Tinjauan “Siapa sajakah ulama terkemuka..”

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Pertanyaan “siapa sajakah ulama terkemuka yang menetapkan fatwa haramnya ‘pacaran’?” disini mengandung beberapa konsekuensi.

Pertama, yang terkait dengan ke-termuka-an seorang ulama. Standard apa yang harus dimiliki oleh seorang “ulama terkemuka”? Dan siapakah “ulama terkemuka” menurut SPPI?? .

Kedua, apakah pacaran itu term “syariat”/”fiqh”? Ataukah hanya istilah lokal indonesia yang mewakili sebuah fenomena hubungan laki2 wanita tanpa/belum nikah? Sehingga untuk itu, yang perlu kita kenali adalah, fenomena apakah yang diwakili oleh kata “Pacaran” itu, dan merujuknya kepada penjelasan para Ulama terhadap fenomena yang terjadi, sebagai sebuah cara untuk menarik kesimpulan apakah “Pacaran” itu halal ataukah haram.

Pertanyaan yang ‘katanya’ sudah berulang kali ditanyakan itu, telah berulang kali juga sebenarnya dijawab oleh ikhwah fillah lainnya. Bahkan SPPI pun sering mengutip pendapat para ulama semacam Ustadz Yusuf Qardhawi, Ustadz Abu Syuqqah, dan lainnya, yang sebenarnya adalah jawaban terhadap apa yang ditanyakan, tetapi karena cara penyimpulannya yang salah akhirnya malah bertentangan dengan pendapat kedua Ustadz tersebut. Tetapi entahlah apakah SPPI membaca sekaligus merenungi hal itu, ataukah SPPI khilaf, ataukah belum memahami maksud yang sesungguhnya, ataukah pura-pura tidak tahu, wallahu’alam. Tetapi yang pasti, pertanyaan SPPI ini juga menunjukkan bahwa beliau sebenarnya hendak mengalihkan perhatian para pembaca awam dalam memahami istilah “Pacaran” itu dengan benar, kepada sebuah kesimpulan bahwa “Pacaran” itu mungkin halal.

Pertanyaan seperti yang diajukan SPPI diatas, tidak jauh lebih baik dari pertanyaan serupa, misalkan “Siapa sajakah ulama terkemuka yang menetapkan fatwa haramnya ‘ekstasi’?”..”Siapa sajakah ulama terkemuka yang menetapkan fatwa haramnya ‘topi miring?..dsbnya.

Bagaimana mungkin ada pertanyaan2 seperti ini dari seorang yang mengaku “paham” apa itu pacaran????
Kita anggap saja SPPI belum memahami makna “Pacaran” itu sebagaimana adanya sehingga beliau merasa perlu untuk bertanya seperti diatas.

“Pacaran” sebagai sebuah istilah lokal yang mewakili sebuah fenomena, tidak jauh berbeda keadaannya dengan ‘produk-produk’ semacam ‘ekstasi’, ‘topi miring’, ‘pil koplo’ dsbnya. Artinya, boleh jadi di Amrik di istilahkan dengan “dating”, atau ditempat lain dengan istilah yang berbeda. Tetapi satu yang pasti, istilah apapun yang digunakan untuk mewakili fenomena ini, dapat dikenali dengan memahami fenomena itu sebagaimana adanya. “Pacaran” adalah sebuah fenomena, yang tidak serta muncul begitu saja tanpa makna, tetapi memang memiliki tanda2 yang bisa kita kenali, sehingga setiap orang pasti mengenali seperti apakah hubungan 2 orang lain jenis yang  disebut “pacaran” atau tidak.

Salah satu ahli yang mengungkapkan definisi Pacaran ini adalah  Reiss dalam buku Marriage and Family Development karangan Duval and Miller, keluaran tahun 1985 dimana “Pacaran adalah hubungan antara cowok dan cewek yang diwarnai keintiman. Keduanya terlibat dalam perasaan cinta dan saling mengakui pasangan sebagai pacar. Demikian definisi yang dikemukakan”.

Dari pengertian ini, ada 2 hal yang bisa ditarik untuk mengenali apakah pacaran itu. Pertama, keintiman. Dan kedua, saling mengakui pasangan sebagai pacar.

Yang pertama tentang keintiman. Keintiman yang dipenuhi tidak dengan pernikahan, maka tidak diragukan lagi, keintiman itu meliputi segala macam bentuk zina kecil dan mungkin zina besar, yang dihukumi haram.

Dan yang kedua, pengakuan pasangan yang berarti adanya ‘kepemilikan’ pada masing2nya ini, juga dilarang didalam Islam kecuali dengan pernikahan.

Sehingga definisi “Pacaran” menurut Reiss, yang telah meneliti fenomena pacaran ini, adalah Haram dari sudut pandangn syariat.

Tetapi SPPI sedari awal memang mengarahkan pembacanya kepada sebuah definisi yang sangat umum. Yakni definisi yang diambil dari KBBI. Katakanlah kita terima definisi yang diakui oleh SPPI, yakni berdasarkan KBBI, dimana Pacaran adalah “bercintaan dengan kekasih tetap”. Disini pun tidak serta merta ‘pacaran’ itu menjadi halal. Karena keumuman dari definisi yang diangkat, sehingga memerlukan penjelasan lebih lanjut atas definisi seperti ini. Ada 2 “ide” utama yang dapat kita kaji. Pertama, “bercintaan”, dan kedua “kekasih tetap”.

Pertama, pada perkara “bercintaan”. Tunjukkan satu dalil saja dari Al Quran dan Sunnah, yang menunjukkan aktifitas percintaan (antar 2 insan lain jenis) syar’i selain yang telah diikat dengan ‘aqd(pernikahan)??. Jika SPPI jawab dengan hadits “tidak adakah diantara kalian yang penyayang?” (andalan SPPI), maka hadits itu tidak sedikitpun menunjukkan bahwa percintaan yang terjadi adalah halal. Yang dipahami dari hadits itu adalah, bahwa perkara cinta adalah fitrah setiap manusia. Dan ketika manusia itu memilih cara yang pemenuhan cinta yang mendekati zina maka hal itu akan dipandang hina, tetapi tidak dapat dihukumi sebagaimana mereka yang telah melakukan zina. Adapun yang ditetapkan oleh Ustadz Abu Syuqqah sebagai “bolehnya mencintai sebelum meminang” itu lagi2 dalam konteks peminangan, tidak dalam konteks seperti “Pacaran”. Ketidak tepatan penukilan ini kalau dalam bahasa Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi “Penukilan secara global yang justru bertentangan dengan perndapat mereka” dalam hal ini Ustadz Abu Syuqqah.

Kedua, “kekasih tetap”. Didalam Islam, lagi2 yang yang dapat disebut “kekasih tetap yang halal” itu adalah setelah ‘aqd(pernikahan), lain tidak. Bahkan bagi mereka yang telah meminang pun, dalam bahasa Ustadz Abu Syuqqah, berlaku hukum sebagaimana orang asing. Padahal kita tahu dengan pasti, bahwa orang asing bukanlah ‘kekasih tetap’. Lantas “kekasih tetap” pra nikah yang bagaimana yang bisa anda katakan halal?

Dari fakta ini, dapat kita ambil kesimpulan, baik definisi “pacaran” menurut para ahli ataupun menurut KBBI tidak dapat melepaskan maknanya dari keharaman menurut syariat, serta menurut penjelasan para ulama atas dalil2 yang digunakan. Bahkan Rasulullah SAW dengan tegas bersabda “Setiap anak adam telah ditulis baginya bagian dari zina. Ia pasti melakukannya tanpa bisa dihindari, zina mata adalah memandang, zina lisan adalah berbicara, zina telinga adalah mendengar, zina tangan adalah menggunakannya, zina kaki adalah melangkah, jiwa berharap dan berhasrat, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakannya”(HR Bukhari dan Muslim).

Kembali ke topik, istilah “pacaran” itu sendiri adalah istilah lokal, yang boleh jadi ditempat lain menggunakan istilah yang berbeda, sedangkan para Ulama baik salaf maupun khalaf lebih menyoroti batasan-batasan yang boleh dalam pergaulan, dan penjelasan atas perkara2 yang mendekati zina serta tentang zina itu sendiri. Diharapkan dengan penjelasan yang jelas dan universal itu, baik di Indonesia, Eropa, Amerika, Afrika, dan ditempat yang lain dapat menyerap dan memahami batasan2 syariat sebagaimana adanya, tidak menambah2 ataupun menguranginya.

Sehingga sungguh suatu pertanyaan yang sangat tidak masuk akal dari orang yang mengaku berilmu, jika ditanyakan “Akhi Yassin, haruskah kami menunggu daftar akhi itu mencapai ribuan orang ulama? Sampai berapa lama? Tidak bisakah akhi memberitahu kami dua atau tiga orang dulu diantara mereka “yang secara tegas mengharamkannya”? Bukankah angka dua atau tiga itu tidak memberatkan akhi mengingat bahwa “jumlah itu kian bertambah”? Jadi, tolong sebutkanlah kalimat-kalimat di kitab-kitab para ulama itu “yang secara tegas mengharamkannya”!”, Allahu Akbar.

SPPI hendak berlindung dibalik kata2 “..sebutkanlah kalimat-kalimat di kitab-kitab para ulama itu “yang secara tegas mengharamkannya(pacaran)..”, sebagai akibat keputusasaan beliau dalam mencari2 pembenaran terhadap “pacaran ala beliau” tersebut.

Padahal dengan logika yang sama, jika kita kembalikan kepada beliau “..beritahu kami dua atau tiga orang dulu diantara mereka “yang secara tegas MENGHALALKAN pacaran”? Bukankah angka dua atau tiga itu tidak memberatkan Pak Shodiq mengingat bahwa “jumlah itu kian bertambah”? Jadi, tolong sebutkanlah kalimat-kalimat di kitab-kitab para ulama itu “yang secara tegas MENGHALALKAN pacaran”?..

Sesuatu yang SPPI sendiri tidak sanggup untuk menjawabnya.

Kita berlindung kepada Allah SWT dari perkara2 syubhat yang dihembuskan oleh orang2 yang menyebarkannya.

Sebagai perenungan kita bersama, Rasulullah SAW bersabda “”Yang halal sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas, di antara keduanya itu ada beberapa perkara yang belum jelas (syubhat), banyak orang yang tidak tahu: apakah dia itu masuk bagian yang halal ataukah yang haram? Maka barangsiapa yang menjauhinya karena hendak membersihkan agama dan kehormatannya, maka dia akan selamat,. dan barangsiapa mengerjakan sedikitpun daripadanya hampir-hampir ia akan iatuh ke dalam haram, sebagaimana orang yang menggembala kambing di sekitar daerah larangan, dia hampir-hampir akan jatuh kepadanya. Ingatlah! Bahwa tiap-tiap raja mempunyai daerah larangan. Ingat pula, bahwa daerah larangan Allah itu ialah semua yang diharamkan.” (Riwayat Bukhari, Muslim dan Tarmizi, dan riwayat ini adalah lafal Tarmizi).

Wallahu’alam
wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
 

2 Comments (+add yours?)

  1. Yassin El Cordova
    Jan 04, 2008 @ 03:44:57

    ok gue sebutin

    silakan antum baca kitab kecilnya
    Syaikh Hamud aly Ibrahim atau ulama lain Syaikh Abdul Hamid Al Bilali bahkan Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnahnya secara tegas mengatakan hubungan apapun antara muslim dan muslimah yang belum sah kecuali dalam rangka meminang
    adalah haram ..

    afwan yaaaa bang ana udah lama ga online di MyQuran

    Reply

  2. pacaranislamikenapa
    Jan 05, 2008 @ 16:33:19

    Jazakallah akhi..

    Setuju sekali, cuma memang ada beberapa saudara kita “agak sulit” mengartikan maksud itu secara umum. Karena mereka “kira” tidak ada kata “pacaran”-nya pada larangan para ulama itu, maka dianggap “pacaran” itu tidak termasuk “hubungan yang haram antara laki2 dan wanita muslimah”.

    Dan dari “celah” inilah mereka mulai mencoba mencari2 pembenaran atas “pacaran” yang mereka dengungkan, dan usaha mereka itu mungkin akan menyebabkan ada diantara saudara kita yang terpengaruh akan hal ini, tetapi semoga Allah SWT menjaga hati2 kita semua untuk istiqomah berjalan dijalanNya dan saling menasehatkan akan kebenaran dalam kesabaran, aamiin..insyaAllah.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: