Tanggapan : “Cerdiknya …”

Tanggapan : “Cerdiknya Seorang Penentang Islamisasi”

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Saya ingin mengucapkan selamat hari jadi kepada sang penggagas pacaran islami, semoga dengan bertambahnya usia, bapak semakin matang dan semakin istiqamah dalam berislam, barakallahu fikum aamiin. Doain kita juga ya pak😀.

Terima kasih kepada sang penggagas pacaran islamisasi(selanjutnya saya singkat SPPI), yang telah ‘merespon’ dengan cepat blog yang baru saya “launching” ini. Pertama, saya ingin katakan bahwa saya tidak menentang siapa-siapa🙂. Artinya saya sebagai seorang muslim, dan SPPI sebagai seorang muslim adalah saudara saya seakidah insyaAllah. Tidak bermaksud merahasiakan identitas diri apalagi berniat menyerang pribadi, saya terbuka aja. Blog ini hanyalah sebuah usaha kecil menjawab beberapa “syubhat” yang ditampilkan SPPI dalam blognya sebagai counter opini bagi orang-orang awam seperti saya dan ikhwah lainnya yang nurani kami terusik dengan cara-cara SPPI menarik kesimpulan atas dalil-dalil yang digunakan. Dan tentunya semangat yang ingin saya hadirkan adalah semangat saling nasehat-menasehati, saling ingat-mengingatkan, dan sejenisnya, cuma memang terkadang, bahasa yang saya digunakan agak “keras”, dan jika menyinggung hati SPPI, harap saya diingatkan dan saya memohon maaf yang sebesar-besarnya akan hal itu, dan semoga Allah SWT mengampuni saya, aamiin.

Kedua, saya ingin mengomentari judul SPPI yakni “Cerdiknya Seorang Penentang Islamisasi”. Singkat saja, disini saya tidak sedang ‘menentang’ islamisasi secara keseluruhan. Ada beberapa islamisasi yang perlu kita dukung seperti sistem perbankan kita, atau sistem transportasi semisal kereta dan lain-lain.Tetapi betul jika dikatakan saya penentang islamisasi pacaran, apalagi menisbatkannya pada ijtihad Ustadz Abu Syuqqah, bahkan lebih jauh mengatakan pacaran islami itu “sunnah”, “sunnah” yang mana?? na’udzubillah.

Ketiga, jika dikatakan SPPI Kutipan-kutipannya terkadang dia kemukakan secara sepotong-sepotong dan tidak lengkap, yang menimbulkan kesan ‘kuatnya’ argumentasinya. Contohnya, pada artikelnya mengenai “mencintai sebelum meminang”, ia mengutip beberapa kalimat dari buku rujukan kami, Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, Jilid 5, hlm. 71-78. Dari situ, ia berkesimpulan bahwa untuk pra-nikah, Abu Syuqqah hanya membolehkan perasaan cinta”, mungkin yang dimaksudkan SPPI kutipan yang sepotong2 adalah komentar-komentar saya yang berhuruf miring yang saya sisipkan diantara kutipan tulisan Ustadz Abu Syuqqah tersebut, kalau kutipan tulisannya sendiri lengkap dari hal 71 – 78 kecuali pada paragraf yang menyingung suami dan istri, sengaja tidak saya tampilkan (silahkan dicek kembali). Tentu setiap orang yang membaca tulisan orang lain semisal Ustadz Abu Syuqqah harus menarik kesimpulan dari apa yang dibaca, dan sungguh saya belum menemukan adanya arah tulisan sang Ustadz yang mengarahkan pemahaman kita kepada aktifitas pacaran karena berulang kali sang Ustadz menyatakan dalam tulisannya untuk menjauhi perkara haram dan bersegera untuk menikah. Justru kutipan-kutipan SPPI lah yang sepotong-potong dengan pemahaman yang parsial, tidak menyatu dengan firman Allah SWT surat Al Isra:32. Memahami hadits tentu jangan sampai menyalahi Al Quran, karena kedudukan Al Quran itu utama, dan hadits itu mengikutinya.

Keempat, meskipun ada kata “bercinta” pada hal 79, bukan berarti bercinta itu adalah berpacaran ala SPPI. Ini yang saya maksudkan dengan kesimpulan yang parsial dan tidak utuh, jika diawal-awal sang Ustadz Abu Syuqqah mengatakan bahwa cinta itu fitrah, dan pemenuhan fitrah itu tidak mesti tidak.. harus dengan pernikahan, dimana tahapan ke arah itu diawali dengan perkenalan(ta’aruf), akad nikah dan resepsi, serta bagaimana bingkai pernikahan ini yang harus menjadi titik tolak cinta yang suci (hal. 71 -78), apakah kemudian ketika ada kalimat “bercinta sebelum meminang” hal.79 malah diartikan sebagai bolehnya aktifitas berpacaran?? darimana ujug-ujug bisa menyimpulkan seperti itu, jika sebelumnya sudah salah kaprah?? Itulah kenapa halaman 79-81 itu tidak ana kutip, karena jelas sudah bahwa ekspresi cinta yang ditolerir Ustadz Abu Syuqqah pada saat ta’aruf itu adalah dalam koridor yang dibenarkan oleh syariat. Para “ta’arufers”(ini istilah maksa ya :D) akan dengan sekuat tenaga menahan pandangan, menjaga pembicaraan, mengadakan pertemuan ditemani dengan muhrim, dan lain sebagainya meski hati sulit untuk dibohongi adanya selalu rasa ingin dekat dengan ‘sang kekasih’. Tetapi tidak kemudian menjadi seperti dalam bayangan SPPI, jalan2 ke pabrik, berdua2an, ngobrol sayang2an, puasa2 bukannya banyak tilawah dan ibadah mahdah lainnya malah asyik masyuk pacaran dan lain2.

Kelima, SPPI berkata “…Penyebutan kata “di antara” itu menandakan bahwa lamaran (khitbah) itu bukanlah satu-satunya pendahuluan perkawinan. Pendahuluan lainnya itu diantaranya ialah ‘bercinta sebelum khitbah’ (hlm. 72-79) alias ‘pacaran islami’. Jadi, kelirulah kesimpulan dia lantaran belum memahami gagasan Abu Syuqqah secara utuh.” Baiknya kita lihat kutipan lengkap kalimat yang dimaksud setelah Ustadz Abu Syuqqah menegaskan bahwa untuk mewujudkan kecenderungan laki2 dan wanita, keinginan bersahabat, dan menjadi sandaran satu dengan lainnya adalah hanya melalui pernikahan, dimana Ustadz melanjutkan dengan Diantara pendahuluan perkawinan ialah si laki-laki mengajukan lamaran atau pinangan kepada wanita sebagaimana yang biasa terjadi, atau wanita yang maju mencari calon suami, namun hal ini jarang terjadi—sebagaimana sudah kami sebutkan sebelumnya—dan kedua cara ini dibenarkan syara’. Boleh jadi, kemauannya itu semata-mata ingin kawin dengan wanita dari keluarga baik-baik, tanpa mengetahui calon istrinya terlebih dahulu, dan mungkin juga kemaunannya itu karena tertarik dan menaruh hormat. Dan kadang-kadang –dan hal ini jarang terjadi—karena memang kecenderungan hati dan hawa nafsu. Allah mengetahui apa yang berputar dalam akal dan tersimpan dalam hati manusia. Masing-masing memiliki dalil sandarannya.”

SPPI berkata bahwa pendahuluan perkawinan itu laki-laki melamar wanita(hal.72) adalah bercinta sebelum meminang(loncat ke hal.79). Padahal yang dimaksudkan dengan pendahuluan perkawinan itu selain laki-laki melawar wanita kadang-kadang wanita yang melamar laki-laki, ini lah yang dibenarkan oleh syariat, dimana masing-masing model pendahuluan(lamaran dari laki2/ wanita) memiliki dalilnya sendiri-sendiri. Dan sekali lagi saya katakan bahwa kalimat “bercinta bla..bla” (hal. 79) tidak dimaksudkan sebagai bagian dari pendahuluan perkawinan, apalagi pembenaran terhadap aktifitas pacaran, tetapi lebih kepada sebuah kesimpulan bahwa menunjukkan cinta dalam masa ta’aruf itu boleh selama batasan2 syariat tetap dijaga, seperti menahan pandangan, membatasi pembicaraan pada hal2 yang penting tetapi tetap santai, kalaupun bertemu ada mahromnya disitu dan lain sebagainya.

Segitu mungkin yang dapat saya tanggapi. Selebihnya yuk saya mengajak kita semua mulai baca-baca tafsir, terutama ayat yang berbicara tentang menundukkan pandangan, menjaga kemaluan, jangan mendekati zina dan sebagainya, agar nanti kita sudah punya frame bagaimana Al Quran berbicara tentang zina, kemudian baru kita telaah hadits-hadits yang kelihatannya agak bertentangan dengan ayat-ayat diatas, serta kita baca dengan baik penjelasan ulama terhadapnya. Jangan kemudian terbalik, kita senang dulu dengan pacaran ini kemudian kita cari pembenaran-pembenarannya, yang terjadi adalah dalil-dalil itu malah saling bertentangan, dan parahnya lagi dalam memutuskan pendapat mana yang kita pilih, kita justru terjebak kepada permainan kata-kata dan logika, bukan penjelasan para ulama terhadap ayat2 Allah SWT dan sunnah rasulullah SAW.

Wallahu’alam

wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

12 Comments (+add yours?)

  1. mitra w
    Sep 21, 2007 @ 04:25:53

    seru banget nih debat kusir😛

    Reply

  2. Abu Zahra
    Sep 21, 2007 @ 06:53:37

    Lebih dulu, syukron atas dimuatnya tanggapan ana ini.

    Afwan, dalam pandangan ana, akhi lah yang terjebak dalam permainan kata-kata. Sebenarnya, “taaruf dalam batasan syariat” telah diterima ustadz Shodiq sebagai “pacaran islami”. Dengan penentangan akhi di blog ini, sebetulnya akhi justru kontradiktif, menentang pendapat diri sendiri.

    Inti masalahnya,
    1) akhi belum mau mengakui bahwa “bercinta sebelum khitbah” itulah yang dimaksudkan oleh ustadz Shodiq sebagai “pacaran islami”;
    2) akhi belum bisa membedakan antara “pacaran” dan “pacaran islami”

    Reply

  3. pacaranislamikenapa
    Sep 21, 2007 @ 10:00:36

    Wa iyya kum akhi Abu Zahra..

    Siapa yang terjebak dan siapa yang menjebak, kita serahkan kepada Allah SWT.

    Kita tentu tidak berhenti pada statement “ta’aruf batasan syariat” itu sama dengan “pacaran islami” dan lain sebagainya..

    Singkat saja, dimana-mana yang namanya ta’aruf syar’i itu ga ada laki2 dan wanita non muhrim yang hangout ke mall atau kepabrik2 seperti bayangannya SPPI, atau menganggap bahwa ramadhan adalah waktu yang pas buat hangout, sering2 ketemuan, dan sebagainya, lantas adakah antum temukan ucapan Ustadz Abu Syuqqah yang menjelaskan tahapan pendahuluan pernikahan seperti jalan2 ke mall atau ke pabrik, kecuali dengan bahasa ta’aruf yang bebas dari perkara yang tdak mubah, diantaranya mengajak wanita non muhrim jalan2 tanpa muhrimnya dan sebagainya.
    Sehingga berdasarkan contoh2 yang diberikan oleh SPPI sangat jelas :
    bahwa ta’aruf syar’i dalam KW berbeda dengan pacaran islami ala SPPI berdasarkan contoh dan fakta lapangan.

    Semoga Allah SWT menunjuki kita kebenaran yang sesungguhnya, dan doakan saya untuk bisa bersikap adil, terimakasih

    Reply

  4. kaezzar
    Sep 21, 2007 @ 15:26:02

    Assalamualaikum wr wb

    Satu pertanyaan aja…

    Menurut anda, apa arti dari tulisan abu syuqqah tentang

    Bercinta sebelum khitbah

    Wassalam

    Reply

  5. Sehabat
    Sep 22, 2007 @ 04:07:53

    Hmmm. adalah larangan hang out bersama teman? adakah larangan mencintai seseorang dan menyatakannya? adakah larangan memadu cinta sebelum menikah?
    dalil qath’i tentunya bukan tafsir apalagi pendapat ulama Anda, dalam muamalah, cukuplah semua boleh asal tidak dilarang.

    Reply

  6. pacaranislamikenapa
    Sep 23, 2007 @ 07:52:00

    @kaezzar
    Wa’alaykumussalam warahmatullah
    Kalimat “bercinta sebelum khitbah’ pada hal.79 harus dipahami secara utuh, karena kalimat itu adalah sebuah kesimpulan setelah sebelumnya dijelaskan secara lengkap di hal 71-78 oleh ustadz Abu Syuqqah (selengkapnya baca kembali “mencintai sebelum khitbah/melamar”) bahwa yang dimaksud dengan bolehnya bercinta sebelum khitbah adalah sebatas “..perasaan cinta dan diselingi dengan perkataan-perkataan manis yang ma’ruf, seperti mengadakan tukar pikiran dan bantuan untuk mempersiapkan rumah tangga yang bahagia? Tetapi perasaan cinta yang bagus –sebelum dilaksanakannya akad nikah—harus bersih dari persentuhan yang haram dan berduaan bersepi-sepi (kencan) yang haram, menjadi perasaan yang hangat, kegembiraan yang menyenangkan, dan cita-cita yang besar” dan ini semua dalam konteks “ta’aruf” bukan “pacaran” seperti yang diduga SPPI. Karena masih menurut ustadz Abu Syuqqah “..perkawinan itu memiliki mukadimah seperti perkenalan(ta’aruf), kemudian akad nikah, dan yang terakhir resepsi..”, tidak pernah dikatakan adanya kencan/pacaran dalam penjelasan ustadz diatas. Begitu lah yang saya pikir lebih mendekati kenyataan dan fakta yang ada, wallahu’alam.

    wassalam

    Reply

  7. pacaranislamikenapa
    Sep 23, 2007 @ 08:15:29

    @sehebat
    Dalam mu’amalah..betul sekali..ada kaidah bahwa segala sesuatu itu halal, sampai ada dalil yang menyatakan keharamannya.

    tetapi bukan berarti bahwa tidak adanya nash2 yang secara tekstual menyatakan keharaman sesuatu, maka sesuatu itu menjadi tidak haram. Sederhana saja, ketika Al Quran berbicara tentang haramnya Khamr, maka melalui hadits lah dijelaskan bahwa khamr itu adalah segala sesuatu yang menyebabkan kita mabuk, dan banyaknya menyebabkan mabuk, sedikitnya juga adalah haram. Dari dalil2 diatas maka keharaman atas McDonals mansion, topi miring, ganja, shabu, dan lain2 adalah PASTI berdasarkan dalil2 yang ada. Begitu juga dengan berpergian dengan lawan jenis tanpa muhrimnya, memandang wanita non muhrim dan lain sbgnya, adalah haram berdasarkan keterangan rasulullah SAW. Nah, penjelasan terhadap hal2 diatas tentu kita dapatkan melalui keterangan para Ulama, untuk itu selama keterangan ulama itu tidak bertentangan dengan dalil2 diatasnya(Al Quran dan Hadits itu sendiri) itulah yang mesti kita pegang dan kita amalkan.

    Ada sebuah hadits untuk kita renungkan bersama ““Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “.

    (Riwayat Bukhori dan Muslim)

    wassalam

    Reply

  8. kaezzar
    Sep 23, 2007 @ 15:40:24

    >>…harus bersih dari persentuhan yang haram dan berduaan bersepi-sepi (kencan) yang haram…>>

    Inilah salah satu kekurangtepatan anda dalam memandang masalah pacaran…

    Hindarilah generalisir

    Di dalam kenyataannya, banyak yg pacaran tapi g pegang2an…g bersepi2…g kissing ataw ML…lalu di mana letak keharaman pacaran itu…

    Wassalam

    Reply

  9. pacaranislamikenapa
    Sep 23, 2007 @ 16:50:50

    Wa’alaykumussalam warahmatullahi

    pertanyaan saya satu, adakah anda tidak mempercayai rasulullah SAW tatkala bersabda ““Setiap anak adam telah ditulis baginya bagian dari zina. Ia pasti melakukannya tanpa bisa dihindari, zina mata adalah memandang, zina lisan adalah berbicara, zina telinga adalah mendengar, zina tangan adalah menggunakannya, zina kaki adalah melangkah, jiwa berharap dan berhasrat, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakannya”(HR Bukhari dan Muslim).

    Tidak saya juga anda, pasti pernah melakukan zina kecil tadi, tetapi sejauh mana kita berusaha untuk menghindarinya??Disitu lah kepatuhan atau ketaatan kita kepada perintah Allah SWT untuk menahan pandangan diuji. jika kita menutup pintu kearah itu, selamatlah kita dari fitnah zina, jika kemudian kita buka, maka bersiap-siaplah dengan konsekuensi hadits diatas.

    Semoga Allah SWT memberikan kita hidayah, karena tidaklah hidayah itu masuk kedalam hati2 kita, kecuali atas kehendak Allah SWT, aamiin, wallahu’alam

    Reply

  10. nani
    Jul 05, 2008 @ 07:02:26

    hm…..,
    kesimpulan n solusinya gimana dong???

    admin: kesimpulannya..yuk kita benahi keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah sedikit demi sedikit. Solusinya, belajar Islam kepada ahlinya..mulai menghitung-hitung amal baik dan buruk kita..dan mulai memperbaiki diri dari hal-hal yang paling kecil, sebagai contoh dalam pergaulan sehari-hari. Ada banyak hal, atau panduan dari Islam yang terkait dengan pergaulan kita sehari-hari, bagaimana bergaul dengan orang tua atau yang lebih tua, bergaul dengan seusia, bergaul dengan lawan jenis, dsbnya. Kita pelajari dengan baik, kemudian kita amalkan dan kita ‘tularkan’ ke lingkungan disekitar kita, insyaAllah.

    Reply

  11. Akhina Ifa
    Jul 18, 2008 @ 14:38:37

    Assalmualaikum

    @ Kaezar dalam:
    Di dalam kenyataannya, banyak yg pacaran tapi g pegang2an…g bersepi2…g kissing ataw ML…lalu di mana letak keharaman pacaran itu…

    Saya:
    Namun berapa banyak sakit hati yang melanda kaum muda2xi??
    Apakah tidak terpikirkan?
    Afwan

    Reply

  12. Janggut_naga83
    Jul 19, 2008 @ 09:42:20

    Assalamu`alaikum Wr WB

    Ohya saya ada pemikiran sedikit

    Pacaran mau yang gk Islami ato yang dipaksa-paksain Islami sangat erat kaitannya dengan Khalwat

    Jangan salah meskipun gak ada pegang2an, atau tatap-tatapan daya khayal sangat kuat lho.. sms-an nd Tlp2an termasuk Khalwat…

    So Hati-hati dengan tipu daya setan dari jin dan setan-setan pengusung pergaulan bebas, sekularis, Hedonis, Liberalis yang berasal dari Zionis atau antek-antek mereka.

    Gelaran ustadz ato haji bukan berarti mereka mendakwahkan kebenaran lho…

    Senantiasa kritis ok…

    Semoga Allaah menjaga serta mengampuni kita .. Amiin

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: