Makruhnya Berjabat Tangan Dengan Non Muhrim

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Setelah sebelumnya SPPI ‘membawa’ perkataan Ustadz Yusuf Qardhawi tentang ‘bolehnya’ berpegangan tangan dengan wanita ajnabi atau non muhrim, tetapi SPPI tidak mengutipkan secara utuh batasan yang dibuat oleh Ustadz Yusuf Qardhawi terhadap hal itu, kecuali bagian-bagian yang menurut beliau ‘mendukung’ tentang bolehnya jabat tangan dengan wanita non muhrim dari sudut pandang syariat. Padahal penjelasan utama tentang ‘bolehnya’ berjabat tangan dengan wanita non muhrim itu adalah dengan syarat-syarat yang ketat yang mungkin belum dipahami oleh mereka yang awam. Untuk itu, sudah seharusnya lah ijtihad seseorang dilihat secara utuh, dan tidak parsial. Agar maksud dari perkataan seseorang itu dipahami secara menyeluruh, tidak sepotong-sepotong, sehingga kesalahan interpretasi atas ijtihad orang lain tidak terjadi atau minimal dapat dikurangi.

Sejauh manakah “bolehnya berjabat tangan ini” dalam kaitannya dengan “pacaran islami ala SPPI” ditinjau dari sudut syariat?? hal inilah yang menjadi pokok pembahasan kita. Sebelumnya, mari kita perhatikan kesimpulan penting oleh Ustadz Yusuf Qardhawi terhadap “bolehnya berjabat tangan dengan wanita non muhrim”.

Asy Syaikh berkata “Dalam menutup pembahasan ini ada dua hal yang perlu saya
tekankan:
Pertama,  bahwa  berjabat  tangan   antara   laki-laki   dan perempuan  itu  hanya  diperbolehkan  apabila tidak disertai dengan syahwat serta aman dari fitnah. Apabila dikhawatirkan terjadi fitnah terhadap salah satunya, atau disertai syahwat dan taladzdzudz (berlezat-lezat)  dari  salah  satunya  (apa lagi  keduanya;  penj.) maka KEHARAMAN berjabat tangan tidak diragukan lagi.
 
Bahkan  seandainya kedua syarat ini tidak terpenuhi  –  YAITU TIADANYA SYAHWAT DAN AMAN DARI FITNAH – meskipun jabatan tangan  itu  antara  seseorang  dengan  mahramnya   seperti bibinya,   saudara  sesusuan,  anak  tirinya,  ibu  tirinya, mertuanya, atau lainnya, maka berjabat tangan  pada  kondisi seperti itu adalah haram.
 
Bahkan  berjabat  tangan  dengan  anak  yang masih kecil pun haram hukumnya jika kedua syarat itu tidak terpenuhi.

Kedua, hendaklah berjabat tangan itu sebatas  ada  kebutuhan saja,  seperti  yang  disebutkan  dalam  pertanyaan di atas, yaitu dengan  kerabat  atau  semenda  (besan)  yang  terjadi hubungan yang erat dan akrab diantara mereka; dan TIDAK BAIK hal ini diperluas kepada orang lain, demi  membendung  pintu kerusakan,  menjauhi syubhat, mengambil sikap hati-hati, dan meneladani  Nabi  saw.  –  tidak  ada  riwayat   kuat   yang menyebutkan  bahwa  beliau  pernah  berjabat  tangan  dengan wanita lain (bukan kerabat  atau  tidak  mempunyai  hubungan yang erat).
 
Dan  yang  lebih  utama  bagi seorang muslim atau muslimah – yang komitmen pada agamanya – IALAH TIDAK MEMULAI BERJABAT TANGAN DENGAN LAIN JENIS. Tetapi, apabila diajak berjabat tangan barulah ia menjabat tangannya.
 
Saya tetapkan keputusan ini untuk  dilaksanakan  oleh  orang yang  memerlukannya tanpa merasa telah mengabaikan agamanya, dan  bagi   orang   yang   telah   mengetahui   tidak   usah mengingkarinya    selama   masih   ada   kemungkinan   untuk berijtihad.
 
Wallahu a’lam.”
================================

Subhanallah, indah sekali perkataan ustadz Yusuf Qardhawi diatas. Beliau menjelaskan kebolehannya disertai dengan batasan-batasan yang jelas agar kemudian tidak ada” celah” bagi mereka yang berpenyakit didalam hatinya, mengatakan “ini” dan “itu” atas nama ijtihad Ustadz Yusuf Qardhawi. Tetapi sudah begini jelaspun, ternyata ada saja yang “menarik” makna “kebolehan berjabat tangan dengan wanita ajnabi” itu ke dalam wilayah “syubhat” pacaran islami ala SPPI. Sebagian orang awam kadang terjebak dengan hal ini. Mereka mencukupkan diri untuk tidak mengetahui lebih lanjut bagaimana sebenarnya pembahasan ilmiah dalam sebuah ijtihad itu berakhir. Benarkah Ustadz Yusuf Qardhawi ‘membolehkan’ jabat tangan dengan wanita ajnabi itu begitu saja?? ataukah dengan syarat2 yang ketat yang sebenarnya bagi seorang muslim, menjauhi perkara ini lebih utama dikarenakan besarnya mudharat ‘menggampang2kan’ masalah ini.

Syarat utama “bolehnya berjabat tangan dengan wanita ajnabi itu”, pertama..tiadanya syahwat dan kedua..terlepas dari fitnah.

Pada syarat pertama, apakah terpenuhi pada mereka yang “berpacaran islami ala SPPI”??. SPPI menduga, bahwa mereka lah orang-orang yang “bisa menjaga syahwat”, karena itu orang-orang seperti mereka lah yang memang ‘boleh’ “pacaran islami ala SPPI“(SPPI berkata “..Bagi kita sudah jelas, kepada yang cenderung ‘tidak kuat menahan nafsu syahwat’, kita berseru: jangan pacaran! Sungguhpun demikian, kita perlu menghargai saudara-saudara kita yang mampu menjaga diri ketika pacaran…”), dengan kata lain, mereka lah yang ‘boleh’ melihat wanita ajnabi tanpa perlu khawatir zina mata, mereka lah yang ‘boleh’ memegang pacarnya tanpa perlu khawatir zina tangan, dsbnya.

Bagaimanakah sesungguhnya mengukur “bisa” atau “tidaknya” seseorang itu menjaga syahwatnya??? Apakah mereka yang ‘berpacaran’ itu yang bisa menjaga syahwat nafsunya ataukah justru itu sebagai fakta bahwa mereka-lah yang tidak/belum bisa menjaga syahwat nafsunya??
Firman Allah SWT “Dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al Israa: 32). Menjelaskan kepada kita bahwa mendekati perkara zina adalah perkara yang haram. Sehingga perlu kita kenali apa saja yang tergolong perkara-perkara yang mendekati zina itu.
Rasulullah SAW bersabda “Setiap anak adam telah ditulis baginya bagian dari zina. Ia pasti melakukannya tanpa bisa dihindari, zina mata adalah memandang, zina lisan adalah berbicara, zina telinga adalah mendengar, zina tangan adalah menggunakannya, zina kaki adalah melangkah, jiwa berharap dan berhasrat, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakannya”(HR Bukhari dan Muslim).

Ternyata, mata, lisan, telinga, hati, kaki dan tangan kita bisa berzina. Meski perkara zina disini termasuk ke “dalam” kelas zina kecil, tetapi sebagai seorang yang beriman tidak seharusnya kita mendekati bahkan membuka pintu ke arah itu semua (zina mata, dsbnya). Untuk itu, syariat memberikan solusi ampuh dalam masalah ini, Rasulullah SAW bersabda Artinya : Semua amalan bani Adam akan dilipatgandakan, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya, sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman : “Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dia (bani Adam) meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.”Artinya : Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa’ (pemutus syahwat) baginya [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud]

Diantara ayat dan hadits2 yang mulia diatas, dapat kita ambil pelajaran, bahwa mereka yang bisa menjaga syahwatnya bukanlah mereka yang membuka pintu syahwat semacam “pacaran ala SPPI”. Tetapi mereka yang dengan sekuat daya dan upaya menjauhi perbuatan zina. Bila mereka sudah memiliki kemampuan, maka mereka akan menyegerakan pernikahan. Dan bila mereka belum memiliki kemampuan untuk menikah, mereka akan memilih untuk berpuasa. Kalaupun mereka tidak berpuasa, mereka akan menyibukkan diri dengan kegiatan yang jauh lebih bermanfaat bagi diri, keluarga dan agamanya, karena mereka yakin jika saatnya tiba, Allah SWT lah yang akan mempertemukan mereka dengan jodohnya. Dan janji Allah SWT itu pasti, tak akan tertukar jodoh anak2 keturunan adam ini, dimana laki2 yang baik adalah untuk wanita2 yang baik. Begitu juga laki2 yang ‘dekat’ dengan perzinahan, juga akan mendapatkan wanita yang ‘dekat’ dengan perzinahan.

Untuk itu, dipandang dari sudut dalil dan akal bahwa mereka yang berpacaran itu TIDAK akan pernah terbebas dari syahwat, karena salah satu penyebab mereka bisa ‘jadian’ itu sendiri adalah karena syahwat yang tidak terjaga dalam diri mereka, wallahu’alam.

Pada syarat kedua, yakni tidak dikhawatirkan terjadinya fitnah. Dalam kaitannya dengan hal ini, perhatikanlah sabda Rasulullah SAW berikut. Rasulullah SAW bersabda “Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih besar bagi kaum lelaki melebihi fitnah wanita” (HR Bukhari dan Muslim). Hadits ini tidak hendak menunjukkan bahwa “wanita” adalah sebab terjadinya fitnah bagi laki2. Hadits ini adalah penjelasan dari Rasulullah SAW, bahwa disaat laki2 tidak memperhatikan panduan Al Quran dan Sunnah dalam interaksinya dengan lawan jenis, maka hal ini akan menjadi fitnah yang besar. Kita menyaksikan sampai saat ini, fitnah atas interaksi yang tidak syar’i itu berakibat hilangnya perasaan malu diantara kedua makhluk lawan jenis ini. Ntah hal itu dilakukan oleh mereka yang secara ‘lahiriah’ dipandang memahami syariat islam, atau juga dilakukan oleh mereka yang tidak/belum memahami syariat islam, kedua2 kondisi ini menyeret pelakunya kepada dosa2 yang lain.

Seperti dalam hubungan pacaran (termasuk yang katanya “islami” ala SPPI), dimana yang laki2 menduga bahwa status hubungan ‘pacaran’ yang mereka lakukan sebagai legitimasi untuk menunjukkan adanya saling ‘kepemilikan’ diantara keduanya. Padahal syariat Islam hanya menegaskan dengan perkawinan saja, seorang laki2 dan perempuan itu halal untuk saling merasa dan saling memiliki. Meski kadang tingkat ‘keharaman’ yang dilakukan mereka yang berpacaran itu tidaklah sama, hal itu tetap tidak dapat dijadikan dalil bolehnya ‘pacaran ala SPPI’. Karena biasanya perbuatan dosa yang dilakukan oleh seorang yang “tahu” itu, meskipun tidak sampai melakukan dosa besar, dosa kecil yang mereka lakukan secara terus menerus tentu tidak akan menjadi kecil lagi. Rasulullah SAW bersabda “Berhati-hatilah kalian terhadap dosa kecil, sebab jika ia berkumpul dalam diri seseorang akan dapat membinasakannya.” (HR: Ahmad).

Dipihak lain, “keakraban” kedua orang lain jenis yang belum menikah ini juga tak pelak menimbulkan ‘pergunjingan’ atau fitnah dalam masyarakat. Meski pergunjingan itu adalah dosa, tetapi menyebabkan orang lain berdosa adalah lebih berdosa.

Berdasarkan dalil2 dan fakta diatas, aktifitas pacaran sesungguhnya tidak dapat lepas dari kedua syarat yang telah ditetapkan Ustadz Yusuf Qardhawi dalam pembahasan “bolehnya memegang wanita ajnabi”. Sehingga tidak diragukan lagi KEHARAMANNYA bersentuhan dengan pacar. Apalagi ditegaskan oleh Ustadz Yusuf Qardhawi didalam bahasannya “..dan TIDAK BAIK hal ini diperluas kepada orang lain, demi membendung pintu kerusakan, menjauhi syubhat, mengambil sikap hati-hati, dan meneladani Nabi saw. – tidak ada riwayat kuat yang menyebutkan bahwa beliau pernah berjabat tangan dengan wanita lain. Dimana beliau juga melanjutkan “Dan yang lebih utama bagi seorang muslim atau muslimah – yang komitmen pada agamanya – IALAH TIDAK MEMULAI BERJABAT TANGAN DENGAN LAIN JENIS..”, nah jika kita konsisten dengan memilih ijtihad Ustadz Yusuf Qardhawi dalam hal ‘jabat tangan dengan non muhrim’ ini, maka ketahuilah, perkara ini termasuk perkara yang tidak disukai(makruh) oleh Ustadz Yusuf Qardhawi, Wallahu’alam.

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Advertisements

3 Comments (+add yours?)

  1. Yassin El Cordova
    Nov 19, 2007 @ 07:44:57

    sejauah dari yang gue pahami
    Asy Syaikh mengucapkan demikian adalah berdasarkan timbangan beliau terhadap Fiqh Minoritas terhadap kaum muslimin yang tinggal di negara2 asing yang notabene non muslim ..dengan pertimbangan terhadap kemashlahatan kaum muslimin di yang tinggal di negara tersebut …sepeeti dakwah dan kebudayaan kaum muslimin dapat terjaga tanpa terosak
    nah sedangkan apabila berada di negara2 yang menerapkan syariah islam atau di negara muslim dengan penguasa muslim
    atau mayoritas berpenduduk beragam islam maka yang lebih baik adalah tidak berjabat tangan dengan lawan jenis
    lengkap juga tuh dibahas di buku
    Fiqh Maqashid Asy Syariah

    Reply

  2. pacaranislamikenapa
    Nov 19, 2007 @ 17:51:31

    Jazakallah akhi

    Setuju..
    Memang kita dapati beberapa fatwa dari para ulama itu menyesuaikan dengan kondisi real dilapangan. Sehingga meski beberapa fatwa itu terlihat agak “lunak” tetapi ada pentahapan yang jelas agar kemudian diarahkan sesuai yang diinginkan syariat. Dalam kondisi yang darurat, maka terbuka pintu rukhsah, apalagi urusannya berkaitan dengan nyawa.

    Tetapi yang ingin saya tekankan disini adalah, penyandaran dugaan SPPI yang tidak pada tempatnya terhadap ijtihad Syaikh Qardhawi itu. Dibanyak tempat, penyandaran terhadap beberapa ijtihad ulama2 yang hanif itu diarahkan bagi mereka yang berpacaran ala SPPI. Ini terjadi karena ketidakutuhan SPPI dalam mengutip keterangan para ulama itu, sehingga dikhawatirkan bagi mereka yang awam, yang lagi happy2nya pacaran, merasa mendapatkan pembenaran. Dimana SPPI menduga bahwa karena mereka merasa bisa jaga syahwat, dengan itu mereka menduga boleh berpacaran, dan menyarankan bagi mereka yang tidak bisa menjaga syahwat agar jangan pacaran, subhanallah :).

    Padahal apakah SPPI sebelumnya menjelaskan apa saja yang menjadi tolak ukur seseorang itu bisa menjaga syahwat?? tidak ada. Lagi2 hanya dugaan agar mendapatkan pembenaran. Kenapa mereka tidak bersabar, hingga ada kemampuan, dan dengan kemampuan itu mereka segera menikah??. Atau kenapa mereka tidak mengkampanyekan “puasa” bagi mereka yang belum memiliki kemampuan untuk menikah??

    Semoga Allah SWT mengkaruniakan kita pemahaman yang benar atas agama ini, aamiin

    Reply

  3. abuubaidah
    Aug 14, 2008 @ 10:52:19

    MasyaAllah, fatwa yang sungguh tidak layak di ucapkan seorang ulama.Siapa yang dapat menjamin tentang syahwat seseorang?apakah manusia jaman sekarang lebih bisa menjaga diri dari pada masa salafus shalih sedangkan rasulullah sendiri yang sudah diakui jauhnya nafsu dari beliau selama hidupnya belum pernah bersentuhan dengan wanita yang bukan mahramnya, apalagi manusia muta’akhirin model kita2 ini.SubhanAllah Hamba berlindung dari segala fitnah dan fatwa mufti yang dikuasai hawa nafsu.Amien

    admin : terima kasih atas tanggapannya..:)

    dikuasai nafsu atau tidak, wallahu’alam. Apa-apa yang antum anggap/yakini/pahami sebagai sesuatu yang melenceng/ tidak sesuai dengan al Quran dan Sunnah, maka adalah hak antum untuk bertentangan dengannya. Tetapi mengatakan sesuatu semisal ‘..berlindung dari segala fitnah dan fatwa mufti yang dikuasai hawa nafsu’, maka pada point ini harus jelas fitnah yang seperti apa dan fatwa yang seperti apa. Apa ukurannya seseorang itu dikuasai oleh hawa nafsu? apakah menggendong anak perempuan balita tetangga haram? apakah menggandeng nenek-nenek menyebrang jalan haram? apanya yang fitnah, coba dijelaskan? jika tidak jelas seperti ini, justru antum lah yang sedang dikuasai oleh nafsu.

    Fiqh itu luas akhi, dan seorang ulama yang berijtihad, ijtihadnya itu tidak dapat dibatalkan oleh ijtihad ulama yang lain. Inilah bagian ke-universalan Islam. Tentu sesuatu yang di’ijtihad’kan itu bukan domain-domain pokok agama ini, semacam wajibnya sholat, atau wajibnya puasa dibulan ramadhan dll. Disamping itu Ustadz Yusuf Qardhawy lebih menggunakan kaidah fiqh “memberi kemudahan” dalam banyak fatwanya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Mudahkanlah dan jangan kalian persulit, berilah kabar gembira dan janganlah kalian membuat orang lari” (HR Bukhari wal Muslim)..ditambah lagi, jawaban itu dikhususkan pada mereka yang bertanya, artinya konteksnya disesuaikan dengan kondisi dan situasi si penanya. Boleh jadi.. lain penanya meski pertanyaannya sama, jawaban untuknya berbeda, inilah domain para ahli fiqh, domainnya perkara-perkara furu’iyah. Dan jika antum membaca secara lengkap fatwa beliau, maka terlihat sekali beliau berusaha mengumpulkan/mempertemukan 2 kutub(mereka yang sangat berhati-hati..dan mereka yang sangat melonggarkan) pemahaman terhadap perkara ini, dan mengambil jalan tengah terhadapnya, wallahu’alam.

    akhukum
    wassalamu’alaykum warahmatullah

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: