Tidak ada ‘Pacaran ala’ Ibnul Qayyim Al Jauzi

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Semoga Allah SWT memudahkan kita dalam melihat persoalan ini.

Maha Suci Allah yang telah menganugrahkan akal kepada setiap manusia. Dengan akal kita dapat menguji sebuah kebenaran itu adalah kebenaran atau sebaliknya. Setelah sebelumnya SPPI selalu menisbatkan dugaan2 tentang adanya pacaran islami ala beliau kepada Ustadz Abu Syuqqah, sepertinya beliau belum begitu ‘yakin’ dengan dugaan tersebut. Sehingga untuk itu beliau merasa perlu mencari-cari ulama2 hanif lainnya yang kira2 bisa diambil sedikit perkataannya untuk mendukung ide aneh beliau tersebut.

Berdasarkan buku Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi, dengan judul asli “Raudhah Al Muhibbin wa Nuzhah Al Musytaqin” atau dalam edisi bahasa Indonesia yang ‘dipegang’ SPPI berjudul Taman Orang-orang Jatuh Cinta & Rekreasi Orang-orang Dimabuk Rindu (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2006).

Alhamdulillah saya juga memiliki edisi Indonesia dengan judul “Taman Orang-orang jatuh Cinta dan Memendam Rindu” (penerbit Darul Falah, Jakarta 2002). Wah..judulnya saja sudah berbeda, tak heran ketika saya membaca kutipan SPPI itu, saya pun terheran2. Mengomentari judul yang SPPI pegang dengan yang saya miliki, ternyata ada “sedikit” perbedaan yakni pada kata “dimabuk“.

Tetapi, seperti sebuah ungkapan kulon ‘do not judge the book from the cover’ atau terjemahan “bebas”nya ‘jangan merokok sembarangan..ngeracuni diri dan orang lain tau..’ upss..maksudnya ‘jangan menilai buku dari sampulnya..hard atau soft’..walah..ya sudah, tidak perlu berpanjang kata, silahkan ikhwah bandingkan sendiri terjemahan yang saya miliki dengan yang dikutip oleh SPPI.

Didalam buku yang saya miliki, Imam Ibnul Qayyim memasukkan kisah ini ke dalam bab. 23 Kesucian Orang Yang Dimabuk Cinta kala Bersanding Dengan Kekasih Hati, hal 289 – 290.

Cerita pertama. (disini versi SPPI)
Utsman Bin Adh-Dhahak Al Khizamy berkata “Aku pergi untuk menunaikan haji. Di Al Abwa aku singgah sementara waktu. Tiba2 aku melewati seorang wanita yang berada diambang pintu kemahnya. Kecantikan wajahnya membuatku terpesona. Maka aku menyitir syair Nushaib, “Singgahlah ditempat Zainab sebelum pergi lagi, katakan saja jika engkau jemu karena gejolak hati”

Wanita diambang kemahnya itu bertanya, “Siapakah engkau?? Tahukah engkau siapakah yang merangkum syair yang engkau bacakan itu??

“Aku tahu. Dia adalah Nushaib”. jawabku.

“Tahukah engkau, Siapakah Zainab yang dimaksudkannya?” Dia bertanya lagi.

“Tidak” Jawabku.

“Akulah Zainab yang dimaksudkannya” katanya.

“Semoga Allah memberkahimu” kataku.

Dia berkata “Sekarang adalah hari yang dijanjikannya untuk menghadap amirul mukminin. Dia pergi ke sana pada awal tahun dan berjanji kepadaku untuk bertemu pada hari ini. Kumohon janganlah engkau pergi sebelum engkau melihat dirinya”

Utsman menuturkan..’tatkala aku dalam keadaan seperti itu, tiba2 muncul seseorang yang menunggang hewan kendaraannya’

“Apakah engkau kenal siapakah penunggang itu?” dia bertanya, lalu berkata melanjutkan “aku mengira dialah orangnya”

Penunggang yang terlihat dari kejauhan itu akhirnya tiba, dan ternyata dia Nushaib. Dia turun dari hewan tunggangannya didekat kemah, mendekat, mengucapkan salam lalu duduk didekat Zainab. Dia menanyakan keadaannya dan memintanya agar melantunkan syair ciptaannya, yang kemudian diturutinya.

Aku berkata didalam hati “dua sejoli yang lama tiada berdekatan, tentunya yang seorang membutuhkan yang lain”, kemudian aku bangkit untuk mengikat ontaku. “Janganlah engkau pergi, aku akan ikut bersamamu” kata Nushaib mencegahku. Akupun duduk sampai akhirnya Nushaib bangkit dan beranjak pergi bersamaku. Dia menoleh ke arahku, sembari  berkata “apakah engkau berkata ” dua sejoli yang lama tiada berdekatan, tentunya yang seorang membutuhkan yang lain?”

“Ya dan aku sudah mengatakannya didalam hati” jawabku.

Dia berkata “Wahai Yang Menguasai Ka’bah, aku tidak pernah duduk bersamanya sedekat dudukku tadi”

===
Cerita II (disini Versi SPPI)

Abdullah bin Quraib(punya SPPI Abdul Malik bin Quraib-saya) berkata “aku bertanya kepada seorang ‘araby(arab

kampung-saya), ceritakan kepadaku tentang malam yang pernah (ini bukan berarti “sering” lho-saya) engkau lalui bersama fulanah”

Dia berkata “baiklah. Aku duduk bersanding dengannya, dan sinar bulan menyinari wajahnya. tatkala bulan sudah tenggelam, akupun merindukannya. Aku bertanya kepada hatiku sendiri, ‘apa yang terjadi pada dirimu?’ ”

Hatiku menjawab “sesuatu yang dihalalkan Allah yang lebih dekat dengan apa yang diharamkan-Nya adalah isyarat yang tidak berbahaya dan berdekatan tanpa sentuhan. Sekalipun hari terasa sangat panjang saat berpisah dengannya, tapi akan terasa singkat tatkala bersanding dengannya”.

Inilah sebuah ungkapan cinta, “Tatkala cinta mengajak kepada kemesuman, rasa malu menghalangiku dan juga kehormatan, tanganku takkan terulur kepada kekejian, kakiku takkan melangkah kepada keragu-raguan”
===================================

komentar : apakah kisah(kisah Nushaib dan kisah seorang ‘araby) itu gambaran yang “sedikit dekat” dengan aktifitas pacaran?? iya. Apakah mereka sedang jatuh cinta?? betul, bahkan perasaan cinta yang hampir ‘memabukkan’ orang2 yang merasakannya. Tetapi apakah mereka berpacaran?? InsyaAllah tidak, karena pacaran tidaknya seseorang ditunjukkan dengan sebuah kesepakatan diantara keduanya untuk saling mengakui sebagai pacar masing2 dengan tanda2 lainnya. Karena pacaran itu sendiri adalah sebuah fenomena yang tidak bisa digantikan hanya dengan kata2 dari kamus.

Apakah mereka telah terkena zina kecil?? Betul sekali, tetapi zina kecil yang mereka lakukan tetaplah akan menjadi dosa kecil, karena mereka berada disebuah kondisi(mabuk cinta) yang menyebabkan mereka ‘terpaksa’ melakukan hal itu(bertemu dsbnya). Hal tersebut dapat kita pastikan, karena adanya perasaan was-was(takut jatuh kepada yang haram) atas tindakan yang mereka lakukan, Dan akhirnya mereka membuktikan bahwa mereka bukanlah termasuk orang yang suka mengulang2 dan menganggap remeh atas dosa2 kecil itu, berbeda kenyataannya dengan yang didengung2kan oleh SPPI dalam banyak tulisannya.

Hal itu dapat kita lihat pada sumpah Nushaib “Wahai Yang Menguasai Ka’bah, aku tidak pernah duduk bersamanya sedekat dudukku tadi”, atau pada pertanyaan Abdullah bin Quraib “ceritakan kepadaku tentang malam yang PERNAH (bukan sering lho) engkau lalui bersama fulanah?”. Pada pernyataan Nushaib dapat kita ambil pelajaran, bahwa Nushaib sebenarnya memahami bahwa syariat memandang hina perbuatan mereka yang  ‘berdua2an’ itu, untuk itu demi memberikan pemahaman kepada Utsman dimana hal itu tidak dimaksudkannya untuk meremehkan perkara ‘berdua2an’ ini, maka Nushaib bersumpah dengan nama Allah SWT, bahwa ‘duduk bersama dengan kekasih’nya itu bukanlah perbuatan yang pernah ia lakukan kecuali pada hari itu saja, jika Nushaib menganggapnya sebagai perbuatan “biasa” atau “halal2 saja” atau smubah, tentu dia tidak perlu bersumpah.

Begitu juga dengan sikap seorang ‘araby dalam kisah Abdullah Bin Quraib. Abdullah Bin Quraib menegaskan kepada kita bahwa seorang ‘araby itu “pernah” melalui malam dengan seorang wanita. Jika ada yang mengartikannya “sering” sebagaimana yang dilakukan oleh mereka yang berpacaran, maka orang tersebut telah mengada-ada. Seorang ‘araby itu berkata ‘sesuatu yang dihalalkan Allah yang lebih dekat dengan apa yang diharamkan-Nya adalah isyarat yang tidak berbahaya dan BERDEKATAN TANPA SENTUHAN‘.

Isyarat yang tidak berbahaya dan berdekatan tanpa sentuhan inilah yang disebut dengan perbuatan yang halal tetapi dekat dengan apa yang diharamkan(persentuhan dengan wanita ajnabi) Allah SWT. Seorang ‘aroby itu memastikan kepada kita bahwa meskipun ada keinginan untuk berbuat “mesum”(segala macam zina, semacam zina mata, tangan, kaki, mulut, dan zina besar) antara dia dan si  fulanah pada malam itu, tetapi mereka masih terjaga dari sentuhan apapun. Meskipun begitu, seorang ‘aroby itu tidak menjadikan aktifitas yang “pernah” dia lakukan itu sebagai sebuah pembenaran untuk melakukannya dimalam2 yang lain. Sikap sejati seorang ‘aroby ini diungkapkan dalam sebuah syair yang indah “Tatkala cinta mengajak kepada kemesuman, rasa malu menghalangiku dan juga kehormatan, tanganku takkan terulur kepada kekejian, kakiku takkan melangkah kepada keragu-raguan”.

Begitulah dikisahkan, meski mereka telah ‘dimabuk’ oleh cinta, dekat dengan pintu ‘kemesuman’, tetapi akhirnya mereka memilih untuk menjaga kesucian diri daripada mencari pembenaran terhadap apa yang mereka rasakan dan lakukan. Dan kedua kisah diatas, tidak menunjukkan sedikitpun adanya ‘pacaran ala Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi’, apalagi ‘persetujuan’ oleh sang Imam terhadap aktifitas tersebut. Sungguh tersesat orang yang memahami kisah2 dalam buku Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi diatas sebagai bentuk ‘persetujuan’ beliau terhadap aktifitas didalamnya, apalagi kemudian sebagai pembenaran atas pacaran islami ala SPPI, na’udzubillah.

Justru yang hendak diketengahkan oleh Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi, adalah perkara “Mensucikan Diri” sebagaimana yang beliau nyatakan didalam judul bab. 23 tsb yaitu “Kesucian Orang Yang Dimabuk Cinta kala Bersanding Dengan Kekasih Hati”. “Kesucian diri” itu sendiri tidak datang dengan sendirinya, apalagi hanya dengan klaim2 subjektif ‘saya bisa menahan nafsu’ dsbnya, tetapi kesucian diri itu datang dari pemahaman dan amaliyah yang benar dan lurus terhadap perintah2 dan larangan2 Allah SWT. Yang hanya dengan itu semua, dapat mencegah mereka2 yang telah dimabuk cinta dari perkara2 yang mendekati zina.

Beberapa ayat2 Allah SWT yang berkaitan dengan hal ini, seperti dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi ketika membuka bab. 23 itu, diantaranya Allah SWT berfiman,

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya,dan orang-orang yang menjauhkan diri dari ( Laghwi mu’ridhun)-perbuatan dan perkataan yang tiada berguna-, dan orang-orang yang menunaikan zakat,dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki ; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.Barangsiapa mencari yang di balik itu  maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Al Mukminun : 1-7)

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang  nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan  atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya  agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS An nuur 30 -31)

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian  diantara kamu, dan orang-orang yang layak  dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas  lagi Maha Mengetahui.” (QS An Nuur : 32)

“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. ..” (QS An Nuur: 33) dstnya.

Kesimpulannya, dari judul yang SPPI berikan saja sudah bertentangan dengan akal sehat kita sebagai umat islam. Apalagi pemahaman terhadap kisah yang disampaikannya. Bagaimana mungkin ada ‘pacaran ala Ibnul Qayyim Al Jauzi’?? Sungguh hina penisbatan yang dilakukan oleh SPPI. Kalaulah kita terima pernyataan seperti itu, apakah Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi pernah menjelaskan makna “pacaran” menurut beliau itu seperti apa??  Jika iya, dikitab mana, bab apa halaman berapa (meminjam pertanyaan ‘jargon’ SPPI)?? Jika tidak ada, apakah pantas kita menisbatkan sebuah istilah yang sangat tidak ilmiah menurut pemahaman kita kepada orang lain?? Na’uzubillah.

Alangkah bijaknya jika kita mau memikirkan permasalahan ini dengan lebih jujur dan lebih hati2. Pikirkanlah manfaat dan mafsadat yang dihasilkan dari ide2 semacam ‘pacaran ala sppi’ ini. Benarkah orang semakin ‘tercerahkan’ dengan tulisan2 kita, ataukah sebagian orang2 awam’ itu semakin jauh dan tersesat dari jalan Allah SWT. Jangan sampai kita termasuk ke dalam golongan orang2 yang merugi, akibat kurang hati2nya kita dalam mengutip dan menisbatkan sesuatu atas karya dan ucapan orang lain.

Sesungguhnya kebohongan itu adalah dosa dan fitnah yang besar. Wallahu’alam.

wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Advertisements

18 Comments (+add yours?)

  1. yossyrahadian
    Nov 16, 2007 @ 00:53:01

    lebih jujur dan lebih hati-hati 🙂

    Reply

  2. mawar merah
    Nov 22, 2007 @ 23:35:02

    Yang lebih jujur dan lebih hati-hati :

    http://pacaranislami.wordpress.com/taman-cinta/

    Di situlah dapat kita simak pandangan Ibnu Qayyim yang sebenarnya mengenai pacaran yang islami.

    Reply

  3. pacaranislamikenapa
    Nov 23, 2007 @ 17:16:25

    terima kasih mawar merah..

    Pertama, pacaran sebagai sebuah fenomena tidak bisa dijelaskan hanya berdasarkan KBBI saja. Sebuah fenomena harus juga menjelaskan gejala2, tanda2, dan kenyataan yang terjadi yang menunjukkan apa itu pacaran.

    Kedua, istilah pacaran itu sendiri bukan sesuatu yang relatif. Artinya setiap fenomena cinta pra nikah itu tidak bisa begitu saja dinisbatkan kepada istilah pacaran. Ini yang saya maksudkan dengan penyesatan makna, dimana makna pada kata yang khusus semacam pacaran, diarahkan menjadi makna yang abstrak, yang setiap orang ‘berhak’ mengartikan sesuatu sekehendaknya, agar tujuan yang dimaksud tercapai.

    Ketiga, Jika fenomena cinta pranikah itu tidak mesti berpacaran, kenapa harus dipaksakan bahwa kisah2 yang disampaikan Imam Ibnul Qayyim itu sebagai kisah2 ‘berpacaran’. Buku itu mengupas fenomena jatuh cinta..baik dari sudut yang haram dan dari sudut yang halal. Sesungguhnya fenomena jatuh cinta yang haram dalam pembahasan Imam Ibnul Qayyim, yang ditandai pada mereka yang mencari2 pendalilan agar boleh memandang sang kekasih, menyentuh sang kekasih, berjalan2 dengannya, dsbnya itu lebih dekat keadaannya dengan SPPI dalam mencari2 pembenaran terhadap ide ‘pacaran ala beliau’. wallahu’alam.

    Keempat, kelemahan terbesar ketika kita membaca buku terjemahan orang lain adalah, terkadang pesan2 utama sang penulis asli tidak tersampaikan dengan baik, bahkan yang lebih menyedihkan jika kemudian ditarik kearah pemahaman lain yang sebenarnya bertolak belakang. Dan hal ini, setidaknya berawal dari tingkat kejujuran sang penerjemah, kesamaan ide-ide antara sang penerjemah dan penulis asli, serta kemampuan berbahasa sang penerjemah.

    Kelima, semoga Allah SWT selalu menganugrahkan kita pemahaman yang benar dan lurus atas agama Islam, aamiin

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  4. kaezzar
    Nov 24, 2007 @ 05:02:11

    Saya pikir yg menerjemahkan pun bukan sembarang orang
    Lagipula kalau sudah berkaitan dgn “karaguan” akan kapasitas org, maka bisa jadi masalahnya semakin panjang…

    Takut idenya tidak tersampaikan…takut kurang jujur…takut ada hidden agenda dsb…yg ada malah jadi paranoid

    Berhati2 sangat dianjurkan…namun bukan berarti karena alasan itu kita lantas jadi tidak bisa mempercayai sesuatu

    Kalau masalahnya seperti itu, bagaimana kalau pertanyaannya diubah jadi begini

    “Si penerjemah yg salah menangkap ide, ataw si pembacakah yg salah menangkap pesannya?”

    Toh semua bisa jadi relatif kan…
    Anda mungkin menganggap isi buku itu kurang mencerminkan ide sesungguhnya…tapi org lain sangat mungkin menagnggap justru andalah yg kurang mampu menangkap pesan/ide itu

    Bukankah intinya karena perbedaan mendasar mengenai term yg akan dibahas…jadi saya pikir poinnya itu ko…:)

    Wassalam

    Reply

  5. pacaranislamikenapa
    Nov 28, 2007 @ 14:40:47

    Jazakallah akh kaezzar

    Sesuai kadarnya saja..kalau memang seseorang(anda, saya, atau siapa saja) melihat karya/ perkataan/ atau apalah dari orang lain yang meragukan, maka ragukan lah ia. Jika bisa anda konfirmasi maksud dan kebenarannya, maka lakukan itu. Jika tidak, sampaikanlah keraguan anda disertai dengan alasan2nya.

    Bagi saya, sejauh mana kebenaran itu dinilai dengan alasan “semua bisa jadi relatif”, adalah pada saat seseorang telah menempatkan istilah2 yang digunakan sesuai dengan tempatnya. Misal..istilah “pacaran”. Selama istilah “pacaran” ini tidak ditempatkan pada tempatnya, atau malah menisbatkan makna baru yang tidak mewakili kenyataan dsbnya, maka hal seperti ini tidak dapat dibenarkan. Sederhana saja, siapa yang bisa memastikan fenomena cinta pranikah yang disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi itu adalah “pacaran ala beliau”?? Tidak ada bukan..lantas jika kemudian ada terjemahan yang kira2 dengan alasan “mungkin dulu bentuk pacarannya seperti itu..??”..ketahuilah, bahwa “kemungkinan” tidak bisa dijadikan dasar untuk menduga2 hal seperti ini.

    Atau mungkin ada yang beralasan “yo..gapapa istilahnya mo perkenalan, ta’aruf, pacaran, dsbnya, itukan cuma masalah istilah saja”..Ga masalah kalau istilah-istilah itu memang sama artinya, misal antara perkenalan dan ta’aruf. Terserah saja, mau pakai yang mana. Tetapi antara perkenalan dan pacaran, ini mengandung perbedaan makna yang mendasar, dan tidak akan pernah sama. Karena istilah pacaran sendiri mewakili sebuah fenomena tersendiri..layaknya istilah perselingkuhan, atau istilah cinta itu sendiri dsbnya.

    Dan untuk mengetahui makna dari setiap istilah2 tadi, tanyakan pada ahlinya..wallahu’alam

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  6. hawadam
    Dec 04, 2007 @ 03:50:43

    … kenapa harus dipaksakan bahwa kisah2 yang disampaikan Imam Ibnul Qayyim itu sebagai kisah2 ‘berpacaran’ ….

    Anda sendirilah yang memaksakan pandangan bahwa kisah-kisah tersebut bukan kisah-kisah pacaran. Jelas sekali bahwa di buku yang dirujuk itu, istilah “pacaran” (yang terdiri dari huruf-huruf p, a, c, a, r, a, n) disebut-sebut di situ sampai tujuh kali.

    Kalau Anda berakal sehat dan tidak buta huruf, tentulah dapat Anda pahami bahwa Ibnu Qayyim menerima keberadaan pacaran (yang islami). Atau, jangan-jangan Anda belum membaca buku tersebut, tapi tlah berani komentar yang bukan-bukan. Persis “orang aneh” yang berkhotbah, seperti yang diungkap di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/11/22/bila-orang-aneh-berkhotbah/

    Reply

  7. pacaranislamikenapa
    Dec 04, 2007 @ 16:51:19

    jazkallah pak hawadam.

    Saya punya buku terjemahan “Raudhah Al Muhibbin wa Nuzhah Al Musytaqin” dengan judul “Taman Orang-orang jatuh Cinta dan Memendam Rindu” (penerbit Darul Falah, Jakarta 2002). Alhamdulillah saya sudah mengkhatamkannya jauh sebelum buku terjemahan yang bapak/ pak Shodiq pegang itu muncul.

    Didalam terjemahan yang saya miliki, tidak ada satupun kata pacaran. Bahkan ada beberapa alur cerita yang terdapat dalam terjemahan yang saya miliki dan bapak/ pak Shodiq miliki berbeda. Termasuk kata2 “pacaran” dalam terjemahan yang anda miliki dan tidak ada pada terjemahan yang saya miliki. Siapakah yang paling benar terjemahannya??

    Kita kembalikan lagi term2 itu kepada ahlinya bukan KBBI. Apakah yang disebut dengan pacaran?? Salah satu makna yang saya temukan adalah “Pacaran adalah hubungan antara cowok dan cewek yang diwarnai keintiman. Keduanya terlibat dalam perasaan cinta dan saling mengakui pasangan sebagai pacar. Demikian definisi yang dikemukakan Reiss dalam buku Marriage and Family Development karangan Duval and Miller, keluaran tahun 1985”.

    Ada 2 hal yang bisa ditarik untuk mengenali apakah pacaran itu. Pertama, keintiman. Dan kedua, saling mengakui pasangan sebagai pacar. Yang pertama tentang keintiman, maka tidak diragukan lagi, keintiman meliputi segala macam bentuk zina kecil dan mungkin zina besar. Dan yang kedua, pengakuan pasangan untuk saling memiliki ini, tidak dikenal didalam Islam kecuali dengan pernikahan, tidak dengan berpacaran, TTM, dsbnya.

    Nah sudahkah sang penerjemah yang bapak/ pak Shodiq miliki bukunya itu menempatkan kata yang tepat dengan menggunakan kata “pacaran” dalam penerjemahannya itu?? Saya pikir hal itu tidak tepat. Alasannya, pertama, cerita2 itu tidak dimaksudkan sebagai pembenaran aktifitas yang diceritakan. Kedua, pesan yang ingin disampaikan oleh kisah itu adalah bukan pada fenomena cinta pra nikah yang terjadi, tetapi pada keutamaan menjaga kesucian diri dari hal2 yang dilarang Allah. Wallahu’alam.

    Jadi, janganlah menganggap bahwa buku terjemahan itu adalah sebenar2nya kebenaran. Justru perlu dipertanyakan kata “pacaran” yang tidak pada tempatnya itu. Karena jika memang kata “pacaran” itu adalah term sesungguhnya, tentu akan dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi dengan jelas makna kata “pacaran” yang akan beliau gunakan, sebagaimana beliau menjelaskan dengan panjang lebar, nama2 yang dapat dinisbatkan sebagai nama cinta. Bisakah anda tunjukkan dihalaman mana Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi menerangkan hal itu?? Jika tidak ada, siapakah yang sedang memaksakan pendapatnya, bahwa ada “pacaran ala Ibnul Qayyim Al Jauzi”?? Saya kembalikan perkataan anda “Kalau Anda berakal sehat dan tidak buta huruf, tentulah dapat Anda menemukan penjelasan Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi tentang apa itu pacaran? dan bagaimana pacaran ala beliau?” Karena sungguh sangat tidak tepat, mengatakan “pacaran ala ibnul Qayyim Al Jauzi” padahal yang bersangkutan tidak pernah berkata2 seperti itu, na’udzubillah. Wallahu’alam

    Semoga Allah SWT menunjuki kita kebenaran itu kebenaran, dan kesalahan itu sebagai kesalahan. Terima kasih atas komentarnya.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  8. komaruzzaman
    Dec 06, 2007 @ 21:03:47

    Kesalahan dalam penerjemahan itu pasti ada.. dan itu tidak bisa kita pungkiri.. bahkan banyak buku terjemahan yang malah bertolak belakang dengan isi yang sebenarnya… Yaa.. itu tentunya kembali pada bahasa si penerjemah dan kejujurannya…..dan dari pada berdebat tentang terjemahan lebih baik kita kembalikan kepada buku aslinya…saya rasa itu lebih kongkrit..

    dan kalau masih ada perbedaan pendapat, maka sebaiknya kita kembalikan hal itu kepada allah, kalau kita memang orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.. kalau ngak innalillahi wa inna ilaihi ro’ji’un. sesuai dengar firman Allah swt dalam surat An-Nisa ayat 59 yang artinya:
    Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa :59)

    Mari kita kembalikan kepada Al-Qur-an dan Hadits Nabi Muhammad.. Bagaimana pun juga , jika seandainya (seandainya loh) buku itu membolehkan dan al-Qur-an dan Hadits melarangnya maka buku itu harus ditinggalkan…karena ia bukan asas dalam islam…..kembalikan saja ke al-qur’an dan hadits nabi.
    wallohu A’lam
    wassalam
    wassalam

    Reply

  9. pacaranislamikenapa
    Dec 06, 2007 @ 23:55:22

    Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Jazakallah atas komentarnya Akh Komaruzzaman. Idealnya memang mengembalikan kepada teks aslinya, dan sepertinya baik saya maupun Pak Shodiq agak kesulitan untuk itu 🙂 (karena memang ga punya buku aslinya).

    Tetapi meskipun begitu, tentu saja ada hal2 lain dalam terjemahan buku itu yang bisa kita gunakan sebagai pembanding untuk setidaknya mendekati kebenaran yang dikehendaki oleh penulisnya. Misalkan jika kita baca secara utuh buku tersebut, Imam Ibnul Qayyim justru membantah atsar2 / riwayat yang dijadikan dalil oleh mereka yang membolehkan (mengikuti)pandangan, memeluk, mencium, dsbnya. Jika dalam hal ‘pandangan’ saja, Imam Ibnul Qayyim begitu ketat, apalagi pada perkara2 yang lebih jauh dari sekedar memandang, semacam fenomena pacaran.

    Dan tentu saja, semua ditimbang(juga dikomparasi) dengan penjelasan dari para ulama yang lain insyaAllah, terhadap dalil2 yang digunakan. Untuk mendapatkan penjelasan yang meyakinkan.

    Dan sebagaimana yang antum sampaikan, jika kemudian isi buku itu bertentangan dengan dalil Al Quran dan Sunnah yang tegas, maka isi buku itu tidak layak kita angkat. Karena perkataan seseorang bisa diambil dan ditinggalkan kecuali kitabullah wa sunnah rasulullah, wallahu’alam.

    Jazakallah akhi atas masukannya, ditunggu masukan lainnya 🙂 insyaAllah.

    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  10. kaezzar
    Dec 10, 2007 @ 13:25:07

    Assalamualaikum wr wb

    Untuk lebih mudahnya, kita bisa lihat di dalam kisah itu.
    Sudah jelas bukan kalau di buku itu ditunjukkan bahwa :

    >>>
    Ketika seseorang sedang jatuh cinta, maka keduanya tetap bisa berprilaku dan mengekspresikan rasa cinta mereka terhadap lawan jenis,

    t a n p a m e l a n g g a r b a t a s s y a r i a t 😀
    >>>

    Artinya jelas kan, kalau selama ini ada klaim yg mengatakan kalau pacaran, pandangan mata p a s t i berzina…
    kalau pacaran, hati p a s t i berzina…
    dan segala sesuatu tindakan dikatakan p a s t i mendekati zina…

    Maka jelas klaim tersebut adalah…….s a l a h
    Buktinya? ya kisah2 tersebut…bukankah begitu? 🙂

    Wassalam

    Reply

  11. pacaranislamikenapa
    Dec 11, 2007 @ 11:10:45

    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Jazakallah akh kaezzar..

    Btw..anda ngomong kisah yang mana ya? rujukannya mana? judul babnya apa, halaman berapa? ujug2 muncul “Ketika seseorang sedang jatuh cinta, maka keduanya tetap bisa berprilaku dan mengekspresikan rasa cinta mereka terhadap lawan jenis”

    Ini penting biar kita bisa membandingkan dengan sumber aslinya (meski hanya terjemahannya saja).

    Jadi tidak perlu terburu2 menyimpulkan sesuatu yang belum jelas kedudukannya.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  12. Trackback: Dialog (imajinatif) antara hati dan mata « Pacaran Islami ?
  13. dedi andriyanto
    Oct 11, 2008 @ 20:34:19

    thanks

    Reply

  14. Trackback: » Dialog (imajinatif) antara hati dan mata My Blog
  15. Trackback: RiasaE’s Blog » Blog Archive » hati vs mata
  16. budiarohmah
    May 07, 2010 @ 14:41:04

    jazakumullah khoerrr

    Reply

  17. aiz
    Jan 13, 2011 @ 22:09:26

    kalo berdekatannya gak secara fisik dikategorikan jg gk?
    pke zmz atw chatting? kn bgitu sama aja deket..
    trus hatinya ketar-ketir lagi..
    dtnggu bgt jwabannya
    syukron

    admin :

    bisa saja.. karena yang namanya zina hati bisa terjadi meski jarak berjauhan. Untuk itu kita mesti hati-hati ketika muncul rasa rindu kepada seorang lain jenis..karena bisa-bisa kita terjatuh ke dalam perkara zina hati. Pelajari bagaimana syariat mengatur ketertarikan antar lawan jenis, agar perkenalan yang syar’i, yang membawa keberkahan dan keselamatan lah yang menjadi tujuan, bukan yang malah menstimulasi syahwat birahi ,yang justru mengajak kepada perbuatan keji dan hina, na’udzubillah.

    Reply

  18. Kevin rizky
    Dec 27, 2011 @ 11:17:50

    Memang benar prkataan” as shobru murru to’muhu wa tsamrotuhu ahla minal ashli”.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: