Tinjauan “Contoh Tanazhur yang Direstui Nabi”

Tinjauan “Contoh Tanazhur yang Direstui Nabi”

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Ketidakpahaman terhadap suatu masalah hanya dapat diketahui dengan bertanya kepada ahlinya. Kita tidak memahami matematika, bertanyalah kepada guru matematika. Kita tidak memahami fisika, maka bertanyalah kepada guru fisika. Begitu juga dengan perkara agama, jika ada permasalahan agama yang belum kita pahami, maka bertanyalah kepada ahli agama.

Ini adalah sebuah prinsip universal yang mesti dipegang oleh setiap manusia berakal. Sehingga ketika ada seseorang yang berbicara tentang agamanya, dimana kesimpulannya bertentangan dengan pendapat yang umum dari para ahli agama dalam membahas permasalahan itu, maka tinggalkanlah dia. Sesungguhnya seseorang itu tidak akan memberikan sedikitpun manfaat(pada perkara yang dia bicarakan) kecuali syubhat yang merusak, na’udzubillah.

Dalam kaitannya dengan hal ini, lagi2 SPPI membuat kekeliruan yang fatal. Menunjukkan betapa ’emosi’nya beliau dalam hal ini. Sehingga merasa perlu menambah lagi penjelasan beliau yang tidak pada tempatnya itu, dengan sebuah penjelasan ‘baru’ yang tidak pada tempatnya lagi. Kita berharap ada jawaban  atau klarifikasi terhadap perkara “nazhara” yang ujug2 bermakna “memberi perhatian”, dsbnya. Alih2 ada usaha meralat kesalahan yang beliau buat sendiri, beliau malah menambah kembali daftar kesalahan beliau dalam mengambil dan memahami dalil. Apakah itu??

Tanpa perlu berpanjang lebar, kesalahan pertama SPPI adalah menempatkan dalil yang beliau bawakan saat ini sebagai dalil bolehnya “melihat” atau “nazhara” atau dalam bahasa beliau “tanazhur” bagi mereka yang pacaran. Perhatikan ikhwah, redaksi asli hadits itu tidak menggunakan kata “nazhara”/”tanazhur” untuk mewakili makna “melihat” tetapi kata yang digunakan adalah  “FA RO A”(RO A-kata kerja orang ketiga-artinya dia melihat). Seharusnya, jika SPPI sedikit teliti dan tidak terburu2 sebagaimana yang sering beliau lakukan, dengan membaca terlebih dahulu redaksi arabnya, niscaya beliau tidak akan menisbatkan istilah “tanazhur” pada hadits tersebut. Sangat tidak pada tempatnya argumentasi beliau tsb dimana tidak ada kata2 “nazhara”/”tanazhur” pada dalil yang disertakannya, tetapi menisbatkan hadits itu pada perkara “tanazhur”, sungguh mengada-ada.

Kesalahan kedua SPPI adalah, terlihat sekali SPPI belum memahami seluruh dalil yang membicarakan tentang “melihat” yang syar’i itu seperti apa. Beliau hanya mengambil apa yang beliau rasa cocok dengan dugaan beliau dan tidak menampilkan satu dalil pun yang berpotensi “mematahkan” argumentasi beliau tersebut. Misalkan saja 2 hadits shohih berikut berbicara tentang dilarangnya (keharaman disini adalah berlama2 dalam memandang, mengikuti pandangan, pandangan kedua, dsbnya..dimana pandangan pertama adalah dimaafkan/diperbolehkan) melihat wanita ajnabi.
1.”..Hai Ali! Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh..” (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tarmizi)
2.”..Dua mata itu bisa berzina, dan zinanya ialah melihat..” (Riwayat Bukhari)

“Itu kan dosa kecil” mungkin ada yang berkata seperti itu. Ketahuilah ikhwah, seorang muslim yang beriman kepada Allah SWT dan RasulNya tidak akan mengatakan bahwa dosa kecil itu adalah halal. Lantas akankah tetap menjadi dosa kecil jika hal itu dilakukan terus-menerus??.

Untuk memahami perkara pandang memandang ini, kita kutip penjelasan Ustadz Yusuf Qardhawi “..Dinamakannya berzina, karena memandang itu salah satu bentuk bersenang-senang dan memuaskan gharizah seksual dengan jalan yang tidak dibenarkan oleh syara’. Penegasan Rasulullah ini ada persamaannya dengan apa yang tersebut dalam Injil, dimana al-Masih pernah mengatakan sebagai berikut: Orang-orang sebelummu berkata: “Jangan berzinal” Tetapi aku berkata: “Barangsiapa melihat dengan dua matanya, maka ia berzina..”. Mungkin sebagian kita akan berdalih “lho memangnya apa bukti bahwa ‘pacaran ala SPPI’ itu juga berpotensi zina mata??” Lho adakah mereka yang berpacaran dikarenakan tidak adanya ketertarikan seksual diantara mereka?? Sedangkan pemenuhan gharizah seksual(mulai dari memandang, memegang, melangkah, bekhayal, dan zina sebenarnya) sekecil apapun adalah haram.

Jika yang tidak pacaran saja sangat dimungkinkan untuk terjadi pemenuhan gharizah seksual terhadap lawan jenis, apalagi jika pada mereka yang berpacaran, maka tidak ada keraguan sedikitpun bahwa pacaran ala SPPI tersebut adalah perkara mendekati zina yang ianya dihukumi haram. Bahkan pada kondisi dimana mereka sudah berkhitbah pun, tidak kemudian aktifitas saling memandang, memegang, berdua2an dsbnya itu menjadi halal. Halalnya semua aktifitas itu jika keduanya telah melangsungkan akad nikah. 

 Dalam hal ini Ustadz Abu Syuqqah pun sudah menerangkan “..tidak halal bagi si peminang, kecuali apa yang halal bagi laki2 asing (bukan mahram). Dan diantara adab menemui laki2 asing ialah mengenakan pakaian yang panjang yang menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua tangan, dan tidak bersunyi-sunyi (baca kembali adab2 pertemuan ini dalam pasal 2 dari juz 2 kitab ini).” (Bab. Meminang, sub-bab. Adab2 Pada Waktu Meminang, point 2. Memperlakukan si Peminang sebagai Laki2 Asing, hal.63). Begitu juga pendapat Ustadz Yusuf Qardhawi  “..Dan khitbah bagaimanapun keadaannya TIDAK AKAN MEMBERIKAN HAK APA-APA  kepada si peminang melainkan hanya dapat menghalangi lelaki lain untuk meminangnya.

 Lantas bagaimana bisa dibenarkan SPPI menetapkan bolehnya “melihat”, “memegang” dsbnya dalam konteks pacaran ala beliau?? Dengan lebih jauh menisbatkannya kepada ijtihad orang lain semacam Ustadz Abu Syuqqah?? Padahal sedikitpun Ustadz Abu Syuqqah tidak pernah mengarahkan pembacanya untuk berpikiran bahwa “halal” hubungan pranikah layaknya pacaran??na’udzubillah.

 Kembali kepada dalil yang disertakan SPPI diatas, ketahuilah Sahabat Salman Al Farisi ra adalah salah seorang sahabat yang luas pengetahuan dan kuat pemahamannya atas syariat agama ini. Tidaklah kemudian ‘melihat’nya Salman Al Farisi ra dalam konteks sebagaimana mereka yang “ngakunya” pacaran islami, na’udzubillah. Melihat-nya Salman Al Farisi ra tentulah harus dipahami dalam koridor yang dibenarkan oleh syariat, yakni melihat seperlunya saja, yang lagi2 sangat jauh kondisinya dengan ‘melihat’ dalam konteks berpacaran. Dan dalam memahami hadits tsb setidaknya ada 3 hal yang pasti. Pertama penuhi hak Allah SWT, kedua penuhi hak badan, dan ketiga penuhi hak keluarga. Pada perkara ‘penuhi hak Allah SWT, sudahkah mempelajari syariat ini dari ahlinya??Sudahkah kita melakukan penalaran yang jujur dalam masalah ini?? sudahkah kita mengajak para laki2nya untuk menahan pandangan dengan sebenar2nya?? sudahkah kita menjelaskan dengan sebenarnya apa itu zina mata, zina lisan, zina hati dsbnya?? sudahkah kita menasehatkan saudara2 kita yang muslimah untuk memanjangkan kerudung mereka hingga menutup dada?? mengajak mereka bertanya kepada para ahli agama tentang perkara ikhtilat?? dsbnya. Hak Allah SWT saja belum SPPI penuhi, bagaimana mungkin para pembaca yang terlanjur taqlid kepada SPPI juga memenuhi hak Allah SWT??

Semoga Allah SWT mengkaruniakan kita pemahaman yang benar terhadap perkara2 agama, karena hanya dengan itulah kita bisa melangkah dijalan Islam yang lurus ini, Wallahu’alam.

wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Advertisements

3 Comments (+add yours?)

  1. wahyu
    Oct 13, 2008 @ 20:26:57

    saya sangat berterima kasih atas hadirnya blog ini dan kepada para penentang “pacaranislami” (?????) -yang aneh itu-. saya berdoa semoga sdr. shodiq mutsika yang tidak saya kenal itu (di belantara intelektual islam) bisa sedikit tercerahkan.dia katakan tulisannya untuk mencerahkan, padahal hanyalah penipuan berkedok islam..! na’udzubillahi mindzaalika.
    allahumma arinal haqqa haqqa warzuqnattiba’ah, wa arinal bathila bathila warzuqna jtinaabah.
    amin

    admin:
    amin ya Allah..

    Reply

  2. N
    Jun 06, 2009 @ 16:15:52

    GMANA KLO KITA BERHUBUNGAN LEWAT TELEPON, TRUS KITA GA PACARAN MESKIPUN KITA DEKET, APA ITU JUGA GAK BOLEH?

    admin:
    tergantung.. :). tergantung isi pembicaraannya apa.. jika memang kita punya kebutuhan yang sangat mendesak, bukan sekedar “say hello”, ngobrol kesana kemari.. kadang2 melempar rayuan dsbnya, tentu diperbolehkan. Jika kemudian sebaliknya, lebih baik tidak dilakukan, meskipun kalian tidak pacaran, wallahu’alam.

    Reply

  3. Rya
    Sep 29, 2009 @ 14:05:56

    Nih punya so’al :

    Gimana kalo kita kenalan trus sambil PDKT ,kemudian nembak sicewek biar ga’ ada yang menggangu kesempatan kita untuk mengenal pribadi si cewek sebelum nikah?

    Kalo mengkhyal / bermimpi hidup bahagia ama si dia Gimana? Kalo pas puasa?

    admin : kalau mau kenalan.. ya kenalan aja :), tanpa kemudian “menembak” si cewek untuk diajak “jadian”. Apalagi jika tujuan perkenalan itu sudah diniatkan ke arah pernikahan, tentunya akan menjadi tidak efektif dan efisien jika kemudian si cewek “ditembak”. Karena, setelah “ditembak” maka perkenalan itu akan berubah menjadi ajang berbagi romantisme.. masing-masing saling merayu, saling menunjukkan diri adalah orang yang perhatian, baik, pegangan tangan, jalan-jalan ga jelas tujuannya, dll. Apakah dengan cara-cara seperti itu kita bisa mengenal calon pasangan dengan lebih baik?? Terlebih jika kemudian apa-apa yang kita perbuat itu ternyata bernilai maksiat dimata Allah SWT, istilahnya “mendekati zina”, na’udzubillah. Betapa banyak mereka yang meremehkan persoalan ini, dan akhirnya jatuh terpuruk ke dalam kehinaan zina itu sendiri. Kehormatan diri hilang, harga diri tercoreng, didunia dirundung masalah, diakhirat menunggu azab.

    “bagaimana kalau mengkhayal/ bermimpi hidup bahagia dengan orang yang kita sukai pada saat puasa?” lebih baik kita hindari, kecuali jika kemudian kita tidak bermaksud berkhayal, tetapi tiba2 ketika tidur siang, kemudian bermimpi tentang sosok orang yang kita sukai, tentu hal ini tidaklah tergolong dosa. Tetapi lebih baik dihindari berkhayal tentang orang yang kita sukai, karena khawatir perbuatan kita itu tergolong zina hati. Dan sayang waktunya.. :), kalau ada waktu luang, lebih baik kita manfaatkan untuk hal-hal yang baik, tilawah Al Quran, membaca buku-buku agama, menghadiri majelis2 ilmu, dsbnya. Allahu’alam

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: