Antara tanazhur, pacaran islami, dan ta’aruf (2)

sebelumnya 

 

SPPI berdalih pada saat ada yang bertanya kepada beliau tentang keanehan interpretasi atas makna tanazhur itu dengan jawaban Saya menggunakan terjemahan ‘menaruh perhatian’ berdasarkan spirit (ruh) yang diusung oleh Abu Syuqqah di kitab/buku tersebut. Pada versi Indonesia (terbitan GIP), penerjemah menggunakan kata ‘melihat’. Menurut saya, terjemahan kata tersebut (dari perspektif Abu Syuqqah) kurang tepat. (Perhatikan 12 alasan mengapa bercinta sebelum menikah. Selain itu, perhatikan bahwa di Jilid 1 dan 2, Abu Syuqqah menganjurkan persahabatan akrab dengan lawan jenis. Karena itu, mustahil bahwa beliau hanya menganjurkan sekedar ‘melihat’ calon suami/istri.)

Dalam bahasa Arab, nazhar-yanzhuru itu bermakna luas, tidak cukup dengan terjemahan menaruh perhatian’ (apalagi ‘melihat’ saja). Untuk contoh, bandingkan dengan petuah Ali r.a.: unzhur maa qaala wa laa tanzhur man qaala

(terjemah perhatikan apa yang dikatakan dan jangan kau hiraukan siapa yang mengatakan” lebih tepat daripada “lihat apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan”.)

Saya tidak berpandangan bahwa ‘menaruh perhatian’ itu merupakan satu-satunya makna tanazhur. Saya justru menganjurkan, silakan menambahkan makna lain!”

 

Pertanyaan saya, sejak kapan ada terjemahan menggunakan ‘spirit ruh yang diusung orang lain semisal Ustadz Abu Syuqqah’?? Lantas apa yang bisa kita pegang, jika setiap orang berdalih seperti SPPI ketika menakwilkan ayat atau hadits yang dirasa tidak cocok dengan yang diinginkan??akankah dia berkata ‘saya menggunakan terjemahan sesuai dengan spirit ruh yang diusung oleh si fulan atau dsbnya’? Apa jadinya agama ini jika setiap orang berhak berkata-kata atasnya, apalagi ketika hal ini berkaitan dengan Ayat2 Allah dan Hadits Rasulullah?? Disamping itu apakah fakta-fakta yang ada(buku KW yang menjadi ‘rujukan’ SPPI) sepakat dengan ide2 SPPI atau malah bertentangan?? Dan apanya yang mustahil anjuran melihat itu, jika sang penulis sendiri, Ustadz Abu Syuqqah memasukkan hadits2 itu kedalam judul “MELIHAT PADA SAAT MEMINANG”??Tidakkah hal seperti ini tidak pada tempatnya, membuat ‘takwil’2 baru terhadap karya orang lain?? Apalagi diakhiri dengan sebuah ajakan “silahkan menambahkan makna lain”, na’udzubillah.

SPPI juga membuat asumsi, jika terjemahan kata ‘nazhara’ itu adalah melihat..tidak sesuai dengan perspektif Ustadz Abu Syuqqah, seolah2 ketika Ustadz Abu Syuqqah membuat buku itu, beliau terlebih dulu konsultasi kepada SPPI. Dilanjutkan bahwa untuk mendukung asumsi SPPI itu, pembaca disuruh membaca jilid 1 & 2 yang katanya, Ustadz Abu Syuqqah menganjurkan persahabatan akrab dengan lawan jenis,  tetapi kenapa tidak SPPI cantumkan 1,2,3,4 dst dalil yang sekali lagi SPPI duga mendukung asumsinya tersebut?? tentu lagi2 agar sebagian dari orang-orang awam langsung ‘ikut dan larut’ ke dalam pemahaman yang beliau usung.

Sebagai pertimbangan untuk menunjukkan “lurus-pikir” ala SPPI yang lain, kita akan menemukan perbedaan yang nyata antara kata yang saya garis bawahi diatas, yakni pada kata“menaruh perhatian” dan kata “perhatikan”. Seharusnya jika SPPI konsisten maka perkataan Ali RA itu terjemahannya menjadi “Taruhlah perhatian pada apa yang dikatakan, jangan menaruh perhatian kepada siapa yang mengatakan “..lha ini belum diperhatikan dulu “perkataannya apa”, belum dilihat dulu “perkataannya apa” sudah main orang suruh “suka aja” alias “menaruh perhatian” pada perkataan orang lain. Sesungguhnya makna kata “perhatikan” lebih dekat artinya dengan kata “melihat” bukan dengan kata “menaruh perhatian”, sedangkan “menaruh perhatian” maknanya lebih kepada “perasaan suka”. Nah, didalam kamus bahasa Arab – Indonesia karya Prof. DR. H. Mahmud Yunus lulusan Al Azhar kairo, Mesir, kata “nazhara” itu bermakna “memandang dan melihat”.

Perintah melihat wanita pada waktu meminang dalam hadits2 diatas setidaknya ada 2 kata, pertama “nazhara” itu sendiri, kedua “ro a” (pada hadits Jabir RA diatas kata yang dipakai “ro aita” untuk menunjukan makna melihat sesuatu). Inilah bukti nyata dan tentunya yang dipahami oleh Ustadz Abu Syuqqah perihal “nazhara” itu bermakna melihat bukan “menaruh perhatian” seperti dugaan SPPI.

 Lantas dimanakah Pacaran Islami

Lagi2 hal ini pun tidak dapat dibuktikan oleh SPPI bahwa dugaannya itu berdasarkan dalil2 yang tepat (alih2 dalil qath’i), yang ada justru kecenderungan pacaran ala SPPI adalah mendekati zina, seperti pada jalan2 berdua dengan sang pacar ke pabrik, bolehnya berkhalwat dengan menggunakan dalil kekhususan nabi (katakanlah dalil itu membolehkan berkhalwat jika terawasi..lantas bukankah nabi SAW pada saat itu tidak sedang berpacaran dan tidak sedang ingin meminang, lantas atas maksud apa SPPI menjadikannya dalil boleh berkhalwat dengan pacar, na’udzubillah ) dan banyak hal lainnya, yang semakin menjauhkan makna perkenalan atau ta’aruf yang dimaksud oleh Abu Syuqqah, dari makna yang sesuai dengan syariat.

 

Padahal Ustadz Abu Syuqqah berkata “Meminang itu merupakan pendahuluan bagi perkawinan dan bukannya akad nikah. Karena itu tidak halal bagi si peminang, kecuali apa yang halal bagi laki2 asing (bukan mahram). Dan diantara adab menemui laki2 asing ialah mengenakan pakaian yang panjang yang menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua tangan, dan tidak bersunyi-sunyi (baca kembali adab2 pertemuan ini dalam pasal 2 dari juz 2 kitab ini).” (Bab. Meminang, sub-bab. Adab2 Pada Waktu Meminang, point 2. Memperlakukan si Peminang sebagai Laki2 Asing, hal.63)

Semakin kita baca buku KW Ustadz Abu Syuqqah tersebut, semakin kita yakin bahwa ada perbedaan yang besar antara ide yang diusung oleh SPPI dengan ide yang diusung oleh Ustadz Abu Syuqqah. Tetapi anehnya lagi, SPPI kembali menduga bahwa buku KW itu bukan untuk orang awam, tetapi untuk orang-orang yang paham ilmu syariat (baca : ahli semacam SPPI kah??), Padahal masih menurut kutipan SPPI “Abu Syuqqah menerangkan : “Konsep umum dari buku ini adalah mengetengahkan nash-nash yang dapat dijadikan dalil…Setiap orang yang mempunyai sedikit ilmu syariat pasti mampu memahami maksudnya (jilid 1, hlm 23)” , lantas dimana bisa kita ambil kesimpulan buku KW tersebut adalah untuk mereka yang paham syariat(ahli) kecuali Ustadz Abu Syuqqah malah memastikan setiap orang yang memiliki sedikit ilmu syariat pasti mampu memahami maksud beliau, lagi2 dalil yang digunakan SPPI malah bertentangan dan semakin memperkuat keyakinan kita bahwa buku KW itu hadir, diperuntukkan bagi kebanyakan orang awam. Tetapi apa mau dikata, merasa diri yang paling “lurus-pikir”..sehingga beliau merasa perlu membuat puluhan tulisan lainnya untuk ‘membantu’ pembaca memahami ide dalam buku KW karangan Ustadz Abu Syuqqah sendiri, subhanallah.

 

Lantas buat apa Ustadz Abu Syuqqah menjelaskan panjang lebar hingga detail..dalil2 KW itu ke dalam 6 jilid, jika tujuannya bukan untuk orang2 awam seperti kebanyakan kita?? J. Allahu Akbar, Padahal Ustadz Abu Syuqqah ketika menulis KW tentu dengan harapan agar semakin banyak dari kaum muslimin, mengetahui bagaimana Islam mengatur hubungan laki2 dan wanita, mulai dari pergaulan sehari-hari, pernikahan, permasalahan yang terkait dengan pernikahan, bahkan sampai kepada poligami, dan masih banyak lainnya. Tetapi lagi2 karya beliau itu ‘dimentahkan’ dengan sebuah pernyataan “bukan untuk orang awam”. Allahu Akbar Wa kafa billa hi syahida.

Itulah berbagai keanehan SPPI, berawal dari kesalahan interpretasi “tanazhur” berlanjut kepada mempropagandakan “pacaran islami” ala SPPI. Entah karena apa, kata-kata “ta’aruf” sebagai istilah Qurani untuk juga mewakili pengertian perkenalan dengan calon pasangan dianggap tidak mewakili proses perkenalan a.k.a ta’aruf sehingga katanya layak diganti. Wallahu’alam.

Berpeganglah kita semua kepada Al Quran dan Sunnah, sungguh kita tidak akan tersesat selama berpegang kepada kedua pusaka rasulullah SAW tersebut, dan banyak-banyak bertanya kepada para ulama atas hal yang belum jelas kedudukan hukumnya, insyaAllah.

Wallahu’alam, wastaghfirullah li walakum

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Advertisements

6 Comments (+add yours?)

  1. Trackback: Antara tanazhur, pacaran islami, dan ta’aruf (1) « Pacaranislamikenapa’s Weblog
  2. pacaranislamikenapa
    Sep 27, 2007 @ 00:17:21

    Dari awal saya membangun blog ini tidak ada niatan untuk berdebat, apalagi merasa paling benar. Itulah kenapa ada tulisan yang ditanggapi dan ada yang tidak. Katakanlah blog SPPI dalam pandangan saya adalah sebuah ‘kumpulan wacana aneh’ yang mendasarkannya pada karya Ustadz Abu Syuqqah (tidak berlebihan jika saya katakan Ustadz Abu Syuqqah adalah salah satu diantara murabbi dan masyaikh kami, termasuk diantaranya Ustadz Yusuf Qardawi dan banyak lainnya), maka blog ini saya harap bisa memberikan sedikit jawaban terhadap keanehan tersebut. Bahwa adalah fakta yang nyata,Ustadz Abu Syuqqah tidak pernah mengarahkan orang2 untuk ‘berpacaran islami’ ala SPPI itu. Ditambah lagi adanya ketidakadilan ilmiah, dimana SPPI ternyata ‘memelintir’ makna nazhara itu kepada memberikan perhatian, menjauhkan makna yang dikehendaki penulis yang asli, memaksakan asumsi pribadi terhadap tulisan orang lain, atau tidak memberikan kutipan lengkap atas dalil2 yang digunakan agar pembaca juga bisa membuat pertimbangan kecuali secara sepotong2 dan banyak keanehan lainnya.

    Dan saya pikir, tidak perlu lah kita belajar ilmu mantiq untuk memahami syariat agama ini, kita punya tafsir(penjelasan ayat2) Al Quran, kita punya banyak kitab syarah hadits, ditambah lagi tulisan penjelasan2 ulama dalam banyak buku, internet dan sebagainya, dan kita sendiri pun punya akal dan nurani untuk menilai kebenaran itu sebagai kebenaran dan sebaliknya.

    Kasihan akh Adit yang dengan jujur mulai merasa ‘ragu’ dengan ide SPPI itu, dimentahkan dengan anjuran belajar ilmu mantiq. Adakah para sahabat radhiallahu’anhum itu belajar ilmu mantiq??banyak diantara para ulama2 salaf juga tidak belajar ilmu mantiq?? bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmuah Al Fatawa menjelaskan dengan gamblang bahwa filsafat, ilmu mantiq dan sejenisnya membawa kerusakan kepada masyarakat, karena kecenderungan mendahulukan akal daripada dalil syara. Tetapi bukan berarti ilmu mantiq tidak penting, ia penting selama digunakan untuk mendukung dalil2 syara. Jadi Dalil2 syara lah yang mesti diutamakan diatas akal.

    Semoga menjadi pembelajaran kita bersama
    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  3. Abu Zahra
    Sep 27, 2007 @ 05:54:02

    Ya, para shahabat dan ulama2 salaf belajar ilmu mantiq dari Rasulullah. Hanya saja, saat itu ilmu-ilmu yg disampaikan tsb tidak dinamai mantiq. Kalau kita simak bagaimana Rasul berdiskusi dengan sahabat ataupun berdebat dengan kaum kafir, maka bisa kita saksikan betapa beliau menguasai ilmu mantiq (ilmu tata-pikir).

    Sebenarnya, yang dikritik oleh Ibnu Taimiyah itu adalah kefanatikan terhadap mantiq. Begitu pula Imam Ghazali. Kedua ulama ini menguasai (bukan hanya belajar) ilmu mantiq untuk menjauhkan kita dari penyalahgunaan mantiq. (Filsafat yang ditentang pun bukan filsafat seluruhnya, tapi yang spekulatif/metafisika saja.)

    Mantiq (dan filsafat) itu seperti pisau. Bisa dipakai untuk kebaikan, tapi bisa juga untuk keburukan. Namun, jka tanpa “pisau”, maka kita tak bisa “mengiris”, sehingga menjadi sering sesat-pikir seperti postingan-postingan di bblog ini. Jadi, belajar mantiq itu mutlak perlu!

    Reply

  4. Yassin El Cordova
    Sep 29, 2007 @ 08:55:13

    Bismillahirahmanrahim

    Ilmu mantiq tu maksudnya Filsafat

    ya iyalah mang blm tau klo Pak Mushodiq kerap menggunakan cara filsafat

    Reply

  5. pacaranislamikenapa
    Sep 29, 2007 @ 16:08:28

    Assalamu’alaykum warahmatullah

    Akhuna Abu Zahra yang dirahmati Allah SWT, nama yang indah, artinya “Bapak(nya) Bunga”.

    Akh Abu Zahra, faktanya adalah…
    Pertama, ilmu mantiq sendiri ada jauh sebelum adanya Islam, konon filsafat aristoteles yang katanya mendekati kebenaran islam itu ada pada +/- 300SM. Artinya istilah mantiq itu bukan istilah yang baru. Dan tidak mungkin rasulullah SAW dan para sahabat radhiallahu’anhum tidak mengetahuinya.
    Kedua, ilmu mantiq itu tidak diragukan lagi mengarahkan orang untuk mengedepankan akal daripada dalil. Itulah kenapa banyak ulama salaf dan khalaf mewanti2 umat agar menjauhi ilmu maantiq. karena seringkali wahyu/ dalil2 qurani, ada dibelakang akal orang2 yang katanya ‘paham’ ilmu mantis. Padahal Islam mengajarkan bahwa wahyu/dalil qurani harus terlebih dahulu diletakkan sebagai petunjuk dalam membentuk kerangka berfikir, baru kemudian akal mencari pemahamannya yang sesuai. sehingga produk akal(pemikiran)yang dihasilkan pun menjadi lebih terarah dan selamat. Sebagaimana firman Allah SWT “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”(ArRuum:21). Disini jelas sekali, Allah SWT menyampaikan sebagian dari ‘ilmu’Nya, sebagian dari tanda2 kekuasan Allah SWT yang tidak mungkin bisa diketahui dengan pasti, kecuali Allah SWT sendiri yang mengabarkannya, tetapi sedikit sekali dari kita yang mau berfikir dan bersyukur terhadap nikmat2 Allah ini. Dan banyak ayat2 sejenis seperti QS al baqarah:219, QS Al’Araf:176 dll.
    Ketiga,karena itu jikalau ilmu mantiq itu memanglah penting, pastilah akan ada “khabar” yang mengatakan atau mengisyaratkan pentingnya ilmu mantiq. Isyarat saja tidak ada, maka darimana ada ‘keharusan’ untuk mempelajarinya.
    Keempat, para sahabat radhiallahu’anhum tidak pernah(setidaknya kalaupun ada, bukanlah yang utama) mempelajari ilmu mantiq, tetapi proses berfikir mereka adalah dengan menginteraksikan wahyu dengan akal. Dan “pernah” atau “tidak pernah” seseorang untuk mempelajari ilmu mantiq, tidak akan berpengaruh kepada proses berfikir yang rapi dan benar. Dasarnya tidak ada.

    Akh Abu Zahra mau belajar ilmu mantiq seperti SPPI, silahkan tidak ada yang melarang, cuma kalau untuk saya, saya belum tertarik. Nah, kembali ke konteks adanya blog ini, sederhana saja “Tunjukkan dalilmu, jika kamu adalah orang yang benar”(akhi..ini jangan dilihat sebagai tantangan lho ya, konteksnya saling mengingatkan). Jika dikatakan adanya pacaran islami karena ijtihad Ustadz Abu Syuqqah, maka buktikan dalilnya apa?? jangan kita ‘bermain2’ dengan kata2 si fulan sesat-pikir, si fulanah tidak paham, lha..lantas yang paham itu yang seperti apa?? Asumsi tanpa dalilkah yang disebut paham??atau kesimpulan dulu baru dalil2 yang tidak nyambung yang disebut paham?? ataukah berkata2 atas nama orang lain, padahal orang lain itu tidak pernah berkata2 seperti itu yang disebut pantas?? atau apa??kan lucu kalau tadinya kita berbicara tentang pacaran sekarang capek ngomongin mantiq..:), jadi silahkan kalau mau belajar mantiq, cuma saran saya, nanti dulu, beragamanya dibenahi dulu,wallahu’alam

    Semoga bisa menjadi perenungan bersama.
    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  6. SulyKasmaja
    Dec 09, 2009 @ 10:34:38

    pak sodik itu ada misi terselubung, wallahu’alam, jk awam yg membacanya pastilah bnyk yg salah penafsirannya, nauzubillahimindzalik

    admin:
    Mudah2an niat beliau tulus, semata-mata karena Allah SWT :). Hanya saja, niat yang baik tidaklah cukup untuk menjadikan sebuah amalan itu bernilai benar dalam pandangan agama. Artinya, dasar pemikirannya, dalil yang digunakan, harus tidak bertentangan dengan dalil2 itu sendiri, dan penjelasan para ulama yang hanif. Selebihnya kita kembalikan kepada fitrah hati kita, insyaAllah hati akan berkata jujur, dan memilih yang benar. Persoalannya kemudian apakah kata hati yang kita menangkan, ataukah nafsu syahwat yang justru kita menangkan? :).

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: