Melepaskan Diri dari Konsistensi Kebatilan

(tarbawi, edisi 131 th.7/11 mei 2006 M)
Sesekali kita mungkin terperangkap dalam kebatilan, itu manusiawi. Karena kita punya nafsu. Ya, nafsu yang selalu mengajak kepada kejahatan dan kemaksiatan. Kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Allah SWT. Meskipun cenderung kepada kejahatan, namun kehadiran nafsu pada diri kita tidak untuk disesali, ataupun dicerca. Sebab dengan perpaduan akal, justru disitulah letak kesempurnaan penciptaan kita sebagai manusia. Kita bukan malaikat yang hanya diberi akal tanpa nafsu, yang sepanjang hidupnya untuk beribadah tanpa sedikitpun rasa bosan, lelah, dan tak pernah membantah. Yang tidak manusiawi dalam hidup ini adalah ketika terus-menerus melakukan kebatilan demi memperturutkan hawa nafsu. Dan sangat lebih tidak manusiawi lagi bila suatu kebatilan yang kita lakukan itu terus berulang, bahkan kita seakan konsisten denganya seolah tidak terjadi apa2, dan dengan santai masih bisa tertawa lepas, senang dan bahagia.

Padahal kita bukanlah hewan yang hanya diberi nafsu tanpa akal, yang hidupnya hanya sekedar untuk makan, tidur, dan berkembang biak. Hanya keledai, hewan yang sering dijadikan simbol kedunguan, yang terbiasa terperosok berulang kali ke dalam sebuah lubang yang sama. Kita diciptakan dengan sistem keseimbangan yang sangat luar biasa agar kita dapat menata diri kita masing2 sukses memadukan antara nafsu dan akal. Sukses meraih kebahagiaan hakiki, dan sukses mendapatkan tempat yang istimewa disisi Allah Yang maha Tinggi. Karena itu kita tidak boleh berlama-lama ketika terperangkap dalam sebuah kebatilan. Kita mesti bebas, melepaskan diri dari belengguny

Tidak Ada Dosa kecil jika Terus-Menerus Dilakukan
Kebatilan itu, sekecil apapun ia tetaplah kebatilan. Pasti ada konsekuensinya. Sebab Allah telah menegaskan “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat(balasan)nya pula”. Akan tetapi, tidak ada kebatilan yang kecil jika ia terus menerus dilakukan. Ini menyangkut sikap kita memperlakukan kebatilan. Karena seringkali kita hanya memandang sebuah kebatilan dari sisi lahirnya saja, lantas melupakan esensinya sebagai satu bentuk penentangan yang suatu saat mendapatkan ganjaran dosa. Seperti kata seorang ulama mengingatkan ‘janganlah kamu melihat besar kecilnya dosa yang kamu lakukan, tetapi lihatlah betapa besarnya Dzat yang kamu tentang.’

Meremehkan kebatilan adalah sikap yang sungguh sangat salah. Karena sebenarnya itulah awal datangnya keberanian melakukan kebatilan berikutnya, selain bahwa kita juga tidak pernah tahu bagaimana Allah mengganjar perilaku buruk kita itu. Bisa jadi bentuk balasannya seperti yang dikatakan Ali Al Muyazzin ‘Dosa yang dilakukan setelah berbuat dosa merupakan siksaan dari dosa yang pertama. Demikian pula sebaliknya, kebaikan yang dilakukan setelah berbuat baik merupakan pahala dari kebaikan yang pertama’. Dan mungkin karena itu pula maka Rasulullah SAW pernah mengingatkan kepada Ali bin Abi Thalib agar berhati-hati ketika melihat sesuatu yang diharamkan tanpa sengaja. Beliau bersabda kepada menantunya itu, “Wahai Ali, janganlah kamu mengiringi pandangan dengan pandangan, karena sesungguhnya yang pertama adlah nikmat untukmu dan yang kedua adalah dosa atasmu”. (HR Tirmidzi)Ini adalah penegasan bahwa jangan sekali-kali mengulangi atau meremehkan kebatilan agar kita terhindar dari dampak yang lebih besar, agar tidak terbuai dengan dosa2 kecil sehingga dengan enteng kita menjadi terbiasa melakukannya.

Menyesal saja Tidak Cukup
Siapapun yang terjerumus ke dalam kebatilan, tentu punya keinginan untuk lepas darinya. Sebab kebatilan adalah belenggu, penjara, kegelisahan, dan kehampaan. Kesenangan yang kita dapatkan dari sesuatu yang batil semu eblaka. Intinya, kebatilan adalah ketersiksaan, dengan segala macam bentuknya. Tidak ada orag yang ingin berlama-lama dalam kesesatan, meski secara lahir ia terlihat senang dan bahagia. Akan tetapi, kenikmatan yang kita dapat dari kebatilan, meskipun semu selalu membuat kita terlena. Lupa diri, sehingga terkadang kita merasa tak kuasa untuk lepas darinya. Bahkan, kata Ibnu Jauzi mengingatkan “Para pelaku maksiat yang terlena dengan apa yang dilakukan membuat mereka seperti para pembangkang. Hawa nafsu mereka telah menghalangi diri mereka sendiri untuk berfikir waras, hingga mereka tak memahami apa yang sebenarnya mereka lakukan. Yang ada dalam benaknya hanyalah satu hal : memuaskan syahwat”.
Dan jika kita membiarkan diri ini terus menerus dalam kebatilan itu suatu saat nurani akan buta.

Kebatilan bisa dianggap sebagai sesuatu yang baik dan bermanfaat.
Seperti dikatakan Muhammad Al Washiti “Orang2 yang terbiasa dengan kebatilan, mereka menganggap keburukan perilaku adalah suatu ketulusan, kerakusan adalah kesenangan, cita2 yang rendah adalah ketabahan, sehingga mereka buta dari jalan, dan melalui jalan kesempitan. Akibatnya tidak ada kehidupan yang berkembang ditengah2 mereka, tidak ada ibadah yang mensucikan amal mereka.” Jika sudah demikian, semakin sulitlah kita keluar dari kebatilan.

Koreksi kembali kualitas Ibadah Kita
Konsisten dengan kebatilan tidak selalu ditunjukkan oleh orang2 yang minim ‘spiritual’. Mungkin kita pernah terheran-heran melihat orang yang kita kenal rajin beribadah, bahkan kuantitas ibadahnya mengalahkan banyak orang, namun ia tetap konsisten dengan kebatilan. Bukan itu saja, terkadang ibadah yang dilakukannya terlihat begitu khusyu, dan tak jarang diiringi deraian air mata dan tangis bergemuruh. Itu bisa saja terjadi. Sebab rasa penyesalan kita pada suatu kesalahan kadang muncul begitu kuat, bersamaan dengan lahirnya rasa takut kepada Allah SWt yang mendorong kita untuk segera bertaubat, namun ia dapat pula menguap kembali. Disini, kualitas ibadah menjadi penting untuk kita cermati, agar kita dapat meneropong dan menemukan sebab2 mengapa kita tetap saja konsisten dengan kebatilan. Mungkin ibadah yang kita kerjakan belum sempurna. Disana-sini masih terdapat banyak kekurangan yang tidak kita sadari, yang sesungguhnya bisa mengakibatkan ibadah dan amal kita sia2. Dalil2 qath’I dari Al Quran dan hadits cukup banyak yang menerangkan keterkaitan ibadah yang benar dengan jauhnya kemungkaran dari perilaku kita. Antara lain, firman Allah “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan2 keji dan munkar” (QS Al Ankabut:45). Allah juga berfirman “hai orang2 yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang2 sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS Al Baqarah :183)
Makna zhahir ayat diatas adalah, apabila shalat dikerjakan dengan baik dan sempurna akan menjauhkan kita dari perilaku2 yang batil. Begitu pula puasa yang membentuk manusia taqwa. Orang yang bertaqwa juga akan dijauhkan dari kemunkaran. Maka ketika ibadah2 itu belum mampu membentengi kita dari kebatilan, mungkin kita perlu memastikan kehalalan setiap makanan yang kita konsumsi, kebersihan pakaian yang kita pakai, tempat yang kita gunakan, dan segala sesuatu yang menjadi sarana kita melakukan ibadah, barangkali disana ada hak2 yang menyangkut orang lain. Mungkin juga kita perlu melihat apakah ibadah itu sudah kita lakukan dengan ikhlas, atau sekedar agar kita terbebas dari kewajiban. Semua akan berpengaruh kepada sikap dan tingkah laku keseharian kita. Kesalahan yang terus berulang seringkali penyebab utamanya adalah orientasi kita yang salah terhadap dunia. Inilah yang membuat mata kita buta, lupa diri, salah orientasi dan menjadi manusia aneh ayng konsisten denan kebatilan. Seperti kata Ibnul jauzi, “barangsiapa yang berfikir dalam2 dan seksama tentang akhir kehidupan dunia, ia akan senantia waspada.barangsiapa yang yakin akan betapa panjangnya jalan yang akan ditempuh, maka ia akan menyiapkan bekal sebaik2nya. Alangkah anehnya manusia yang yakin akan sesuatu, namun ia melupakan dan betapa anehnya mereka yang mengetahui bahaya sesuatu, namun ia juga menutup mata.”
Karena itu dunia harus kita tempatkan ditangan bukan dihati. Sebab kata Abdurrahman Ad Darani “jika dunia telah menempati hati seseorang, maka akhirat akan pergi darinya.”

Jaga Selalu Kebersihan dan Kesehatan Hati
Hati adalah organ yang paling vital dalam tubuh kita> Meskipun hanya terbentuk dari segumpal daging yang tak pernah kita lihat, tapi ia menjadi penentu segala kebaikan dalam hidup kita. Ia ibarat shalat dalam keseluruhan amal. Rasulullah pernah bersabda “Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari amal seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila sholatnya baik maka ia telah beruntung dan berhasil, namun jika sholatnya rusak maka ia telah gagal dan merugi “(HR Tirmidzi)
Hadits diatas seakan mirip dengan hadits beliau SAW yang menyebutkan kedudukan hati diantara keseluruhan anggota tubuh kita. Beliau bersabda “ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh.” (HR Bukhari). Inilah jaminan yang pasti untuk mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan hidup. Hati harus bersih dan sehat, bukan hanya harus sehat secara fisik, tetapi yang lebih menentukan dari itu, sehat secara batin. Karena segala sesuatu yang terpikirkan oleh akal untuk melakukan suatu tindakan, atau untuk merencanakan hidup kita ke depan, pada akhirnya akan diputuskan oleh hati. Hatilah yang menentukan apakah kita akan melakukan sesuatu yang baik atau yang buruk. Sedang akal hanya memikirkan dan menimbangnya, tidak mengambil keputusan.
Ini bisa menjadi ukuran, artinya, ketika ada orang yang melakukan sebuah kebatilan, dan ternyata kebatilan itu dilakukan terus-menerus, ahtilah yang harus diperiksa pertama kali. Mungkin ia sedang sakit, berkarat, atau kotor. Sehingga harus segera diobati agar ia tidak terus menerus mengambil keputusan yang salah, dan secara konsisten pula kita melakukan tindakan yang batil. Hati memang hanya segumpal daging, tapi ia bisa berkarat seperti berkaratnya besi. Ad Darani berkata “Setiap sesuatu ada karatnya dan karat cahaya hati adalah perut yang kenyang.” Perut yang kenyang, dan apalagi jika kenyangnya karena makanan yang tidak jelas kehalalannya, maka akan mudah sekali ia berkarat. Cahayanya akan redup, dan akan sulit membedakan antara yang hak dan yang batil. Tidak heran kalau ia selalu mengambil keputusan yang salah. Tetapi ketika hati sudah demikian, Ad Darani sangat mengerti obatnya, ia berkata “Mungkin dihatiku terdapat satu titik hitam yang menyangkut orang lain dalam beberapa hari, namun aku tidak mau menerimanya kecuali dengan dua saksi yang adil : Al Quran dan Sunnah”.
Barangkali ada kebatilan yang saat ini sedang membelenggu kita, yang setiap saat kita lakukan secara konsisten, maka segeralah obati hati. Karena sumbernya mungkin ada disana. Ibrahim A Khawwash menawarkan kita obat yang sangat mujarab, yang mungkin sering kita dengar, bahkan sudah kita hapal. Katanya “Obat hati ada lima ; membaca Al Quran dengan merenungkan isinya, mengosongkan perut(puasa), bangun malam tahajjud), munajat dipenghujung malam, dan berkumpul dengan orang2 shaleh”.

Kebatilan bukanlah sesuatu yang sepele, yang suatu saat bisa kita remehkan. Ia adalah bencana dalam hidup ini. Karena itu, segalanya harus kita upayakan agar kita bisa terbebas dari belenggunya. Agar jangan sampai kita menjadi bagian dari orang2 yang konsisten dengannya.

Advertisements

4 Comments (+add yours?)

  1. fHeBiE_cUtE
    Sep 27, 2007 @ 07:30:12

    subhanallah………..^_^

    Reply

  2. Trackback: Dialog (imajinatif) antara hati dan mata « Pacaran Islami ?
  3. Trackback: » Dialog (imajinatif) antara hati dan mata My Blog
  4. Trackback: RiasaE’s Blog » Blog Archive » hati vs mata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: