Tinjauan 12 Alasan Mengapa Bercinta..

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Untuk memahami dugaan SPPI tentang adanya “12 Alasan Mengapa Bercinta Sebelum Menikah” a.k.a “alasan adanya pacaran islami” yang dinisbatkan kepada Ustadz Abu Syuqqah dalam Kebebasan Wanita-nya, ada baiknya ikhwah fillah membaca kutipan penting buku Kebebasan Wanita pada jilid 5 hal 71 – 78 yang menjelaskan dengan gamblang maksud dari ditetapkan “..bolehnya bercinta sebelum khitbah” yang ada pada hal. 79. Kenapa?? agar kita bisa melakukan komparasi kesimpulan, benarkah Ustadz Abu Syuqqah mengarahkan orang untuk “berpacaran”?? Ataukah Ustadz Abu Syuqqah hanya menetapkan bahwa perasaan cinta yang mengiringi ta’aruf syar’iyah adalah tidak mengapa untuk ditunjukkan seperti dengan perkataan2 manis yang ma’ruf, bertukar pikiran serta bantuan untuk mempersiapkan rumah tangga yang bahagia, bukan untuk berpacaran.  Setelah membaca “rujukan” SPPI tentang hal diatas, dengan yakin kami katakan “12 Alasan..” yang beliau buat mengandung syubhat yang besar, dan bisa “menyesatkan” para pembaca yang awam atau menjadi semakin ‘berpenyakit’ hati-hati (qalb) orang yang ‘sakit’. Untuk itu kami membuat tinjauan kritis terhadap 12 kesimpulan yang SPPI buat, untuk bersama2 kita renungi, manakah yang lebih mendekati fakta dan kebenaran (baca: yang lebih islami..).

 1. Pacaran ternyata sudah ada jauh sebelum masa kenabian rasulullah SAW, bahkan yang lebih “hina”(baca: semacam homoseksual) dari itu pun terjadi jauh sebelum masa kenabian rasulullah SAW. Sehingga bukanlah hal yang “wah” atau “hebat” jika kemudian kita temui “berita” bentuk hubungan (yang mungkin) seperti pacaran pada umumnya dizaman nabi.

2. Belas kasih rasulullah SAW kepada kedua orang yang jatuh cinta itu adalah dalam konteks, “kenapa..hanya dikarenakan 2 manusia lain jenis saling menyukai” harus berakhir dengan ditebasnya leher si laki2. Inilah salah satu isyarat rasulullah SAW bahwa “cinta itu fitrah” manusia, bukan sesuatu yang hina. Dan dalam hal ini, rasulullah SAW sangat menyayangkan sikap para sahabat yang terlalu cepat menyimpulkan dan melakukan eksekusi, sebelum ada kejelasan antara keduanya. Karena didalam islam, sebelum ada “eksekusi” apapun terhadap sebuah dosa yang dijelaskan syariat(misalkan zina), maka harus dipastikan terlebih dahulu, bahwa pertama, orang yang melakukan itu sudah mengetahui aturan syariat (baca: sudah didakwahi). Kedua, kemudian dibuktikan kesalahannya. Dan ketiga, yang berhak memutuskan bersalah dan menentukan eksekusinya adalah seorang hakim atau ahli fiqh.

3. Pada point ini, kalimat yang menjadi rujukan SPPI itu utuhnya seperti ini “….dan bahwa wanita yang menginginkan kawin dengan laki-laki yang lebih tinggi kedudukan daripada dirinya, tidak tercela sama sekali. Lebih-lebih jika terdapat tujuan yang benar dan maksud yang baik, mungkin kelebihan agama laki2 yang dipinangnyaATAU karena ia cinta kepadanya yang kalau didiamkan maka dikhawatirkan akan terjatuh ke dalam hal2 yang terlarang”. Disitu ada kata “ATAU” yang memisahkan antara kondisi pertama dan kondisi kedua. Kondisi pertama, pernikahan yang didasari karena kelebihan agama laki2/ wanitanya. Mereka menomorduakan “CINTA”, karena tidak ada jaminan dari “Cinta” jika setelah menikah mereka akan terus saling mencintai. Mereka meyakini bahwa “Kelebihan agama-lah..” yang dapat menyelamatkan mereka, serta menumbuhkan cinta suci, dengan segala makna sakinah, mawaddah warahmah, sebagaimana yang diisyaratkan QS Ar Rumm : 21 “..ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang..”.

Kondisi kedua, Pernikahan yang hanya didasari rasa cinta/ suka saja yang kalau didiamkan (tidak segera dinikahkan) maka akan dikhawatirkan terjatuh ke dalam hal2 yang terlarang, semacam perzinahan. Hal seperti ini pun(motivasi menikah karena cinta) bukanlah sesuatu yang tercela, dan hal ini pun dijamin oleh syariat. Bahkan dikatakan “segala hal baik yang menjadi tujuan dari sebuah perkara yang mubah” maka hal inipun termasuk diniatkan karena Allah SWT. (niat & Ikhlas, Yusuf Qardhawy)

Jadi bukan “cinta yang didiamkan / yang tidak dibina dengan pacaran islami ala SPPI” yang bisa menjerumuskan seseorang kepada hal yang terlarang, tetapi yang dijelaskan oleh Ustadz Abu Syuqqah atas kalimat “cinta yang didiamkan yang bisa menjerumuskan orang yang mengalaminya kepada hal terlarang” adalah ditujukan kepada mereka yang keinginan menikahnya didorong oleh rasa cinta yang besar, padahal rasa cinta itu kadang mendorong mereka yang merasakannya kepada hal2 yang dilarang oleh syariat(entah karena bisikan setan atau dorongan hawa nafsu atau karena kedua2nya), jika tidak segera dilaksanakannya pernikahan.

4. Pada point rasa rindu dan cinta kepada lawan-jenis non muhrim diluar nikah, juga ada 2 kondisi, yakni kondisi yang haram dan kondisi yang halal. Jika rasa rindu itu hadir pada orang yang ingin menikahi seseorang, tidak saja merinduinya, tetapi melihat calon itu pun tidaklah mengapa (kondisi yang halal) sebagaimana yang ditetapkan oleh syariat “..Rasulullah SAW bersabda “Apabila Allah telah mencampakkan ke dalam hati seseorang KEINGINAN untuk meminang seorang wanita, maka tidak mengapa dia melihat kepada wanita itu” (HR Ibnu Majah) .

Tetapi jika rasa rindu itu dikarenakan karena mata yang tidak bisa dijaga, dll sehingga hati kemudian berharap, serta tidak adanya keinginan untuk menyegerakan pernikahan kepada yang dirindui, maka hal ini termasuk kepada perkara zina hati(kondisi yang diharamkan). Sebagaimana yang ditetapkan oleh hadits “..Setiap anak adam telah ditulis baginya bagian dari zina. Ia pasti melakukannya tanpa bisa dihindari, zina mata adalah memandang……..hati berharap dan berhasrat, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakannya(HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hal ini diperlukan tsaqafah islamiyah yang menyeluruh dan komprehensif dalam memahami dalil2 yang ada, mana dalil yang didahulukan dan mana dalil yang menjadi penguat. Seperti pada pertanyaan no 5 yang diajukan SPPI, pertanyaannya saja sudah keluar dari konteks. Terlihat SPPI belum memahami ketetapan adanya larangan atas zina2 kecil semacam zina mata, dsbnya, sehingga hendak ‘dipertentangkan’ dengan dalil ‘bolehnya melihat wanita yang hendak dipinang’. Seolah2 hadits tentang adanya zina mata dsbnya itu tidak berlaku dengan adanya hadits boleh melihat wanita yang hendak dipinang. Disinilah kita perlu memahami wawasan keislaman itu secara menyeluruh, karena jika tidak, maka kita akan banyak menemukan pertentangan dalam agama ini, wallahu’alam.

5. Pada point ini, kita setuju2 saja.

6. Cinta yang dimaksudkan disini adalah perasaan cinta yang mengiringi seseorang dalam ta’aruf syar’iyah kepada orang yang hendak dinikahinya. Itulah mengapa Ustadz Abu Syuqqah menjelaskan dalam kalimat2 diatas dalam sub bab “mencintai sebelum meminang” dalam bukunya Kebebasan Wanita jilid 5.

7. Pada point ini, “perhubungan yang mendalam dan pengalaman yang panjang, yang memungkinkan kedua belah pihak untuk saling mengenal..” adalah dimaksudkan untuk mengingatkan kepada para mediator (murabbi/yah dll) atau kepada orang tua, agar memberikan “kebebasan” terkontrol terhadap keinginan dan harapan mereka yang sedang ta’aruf. Diharapkan agar tidak ada perasaan tertekan, merasa diburu2i, serta harapan2 yang besar, yang ditujukan kepada mereka yang berta’aruf itu. Sehingga dengan ‘kebebasan’ ini, mereka yang berta’aruf dapat secara “bebas”, untuk lebih mengenali, menggali informasi penting, menumbuhkan rasa “suka”, terhadap yang dita’arufi guna memantapkan langkah menuju pernikahan atau kembali ke halaman rumah masing2.

8. Sehingga kalimat  “..“perhubungan yang mendalam dan pengalaman yang panjang”- begitu, maka [taaruf] yang terjadi hanyalah “ketertarikan belaka terhadap unsur-unsur lahiriah yang tampak memukau..” adalah sejatinya ditujukan kepada mereka2 yang hanya MENGANDALKAN cinta(rasa suka) dalam menentukan pasangannya. Seperti pada penjelasan pada no. 3 diatas. Dimana rasa cinta pada sebagian orang yang “mendahulukan” cinta seringkali hanya mengandalkan ketertarikan terhadap unsur2 lahiriyah. Orientasi mereka tidak jauh dari cantik, seksi, kulit bersih dsbnya. Perkara jilbabnya masih ketat (nomor 2), ngajinya terbata2 (nomor 3), sholat masih bolong2 (nomor 2,5), dsbnya, artinya “kelebihan” agama bagi sebagian orang ini belum ditempatkan pada kriteria utama dalam mencari pasangan a.k.a istri/suami. Tetapi meskipun begitu (hanya mengandalkan kecantikan lahiriah saja), jika perkenalan yang terjadi pada kedua lain jenis yang saling mencintai ini ditujukan untuk menyegerakan pernikahan, maka syariat ‘mengakui’ hal itu sebagai hal yang baik. Karena mereka tetap tidak ingin terjebak kepada perkara2 yang mendekati zina dalam bentuk yang halus sekalipun atau bahkan kepada zina itu sendiri.

Mau tahu kisah siapa dalam hal ini yang bisa mewakili?? Pernah dengar sahabat Abu Talhah yang menikahi Ummu Sulaim?? Abu Talhah mencintai Ummu Sulaim jauh sebelum Ummu Sulaim menikahi Malik (ayahanda kandung Anas bin Malik). Ketika pernikahan antara Ummu Sulaim dan Malik terjadi, keinginan Abu Talhah pun dipendamnya dalam ruang hati dengan rapi. Hingga dakwah islam terdengar ditelinga Ummu Sulaim, maka Ummu Sulaim beserta kaumnya pun bersegera memeluk agama yang baru itu. Hal itupun disampaikan Ummu Sulaim kepada Malik bin Nadhar suaminya, ternyata diluar dugaan, Malik memarahi Ummu Sulaim dan menceraikannya.

Setelah hal tsb didengar oleh Abu Talhah, cinta lama pun bersemi kembali. Pada saat itu Abu Talhah masih dalam keadaan musyrik. Meski begitu, beliau bukan termasuk golongan musyrikin yang senang mengganggu dakwah rasulullah SAW. Tanpa menunggu lebih lama, lamaran pun langsung disampaikan oleh Abu Talhah kepada Ummu Sulaim, dan kisah selanjutnya terjadilah pernikahan dengan mahar keislaman Abu Talhah.

9.Pertemuan yang dimaksud tentu adalah ta’aruf pertama, setelah masing2 bertukar data. Karena Ustadz Abu Syuqqah hanya menjelaskan ‘perjalanan’ menuju ke pernikahan itu adalah melalui Ta’aruf, meminang, akad nikah, dan resepsi, tidak yang lainnya. Ta’aruf yang dilakukan pertama kali tentu akan dibahasakan dengan pertemuan awal. Setelah itu pertemuan berikutnya apakah berlanjut -ta’aruf dengan sang calon itu sendiri, atau berlanjut kepada orang tua, keluarga dsbnya- atau tidak, semua dikembalikan kepada yang berta’aruf. Jadi tidak semata2 hanya tatap muka seperti dugaan SPPI.

10. Pada point ini, kita setuju2 saja. Hanya saja, jika yang dimaksud dengan “agar cinta dijaga, dirawat, dan dilindungi” itu dengan berpacaran ala SPPI. Maka hal itu tidak berdasar sama sekali.

11. Pada point ini, kita setuju2 saja.

12. Pada point ini, lihat kembali penjelasan pada no.3, 7, 8, 9. Tidak diragukan lagi bahwa yang dimaksudkan oleh Ustadz Abu Syuqqah dalam menetapkan “bolehnya bercinta sebelum meminang” adalah dalam masa2 ta’aruf syar’iyah. Tentu saja tidak mengapa proses ta’aruf yang kadang cepat dan kadang lama ini karena memang sangat jauh sekali bentuknya dengan “pacaran islami ala SPPI”. Dan juga, tidak diragukan lagi bahwa istilah ta’aruf(perkenalan) yang bermakna luas itu, dari zaman salaf hingga kini telah digunakan sebagai istilah yang juga syar’i untuk mewakili proses perkenalan dengan calon pasangan. Sedangkan istilah “pacaran islami” sendiri mengandung syubhat yang sangat sulit (kecuali diperbaiki oleh SPPI sendiri) dihilangkan, belum lagi berbagai aktifitas “pacarannya”. Penjelasan selengkapnya tentang hal ini dapat lihat disini. Adapun syubhat aktifitas “pacaran islami” yang katanya adalah “tanazhur” itu pun ternyata tidak memiliki hujjah yang kuat. Dalilnya mengada-ngada, dan penuh dengan asumsi pribadi, selengkapnya bisa lihat disini dan disini, wallahu’alam.

Diakhir tulisan SPPI tentang “12 Alasan …”, SPPI berdalih “Begitulah selusin alasan Abu Syuqqah mengapa sebaiknya kita bercinta sebelum khitbah (peminangan)” , padahal Ustadz Abu Syuqqah sekalipun tidak pernah menulis 12 alasan tersebut diatas. Ke-12 ‘alasan’ yang dinisbatkan kepada Ustadz Abu Syuqqah sejatinya adalah asumsi pribadi SPPI sendiri, karena faktanya bertentangan dengan apa yang telah dijelaskan oleh Ustadz Abu Syuqqah sendiri. Kenapa tidak dikatakan “Begitulah bagaimana saya memahami 12 alasan tsb setelah saya membaca buku Ustadz Abu Syuqqah, wallahu’alam” ??.

Akhir kata, kebenaran hanyalah milik Allah SWT, silahkan pembaca menilai sendiri dan merenunginya, manakah yang mendekati fakta dan kebenaran itu sendiri. Semoga Allah SWT menunjuki kita kebenaran itu adalah kebenaran, dan kesalahan itu adalah kesalahan, aamiin.wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: