Antara tanazhur, pacaran islami, dan ta’aruf (1)

Antara ‘Tanazhur’, ‘Pacaran Islami’ dan ‘Ta’aruf’

 

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

 

Kalo dari judulnya mirip-mirip kaya “Antara kau. Aku, dan dia”J. Melanjuti tulisan kemarin yang berbicara dalil ta’aruf ternyata ga asal keren, kita akan mencoba mengkritisi sebuah kesimpulan aneh lainnya dari SPPI tentang istilah apa yang pantas menggantikan istilah ta’aruf  terutama ketika berbicara perkenalan pranikah.

 

Ketika SPPI menyandarkan dugaannya bahwa Tanazhur-lah istilah yang tepat menggantikan Ta’aruf, SPPI berdalih “Di kitab Abdul Halim Abu Syuqqah, Tahrîr al-Mar’at (kitab ini menghimpun hadits-hadits shahih mengenai hubungan pria-wanita), aku jumpai enam hadits shahih mengenai perlunya “pendekatan” antara laki-laki dan perempuan yang hendak segera menikah. (Lihat Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita 5(Jakarta: Gema Insani Press, 1999), hlm. 53-56.)” . Di situ, ada satu kata khas yang selalu muncul pada keenam hadits tersebut. Apakah kata khas ini seakar dengan istilah “taaruf” (saling kenal)?

 

Tidak. Istilah taaruf atau pun kata-kata yang seakar dengannya tidak pernah muncul di situ. Kata khas yang muncul adalah “nazhar”. Kemunculannya berbentuk kata kerja “yanzhuru” (memperhatikan) dan kata perintah “unzhur” (perhatikanlah…)”.(selengkapnya )

 

Entah apa yang dimaksudkan SPPI dengan perkataan “perhatikanlah” diatas, sampai akhir tulisan SPPI, tidak ada satupun hadits yang ditampilkan, pembaca hanya disuruh memperhatikan hipotesa SPPI dan opini yang ingin digiring. Yang ada, masalahnya bertambah lagi J, pertama Tanazhur saja belum selesai, beliau menambahkan asumsi aneh lagi bahwa ke-6 hadits yang dimaksud mengenai perlunya ‘pendekatan laki2 dan wanita yg hendak menikah’, subhanallah.

 

Betul bahwa Ustadz Abu Syuqqah memasukkan ke-6 hadits yang dimaksud, ke dalam sub-bab B. Melihat Wanita Pada Waktu Meminang dalam Bab Meminang, artinya Ustadz Abu Syuqqah telah membatasi bolehnya melihat wanita ajnabi(non muhrim) yang kita sukai hanya pada saat hendak meminang, tidak pada waktu diluar itu.

Untuk lebih jelasnya..yuk kita baca 3 hadits terakhir yang paling tokcer, paling jelas menunjukkan kapan seorang laki2 boleh secara leluasa melihat tautan hatinya (ciee..ciee..), dan hadits2 inilah yang menjadi pendapat Ustadz Abu Syuqqah mengenai ‘nazhara’.

 

Abu Humaid As Sa’idi berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Apabila salah seorang diantara kamu meminang seorang wanita, maka tidak ada dosa atasnya untuk melihatnya, jika melihatnya itu untuk meminang, meskipun wanita itu tidak mengetahuinya” (HR Ahmad-Shahih Jami’ush Shaghir, hadits no 521)

 

Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi SAW bersabda “Apabila salah seorang dari kamu hendak meminang seorang wanita, jika ia dapat melihat sesuatu darinya yang mendorongnya untuk mengawininya, maka lakukanlah” Jabir berkata “Maka aku hendak meminang seorang wanita dan aku bersembunyi sehingga aku dapat melihat sesuatu darinya yang dapat mendorongku untuk mengawininya. Kemudian aku pun kawin dengannya” (HR Abu Dawud)

 

Muhammad bin Salamah berkata “saya hendak meminang seorang wanita, lalu saya bersembunyi, sehingga saya dapat memandangnya dikebunnya” Lalu ditanyakan orang kepadanya “Apakah anda berbuat begitu, padahal Anda sahabat Rasulullah SAW?” Dia menjawab “Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda “Apabila Allah telah mencampakkan ke dalam hati seseorang keinginan untuk meminang seorang wanita, maka tidak mengapa dia melihat kepada wanita itu” (HR Ibnu Majah)

 

Apa yang bisa disimpulkan dari ketiga hadits diatas?? Setidaknya ada tiga hal:

1          Bahwa tidak diragukan lagi melihat wanita ajnabi(non muhrim) itu adalah haram sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Wahai Ali! janganlah engkau mengikuti satu pandangan dengan pandangan lain karena engkau hanyalah memiliki yang pertama dan tidak untuk yang selanjutnya” (HR. Al Haakim dalam Al Mustadrak). Atau dalam fatwa kontemporer Ustadz Yusuf Qardhawi berkata “..Nabi saw. pernah memalingkan muka anak  pamannya yang   bernama  al-Fadhl  bin  Abbas,  dari  melihat  wanita Khats’amiyah pada waktu haji, ketika beliau melihat al-Fadhl berlama-lama  memandang  wanita  itu.  Dalam  suatu riwayat disebutkan bahwa al-Fadhl bertanya kepada  Rasulullah  saw.”Mengapa  engkau  palingkan  muka anak pamanmu?” Beliau saw.menjawab, “Saya melihat seorang pemuda dan  seorang  pemudi,maka  saya  tidak  merasa  aman akan gangguan setan terhadap mereka.”.

Sekarang kita baca penjelasan yang gamblang dan jelas dari Ustadz Yusuf Qardawi tentang zina mata. Al Ustadz berkata Dinamakannya berzina, karena memandang itu salah satu bentuk bersenang-senang dan memuaskan gharizah seksual dengan jalan yang tidak dibenarkan oleh syara’. Penegasan Rasulullah ini ada persamaannya dengan apa yang tersebut dalam Injil, dimana al-Masih pernah mengatakan sebagai berikut: Orang-orang sebelummu berkata: “Jangan berzinal” Tetapi aku(rasulullah) berkata: “Barangsiapa melihat dengan dua matanya, maka ia berzina.”

 

2.         Bahwa dimungkinkan(boleh) melihat wanita ajnabi (non muhrim) dengan syarat si laki-laki hendak meminang wanita tersebut, jika tidak maka haram. Sebagaimana ditegaskan pada kutipan hadits ke-3 diatas, tentang Muhammad bin Salamah , beliau ditegur oleh orang-orang ketika didapati melihat wanita ajnabi, dan sampai2 “status” persahabatan beliau dengan rasulullah SAW pun dipertanyakan karena persoalan itu, dan ini menunjukkan bahwa perkara melihat wanita ajnabi ini bukan perkara yang enteng, sebagaimana dugaan sebagian orang. Alhamdulillah.. beliau(Muhammad bin Salamah) dapat menunjukkan dalil bahwa Rasulullah SAW membolehkan umatnya melihat wanita yang hendak dipinang.

 

3.                  Bahwa yang dimaksud dengan Tanazhur dihadits2 itu adalah melihat, bukan “pendekatan” seperti dalam angan-angan SPPI. Pada hadits kedua tentang Jabir RA, jelas2 dikatakan sambil bersembunyi, lantas pendekatan apa yang pakai dengan sembunyi-sembunyi J.

 

Kenapa sampai Tanazhur dalam hadits itu dianggap SPPI sebagai pengganti ta’aruf??

 

 Ternyata berawal dari kesalahan interpretasi terhadap makna kata Tanazhur itu sendiri. SPPI membuat sebuah persamaan “..taaruf = “saling kenal”, sedangkan tanazhur = “saling perhatian”.

Pada taaruf, yang berfokus pada informasi tentang baik-buruknya si dia, kecerdasan logis-matematis lebih berperan.

Pada tanazhur, yang berfokus pada rasa cinta kepada si dia, kecerdasan emosional lebih berperan. “

 

Nah, dari persamaan ini dugaan SPPI adalah, mereka yang melakukan ta’aruf syar’i dalam perkenalan dengan calon pasangannya itu didasarkan pada kecerdasan logis-matematis, sedangkan mereka yang ‘tanazhur’, kecerdasan emosionalnya lebih berperan. Ups..yang “cerdas2” begini kita ga usah bahas ya J, ketinggian, lagian sudah mulai ngga nyambung.

 

Apakah pengertian tanazhur yang sebenarnya dalam hadits diatas ?? salah satu hadits lain yang berbicara tentang ‘tanazhur’ dalam KW jilid 5 hal 53 adalah “Dari Sahl bin Sa’ad, bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata ‘Wahai rasulullah, aku datang untuk memberikan diriku kepadamu’ lalu rasulullah SAW memandangnya dengan menaikkan dan menurunkan pandangan beliau kepadanya, kemudian beliau menundukkan kepala (HR Bukhari Muslim)

Fakta2nya adalah :

                      Imam Bukhari memasukkan hadits ini dalam bab “Memandang kepada wanita sebelum terjadinya perkawinan”.

                      Al Hafizh Ibnu Hajar berkata “Jumhur ulama mengatakan ‘tidak terlarang peminang melihat wanita yang dipinang, tetapi ia tidak boleh melihat selain wajah dan tangannya’.

                      Menaikkan dan menurunkan pandangan diatas tidak lain dan tidak bukan pastilah menggunakan kepala, sehingga tidaklah mungkin diartikan lain kecuali dengan arti melihat itu sendiri.

                      Dan ternyata, seperti yang saya katakan diatas, Ustadz Abu Syuqqah yang katanya ada ‘dibelakang’ ide aneh SPPI itu, menaruh ke-6 hadits ini dalam sub-bab “MELIHAT SI WANITA PADA WAKTU MEMINANG”.

 

Allahu Akbar…lantas dimana kita bisa menemukan kata-kata “saling perhatian” untuk mengganti makna tanazhur??

bersambung kesini

Advertisements

8 Comments (+add yours?)

  1. Trackback: Antara ‘Tanazhur’, ‘Pacaran Islami’ dan ‘Ta’aruf’ (2) « Pacaranislamikenapa’s Weblog
  2. Yassin El Cordova
    Sep 26, 2007 @ 14:09:59

    Assalamualaykum

    nak bertanya bagaimana dengan fakta pacaran tanpa bersentuhan yang kerap diusung pemuja pacaran islami ini ??

    Reply

  3. pacaranislamikenapa
    Sep 26, 2007 @ 18:13:41

    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Akh Yassin, sebenernya “fakta” bahwa adanya pacaran islami itu sendiri, bentuknya seperti apa, dll ternyata masih abstrak alias samar alias syubhat (jika tidak dikatakan tidak ada),tulisan yang ada diblog itupun kadang saling bertentangan, terkadang berduaan itu bukan aktifitas utama, tetapi dilain waktu agar digiatkan berpacaran dibulan ramadhan-pergi ke pabrik dsbnya-, artinya mereka yang mengusung ide tersebut sebenarnya masih menebak2 bentuk pacaran islami itu seperti apa, karena dalil yang digunakan pun tidaklah tepat.

    Mungkin saja memang ada yang pacaran tidak pegangan tangan, tetapi apakah mereka juga tidak saling pandang-memandang?? Tidak saling berangan-angan bentuk “hubungan fisik” yang lebih?? Tidak saling melangkah berdua kesana kemari tanpa muhrim?? dll yang semua itu tercatat sebagai perbuatan mendekati zina. Ini yang sesungguhnya kita catat dari ide aneh pacaran islami tsb, dan sekali lagi pacaran tanpa satu dari semua hal diatas pasti omong kosong(bebas zina)..lha yang tidak pacaran saja pasti tercatat pernah melakukannya, apalagi mereka yang pacaran :).

    Karena sesungguhnya ide pacaran islami itu muncul dari semangat pacaran(konvensional) itu sendiri, bukan muncul dari dalil2 yang bisa dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT dan RasulNya, stau sejalan dengan penjelasan ulama2 hanif (lurus) pewaris nabi baik dari generasi salaf(awal/dahulu) dan khalaf (akhir), maka sampai kapanpun tidak akan pernah ada yang namanya pacaran islami selain setelah menikah.wallahu’alam

    tetap istiqomah ya akh 🙂

    Semoga bermanfaat,
    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  4. pacaranislamikenapa
    Oct 02, 2007 @ 19:44:47

    Berikut ini adalah lanjutan komentar yang tidak ditampilkan SPPI, dalam tulisan berjudul “Pertanyaan untuk…”.
    Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    1. Apakah ‘dihalalkan’ membuat kesimpulan atas nama orang lain, padahal orang lain itu tidak pernah menyimpulkan seperti itu?(atas maksud dari kalimat “bercinta sebelum meminang”)
    2. Apakah hal pada nomor satu, dapat dikatakan sebagai dosa yang kecil??
    3. Apakah tetap sebuah ‘dosa kecil’ jika dilakukan secara terus-menerus,ditambah lagi dengan anggapan bahwa ianya adalah sunnah dari nabi SAW, dan disebarkan dengan sebuah ajakan kepada khalayak ramai untuk melakukan dosa tersebut?
    4. Siapapun yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah SWT, dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah SWT adalah pelaku dosa besar, pertanyaannya..siapakah (diantara kita) yang menghalalkan yang haram atau sebaliknya?(semoga kita terlepas dari perkara ini, aamiin). Maka dari itu kita butuh saran, nasehat dan kritik dari orang lain. Karena manusia itu tempat lalai dan lupa, bukanlah sesuatu yang hina saya pikir ketika kita menerima kritik dari orang lain dan mengubah pendapat kita dimasa lalu, demi sebuah kebenaran. Untuk itu ukurannya adalah, seberapa dekat pemahaman yang kita usung itu kepada Al Quran, sunnah, serta perkataan ulama2 yang hanif?

    Setelah membaca banyak situs bapak dan yang berafiliasi kepada pacaran islami ala bapak, saya menyimpulkan setidaknya kalaupun tidak tergolong haram (mutlaq), maka pacaran dalam terminologi bapak beserta dalilnya adalah makruh tahrimi, perkara makruh yang lebih dekat kepada yang haram (tidak seperti dugaan bapak bahwa ia adalah makruh tanzihi), maka dari itu ianya harus diijauhi. Katakanlah ianya bukan makruh tahrimi, maka tidak diragukan lagi bahwa pacaran ala bapak adalah perkara syubhat, yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasululah SAW, para sahabat/iyah generasi pertama, para tabi’in, tabi’it tabi’in, ulama salaf dan khalaf yang hanif, serta tidak berdasarkan dalil2 yang tepat dan pada tempatnya, maka hal ini pun harus kita jauhi.

    Karena ada kaidah fiqh yang berbunyi : “Apa saja yang membawa kepada perbuatan haram, maka itu adalah haram.” Nah.. Siapakah kita yang bisa menjamin pandangan kita terhadap wanita yang kita cintai/sukai(non muhrim tentunya) terbebas dari zina(syahwat birahi)??. Siapakah kita yang bisa menjamin perkataan kita terhadap wanita yang kita cintai terbebas dari zina (zina tangan..ingin menyentuh)?? Siapakah kita yang bisa menjamin hati kita terbebas dari khayalan2 yang asyik masyuk terhadap wanita yang kita cintai (zina hati..berkhayal)..lantas jika mereka yang tidak berpacaran saja, atau mereka yang berusaha menjaga diri mereka dari zina2(kecil) tadi, sangat mungkin untuk terkena(zina2 kecil tadi), bagaimana keadaannya pada mereka yang jelas2 berpacaran??

    Satu “term” tentang pacaran yang halal dan saya terima adalah “Pacaran setelah menikah “. Selain itu, coba tunjukkan dalil2 bapak, dan kita kembalikan kepada Al Quran, Sunnah, dan perkataan Ulama2 yang hanif(dalam hal ini perkataan Ustadz Abu Syuqqah), sebagai ‘pembenaran’ yang sama2 kita setujui rujukan dalilnya yakni Kebebasan Wanita.
    wallahu’alam.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.”

    Reply

  5. Trackback: Tinjauan “Contoh Tanazhur yang Direstui Nabi” « Pacaranislamikenapa’s Weblog
  6. SulyKasmaja
    Dec 09, 2009 @ 09:51:23

    hemm,,,begitu ya rupanya

    Reply

  7. SulyKasmaja
    Dec 09, 2009 @ 10:15:51

    sppi mengatakan adanya bid’ah dan sesat, biasanya yg mengatakan itu bukannya sendiri yang “,,,,,,,” wallahu’alam bishawab,,

    Reply

  8. Wawan Malmsteen
    Feb 21, 2012 @ 17:25:34

    inspirasi – “akal-pikiran” dan “hati nurani” Februari 2012

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: