Tinjauan Halal Haram penggagas “Pacaran Islami”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 Sang penggagas pacaran islami mengatakan bahwa dalil-dalil yang digunakan para penentang pacaran islami bisa kuat dan bisa tidak. Lanjutnya ‘cukup kuat bila dihadapkan dengan pacaran non-islami, tetapi lemah bila dihadapkan dengan pacaran islami. Letak kelemahannya adalah penempatannya yang tidak pada tempatnya’.

 Subhanallah pendapat bapak kita ini, beliau menganggap firman Allah azza wajalla yang menyatakan “dan janganlah kamu mendekati zina” (Al Isra;32) berkenaan dengan mereka yang melakukan pacaran non islami saja, sedangkan bagi mereka yang melakukan pacaran islami maka tidak ada perasaan harus mencermati firman Allah SWT tersebut, na’udzubillah. Padahal firman Allah SWT diatas untuk semua umat, tidak terkecuali, karena begitu kejinya perbuatan zina itu bahkan perkara mendekatinya saja menyebabkan Allah SWT menurunkan ayat ini. Bagaimana mungkin jika kemudian firman Allah SWT diatas tidak untuk mereka yang melakukan pacaran islami, na’udzubillah.

Sang penggagas kemudian melanjutkan dengan beberapa artikel lanjutan yang menunjukkan bahwa beliau tidak ‘asal bunyi’ mengatakan dalil yang digunakan para penentang pacaran islami tidak pada tempatnya. Artikel-artikel itu sendiri akan mendapat respon terpisah dalam blog ini, setidaknya klaim sang penggagas pacaran islami bahwa tidak ada dalil-dalil yang qath’i yang menyatakan pacaran itu haram, batal demi fakta.

 Sekarang mari kita perhatikan hujjah yang dimiliki sang penggagas pacaran islami guna mendukung pemahamannya yang aneh ini. Sang penggagas mengatakan dalil-dalil sbg berikut,

1. Mengenai hubungan antar manusia, pernah Rasulullah saw. bersabda: “Segala yang tidak disinggung-Nya itu tergolong dalam hal-hal yang dibolehkan-Nya.” (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, hadits no. 3190) Karena pacaran tidak disinggung dalam Al-Qur’an, kehalalannya tidak mustahil. dan

2.Nabi saw. bersabda, “Kamu lebih tahu tentang urusan duniamu.” (HR Muslim) Hadits inilah yang menjadi dasar kaidah ushul fiqih yang menyatakan bahwa pokok hukum dalam urusan muamalah adalah sah (halal), sampai ada dalil (yang qath’i) yang membatalkan dan mengharamkannya. Dengan kata lain, selama tidak ada dalil yang dengan tegas mengharamkannya, maka hukumnya tidak haram. Begitu pula perihal pacaran.

Jawaban : pada point ada kaidah segala hal yang berhubungan dengan mu’amalah maka dihukumi boleh, sampai ada dalil yang menyatakan keharamannya, maka dalam hal ini kita sepakat. Tetapi berbicara tentang mu’amalah terutama yang terkait dengan hubungan laki-laki dan wanita maka banyak dalil-dalil lain yang menyatakan batasan-batasannya, seperti firman Allah SWT pada surat Al Isra: 32 yang berarti ‘ Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk’.

Mungkin kita akan bertanya-tanya apa sih yang dimaksud  dengan zina itu sendiri?? dan mungkinkah setiap anak adam itu terhindar dari zina?? Disini rasulullah SAW menjelaskan dalam sabdanya “Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah(lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.” (HR Bukhari Muslim no. 2282).

Nah..jika rasulullah SAW, sebagai satu-satunya pembawa risalah Islam ini menyatakan bahwa setiap anak adam pasti pernah melakukan zina kecil, bagaimana mungkin ada orang dizaman kini yang menyatakan dengan yakinnya bahwa pacaran islami itu tidak akan mendekati zina sedangkan didalamnya ada aktifitas pandang memandang, pegang pegangan, bonceng boncengan, dll.  Jadi sangat menyesatkan jika dikatakan karena tidak ada kalimat yang menyatakan keharaman pacaran, sehingga pacaran itu tidak bisa dihukumi Haram, karena seperti yang kita ketahui bersama, pacaran itu hanya lah sebuah istilah, yang boleh jadi ditempat yang lain, mereka memiliki istilah yang lain pula, tetapi ada beberapa hal yang pasti, yakni aktifitas pacaran itu sendiri pasti ada pandang-memandang, pegang-pegangan, dua-dua-an, rindu-merindu dll. Dan inilah yang kemudian kita kenali dan bersesuaian dengan sabda rasulullah SAW tersebut, sehingga tidak diragukan lagi bahwa pacaran apapun itu (mau “islami” apa ngga)  ke-semuanya itu dihukumi haram berdasarkan sabda rasulullah SAW diatas.

Kemudian sang penggagas melanjutkan argumentasi dalilnya sebagai berikut,

3.Pada kenyataannya, budaya pacaran (percintaan pra-nikah) sudah ada pada zaman Rasulullah. Adakah dalil dari beliau yang mengharamkannya? Ternyata, beliau sama sekali tidak pernah mewanti-wanti para sahabat untuk tidak pacaran. Beliau tidak pernah mengharamkan pacaran. Bahkan, sewaktu menjumpai fenomena pacaran, beliau tidak sekedar membiarkan fenomena ini. Beliau bersimpati kepada pelakunya dan justru mencela sekelompok sahabat yang memandang rendah pasangan tersebut. Beliau menyindir, “Tidak adakah di antara kalian orang yang penyayang?” (HR Thabrani dalam Majma’ az-Zawâid 6: 209)

Jika ingin adil maka kita bisa menggunakan logika sang penggagas ide pacaran islami, dimana dibanyak tempat bapak kita ini selalu mempertanyakan dimana letak kata pengharaman pacaran itu. Dengan logika yang sama maka kita bisa mempertanyakan kepada beliau dimana kata penghalalan pacaran dalam hadits diatas, karena masih menurut sang penggagas bahwa hadits diatas adalah dalil dihalalkannya berpacaran. Padahal pada hadits tersebut kita tidak menemukan satu kalimat pun yang mengisyaratkan (mengisyaratkan saja tidak) halalnya berpacaran apalagi mencari kata pacaran atau yang sejenis dengan itu yang menunjukkan kehalalannya. Tentu sebuah kesimpulan yang sangat terburu-buru jika menyatakan hadits itu adalah dalil dihalalkannya berpacaran. Perihal Rasulullah SAW menegur para sahabat yang memenggal kepala si laki-laki itu adalah lebih dikarenakan sikap ‘keras’ para sahabat itu dalam memaknai perkara mendekati zina itu sendiri.

Analisa pertama, para sahabat itu tidak bisa menerima sikap yang ditunjukkan oleh si laki-laki dalam menunjukkan cintanya tersebut karena perbuatan itu sudah mendekati zina, selain itu diakibatkan juga oleh ketidakpahaman para sahabat tersebut tentang bagaimana menyikapi perbuatan mendekati zina yang sebenarnya tergolong sebagai dosa kecil(yg mungkin juga belum diketahui si laki-laki) dimana seharusnya tidak perlu sampai berakibat ditebasnya leher si laki-laki tersebut.

Kedua, dalam hadits itu rasulullah SAW ingin mengingatkan kita semua bahwa, menyikapi laki-laki dan wanita yang sedang jatuh cinta itu berbeda dengan mereka yang benar-benar terbukti telah berzina secara farji(kemaluan). Karena sebagaimana firman Allah azza wajalla yang artinya “..Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas..” (Al Imran :14), menunjukkan bahwa fitrah manusia itu diantaranya adalah ingin mencinta dan dicintai, tetapi lantas semua itu tidak dibebaskan begitu saja dan mengikuti bisikan hawa nafsu, tetapi Allah SWT dan RasulNya kemudian memberikan batasan-batasan lain agar kita tidak mengikuti jalan-jalan syetan yang hina lagi keji. Disamping itu kita dianjurkan untuk mendakwahkan Islam ini dengan cara yang lemah lembut dan penuh hikmah serta kasih sayang, untuk itu lazim bagi kita menyampaikan nasehat terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan yang lebih keras. Karena itulah rasulullah SAW berkata “tidak adakah diantara kalian orang yang penyayang??”.  Sehingga kesimpulan yang menyatakan hadits diatas adalah bukti ‘dihalalkannya’ berpacaran adalah tidak tepat sama sekali dan jauh dari kenyataan hadits itu sendiri. 

Nah setelah merasa cukup dengan proses pembandingan dalil yang terburu-buru diatas, sang penggagas pacaran islami ingin menggiring pembacanya yang awam dengan sebuah kesimpulan  “Jadi, dalil-dalil para pendukung islamisasi pacaran lebih kuat daripada dalil-dalil para penentang pacaran islami. Mudah-mudahan dengan penjelasan ini, kita tidak lagi membuang-buang energi untuk berdebat mengenai halal-haramnya pacaran. Sudah saatnya kita lebih berkonsentrasi pada bagaimana pacaran secara islami. Wallaahu a’lam”.

Subhanallah, sebenernya siapa ya yang sedang membuang-buang energi untuk hal yang tidak ada manfaatnya ini?? Apakah mengajak orang kepada kemaksiatan meski dengan bungkus islami dianggap sebagai sebuah usaha dakwah ataukah sebaliknya?? Lantas dalil-dalil apa yang menunjukkan kehalalan berpacaran itu sendiri, karena dalil-dalil yang dibawakan cenderung tidak sesuai dengan tujuannya dan penafsirannya cenderung mengada-ngada?? Kalaupun ada yang ingin mengabu-abukan perkara yang telah jelas semacam mendekati zina ini, maka ketahuilah ikhwah fillah sabda rasulullah SAW berikut “Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan sesungguhnya yang haram juga jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui hukumnya oleh banyak orang. Maka barangsiapa yang menjauhi syubhat, berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatan dirinya, dan barangsiapa yang terjerumus ke dalamnya, maka dia telah terjerumus dalam perkara yang haram. Seperti penggembala yang menggembala ternak-nya di sekitar tempat yang masih diragukan bila binatang ternaknya memakan rumput di sana.” (HR Muslim)

Demikianlah ikhwah fillah beberapa hal keganjilan yang disampaikan oleh sang penggagas pacaran islami baik terhadap bagaimana memahami dalil itu sendiri dan menarik kesimpulan dari dalil tersebut. Semoga Allah Subhanahu wata’ala selalu menunjukkan kepada kita kebenaran itu adalah kebenaran dan kebathilan itu adalah kebathilan, segala yang benar adalah karena Allah SWT, dan segala kesalahan adalah karena kelalaian saya sendiri. Wallahu’alam wastaghfirullah..wassalamu’alaykum warahmatullahi wabaraktuh

 

4 Comments (+add yours?)

  1. A'yoga
    Sep 26, 2007 @ 01:43:17

    hmm .. begitulah memang para pemikir kita jaman sekarang. menghalalkan yang sudah dilarang. referensi tentang boleh di baca di tentang-pernikahan.com

    Reply

  2. pacaranislamikenapa
    Sep 26, 2007 @ 18:28:08

    iya akh..

    sangat menyedihkan memang, semoga dibulan yang suci ini, keberkahan ilmu dalam memahami syariat agama Islam yang indah ini..meliputi kita semua tanpa terkecuali..apakah itu bagi mereka yang terlanjur pacaran, yang tidak pacaran, yang baru2 mau pacaran, yang mo ta’aruf, yang mo nikah, pokoknya semua deh, aamiin ya rabbal ‘alamin.

    Anyway, ana minta ijin “catut” artikel antum ya akh🙂, jazakallah.

    wassalamu’alaykum warahmatullah

    Reply

  3. andi eL-karim
    Jan 11, 2010 @ 23:14:32

    begitulah kondisinya, sebagian dr saudara kita (Muslim) telah diperalat oleh musuh2 Islam untuk menjerumuskan generasi Islam dengan penyesatan2 melalui dalil2 yg tumpang tindih namun terlihat shahih. beruntunglah karena masih banyak dari ikhwan kita yg tetap istiqamah berdakwah, tidak hanya di dunia nyata, namun pula di dunia maya yg pengaruhnya lebih luas & efektif bagi mreka yg berniat buruk.
    semoga Allah senantiasa memberi petunjuknya bagi kita semua. amin…

    Reply

  4. uyun tears
    Nov 13, 2010 @ 18:40:47

    hmmm,,,gmna jadinya kalau semua dalil-dalil itu disalah gunakan oleh para pemuda pada zaman sekarang ini ya,,,?

    admin: jadinya.. banyak diantara para pemuda itu merasa “pacaran” adalah sebuah kebutuhan dan bahkan lebih jauh meng-anggap ianya adalah “sunnah rasul”(baca: perbuatan yang dianjurkan Rasulullah SAW) -na’udzubillah-. orang2 seperti ini akan dengan berbagai cara mencari pembenaran demi pembenaran dengan memelintir maksud dalil yang ada. jika sudah begini, maka menghindar dari mereka akan membawa kepada keselamatan. karena jikapun mereka diingatkan, kecenderungan merasa lebih benar dan lebih suci mendorong mereka untuk tidak mengganggap nasehat yang sampai kepada mereka, meski nasehat itu adalah sejatinya nasehat dari Rasulullah SAW sendiri melalui hadits2 shahih🙂.
    Bagaimana membentengi diri dari pemikiran dan ide2 nyeleneh lainnya? perbanyak teman2 yang sholeh/ah, ikuti kajian2 keislaman secara rutin, perbaiki kualitas ibadah dan kedekatan kita kepada Allah SWT, dsbnya-dsbnya, yang dengan itu menjadi modal untuk kita memfilter bahkan meng-counter pemikiran2 yang muncul sebagai bentuk pembenaran maksiat atas nama agama🙂.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: