan. Perusahaan tadi tentunya memberikan fee kepada pekerja tadi. Pekerja tadi kemudian memanfaatkan fee tersebut untuk membiayai sekolah anak-anaknya.

Anak-anak tadi kemudian tumbuh besar, dan menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungannya.

Nah, semua rangkaian manfaat tadi tidak akan luput dari catatan komputer canggih milik malaikat pekerja Allah. Ibarat sistem MLM, point-point setiap orang dicatat, dan orang pertama – yaitu orang-orang di ilmukomputer. com, akan mencatat perolehan point yang luar biasa.

Ada hadits nabi di kitab riyadlhush shalihin yang menyatakan bahwa orang yang pertama kali memulai kebaikan, akan mendapatkan pahala kebaikan orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang mengikuti tersebut. (Sedihnya, hal yang sama berlaku untuk orang yang pertama kali memulai kemaksiatan dan kemaksiatannya itu diikuti oleh yang lain).

Akhirnya, saya mencoba menyimpulkan, segala karunia dan nikmat berupa fasilitas yang Allah berikan, dapat berpontensi menjadi sumber manfaat, atau sebaliknya, sumber maksiat. Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk memilihnya.

Nah…

Sabruljamil. multiply. com


wassalam, s_jamil
http://sabruljamil. multiply. com
—————————————————————————————-

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh..

Mungkin diantara teman-teman ada yang bertanya didalam hati..”artikel ini..hubungannya dengan pacaran apa ya??” :). Secara khusus tidak ada. Secara umum ada. Artikel diatas mengingatkan kita akan konsep maksiat/ dosa yang dipahami dalam Islam. Bahwa sekecil apapun suatu maksiat, sejatinya adalah dosa. Bahwa sekecil apapun maksiat yang kita lakukan, ketahuilah bahwa semua itu tidak pernah luput dari pandangan Allah SWT. Bahwa sekecil apapun maksiat yang kita lakukan sejatinya adalah jalan yang menuju kepada maksiat yang lebih besar. Sehingga tidak mungkin tidak, seseorang yang sedang ‘berjalan’ dijalan maksiat dan sebenarnya mengakui bahwa jalan itu hanya akan mengarahkannya kepada maksiat yang lebih besar, maka segeralah berhenti dan mengambil jalan pulang..jalan dimana tidak ada keraguan didalamnya. Semoga menjadi perenungan kita bersama.

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. Budy
    Mar 20, 2008 @ 17:47:59

    assalamu’alaikum saudaraku seiman dan seperjuangan yang berada dibumi Allah dimanapun berada.

    Ngomong2 soal pacaran, sebelumnya saya ingin bertanya apakah kita pernah menyenagi seseorang? jika kita sayang kepada seseorang, jangan sampai kita terjebak yang namanya pacaran. karena betapapun pacaran itu indah, asyik, de el el,.. semuanys nonsen deh. ujung2nya juga akan berakhir pada kepedihan, kesakitan, atau bahkan permusuhan. karena cinta yang sejati itu adalah kita mencintainya dengan mengharapkan ridho illahi, tentunya dengan cara yang Syar’i (menikah). bagi para remaja, cinta merupakan hal yang WAH…! dan sulit untuk diungkapkan. maka dari itu, jangan sampai masa remaja kita lewati dengan hal2 yang tiada berguna (pacaran)

    Reply

  2. Trackback: Mengubur Maksiat, Menebar Manfaat « Amri A. Fillah El Shirazy’s Weblog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: