Tinjauan Ekspresi Cinta Yang Syar’i

Tinjauan Ekspresi Cinta yang Syar’i

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Para pembaca mungkin akan banyak yang ‘kecewa’ dengan isi dari tulisan SPPI tentang “Ekspresi Cinta yang Syar’i”. Dari judulnya, kita berharap ada penjelasan yang gamblang seperti apakah “ekpresi cinta yang syar’i” disertai dengan contoh menurut SPPI. Tetapi, sayangnya lagi-lagi kita “tertipu” oleh judul SPPI yang memang sering tidak “nyambung” dengan isinya itu. Mungkin inilah yang disebut dengan “lurus-pikir” akibat telah memahami “ilmu mantiq”, wallahu’alam.

Meskipun sebenarnya tidak ada hal yang “baru” didalam artikel tersebut, setidaknya ada beberapa hal yang diulang-ulang SPPI, seolah-olah hal tersebut adalah “hujjah”, tetapi sesungguhnya tidak lebih sebagai permainan kata-kata belaka. Semoga ini bisa menjadikan sedikit jawaban, sejauh mana “ilmu mantiq” bisa dipergunakan, dan bagaimana berbahayanya “aksioma2” yang didasarkan hanya pada pemahaman ilmu mantiq, apalagi jika ditempatkan tidak pada tempatnya (dalam hal ini, terhadap perkara2 syariat yang membutuhkan dalil).

Pertama,  SPPI mengatakan “..Ahli matematika tentu mengerti bahwa jika P maka Q bukanlah berarti bahwa jika bukan P maka bukan Q. Kalau kita belum menguasai ilmu mantiq (logika) atau matematika, mungkin kita sulit menangkap kesesat-pikiran penyimpulan sang pembaca tersebut. Supaya mengerti, marilah kita tengok sebuah contoh sederhana yang dapat memudahkan pemahaman kita: “Hamka [adalah] manusia. Kita bukanlah Hamka. Jadi, kita bukan manusia?..” Katakanlah kita terima “mantiq” SPPI tersebut.

Kalimat “jika…maka” itu dalam ilmu matematika adalah  kalimat bersyarat atau yang kita kenal dengan istilah “Implikasi”. Tentang “implikasi” yang coba diangkat oleh SPPI. P dan Q itu seharusnya dinyatakan dalam proposisi atau yang lebih dikenal dengan pernyataan yang memiliki tepat SATU nilai kebenaran. Artinya untuk mendapatkan nilai dari suatu “implikasi” (Benar atau Salah), maka nilai kebenaran tiap2 pernyataan itu tidak boleh “kadang benar” dan “kadang salah”. Sekarang, dengan menggunakan “logika” SPPI, kita turunkan pernyataan beliau ke dalam persamaan :

P = “Hamka [adalah] manusia” (B)
Q = “Kita bukanlah Hamka” (Nah..nilai Q disini boleh jadi Benar boleh jadi Salah, karena mungkin saja diantara kita ada yang bernama Hamka, atau kata Hamka itu sendiri masih membutuhkan penjelasan)
Karena nilai kebenaran Q (mungkin B atau S), tergantung daripada “siapa saja” yang dimaksudkan dengan “kita” disitu, sehingga seperti yang saya katakan sebelumnya, katakanlah kata “kita” yang dimaksud itu juga memasukkan “Hamka” didalamnya, maka proposisi tersebut bernilai Salah. Sehingga implikasi dari kedua proposisi itu menjadi “Jika hamka adalah manusia, maka kita bukanlah Hamka” bernilai “Salah”(P(B) -> Q(S) hasil P -> Q = S) begitupun sebaliknya.

Lantas, bagaimana implikasi yang dilakukan SPPI itu bisa dikatakan benar secara penalaran – “Hamka [adalah] manusia. Kita bukanlah Hamka. Jadi, kita bukan manusia?..”??? Mana yang sebagai P dan Q, mana pula yang menunjukkan implikasinya??? Apakah yang seperti ini disebut “lurus-pikir”?? Apakah hal seperti ini yang disebut dengan penalaran yang “benar”?? Subhanallah, Kalo menurut saya sih ga nyambung, ntah menurut mereka yang “taqlid” dengan SPPI.

Beberapa teman2 mahasiswa yang “ngakunya kritis” dan sering membela SPPI hanya dengan menggunakan “logika”, ternyata tidak ada satupun(mungkin luput dari kekritisan mereka) yang menjelaskan kesalahan matematis SPPI itu. Wallahu’alam.

Kemudian SPPI melanjutkan “..Memang, Abu Syuqqah menyatakan, ‘bercinta di dalam pernikahan’ [adalah] ‘disyariatkan dalam Islam’. Jelas, ‘bercinta sebelum khitbah’ bukanlah ‘bercinta di dalam pernikahan’. Lantas, bisakah kita simpulkan bahwa ‘bercinta sebelum khitbah’ tidak ‘disyariatkan dalam Islam’? TIDAK BISA.”

Waduh..jangan terburu-buru Pak :). Kalau misalkan kalimat2 diatas ditempatkan sebagai proposisi P dan Q, mungkin benar penyimpulan seperti itu. Tetapi kan faktanya kalimat “bercinta sebelum khitbah/meminang” itu tidaklah berdiri sendiri, tetapi adalah kesimpulan akhir dari sebuah penjelasan yang panjang dari Ustadz Abu Syuqqah. Penjelasan itulah yang harusnya menjadi rujukan kita untuk memahami maksud “bolehnya bercinta sebelum meminang”, bukan dengan menciptakan asumsi terhadap kalimat tersebut. Dan sang Ustadz Abu Syuqqah dalam penjelasannya mengatakan “perkawinan itu memiliki mukadimah seperti perkenalan(ta’aruf),meminang, kemudian akad nikah, dan yang terakhir resepsi. Maka apakah membahayakan jalan perkawinan –yang kadang-kadang panjang dan kadang-kadang pendek—jika jalan itu dipenuhi dengan perasaan cinta dan diselingi dengan perkataan-perkataan manis yang ma’ruf, seperti mengadakan tukar pikiran dan bantuan untuk mempersiapkan rumah tangga yang bahagia? Tetapi perasaan cinta yang bagus –sebelum dilaksanakannya akad nikah—harus bersih dari persentuhan yang haram dan berduaan bersepi-sepi (kencan / pacaran) yang haram, menjadi perasaan yang hangat, kegembiraan yang menyenangkan, dan cita-cita yang besar..”(KW Jilid 5, sub bab Mencintai sebelum Meminang, apakah dibenarkan). Sangat jelas, pendahuluan perkawinan yang dimaksud adalah ta’aruf syar’iyah (perkenalan syar’iyah), dan peminangan. Dalam proses inilah, menurut Ustadz Abu Syuqqah tidak mengapa jika dipenuhi dengan perasaan cinta, perkataan2 yang manis dan ma’ruf. Seperti apakah perkataan yang manis dan ma’ruf itu?? apakah seperti rayuan?? panggilan ‘kekasihku’ atau ‘sayangku’ atau yang seperti apa?? Perhatikan kembali kelanjutan kalimat Ustadz Abu Syuqqah diatas, dimana dikatakan “..Maka apakah membahayakan jalan perkawinan –yang kadang-kadang panjang dan kadang-kadang pendekjika jalan itu dipenuhi dengan perasaan cinta dan diselingi dengan perkataan-perkataan manis yang ma’ruf, “SEPERTI” mengadakan tukar pikiran dan bantuan untuk mempersiapkan rumah tangga yang bahagia?..”. Tidak cukupkah kita dengan penjelasan Ustadz Abu Syuqqah ini, sehingga harus mencari2 interpretasi lain yang justru malah bertentangan??

Yang lebih “lucu” lagi, hanya karena kata2 perkenalan a.k.a ta’aruf itu hanya (ditemukan) SPPI sekali dalam pembahasan itu, sedangkan kata “cinta” diulang2 dibanyak tempat, SPPI menduga bahwa yang dimaksud “cinta” disini adalah juga seperti yang dipresepsikan oleh SPPI. Padahal pemahaman terhadap kata “ta’aruf” itu menjadi KUNCI untuk memahami penjelasan Ustadz Abu Syuqqah secara keseluruhan, termasuk dalam perkara “bolehnya mencintai sebelum khitbah”. Bahwa yang dibicarakan disini adalah dalam rangka “ta’aruf syar’iyah” bukan ‘pacaran islami ala SPPI’ yang tidak berdasar itu.

Demikianlah tinjauan atas beberapa dugaan SPPI dalam kaitannya dengan “Ekspresi Cinta yang Syar’i” menurut Ustadz Abu Syuqqah. Meminjam perkataan SPPI, “..Bila ditinjau dengan ilmu mantiq, maka kekeliruan pengambilan kesimpulannya itu disebut ‘sesat-pikir’ lantaran ‘term pada kesimpulan tidak konsisten dengan term premisnya’. (Lihat buku-buku ilmu mantiq, misalnya: H. Mundiri, 60 Jenis Sesat Pikir (Semarang: Aneka Ilmu, 1999), hlm. 38.)” , lantas apakah beliau sendiri konsisten terhadap term premis yang beliau buat??? Mudah2an sedikit bermanfaat.

Akhir kata, semoga Allah SWT menunjuki kita kebenaran itu adalah kebenaran dan kesalahan itu adalah kesalahan. Sesungguhnya yang haram itu jelas dan yang halal itu jelas. Wallahu’alam.

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. Guwe
    Oct 31, 2007 @ 10:08:16

    Semoga Allah memberi hidayah pada SPPI dan pendukungnya, serta mau ruju’ pada kebenaran.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: