Tinjauan : Ramadhan saat terbaik u/ Pacaran

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Allahu akbar..

Mari kita lihat keanehan lain yang ditampilkan oleh sang penggagas ide pacaran islami ini. Beliau berkata “Dalam pengamatanku, banyak muda-mudi belum tahu kapan saat terbaik untuk pacaran secara islami. Akibatnya, ketika saatnya tiba, kesempatan ini berlalu begitu saja. Aktivitas pacaran mereka malah lebih digiatkan pada waktu-waktu yang bukan saat terbaik.”Perhatikan ikhwah fillah kalimat-kalimat tersebut, karena dalam sebuah kesimpulan sang penggagas mengira bahwa pacaran islami itu adalah “sunnah”. Kita mengenal terminologi hadits yang mengatakan adanya ‘sunnah hasanah’(sunnah yang baik) dan ‘sunnah sayyiah’(sunnah yang buruk). Pertanyaannya menjadi “pacaran islami itu sesungguhnya termasuk sunnah yang mana??” jikalau sunnah hasanah maka harus merujuk kepada dalil-dalil Al Quran dan Hadits, dan sayangnya dalil-dalil yang digunakan untuk “menghalalkan” pacaran islami tidak satupun yang nyambung dan bahkan jauh dari maksud sebenarnya, dan itu berarti pengertian “sunnah” menurut sang penggagas hanya mengarah kepada ‘sunnah sayyiah’ atau kebiasaan yang buruk. Setidaknya, kalaupun bukan rasulullah SAW yang melakukan pacaran islami itu minimal ditampilkan riwayat adanya sahabat radhiallahu’anhum yang berpacaran dahulu sebelum menikah (dijamin pasti ga ada), nah kalau contoh rasulullah SAW saja tidak ada, contoh para sahabat ra juga tidak ada, dimana letak islaminya pacaran tersebut ??semakin yakinlah kita bahwa sunnah yang dimaksud adalah sunnah sayyiah atau sunnah yang buruk. Akankah kita mau menjerumuskan diri ke dalam kebiasaan yang buruk, na’udzubillah.

Dan celakanya, akibat dugaan sang penggagas pacaran islami ini yang menganggap pacaran islami adalah bagian dari ‘sunnah’, maka beliau mengira ramadhan lah saat terbaik untuk berpacaran. Karena dasarnya sudah salah, maka jangan heran jika kesimpulan akhirnya pun menjadi salah. Seolah-olah sebagaimana sholat sunnah yang dilakukan dibulan ramadhan bernilai pahala sholat wajib, maka berpacaran islami dibulan puasa dikhayalkan dapat mendulang pahala yang lebih dibandingkan berpacaran dibulan-bulan yang lain..weleh..weleh, na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Mungkin kita akan bertanya-tanya ‘Ni orang asal ngomong apa ngga sih??’, waw ternyata sang penggagas sudah mempersiapkan beberapa dalil(katanya) untuk mendukung pendapatnya itu, mari kita simak dalil yang dibawakan,

  • Hakikat pacaran islami adalah menjaga kesucian diri pasangan pra-nikah bagaikan sedang berpuasa. (Lihat Gaul Gaya Rasul, Bab IX, terutama Sub-Bab “Pacaran = Puasa di Musim Panas”.)

  • Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang belum mampu menikah, hendaklah mereka menjaga kesucian diri mereka, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. …” (QS an-Nur [24]: 33)

  • Rasulullah saw. bersabda, “… Dan siapa pun belum mampu [menikah], hendaklah ia berpuasa. Sesungguhnya puasa itu merupakan perisai baginya.” (HR Bukhari & Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud r.a.)

  • Rasulullah saw. bersabda, “Ketika tiba [bulan] Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah semua syetan.” (HR Bukhari & Muslim, dari Abu Hurairah r.a.).

 Jawaban atas dalil : 1. Oh..ternyata point satu sedang promosi buku “gaul gaya rasul’, btw buat ikhwah fillah yang punya, bacanya yang kritis lho ya, jangan setiap yang kita baca itu ditelan mentah-mentah🙂. Kita harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. yang baik diambil, yang buruk diingatkan, jika tidak mau ya dibuang saja. Standarnya apa?? Al Quran dan Sunnah. Lantas bagaimana memahaminya ??bisa dengan banyak bertanya kepada para ahli ilmu, yakni para ulama pewaris nabi atau dengan membaca buku-buku karya ulama-ulama tersebut.

2 & 3. Firman Allah SWT pada surat Annur:33 itu justru perintah Allah SWT kepada hamba-hambanya agar menjaga kesucian diri mereka. Seperti apakah yang dimaksud dengan menjaga kesucian diri itu? ada beberapa penjelasan, misalkan dijelaskan oleh Al Quran sendiri seperti didalam Surat Annur ayat 30 -31 yang artinya ‘Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Ternyata kesucian diri itu bagi laki-laki dapat diusahakan dengan salah duanya menahan pandangan dan memelihara kemaluan, atau bagi wanita selain kedua hal diatas ditambah lagi dengan mengenakan kain kudung (menutup rambut) hingga ke dada, atau yang biasa kita kenal dengan jilbab, tidak menampakkan perhiasan kecuali yang memang biasa nampak, kemudian ayat tersebut berisi penjelasan siapa saja yang disebut muhrim bagi seorang muslim dan muslimah. Pada dalil ketiga justru sabda rasulullah SAW yang berkenaan dengan perintah berpuasa bagi laki-laki yang belum mampu menikah adalah juga sebagai penjelasan dari ayat 33 surat Annur tersebut. Kita akan semakin termotivasi untuk menjaga kesucian diri jika sedang dalam keadaan berpuasa. Dan semua ini semakin menunjukkan bahwa pemahaman sang penggagas atas dalil-dalil yang dibawakan sangat sepotong-potong dan cenderung menyesatkan. Bagaimana tidak?? jika kemudian ayat-ayat dan hadits yang berbicara tentang menjaga kesucian diri diterjemahkan dengan anjuran agar berpacaran islami, na’udzubillah. Yang ada adalah agar kita menyegerakan menikah, dan jika belum mampu maka menjaga kesucian diri adalah prioritas amal kita, dan hal itu semua(mensucikan diri) tidak mungkin kita lakukan jika kita justru berasyik masyuk dengan pacar kita atas nama pacaran islami apalagi dibulan ramadhan, na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

4. Dalil ini berbicara tentang dibelenggunya syetan-syetan pada bulan ramadhan. Mungkin menurut sang penggagas pacaran islami, karena syetannya dibelenggu, pacarannya jadi lebih aman hehe. Kelihatannya masuk logika juga, toh biasanya yang jadi pihak ketiga ketika ada 2 insan sedang berkhalwat adalah syetan, nah sekarang syetannya sedang dibelenggu, jadi kira-kira ga ada lagi nih pihak ketiga yang bakal ‘mengganggu’ aksi pacaran islami 2 insan tadi jika dilakukan dibulan ramadhan. Tetapi ternyata jangan juga kita lupa bahwa fitrah kita sebagai manusia memiliki 2 sisi, ada sisi yang baik dan ada sisi yang buruk, ada sisi taqwa dan ada sisi fasik. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Asy Syams : 8 yang artinya “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya“. Dimana kenyataannya kecenderungan manusia itu lebih senang memilih jalan kefasikan daripada jalan ketaqwaan, contohnya mengambil sebagian dan membuang sebagian yang lain dari perintah dan larangan Allah SWT, kurang bisa bersyukur terhadap nikmat yang diberi, senang dengan maksiat dll, artinya tidak perlu syetan untuk menggoda kita, jika kita hidup tanpa panduan Al Quran dan sunnah, bisa dipastikan kita cenderung kepada jalan kefasikan tadi. Jika dikaitkan dengan aktifitas pacaran yang katanya islami itu, meski dilakukan dibulan ramadhan yang notabene syetan-syetan dibelenggu sangat mungkin untuk berubah menjadi liar dan tidak terkendali, karena sekali lagi, aktifitas pacaran islami itu sendiri telah membuka pintu-pintu zina (memandang, berpegangan tangan, khalwat, dll) dan itu berarti hanya akan semakin mengotori jiwa kita, padahal seperti yang kita ketahui bersama bulan ramadhan juga adalah bulan ampunan, alangkah meruginya mereka-mereka yang justru semakin syik-asyik berpacaran dibulan ramadhan. Dan subhanallah, semua ini cocok sekali dengan firman Allah SWT pada ayat selanjutnya yang artinya “sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (Asy Syams : 9-10).

Nah, setelah kita pahami korelasi antara dalil-dalil yang ada itu secara utuh dan tidak sepotong-potong, tidakkah kita menjadi yakin bahwa aktifitas pacaran dibulan ramadhan itu justru sangat-sangat merusak pahala kita??. Bagaimana tidak?? jika bagi mereka yang tidak pacaran saja, mereka yang mati-matian menjaga pandangan, pergaulan, dan tingkah laku, boleh jadi terkena dosa zina kecil (memandang wanita non muhrim, dll) apalagi bagi mereka yang menyengajakan diri untuk ke arah itu, seperti yang dilakukan oleh mereka-mereka yang berpacaran. Dan sungguh benar perkataan para muballigh, para ulama yang mengatakan akan menjadi sia-sia puasa mereka yang aktif berpacaran dibulan ramadhan. SMS ga puas, telpon-telponan..telpon telponan ga puas, ketemuan..ketemuan ga puas, jalan-jalan..dan seterusnya, at least kilasan-kilasan dalam hati kita, khayalan yang membayangi pikiran kita semua ada dalam pengetahuan Allah SWT dan menjadi tidak kecil dosa yang dilakukan terus menerus. Ayo donk kita jujur kepada diri kita sendiri, niscaya kita dekat dengan pertolongan Allah SWT, lagian kalau sudah jodoh pasti ga akan lari kemana, percaya deh.

“Lho kan bulan ramadhan adalah saatnya untuk berpuasa, sehingga yang berpacaran dibulan ramadhan akan lebih bisa menjaga diri, kan ada haditsnya ‘..Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa’ (pemutus syahwat) baginya.. mungkin  SPPI akan berdalih seperti ini.

Betul, dengan berpuasa (dengan niat dan cara yang benar) akan berefek memutuskan syahwat yang ada didalam diri seseorang yang melakukannya. Tetapi hal itu tidak mungkin dilakukan oleh mereka yang berpacaran. Sesuatu yang sangat paradoks sekali, saat berpuasa dimana kita harus lebih bisa menjaga diri dari aktifitas mendekati zina, justru kita malah ‘bercinta2an dengan kekasih tetap”, dengan seorang yang tidak halal bagi kita.

Disamping itu, konteks hadits itu adalah sebagai “obat” bagi mereka yang terlanjur memiliki syahwat kepada lawan jenis tetapi belum memiliki kemampuan untuk menikah. Sehingga dengan berpuasa-lah seseorang itu dapat memutuskan syahwat yang sedang melanda dirinya. Tetapi sekali lagi, “berpacaran” adalah hal lain, yang sejatinya adalah perbuatan mendekati zina karena telah membuka pintu ke arah zina, sehingga tidak dapat digandengkan dengan berpuasa, karena ke-2 hal ini sangat bertentangan. Dimana “puasa” adalah pemutus syahwat, sedangkan “berpacaran” adalah penyambung syahwat, wallahu’alam.

 Demikianlah ikhwah fillah, dari keempat dalil yang dikemukakan untuk mendukung dugaan sang penggagas bahwa saat terbaik berpacaran islami itu adalah pada saat bulan ramadhan tidak (maaf) nyambung dan tidak terbukti sama sekali, justru dalil-dalil yang dikemukakan menguatkan keyakinan kita untuk menjauhi aktifitas pacaran ala SPPI dibulan apapun, terlebih lagi dibulan ramadhan, bulan dimana kita dianjurkan untuk bersegera kembali kepada Allah SWT, banyak-banyak menghitung dosa dan meminta ampun atasnya, banyak-banyak beramal, memperbaiki segala kekurangan, dan mengganti yang buruk dengan kebaikan, bukan malah sebaliknya, bersibuk-sibuk dengan amaliyah yang malah mengotori jiwa kita. Dan yang patut diingat, laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik, bagaimana ciri-ciri mereka(laki-laki dan wanita yang baik tadi)?? Mereka adalah orang yang berusaha menjaga kesesuaian antara kata-kata dan amal agar sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan rasulNya, berusaha menjaga kesucian diri, berusaha memelihara kemaluannya, berusaha untuk menjauhi perkara-perkara yang membuka pintu zina, dan lain sebagainya, mereka lah yang dijanjikan Allah SWT mendapatkan pasangan yang sama baiknya, mereka mencintai Allah SWT dan Allah SWT pun mencintai mereka, dan sesungguhnya janji Allah SWT itu pasti.

 Wallahu’alam wastaghfirullah

wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

 

2 Comments (+add yours?)

  1. Abu Salamah
    Sep 15, 2007 @ 05:06:27

    Semoga orang2 yg menyangka bahwa “pacaran islami” itu ada, cepat2 bertaubat dan menyadari kesalahannya.

    Semoga situs ini bisa menjawab syubhat2 yg ditebarkan para penggagas pacaran Islami

    Reply

  2. pacaranislamikenapa
    Sep 25, 2007 @ 16:50:07

    Assalamu’alaykum warahmatullah

    Ternyata SPPI senang dengan istilah “sesat-pikir”, tak mengapa lah jika saya dianggap sesat-pikir, saya terima dengan senang hati, semoga ada manfaatnya🙂.

    Siapapun pasti akan memahami maksud pernyataan SPPI yang mengatakan “Dalam pengamatanku, banyak muda-mudi belum tahu kapan saat terbaik untuk pacaran secara islami. Akibatnya, ketika saatnya tiba, kesempatan ini berlalu begitu saja. Aktivitas pacaran mereka malah lebih digiatkan pada waktu-waktu yang bukan saat terbaik.Sebenarnya, saat terbaik untuk pacaran islami adalah saat puasa (terutama puasa Ramadhan)” dengan bahasa yang lain..”yuk kita giatkan pacaran dibulan ramadhan, dibandingkan bulan lainnya”. Dan saya pikir tidak seorangpun yang memiliki akal tidak menangkap maksud itu. tetapi apakah kemudian saya menyebutkan dengan mutlak bahwa yang ada hanya pacaran saja?? Tidak, saya hanya menyoroti, kenapa ketika orang lain menggiatkan tilawah, dan ibadah mahdah lainnya, SPPI malah menyarankan orang untuk menggiatkan pacaran..tanya ken..napa??

    “Lho kan bulan ramadhan adalah saatnya untuk berpuasa, sehingga yang berpacaran dibulan ramadhan akan lebih bisa menjaga diri, kan ada haditsnya ‘..Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa’ (pemutus syahwat) baginya..” jawab SPPI.

    Betul, dengan berpuasa (dengan niat dan cara yang benar) akan berefek memutuskan syahwat yang ada didalam diri seseorang yang melakukannya. Tetapi hal itu tidak mungkin dilakukan oleh mereka yang berpacaran. Sesuatu yang sangat paradoks sekali, saat berpuasa dimana kita harus lebih bisa diri dari aktifitas mendekati zina, justru kita malah ‘bercinta2an dengan kekasih tetap”, dengan seorang yang tidak halal bagi kita. Disamping itu, konteks hadits itu adalah sebagai “obat” bagi mereka yang terlanjur memiliki syahwat kepada lawan jenis tetapi belum memiliki kemampuan untuk menikah. Sehingga dengan berpuasa-lah seseorang itu dapat memutuskan syahwat yang sedang melanda dirinya. Tetapi sekali lagi, “berpacaran” adalah hal lain, yang sejatinya adalah perbuatan mendekati zina karena telah membuka pintu ke arah zina, maka tidak dapat digandengkan dengan berpuasa, 2 hal yang sangat bertentangan. Dimana “puasa” adalah pemutus syahwat, sedangkan “berpacaran” adalah penyambung syahwat, wallhu’alam.

    Saya berharap ada yang sedikit manfaat dari tulisan saya, minimal SPPI(atau yang taqlid kepada beliau) mau mereview bahwa dugaannya tentang ramadhan adalah saat terbaik untuk pacaran itu tidak didukung dengan dalil yang tepat, sehingga tidak mungkin kesimpulannya pun tepat. Atau mungkin SPPI mau mencoba mencari cari dalil yang lebih tepat lagi untuk memperbaiki artikel Bapak, bukan malah membuat tulisan yang keluar dari konteks pembahasan.

    Mungkin karena memang sudah ada motivasi tertentu oleh SPPI, sehingga seringkali kita temukan adanya kesimpulan dulu baru memaparkan dalil. Padahal dalam masalah agama, ilmu dulu baru kesimpulan, karena bukannya apa2, cenderungnya kita ini suka mencari-cari pembenaran, dan celakanya lagi dalil2 yang tidak digunakan pada tempatnya ini justru akan mengundang murka Allah SWT, tentu kita tidak mengharapkan hal ini terjadi kepada kita semua.

    Terakhir saya ucapkan terima kasih kepada SPPI atas dimuatnya komentar ini, semoga Allah SWT menunjuki kita semua kebenaran itu kebenaran dan sebaliknya,selamat shaum, wallahu’alam.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: