Metode Penulisan Buku KW

Benarkah dugaan bahwa buku KW Ustadz Abu Syuqqah bukan untuk orang awam seperti dugaan SPPI?? Untuk membuktikannya, silahkan ikhwah fillah membaca sendiri, memahami sendiri,kutipan lengkap metode penulisan buku Kebebasan Wanita, tanpa ada yang disunting, tanpa perlu  ilmu mantiq, dan katakan.. apakah benar dugaan aneh seperti diatas??Selamat membaca..
=====================================
METODE PENULISAN BUKU
by : Ustadz Abu Syuqqah
Metode yang dipakai dalam penulisan buku ini diawali dengan membaca secara cermat nash-nash Al-Qur’an dan nash-nash hadits yang sahih. Mulai terbetik dalam pikiran untuk mengikuti pola seperti itu sejak saya menggali hadits-hadits sahih Muslim ketika melaksanakan proyek pengkajian Sirah Nabawiyah melalui buku-buku Sunnah seperti yang telah saya sebutkan sebelum ini. Saya memulainya dari Shahih Bukhari dengan mempelajari nash-nash yang berkaitan dengan wanita mengenai setiap aspek dari berbagai aspek kehidupannya.. Kemudian Shahih Muslim, dan diteruskan dengan mempelajari kitab-kitab sunnah yang banyak beredar, sehingga saya menamatkan sebanyak empat belas kitab, yaitu Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Muwaththa Malik, Zawa’id Shahih Ibnu Hibban, Musnad Ahmad, Mu’jam ath-Thabrani yang tebal, sedang, dan tipis, Musnad al-Bazzar, serta Musnad Abu Ya’la. Enam buku yang disebutkan terakhir penulis telaah dalam kitab Majma’uz Zawa’id Wa Manba’ul Fawa’id, yaitu satu kitab yang di dalamnya al-Hafizh al- Haitsami mengumpulkan nash-nash tambahan yang tidak terdapat dalam enam buku pertama, (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Pembacaan nash Sunnah secara cermat tidak berarti merupakan batasan cukup untuk tidak membaca nash-nash Kitabullah, sebab Kalamullah Ta’ala merupakan sumber pertama yang mempunyai keagungan dan kebesaran, serta memiliki kepadatan kandungan yang membuat setiap orang tertegun untuk memikirkan makna setiap ayatnya. Setelah keseluruhan ayat tersebut saya telaah, rasanya tidak hanya cukup satu kali untuk membacanya. Karena itu, saya ulang dan ulang lagi sehingga hasilnya, alhamdulillah, cukup baik.Tekad saya pertama kali adalah agar buku ini mencakup nash-nash yang bersumber dari Kitabullah dan buku-buku Sunnah Rasulullah saw. sebagaimana yang telah saya isyaratkan sebelumnya. Berdasarkan pemikiran itu, saya membuat beberapa pasal. Namun, kemudian saya memutuskan untuk tahap pertama ini cukup dengan nash-nash dari Kitabullah, Shahih Bukhari, dan Shahih Muslim saja, karena beberapa pertimbangan berikut:

1.Faktor waktu; alangkah baiknya jika bisa segera mempersembahkan topik penting seperti ini kepada umat. Walaupun menyegera, saya ingat bahwa untuk menghasilkan karya yang memuaskan tentu dibutuhkan tenaga dan waktu yang berlipat ganda, karena sanad hadits-hadits itu pun harus diteliti. 

2.Faktor memberi kemudahan bagi pembaca dengan pertimbangan bahwa satu jilid untuk setiap pembahasan dari pembahasan-pembahasan yang ada dalam satu buku tentu lebih ringan daripada beberapa jilid.

3.Faktor penghargaan dan kepercayaan terhadap apa yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Kedua kitab tersebut mendapat tempat khusus dalam hati setiap insan muslim, karena keduanya mengandung hadits-hadits sahih dan tidak memuat hadits-hadits dha’if. Kedua kitab tersebut merupakan kitab paling dipercaya setelah Kitabullah.

Dengan demikian, pembaca dapat meyakini sepenuhnya kesahihan nash-nash yang dimuat dalam buku ini.Singkatnya, saya mengambil keputusan untuk menerbitkan buku ini dalam dua tahap. Tahap pertama –hasilnya seperti yang ada di tangan para pembaca sekarang—terbatas pada nash-nash tertentu yang bersumber dari Kitabullah serta kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Kadang-kadang pembahasan ini keluar juga dari kedua kitab sahih tersebut, tetapi dalam masalah-masalah yang sangat terbatas, misalnya jika dalil-dalil penjelasan untuk masalah tertentu tidak ditemukan di dalam kedua kitab sahih tersebut. Dan kadang-kadang saya juga menyebutkan beberapa alasan yang bersumber dari luar kedua kitab sahih tersebut dengan tujuan untuk lebih memperjelas keterangan.

Bersamaan dengan itu saya upayakan sedapat mungkin untuk mengkaji pendapat-pendapat ulama yang pakar dalam bidangnya untuk mengetahui sejauh mana keabsahan sanad nash-nash yang dikutip. Saya lebih mendahulukan nash riwayat Bukhari dalam kondisi riwayat kedua imam hadits ini.Dan dalam kondisi yang terbilang jarang, penulis memilih nash riwayat Muslim karena saya lihat maksudnya yang lebih jelas. Dalam kondisi seperti ini saya tegaskan bahwa riwayat tersebut dikeluarkan oleh Muslim.Pada tahap kedua –insya Allah– nash-nash dari Kitabullah akan mengambil porsi lebih besar dibandingkan nash-nash dari kitab-kitab Sunnah yang asli. Saya memohon kepada Allah semoga karya ini benar-benar ikhlas karena-Nya, diterima di sisi-Nya, dan bermanfaat bagi pembaca. Allah adalah sebaik-baik tempat memohon dan menyampaikan keinginan.Konsep umum dari buku ini adalah mengetengahkan nash-nash yang dapat dijadikan dalil bagi topik-topik pembahasan sebagai mana telah saya sebutkan sebelumnya.  

Maksud dan tujuan nash-nash tersebut jelas sekali karena secara umum merupakan nash-nash yang bersifat praktis dan operasional sehingga kita tidak perlu bersusah payah membuang energi untuk menyimpulkan maksudnya.  Setiap orang yang mempunyai sedikit latar belakang ilmu syariat pasti mampu memahami maksudnya. Meskipun demikian, kadang-kadang saya tetap berusaha menyebutkan pendapat beberapa ahli fiqih yang secara umum saya saring dari keterangan al-Hafizh Ibnu Hajar terhadap Shahih Bukhari (Fathul Bari) yang benar-benar merupakan enskilopedia hadits dan fiqih. Pengutipan pendapat dan ucapan para ulama itu bertujuan untuk menetapkan bahwa dalil nash yang saya pahami dan yang merupakan dasar pengelompokan tematis bukanlah sesuatu yang aneh. Hal itu sudah biasa dilakukan oleh ulama-ulama besar sebelumnya.Sehubungan dengan pengutipan pendapat-pendapat ulama tersebut, perlu pula dijelaskan bahwa saya hanya mengutip pendapat satu dari sekian banyak ulama untuk lebih menegaskan pendapat saya mengenai dalil suatu nash.

Saya tidak mengutip pendapat semua ulama, baik yang bersifat pro ataupun kontra karena hal itu hanya akan menambah panjangnya permasalahan serta berlawanan dengan konsep penulisan yang saya pilih untuk buku ini. Bahkan tidak mustahii juga hal seperti itu menggiring saya pada konsep lain yang mengarah pada studi perbandingan terhadap pendapat-pendapat ulama, kemudian memilih mana yang lebih kuat dari pendapat-pendapat tersebut. Hal seperti itu menuntut dilakukannya kajian fiqih yang mendalam, bukan kajian sosial yang menghimpun nash-nash yang bersumber dari Kitabullah serta Shahih Bukhari dan Muslim. Barangsiapa yang ingin mengetahui lebih luas perbedaan pendapat ahli fiqih, silakan melihat kitab-kitab syarah dan buku-buku fiqih yang tebal. Kemudian perlu pula diketahui bahwa hampir tidak ditemukan suatu masalah dalam fiqih yang tidak diwarnai oleh perbedaan pendapat ulama. Soal perbedaan pendapat mengenai masalah-masalah furu’ sudah merupakan perkara yang lazim dan sudah diakui. Tapi yang penting menurut konsep buku ini adalah menciptakan rasa tenteram bagi pikiran dan hati seorang muslim, yaitu dengan membaca dalil-dalil syariat dalam nashnya yang asli serta menguatkan. Pendapat yang didukung oleh nash-nash syariat adalah pendapat yang bisa dijadikan pegangan dalam kondisi terjadinya perbedaan pendapat.Alhamdulillah, dengan mengikuti konsep ini telah berhasil diwujudkan semacam pengelompokan tematis terhadap nash-nash yang berkaitan dengan wanita dalam Al- Qur’an serta kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Saya menganggap buku ini sebagai langkah konkret dalam dakwah ke arah pengelompokan baru terhadap nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan umat Islam yang terus berkembang. Di antara kebutuhan tersebut adalah bidang humaniora, seperti ilmu jiwa, sosial, pendidikan, ekonomi, dan politik. Begitu pula halnya dengan kasus-kasus dan aneka problematika modern seperti kasus-kasus wanita, kesetiakawanan sosial, konsep pembaruan, dan perubahan. Yang lebih penting daripada semua itu adalah pola berpikir muslim. Masalah ini pantas sekali didukung dan mendapat perhatian khusus, sebab hal ini menuju karya sistematis baru yang membantu terwujudnya apa yang dinamakan ijtihad yang dibutuhkan dalam bidang fiqih dan pembaruan yang didambakan untuk kepentingan agama yang dibawa oleh Rasulullah saw.Berkat karunia Allah, akhir-akhir ini, usaha pengelompokan tematis terhadap nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah banyak mendapat perhatian kalangan ulama.
 
Juga merupakan karunia Allah bagi umat Islam bahwa Dia telah memberikan jaminan akan memelihara Kitab-Nya sebagaimana memelihara Sunnah Nabi-Nya yang merupakan penjelasan bagi Kitabullah yang telah dan akan terus dipelihara pada derajat yang paling tinggi sesuai dengan perlindungan yang diberikan Allah kepadanya, sebagaimana firman-Nya ini: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9)maka Sunnah dengan izin Allah SWT dijaga oleh kaum muslimin dengan penuh perhatian dan mereka korbankan segala tenaga untuk menjaga kemurniannya. Allah mengaruniai mereka ilmu yang sistematis sehingga menjamin terpeliharanya keabsahan sanadnya sepanjang masa. Karunia yang diperuntukkan bagi umat Islam ini sungguh merupakan hikmah yang luar biasa dari Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Jika dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya, kitab-kitab mereka telah mengalami perubahan dan penggantian. Kemudian Sunnatullah menghendaki untuk memilih nabi baru atau menurunkan kitab baru guna meluruskan kembali ajaran-ajaran petunjuk Ilahi. Setelah umat Islam memikul misi agama penutup dan tidak ada lagi nabi setelah Muhammad saw., lantas Allah memelihara pokok-pokok agama ini sehingga manusia kembali kepadanya setiap saat sampai hari kiamat. Hal itu dilakukan jika mereka berminat mengikuti petunjuk Allah yang nyata dan tidak menganggap masalah agama sebagai benda pusaka yang diwarisi secara turun- temurun oleh anak cucu dari orang tua dan nenek moyang mereka sebagaimana adanya serta iidak mengatakan seperti yang dikatakan oleh umat-umat terdahulu:
“… Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (az-Zukhruf:22)
Saya kira, umat Islam yang menghargai sepenuhnya karunia Allah berupa pemberian jaminan pemeliharaan pokok-pokok agama mereka, pantas sekali untuk kembali setiap saat pada pokok-pokok agamanya, serta menjadikannya sebagai pedoman dan acuan hukum karena Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(-Nya) danulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa’: 59)
Saya berharap kiranya segala tenaga yang dikorbankan melalui buku ini dengan izin Allah dapat membantu umat Islam dalam mengembalikan masalah-masalah wanita pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw. (Kebebasan Wanita Jilid I)

===================================================(Komentar : Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.Pembaca yang dirahmati Allah, inilah metode penulisan buku yang dilakukan oleh Ustadz Abu Syuqqah. Sangat jelas bahwa buku ini dibuat karena menghendaki kemudahan bagi umat. Nash-nash yang jelas yang tidak memerlukan energi untuk memahaminya juga agar memudahkan pembaca yang awam. Ditambah lagi penjelasan penulis, dimana beliau kadang mengutip penjelasan para ulama semisal Ibnu Hajar sebagai pendapat yang penulis pilih. Lantas dari mana datangnya dugaan atau khayalan SPPI bahwa buku KW ini tidak diperuntukkan bagi orang awam, sedang sang penulis sendiri telah menyatakannya dengan tegas bahwa buku ini dipersembahkan untuk umat??Allah hu Akbar, Semoga kita semua mau berfikir,  mengambil keputusan yang tepat, dan kembali kepada pemahaman yang lurus, berdasarkan Kitabullah wa Sunnah Rasulullah). Kesimpulan :

  1. Buku KW ini dikhususkan sebagai pembahasan yang terkait dengan wanita, ditinjau dari dalil2 Al Quran dan hadits2 yang shahih serta pendapat para ulama.
  2. Buku KW ini ditujukan untuk seluruh umat. Bahkan yang memiliki sedikit pengetahuan syariat(misalkan mereka yang cuma paham masalah sholat saja dll) pun dapat dengan mudah memahami buku ini.
  3. Didalam Buku KW ini, terdapat kutipan beberapa pendapat para ulama terhadap nash2, dimana hal ini untuk menunjukkan/ menegaskan pemahaman Ustadz Abu Syuqqah adalah juga sama dengan pendapat para ulama tersebut.
  4. Setiap perbedaan pendapat, dikembalikan kepada dalil syara Al Quran dan Sunnah, bukan kepada dugaan dan interpretasi yang tidak berdasar.
  5. dst.

Wallahu’alam

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Advertisements

3 Comments (+add yours?)

  1. Yassin El Cordova
    Oct 07, 2007 @ 08:26:11

    bro numpang nanya neeh

    emang bener pacaran islami hukumnya syubhat ??

    sejauh pemahaman gue syubhat tu betatapun juga lebih mendekati hal yang haram dibandingkan dengan halal
    dan islam telah tegas mengaturnya
    sialkan dirujuk pada buku “Taujih Ruhiyah “

    Reply

  2. pacaranislamikenapa
    Oct 07, 2007 @ 18:11:10

    sikap seorang muslim ketika menemui perkara syubhat, maka yang selamat adalah jika menjauhinya, yang mengikuti syubhat itu cenderung akan melakukan pembenaran2, hingga jatuh ke perkara yang haram. Yang bertanya kepada para ulama, maka akan mendapatkan kejelasan apakah syubhat dimaksud itu halal ataukah haram..begitulah yang kita pahami tentang perkara syubhat Akh Yasin :). Karena yang halal itu jelas, dan yang haram pun itu jelas. Dan berbicara tentang pacaran yang halal, hanya ada setelah pernikahan, diluar itu, setidaknya 2 hal yang mesti kita perhatikan.

    Pertama, “pacaran islami” sebagai sebuah istilah tentu saja mengandung syubhat. Kata “pacaran”-nya sendiri berasal dari akar kata budaya yang tidak mengenal Islam, tetapi kemudian digandengkan dengan kata “islami” itu sendiri seolah2 hendak dimaksudkan agar kebanyakan orang awam akan beranggapan bahwa islam memang memperbolehkan pacaran.

    Kedua, tentu kita tidak berhenti pada istilah saja. Karena istilah itu hanya bungkus, kita mesti mengenal isinya. Seperti “khamer” yang sekarang banyak namanya, ada Mc Dona**, Topi Mir****, Win*, dll. Begitu juga dengan pacaran, meski ada embel2 islaminya belum tentu ianya islami, bahkan mungkin efek “dosanya” lebih “parah” dibandingkan mereka yang pacaran konvensional-yang misalkan karena ketidak tahuan mereka terhadap hukum Allah, sehingga mereka berpacaran-, dikarenakan mereka melakukan pembenaran2 terhadap perkara dosa yang mereka kerjakan, ditambah lagi mereka mendakwakan agar orang mengikuti jejak mereka. Untuk itu blog ini ada, bersama2 kita melakukan komparasi, sejauh mana “pacaran islami” yang diusung oleh SPPI itu mendekati kebenaran islam, atau malah menjauhinya.

    Dan setidaknya ada beberapa point utama yang mesti kita soroti, pertama, perkara pendalilan. kedua, sumber rujukan. ketiga, kesesuaian maksud yang ada pada rujukan, dengan kesimpulan yang dibuat SPPI. keempat, fakta dan kenyataan lapangan. Dan dari semua itulah, kita kemudian menyimpulkan apakah perkara “pacaran islami” itu mendekati perkara haram sehingga dihukumi haram atau separah2nya “pacaran islami” itu tetap dalam syubhatnya yang mesti kita jauhi, tidak sampai kepada status halal, apalagi disunnahkan Nabi SAW, na’udzubillah.

    Pokoknya kita tetap dengan semangat saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, dalam semangat ukhuwah islamiyah, karena kebenaran hanyalah milik Allah SWT.

    Reply

  3. Trackback: Tinjauan: Hadits shahih yang terlupakan « Pacaranislamikenapa’s Weblog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: