Yakinlah Bersama Kebenaran, Meski Sendirian

Barangsiapa yang mengaku benar dalam suatu hal, maka ia harus memegangnya dan mengungkapkannya dengan bukti-bukti kebenaran”(Abul Hasan Ali Bin Ibrahim Al Hushri)
(Tarbawi, edisi 160 th.8/3 agustus 2007M)

Pemuda itu bingung sekali. Setelah makan buah apel yang ia petik ia baru sadar, bahwa ia telah makan sesuatu milik orang lain tanpa izin. Kisahnya bermula saat lapar betul2 menyerang. Pemuda miskin yang taat itu sedang menuntut ilmu. Karena tak punya apa2, ia keluar mencari apa yang bisa mengganjal rasa laparnya yang sangat. Ditengah jalan, ada kebun apel yang salah satu pohonnya menjulur ke jalanan. Ia petik satu dan ia makan.

Sesampai di rumah, ia berfikir, bagaimana mungkin ia memakan sesuatu yang bukan miliknya? Bagaimana mungkin ia makan milik orang lain tanpa izin pemiliknya? Itulah keyakinannya. Itulah kebenaran yang dianutnya. Maka ia menysuri jalan mencari tahu siapa gerangan pemilik kebun apel itu. Ia ingin menebusnya, mendapat kerelaannya.

Bisa saja ia tak peduli. Toh, ia memakan satu saja. Tapi ia meyakini bahwa tidak ada barang yang tak punya tuan. Meski silsilah dan riwayat pertuanan atas barang itu sangat panjang dan berujung jauh. Maka kepemilikan orang lain tidak boleh pindah ke tangannya tanpa kerelaan. Akhirnya ia menemukan pemilik kebun apel itu. Perjalanan yang melelahkan telah ia tempuh. Maka ia pun menyampaikan maksud dan tujuannya dating. “Saya siap menerima hukuman apapun dari tuan. Yang penting tian ridha dengan saya dan mengikhlaskan apel yang saya makan” kata lelaki itu.

“Tidak bisa, aku akan menuntut kamu di akhirat kelak” jawab pemilik kebun. Pemuda itu terus memohon, tak terasa air matanya menetes, ia menangis. “Relakanlah tuan, saya mau melakukan pekerjaan apa saja, asal tuan merelakan apel yang saya makan”. Pemilik kebun itu bergeming dengan keputusannya, lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan pemuda itu diluar. Pemuda itu tetap mengharap kerelaan pemilik kebun itu. Ia menantikan saat sholat ahshar tiba, pasti pemilik kebun itu keluar rumah.

Menjelang ashar, pemilik kebun itu keluar dan mendapati pemuda itu masih menunggu. Air matanya masih mengalir. Pemuda itu menangis dan tapi raut wajahnya terlihat bercahaya. Ya, ia memang mengejar kerelaan dari pemilik kebun, tetapi sejatinya ia mengejar kehalalan sihadapan Allah SWT. “Tuan, biarlah saya bekerja diokebun tuan diseluruh sisa umur saya tanpa harus dibayar, asal tuanmemafkan saya” pinta pemuda itu sekali lagi. Setelah berfikir sejenak, tuan itu berkata “anak muda, aku mau merelakan dan memaafkan kamu. Tapi syaratnya kamu harus menikah dengan putri saya”.

“menikah??”…”Ya, tapi perlu kamu ketahui, putriku itu buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Bertahun-tahun aku mencari pemuda yang bisa aku percaya untuk menjaga anakku dan mau menerima keadaannya yang seperti itu” jelas tuan itu. Lelaki itu bingung dan kaget. Segala perasaan berkecamuk didlam hatinya. Ia telah menempuh—sejah itu—perjalanan meminta keridhaan. Musibah kedua, begitu pikirnya. Bagaimana ia yang masih muda, sudah harus mengurus istri yang buta, tuli, bisu, dan lumpuh?? Tapi ia memilih keyakinannya. Keyakinan yang benar. Maka tak ada jalan lain kecuali menerima harga dan tebusan itu.

“baiklah, aku telah berjalan sedemikian jauh. Kalau memang harus seperti ini, semoga Allah menerima niat baikku, dan memberi ganti untukku keadaan yang leih baik” jawabnya mengiyakan perintah untuk menikah. “kalau begitu kamis depan pelaksanaannya, dan aku yang akan mananggung maharnya” lanjut tuan itu. Setelah prosesi pernikahan selesai, lelaki itu menemui istrinya. Entah seperti apa perasaan hatinya. Mungkin ia merasa betapa mahal harga sebiji apel. Menikah dengan perempuan buta? Tuli? Lumpuh ? dan bisu?.

Tapi alangkah terkejutnya pemuda itu, begitu ditemui, ternyata istrinya seorang perempuan yang cantik, tidak bisu, tidak tuli dan tidak lumpuh. Ia pun kaget dan tidak percaya apakah benar yang itu istrinya. Perempuan itu segera menyambut suaminya yang masih ragu dan canggung. Perempuan itu membenarkan bahwa dirinya memang benar istri yang dimaksud. “Tapi ayahmu bilang kamu bisu, tuli, buta, dan lumpuh?” tanya lelaki itu heran. “Aku tuli, maksudnya telingaku tidak pernah aku pakai mendengarkan hal-hal yang haram. Aku bisu, maksudnya lidahku tidak pernah aku pakai untuk berbicara yang haram. Aku buta, maksudnya mataku tidak pernah aku pakai untuk melihat hal-hal yang haram. Aku lumpuh, maksudnya kakiku tidak pernah aku pakai untuk melangkah kepada hal-hal yang haram”.

Kemudian perempuan itu melanjutkan kisahnya, “aku ini anak tunggal, sejak bertahun-tahun ayahku mencarikan suami yang shalih untukku. Ketika engkau datang meminta keridhaan untuk satu biji apel, engkau menangis karenanya, ayahku berkata ‘orang yang taku memakan satu apel yang tidak halal pasti lebih takut kepada Allah dalam menjaga anakku’. Maka selamat untukku atas kedatangan engkau sebagai suamiku, selamat untuk ayahku atas terpilihnya engkau sebagai penyambung keturunannya”. Begitulah, alngkah gembiranya perasaan lelaki itu. Ini adalah bayaran yang jauh lebih tinggi atas keteguhannya membela kebenaran. Itu adalah balasan yang sangat mahal atas keyakinannya untuk bersama yang benar. Setahun setelah menikah, laki-laki yang shalih dan perempuan terhormat itu pun dikaruniai anak. Anak itu kelak menjadi ulama besar, pendiri madzhab besar, peletak dasar-dasar fiqh besar; dialah Imam Abu Hanifah.

Tidak berlebihan bila dari tulang sulbi lelaki yang jujur pada kebenaran itu lahir anak-anak yang jujur membela dan meneguhkan kebenaran. Tidak aneh bila dari rahim perempuan yang taat itu lahir anak yang taat dan meneguhkan ketaatan kepada Allah. Kebenaran itu ada harganya. Siapa yang membayarnya dengan yakin dan sabar, Allah akan membalasnya bahkan dengan nilai yang jauh lebih besar. Rasulullah SAW menjelaskan “Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik dari apa yang ditinggalkan itu.”

Pemuda itu meninggalkan apa yang haram. Meski hanya sebiji apel. Ia memilih untuk mendapatkan keridhaan pemiliknya, meski itu harus ditempuh dengan susah payah. Maka terbukti janji Allah dan janji rasulullah, ia pun mendapat ganti yang lebih baik. Yakin dengan kebenaran itu penting, yaitu kebenaran dengan ukuran apa yang telah digariskan oleh Allah dan RasulNya. Kebenaran yang kita kenal melalui fitrah yang jujur didalam diri kita. Tapi yakin untuk selalu bersama kebenaran itu jauh lebih penting. Sebab kita memang harus meningkat dari sekedar meyakini kebenaran menjadi menyertai kebenaran itu. Dari sekedar tahu sesuatu itu benar, menjadi pembela, menyertai, dan mengikuti kebenaran itu. Pada dasarnya, dari sana sumber kebahagiaan itu dimulai. Dari legalitas jalan hidup yang kita pilih. Dari kebenarn yang kita anut, kita ikuti, lalu kita bela. Kata kuncinya ada pada kehendak yang kuat untuk memilih kebenaran itu, lalu ketahanan dan keteguhan untuk menjalaninya.

Maka menjadi pengikut kebenaran, kesulitannya bukan pada mendalaminya secara ilmu atau pengetahuan. Sebab itu bisa dipelajari. Kita bisa belajar tentang kebenaran, sedikit demi sedikit. Kita bisa mendalami kebenaran yang diajarkan agama kita atau yang kita rasakan secara jujur melalui fitrah. Tapi yang lebih sulit dari mengikuti kebenaran bukan pada ketersediaan ilmu yang menjelaskan kebenaran itu, tapi pada kemauan, tekad, dan jiwa kita sendiri. Dan, semua itu harus diawali dari keyakinan untuk mau bersama kebenaran.
Pilihan untuk bersama kebenaran itulah yang sekarang ini tengah asing dan menjadi kelangkaan dalam kehidupan bermasyarakat. Kita bisa menengok, dalam tataran politik, dipanggung kekuasaan, dalam interaksi sehari-hari, terlalu banyak orang yang mencampakkan kebenaran. Dalam etika moral, dalam berdagang dan mencari nafkah, terlalu banyak orang2 yang memilih jalan kebatilan. Terlalu banyak orang yang memilih jalan keburukan dan meninggalkan jalan kebenaran. Hidup dijalan kebenaran memerlukan kesadaran akan bedanya “rasa akhir” dan “rasa penghantar”. Kesadaran akan bedanya ‘menuju’ dengan ‘sampai’. Kesadaran akan bedanya ‘perjalanan’ dengan ‘tempat tujuan. Kesadaran akan bedanya ‘permulaan’ dan ‘kesudahan’. Kesadaran akan bedanya ‘proses’ dengan ‘hasil’.

Masing2 memiliki cara menyikapinya, cara merasakannya, juga cara menjiwainya. ‘Perjalanan’ bersama kebenaran harus dirasakan dinamikanya, tantangannya, letih lelahnya. Jiwa kita secara naluri menyukai itu semua. Sementara ‘tujuan’ harus dirasakan sebagai obat dari segala kelelahan itu. Disitu pasti ada tantangan, godaan keletihan, dan keberatan. Tapi bila kita sukses hingga titik akhir yang kita tuju, dari keseluruhan proses itu, maka tiada kebahagiaan melebihi bahagiannya orang yang sukses bersama kebenaran. Seperti kata pepatah, siapa yang melangkah diatas jalan, pasti ia akan sampai. Pemuda itu, dalam kisah diatas, adalah kisah yang sangat untuh tentang suka dan duka bersama kebenaran. Pahitnya membela keyakinan, memburu keridhaan. Pergolakan batin itulah kekuatan utamanya. Sebab setiap orang bisa saja tidak peduli, masa bodoh, dan tak perlu berlelah-lelah untuk mengejar keridhaan atas dasar kebenaran.

Sesudah itu buahnya jauh lebih manis ketimbang apel. Bahkan kebaikan yang diberikan Allah berlanjut dan bersambung. Imam Abu Hanifah, adalah tokoh besar, yang lahir dari pergulatan sang ayah membela kebenaran. Kebesaran Abu Hanifah dimulai bukan sekedar saat ia lahir, tapi dimulai jauh sebelum ia ada. Jauh ketika ayahnya memilih jalan kebenaran. Tinggal kita,bagaimana memotret keseluruhan hidup kita selama ini. Bagaimana kita menjalaninya. Selalu ada pengalaman pahit untuk dijadikan pelajaran. Sebagaimana selalu ada pengalaman manis untuk dijadikan penyemangat perjalanan. Hidup sekali, selalulah bersama kebenaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: