Mencintai Sebelum Meminang…?

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh 

(kutipan penting dari buku Kebebasan Wanita Jilid 5 halaman 71 – 78 karya Al Ustadz Abdul Halim Abu Syuqqah, yang sering dijadikan rujukan oleh sang penggagas pacaran islami serta mengupas mis-interpretasi sang penggagas dalam memaknai perkataan Al Ustadz Abu Syuqqah).

Mencintai Sebelum Meminang, Apakah Dibenarkan? 

 

Diantara fitrah yang diciptakan Allah pada manusia ialah adanya kecenderungan laki-laki kepada wanita dan keinginannya untuk bersahabat dengannya dan mencari ketenangan dan ketentraman padanya. Demikian pula kecenderungan wanita kepada laki-laki dan keinginannya untuk bersahabat dengannya dan menjadikannya sebagai sandaran baginya. Untuk mewujudkan semua itu Allah telah mensyariatkan jalan yang lurus yaitu perkawinan.

(komentar : Al ustadz Abu Syuqqah diawal-awal tulisan telah menyatakan dengan tegas bahwa keinginan fitrah ketertarikan antara laki-laki dan wanita hanya dapat diwujudkan bukan dengan berpacaran tetapi dengan perkawinan karena inilah yang disyariatkan oleh Allah).

 

Diantara pendahuluan perkawinan ialah si laki-laki mengajukan lamaran atau pinangan kepada wanita sebagaimana yang biasa terjadi, atau wanita yang maju mencari calon suami, namun hal ini jarang terjadi—sebagaimana sudah kami sebutkan sebelumnya—dan kedua cara ini dibenarkan syara’. Boleh jadi, kemauannya itu semata-mata ingin kawin dengan wanita dari keluarga baik-baik, tanpa mengetahui calon istrinya terlebih dahulu, dan mungkin juga kemaunannya itu karena tertarik dan menaruh hormat. Dan kadang-kadang –dan hal ini jarang terjadi—karena memang kecenderungan hati dan hawa nafsu. Allah mengetahui apa yang berputar dalam akal dan tersimpan dalam hati manusia. Masing-masing memiliki dalil sandarannya.

 

  1. Kecenderungan Hati dan Cinta kepada Wanita Tertentu

Dari Ibnu Abbas bahawa seorang laki2 datang kepada Nabi SAW lalu dia berkata, ‘ Kami memelihara seorang anak perempuan yatim, ia dilamar oleh seorang laki2 yang miskin dan seorang laki2 yang kaya, sedang anak itu suka kepada yang miskin tetapi kami suka kepada yang kaya”. Maka Rasulullah SAW bersabda “Tidak terlihat diantara dua orang yang saling mencintai (sesuatu yang sangat menyenangkan) seperti perkawinan” (HR Ibnu Majah)

  1. Keinginan Kawin dengan Laki-laki yang Shaleh

Dari Sa’id bin Khalid bahwa Ummu Hakim binti Qarizh berkata kepada Abdur Rahman bin Auf, “ Aku telah dilamar oleh beberapa orang laki2, maka kawinkanlah aku dengan siapa saja yang engkau pandang layak diantara mereka” Abdur Rahman bertanya “ Engkau serahkan urusan ini kepadaku?” Dia menjawab “Ya” Abdur Rahman berkata “Aku kawinkan engkau” (HR Ibnu Sa’ad Fathul bari juz 11 hal. 122)

  1. Kecenderungan Hati dan Cinta kepada Laki-laki tertentu

Disini berlaku hadits “Tidak terlihat diantara dua orang yang saling mencintai (sesuatu yang sangat menyenangkan) seperti perkawinan” yang baru saja kami sebutkan diatas, karena hadits itu menetapkan adanya seorang wanita yang jatuh cinta kepada laki-laki miskin. Mengenai makna ini Al Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam mensyarahkan hadits tentang wnaita yang menghibahkan (memberikan) dirinya (yang haditsnya dan syarahnya telah kami sebutkan dimuka) ‘..dan bahwa wanita yang menginginkan kawin dengan laki-laki yang lebih tinggi kedudukan daripada dirinya, tidak tercela sama sekali. Lebih-lebih jika terdapat tujuan yang benar dan maksud yang baik, mungkin kelebihan agama laki2 yang dipinangnya, atau karena ia cinta kepadanya yang kalau didiamkan(komentar: dimaksudkan didiamkan adalah tidak segera dikawinkan, solusinya lagi-lagi adalah perkawinan bukan dengan berpacaran) maka dikhawatirkan akan terjatuh ke dalam hal2 yang terlarang(komentar: terlarang disini adalah perkara-perkara yang mendekati zina layaknya mereka yang berpacaran)”.

 

Beberapa Patokan Bolehnya Mencintai Sebelum Meminang

 Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW mengirim satu pasukan lalu mereka mendapatkan rampasan yang diantaranya terdapat seorang laki-laki. Laki2 itu berkata, “Aku tidak termasuk golongan mereka. Aku hanya jatuh cinta kepada seorang wanita, lalu aku mengikutinya. Maka biarlah aku memandang kepadanya, kemudian anda lakukan kepadaku apa yang anda inginkan” Lalu dia datang kepada wanita yang tinggi berkulit coklat, lantas dia berkata kepadanya, “Menyerahlah engkau wahai orang Hubaisy sebelum hidupmu melayang, bagaimana pendapatmu seandainya aku mengikutimu, dan kutemui kamu dirumah kecil suatu kaum, atau kutemui kamu dilembah sempit antara dua gunung, apakah tidak dibenarkan bahwa telah tiba saatnya orang yang jatuh cinta berjalan pada awal malam, tengah malam dan tengah hari?” Wanita itu menjawab “Ya, aku tebus dirimu” Lalu mereka mengajukan laki2 itu dan menebas lehernya. Lalu datanglah wanita itu, lantas ia jatuh diatasnya, lalu menarik nafas sekali atau dua kali, kemudian meninggal dunia. Setelah mereka bertemu rasulullah SAW, mereka menginformasikan hal itu kepada beliau, lalu rasulullah SAW berkata, “Apakah diantara kalian tidak ada orang yang penyayang?” (HR Ath Thabrani) (komentar : hadits ini dinyatakan oleh sang penggagas pacaran islami sebagai satu2nya dalil utama dibolehkannya bahkan di’sunnah’kannya berpacaran islami ala penggagas) 

Hal ini menunjukkan bahwa perasaan cinta (komentar: disini dikatakan perasaan cinta, bukan bercinta layaknya orang berpacaran) jika tidak mendatangkan mafsadah (komentar: mafsadah atau keburukan yang dikhawatirkan oleh Ustadz Abu Syuqqah tidak lain dan tidak bukan adalah perbuatan yang mendekati zina. Apa saja itu?? Rasulullah SAW menjelaskan dalam sabdanya “Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata itu bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan. Kaki itu bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah. Tangan itu bisa berzina dan zinanya adalah memegang. Hati zinanya dengan berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya” HR Imam Bukhari, Muslim, Annasa’I, dan Abu Dawud) tidaklah berdosa. Perhatikanlah bagaimana antusiasme (keinginan) para sahabat untuk menginformasikan kepada rasulullah SAW tentang kisah kedua orang yang dilanda cinta itu, dan perhatikan pula bagaimana rasulullah SAW mendengarkan ceritanya dengan lengkap, kemudian beliau menampakkan belas kasihnya kepada kedua orang yang sedang dilanda cinta itu serta mengingkari perbuatan sahabat-sahabat beliau seraya bersabda “, “Apakah diantara kalian tidak ada orang yang penyayang?”.

Sesungguhnya cinta laki2 kepada wanita dan cinta wanita kepada laki2 adalah perasaan yang manusiawi, yang bersumber dari asal fitrah yang diciptakan Allah didalam jiwa manusia, yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya. Kecenderungan ini beserta hal-hal yang mengikutinya yang berupa cinta pada dasarnya bukanlah sesuatu yang kotor, karena kekotoran dan kesucian itu tergantung pada bingkai tempat bertolaknya. Maka ada bingkai yang suci dan halal, dan ada bingkai yang kotor dan haram. Yakni, cinta itu adalah perasaan yang baik dengan kebaikan tujuannya, jika tujuannya adalah kawin. Artinya, yang satu menjadikan yang satunya lagi sebagai teman perjalanan dan teman hidupnya. Maka kalau begitu, alangkah bagusnya tujuan ini. (komentar : Diatas, al ustadz Abu Syuqqah kembali mengatakan dengan tegas bahwa cinta adalah fitrah, dan bukanlah sesuatu yang kotor. Karena kotor atau tidaknya cinta itu tergantung kepada bingkainya, dengan bahasa yang lain adalah ketika sepasang manusia lain jenis (laki2 dan wanita) bercinta maka bingkai yang menjadi titik tolak cinta mereka itulah yang menunjukkan cinta mereka itu kotor atau suci. Jika bingkainya adalah pernikahan/ perkawinan maka itulah cinta yang halal, jika bukan(baca: misalakan pacaran) maka ia adalah kotor dan haram).

 

Sesungguhnya cinta itu apabila sudah menjadi perasaan manusiawi antara laki2 dan wanita, maka ia mengandung segala makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan, dan kerinduan, disamping mengandung persiapan-persiapan untuk menempuh kehidupan dikala suka dan duka, lapang dan sempit. Cinta seperti ini tidak mungkin terjadi dengan sempurna antara dua orang manusia yang berakal sehat kecuali setelah terjadi perhubungan yang mendalam dan pengalaman yang panjang, yang memungkinkan kedua belah pihak untuk saling mengenal dan mengetahui unsur-unsur yang dapat menegakkan cinta ini dan menumbuhkembangkannya. Kalau tidak begitu, maka yang terjadi hanya sekedar ketertarikan belaka terhadap unsur-unsur lahir yang tampak memukau. (*)Kami kira begitulah keadaannya ketika terjalin cinta antara seorang pria dengan seorang wanita, karena pertemuan lahir ini sah saja menjadi permulaan jalan cinta, bukan puncaknya. Yakni pertemuan itu merupakan langkah awal yang sesudah itu dilanjutkan dengan langkah-langkah berikutnya dan semakin maju hingga mencapai puncak atau kembali lagi ke halaman rumah.

(komentar : Nah..kalimat ini yang cukup sering dikutip sang penggagas pacaran islami secara parsial, kemudian menterjemahkannya sesuai dengan kehendak sang penggagas. Padahal kenyataannya sangat jauh dari apa yang diharapkan sang penggagas pacaran islami. Bahkan jika kita baca dengan jujur keseluruhan buku KW karya Ustad Abu Syuqqah ini, insyaAllah tidak satupun kalimat yang akan mengarahkan pembacanya untuk pacaran jika belum mampu menikah. Kita mulai dari kalimat (*) “kami kira begitulah…” , disitu jelas sekali ustadz Abu Syuqqah mengira tidak mungkin tidak bahwa cinta yang kuat dan sempurna itu tidak akan mungkin tanpa terjadi perhubungan yang mendalam dan pengalaman yang panjang, yang memungkinkan kedua belah pihak saling mengenal dan mengetahui unsur2 yang dapat menegakkan cinta. Perkiraan Ustadz diatas boleh jadi benar ataupun salah , tetapi perkiraan ustadz yang dinyatakan dalam kalimat “perhubungan yang mendalam dan pengalaman yang panjang” itu tidak dapat diartikan dengan bentuk “berpacaran ala SPPI”. Karena hal itu bertentangan dengan fakta-fakta yang diungkapkan oleh Al Ustadz Abu Syuqqah sendiri diawal, dimana dikatakan “untuk mewujudkan (baca:percintaan yang halal) semua itu Allah telah mensyariatkan jalan yang lurus yaitu perkawinan”. Sehingga yang dimaksudkan dengan “perhubungan yang mendalam dan pengalaman yang panjang, yang memungkinkan kedua belah pihak untuk saling mengenal dan mengetahui unsur2 yang dapat menegakkan cinta ini dan menumbuhkembangkannya “ adalah bahwa proses ta’aruf yang dilakukan oleh masing2 calon haruslah tidak dalam kondisi yang “dipaksakan” (entah dikarenakan oleh murabbi/yah atau karena desakan orang tua), tetapi ianya(proses ta’aruf tsb) mengalir dalam penjagaan syariat (dikarenakan ilmu syariat yang telah dipahami masing2 calon, serta para mediator/orang tua yang tetap memantau proses tsb), dimana masing2 calon itu kemudian merasa tenang, dan tidak merasa diburu2-i, tidak merasa ada tekanan dll dalam ta’aruf itu, sehingga dari interaksi ta’aruf syar’i yang mereka lakukan, mereka dapat mengetahui lebih jauh, lebih mendalam, dan lebih meyakinkan, terhadap diri calon yang di-ta’aruf-i, hingga mantap keinginan diri untuk menyegerakan perkawinan atau menghentikan proses ta’aruf tsb. Jadi sungguh mengigau orang yang menyatakan Ustadz Abu Syuqqah menganjurkan orang untuk berpacaran, dan jika dalam keadaan sadar sang penggagas mengucapkan hal itu(bahwa ustadz Abu Syuqqah menganjurkan berpacaran) maka ia telah berbohong atas nama Al Ustadz Abu Syuqqah, na’udzubillah.

Dan  dalam paragraph yang lain Al Ustadz menjelaskan bahwaperkawinan itu memiliki mukadimah seperti perkenalan(ta’aruf), meminang, kemudian akad nikah, dan yang terakhir resepsi. Maka apakah membahayakan jalan perkawinan –yang kadang-kadang panjang dan kadang-kadang pendek—jika jalan itu dipenuhi dengan perasaan cinta dan diselingi dengan perkataan-perkataan manis yang ma’ruf, seperti mengadakan tukar pikiran dan bantuan untuk mempersiapkan rumah tangga yang bahagia? Tetapi perasaan cinta yang bagus –sebelum dilaksanakannya akad nikah—harus bersih dari persentuhan yang haram dan berduaan bersepi-sepi (kencan / pacaran) yang haram, menjadi perasaan yang hangat, kegembiraan yang menyenangkan, dan cita-cita yang besar.

Selama perkawinan menjadi tujuannya, maka antara yang mencintai dan yang dicintai harus memiliki kadar kematangan yang sesuai, yang memungkinkan masing-masing untuk memilih dengan baik terhadap teman hidupnya. Seyogyangan perkawinan itu segera dilaksanakan dalam waktu dekat, untuk menjauhi beberapa larangan yang sering terjadi karena masa percintaan yang panjang, seperti kemungkinan megendornya perasaan salah seorang dari mereka atau terpaksa menggagalkan perkawinan dibawah tekanan keadaan, atau terjatuh –sebelum terlaksanakannya perkawinan—kedalam tindakan yang tidak mubah, (haram), yaitu masing-masing pihak melakukan apa yang tidak halal dilakukan terhadap pihak lain.

(komentar : Al Ustadz dengan gamblangnya menyatakan bahwa perkawinan itu memiliki tahapan seperti perkenalan atau istilah ‘kerennya’ ta’aruf, kemudian akad nikah, dan yang terakhir resepsi lantas dimana ada kalimat yang mengarahkan kita kepada asumsi adanya aktifitas pacaran?? Inilah fakta nyata lainnya yang menunjukkan sikap ustadz Abu Syuqqah terhadap hal ini. Dan dalam proses ta’aruf itu sendiri, sudah maklum bahwa komunikasi yang terjalin akan semakin intens mengikuti arah ta’aruf itu sendiri (yakni akad nikah). Pembicaraan tidak sekedar membicarakan baik buruk pribadi yang dita’arufi, tetapi meningkat kepada persiapan pernikahan, bahkan berbicara tentang kehidupan setelah menikah nanti, misalnya diskusi tentang nanti akan tinggal dimana? Dan lain sebagainya. Inilah yang dimaksud dengan.. dimana dalam setiap pembicaraan itu tentu tidak mengapa jika ada canda perkataan yang ma’ruf, santai, perasaan yang hangat, serta penuh kegembiraan dan tidak terlalu kaku, dan tentu dapat kita pastikan suasananya akan jauh dari berdua-duaan tanpa muhrim, apalagi adanya persentuhan antara kedua insan itu. Disamping itu, Al Ustadz juga tidak lupa mengingatkan agar mereka yang berta’aruf itu bersegera melaksanakan pernikahan karena sebagaimana yang sudah dimaklumi, proses ta’aruf syariyah yang lebih “pribadi” itu baru dilakukan setelah ada keinginan yang kuat diantara keduanya untuk melangsungkan pernikahan karena jika tidak, ta’aruf tersebut akan cenderung menjadi ajang main2 dan dikhawatirkan terjatuh kepada hal-hal yang haram, hal-hal yang tidak halal diantara keduanya, alias hal-hal yang mendekati zina layaknya mereka yang berpacaran, na’udzubillah.) 

===============================

Inilah kutipan (hal. 71 – 78) yang menjelaskan makna “bercinta sebelum meminang” menurut Ustadz Abu Syuqqah. Tidak sedikitpun Ustadz Abu Syuqqah hendak mengarahkan pembacanya kepada aktifitas “pacaran”. Ditetapkannya “bolehnya bercinta sebelum meminang” itu dalam konteks ianya sebagai perasaan fitrah yang tidak akan menimbulkan/ berpotensi mengajak kepada fitnah zina.

Semoga sang penggagas pacaran islami dan mereka yang mengamininya mau merenungi semua ini dengan hati yang jernih, dan bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa. Jujurlah karena setiap perkataan kita akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat nanti. Wallahu’alam Aquluqawlihadza fastaghfiruhu

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

 

12 Comments (+add yours?)

  1. observer
    Sep 20, 2007 @ 02:29:39

    Kutipan Anda tidak lengkap, sehingga Anda salah paham.
    Di buku tsb pada hlm. 79, jelas tertulis bolehnya BERCINTA sebelum meminang.
    Rupanya, prasangka-buruk Anda menjadikan tulisan Anda tidak obyektif.

    Reply

  2. pacaranislamikenapa
    Sep 20, 2007 @ 16:33:40

    Terima kasih mas Observer
    Kutipan saya memang saya batasi sampai halaman 78, karena itu sudah sangat mencukupi untuk berulang kali al Ustadz Abu Syuqqah mengatakan bahwa perasaan cinta itu boleh ada saat mengiringi proses ta’aruf..tetapi sangat tidak pada tempatnya jika dikatakan mereka yang berta’aruf itu sedang bercinta dalam artian berpacaran, karena mereka tahu bahwa bingkai cinta yang suci itu harus lah halal, dan itu tidak mungkin tidak harus dibingkai dalam pernikahan.

    sekali lagi terima kasih, Semoga Allah SWT menunjuki kita kebenaran itu sebagai kebenaran dan kesalahan itu sebagai kesalahan..aamiin

    Reply

  3. Abu Zahra
    Sep 21, 2007 @ 07:07:49

    Afwan, janganlah akhi terjebak dalam permainan kata-kata.

    Masalah intinya:
    akhi belum mau menerima bahwa “bercinta sebelum khitbah” itulah yang dimaksudkan oleh ustadz Shodiq sebagai “pacaran islami”; (seolah-olah akhi memaksakan pengertian bahwa yang dimaksudkan dengan “pacaran islami” adalah “pacaran yang mendekati zina”)

    Reply

  4. pacaranislamikenapa
    Sep 21, 2007 @ 09:45:04

    Thanks Abu zahra

    Sekedar mengingatkan saja, Ustadz Abu syuqqah itu besar bersama gerakan IM, siapapun yang dekat dengan pemikiran IM pasti kenal dengan Ustadz Abu Syuqqah dan bukunya Kebebasan Wanita. Dan tidaklah berlebihan jika saya katakan sebagian besar ikhwah menggunakan buku beliau dalam memandu proses ta’aruf syar’i mereka, tetapi sekali lagi saya bisa tegaskan bahwa tidak ada satu/ sekelompok dari gerakan IM indonesia khususnya yang mengkampanyekan ide “pacaran islami” ala SPPI.
    Antum baca kan keseluruhan kutipan Ustadz Abu Syuqqah diatas, yang huruf miring komentar ana,tidak ada satupun yang akan kemudian mengarahkan kita pada asumsi pacaran islami ala SPPI. Kalau ada silahkan tunjukkan dibagian mana, nanti akan kita kupas bareng2, insyaAllah

    Reply

  5. aida
    Sep 22, 2007 @ 08:04:36

    bingung……….karena rasanya semakin tidak pnunya pengangan setelah membaca ini

    Reply

  6. pacaranislamikenapa
    Sep 23, 2007 @ 07:39:34

    @aida

    anda tidak perlu bingung, pelajari islam ini secara perlahan-lahan, dan putuskan dengan mengunakan nurani.

    Rasulullah SAW bersabda “Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “.

    (Riwayat Bukhori dan Muslim)

    Berbicara cinta sejati, ketahuilah sesungguhnya segala ni’mat ini adalah dari Allah SWT, termasuk ni’mat mencintai lawan jenis, untuk itu gunakanlah bingkai yang dibenarkan oleh syariat, dan bingkai itu adalah pernikahan. Itulah sunnah yang sesungguhnya, yang dikehendaki Ustadz Abu Syuqqah

    Reply

  7. Trackback: Ekspresi cinta yang syar’i « Pacaran Islami
  8. Trackback: Tinjauan 12 Alasan Mengapa Bercinta.. « Pacaranislamikenapa’s Weblog
  9. Trackback: Tinjauan Ekspresi Cinta Yang Syar’i « Pacaranislamikenapa’s Weblog
  10. dede
    Nov 27, 2007 @ 00:37:30

    kurang lengkap (rill)……………….

    Reply

  11. M@M3h
    Jun 29, 2008 @ 15:25:25

    iya semua tu benar.
    allah swt telah ciptakan berpasangan umat manusia dalam dunia nie,,,

    Reply

  12. abdul halim
    May 07, 2009 @ 13:01:06

    mungkin menurut saya pribadi, hal semacam itu mungkin lumrah dikalangan masyarakat pada umumnya, namun toh menurut Agama sendiri tidak membenarkan adanya pacaran tersebut.
    tapi opini masyarakat saat munkin tadak asing lagi menganai pacaran atau cuma cipika-cipiki sedikit.. hal semacam itu tidak jadi masalah, munkin yang jadi maslah disini terhadap linkungan yang tidak memungkinkan terjadi adanya pacaran tersebut.
    oleh karena itu mohon diperjelas penjelasan hal semacam itu baik dari segi hukum Agama ataupun hukum Negara.

    @Abdul Halim
    Ya..ada sebagian(mungkin besar?) masyarakat kita beranggapan bahwa pacaran, cipika-cipiki, pegangan tangan diantara mahram, dsbnya dianggap sebagai suatu yang boleh..wajar atau lumrah. Tentunya bagi kita yang mengaku sebagai muslim, ‘menetapkan’ sesuatu itu halal, haram, mubah(boleh), dsbnya itu hanya dapat dikenali dengan nash agama. Itulah kenapa kita sebagai orang kebanyakan, harus bersikap adil, menyerahkan persoalan ini kepada ahlinya, kepada para ulama, untuk mendapatkan penjelasan yang benar mengenai persoalan ini. Dan ketika telah sampai kebenaran itu kepada kita, ada tugas lain menanti, yakni menyampaikan kebenaran yang kita dapat itu kepada orang yang belum mengetahuinya, dst-dstnya. Allahu’alam.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: