Tinjauan “Orang yang Sulit Menerima Kebenaran”

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Berikut adalah sebuah counter opini terhadap tulisan ini. Silahkan tulisan itu dibaca terlebih dahulu secara baik-baik dan ditelaah secara sederhana saja, insyaAllah kesimpulan yang dibuat oleh sang penulis adalah kesimpulan yang aneh sekali.

Penulis tersebut membagi 4 tipe orang yang menurutnya sulit didakwahi, diantaranya : anak nakal, remaja pemberontak, orang dewasa awam, dan ahli agama.
Keganjilan pertama, biasanya ketika orang membagi sesuatu dalam beberapa tipe, maka akan mudah dikenali apakah pembagian itu berdasarkan fase usia, ataukah berdasarkan tingkat pendidikan, ataukah berdasarkan spesialisasi dll, artinya pembagian tipe-tipe tersebut dapat dikenali latar belakangnya. Tetapi tidak dengan tulisan tersebut, dua tipe pertama berdasarkan fase usia, tetapi tipe ketiga dan keempat tidak ada hubungannya sama sekali. Bukankah seharusnya setelah anak nakal, remaja pemberontak, orang dewasa kriminal, dan kakek-kakek mafia (misalnya)?? Artinya pembagian tipe tersebut bisa kita kenali berdasarkan fase usia orang menjadi jahat. ‘Yee..itukan blog orang, ngapain ente sibuk..’ iya juga sih..makanya kita hanya bisa bilang aneh, apalagi kesimpulan akhirnya itu.

Keganjilan kedua, penulis mengatakan “Dalam pengalamanku, biasanya yang paling sulit didakwahi adalah ahli agama. Aneh, ‘kan? Ya, aku pun heran dan penasaran mengapa justru merekalah yang paling sulit didakwahi. Bukankah merekalah yang paling tahu betapa pentingnya menyambut hangat ajaran Islam secara kaffah (sepenuhnya)?”. Nah sebenarnya fitrah sang penulis sudah memahami keanehan kesimpulan yang beliau buat, tetapi wallahu’alam, faktor apa yang kemudian malah mendorong sang penulis mencari-cari alasan sebagai pembenaran atas pemikirannya yang aneh tersebut. Agar ingin lebih meyakinkan para pembacanya, sang penulis mengutip beberapa dialog beliau dengan sosok yang diakuinya sebagai ahli agama. Tetapi sekali lagi kutipan dialog yang ada pun tidak lebih seperti dialog dengan kalangan awam lainnya sehingga menjadi pertanyaan apakah benar terjadi dialog seperti itu dengan seorang ahli agama??dan siapakah ahli agama yang dimaksud??.

Pertanyaannya adalah siapa yang mendakwahi siapa?? Umumnya, mereka yang berdakwah adalah mereka yang pada sisinya ada kebenaran walau cuma satu ayat. Objek dakwahnya bisa siapa saja, apakah itu dari kalangan ahli maksiat, orang awam, ataupun para ahli agama itu sendiri. Karena agama ini nasehat, maka ketika berbicara kebenaran terkadang tidak melihat apakah dia “ahli agama” atau bukan tetapi ukurannya lebih kepada adanya kesesuaian apa yang didakwahkan itu dengan Al Quran dan Sunnah. Hanya saja mengeneralisasi “ahli agama” sebagai orang yang sulit menerima kebenaran, tentu sebuah pernyataan yang ganjil jika tidak dikatakan bathil.

Kenapa bathil?? Karena siapa lagi orang yang bisa kita mintai jawabannya terhadap perkara-perkara agama jika bukan kepada ahli agama?? Toh sang penulis tersebut juga memposisikan dirinya sebagai ahli agama, karena dalam banyak kesempatan beliau menjelaskan tentang berbagai “perkara” agama. Lantas jika memang benar cara berpikir penulis tersebut, maka penulis juga termasuk orang yang sulit didakwahi, sehingga menjadi maklum kenapa sang penulis begitu keukeuh dengan konsep pacaran islaminya.

 Ada baiknya beliau tidak melakukan generalisasi atas pengalamannya ketika berinteraksi dengan salah seorang atau dua tiga orang “ahli agama” bahwa semua ahli agama itu sulit menerima kebenaran apalagi menggiring opini orang awam untuk mendukung beliau, karena sekali lagi, kepada siapa kita bertanya perkara-perkara agama ini jika bukan kepada ahli agama??

wallahu’alam wastaghfirullah

wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

2 Comments (+add yours?)

  1. Trackback: Jangan hanya melihat apa yang tertulis! « M. Shodiq Mustika
  2. pacaranislamikenapa
    Sep 25, 2007 @ 17:17:44

    Alhamdulillah saya dinyatakan sebagai orang yang sesat-pikir lagi🙂 dalam jawaban terhadap tulisan ini.

    Katakanlah saya salah menyimpulkan, lantas apakah menurut SPPI adalah hal yang benar melakukan generalisasi terhadap ‘ahli agama’?? Beliau tidak menjelaskan ‘ahli agama’ seperti apa yang sulit menerima kebenaran itu?? apakah karena jangan2 setelah dijelaskan, beliau juga termasuk orang yang sulit didakwahi🙂, wallahu’alam. Bagi saya pribadi, ayo kita berdakwah, mengenai hasilnya kita serahkan kepada Allah, tetapi ketika ada perkara2 agama yang tidak ketahui kedudukan hukumnya, saya tidak akan ragu untuk bertanya kepada ahli agama.

    Semoga Allah SWT menunjuki kita semua kebenaran itu adalah kebenaran dan kesalahan itu adalah kesalahan.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: