Tinjauan : “Pacaran Islami ala Aktivis Tarbiyah”

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Tulisan SPPI mengenai hal ini sebenarnya sudah agak cukup lama, februari 2008. Dan pada awalnya, saya tidak terlalu menganggapnya penting, karena fenomena ‘pacaran’ yang dikira ‘islami’ itu sebenarnya terjadi dihampir semua elemen dakwah islam, apakah itu di pesantren, pengajian, lembaga dakwah kampus, ormas pemuda islam, dari dahulu hingga sekarang dll. Meskipun jumlahnya dilapangan sebenarnya tidaklah terlalu besar, artinya secara organisasitoris dan secara jama’i insyaAllah fenomena tersebut tidak akan dianggap wajar(orang yang melakukannya akan dinasehati oleh ikhwah lainnya), tidak akan dilegalkan, tidak akan didakwahkan, apalagi diislamisasikan, na’udzubillah tsumma na’u dzubillah.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah ketika ada fakta bahwa sebagian aktifis(yang mungkin sudah pernah tahu bagaimana Islam mengatur tentang hijab, khalwat, menahan pandangan, dll) itu berpacaran, lantas pacarannya pasti benar(baca: pasti islami????)? Lantas jika dikarenakan nasehat yang sampai kepada mereka menyebabkan mereka mundur dari aktifitas dakwahnya, apakah pacaran mereka harus dibenarkan agar mereka tetap eksis dalam ‘dakwah’? na’udzubillah. Kalau begini cara berfikirnya, seolah-olah antara aktifitas dakwah dan prilaku si aktifis “boleh” tidak sejalan, atau dengan kata lain karena pelakunya merasa paham bagaimana aturan Islam dalam hal menjaga pandangan, dan lain-lainnya, dianggap sebagai “standar kema’shuman” dirinya ketika berpacaran, na’udzubillah. Padahal apa jadinya jika orang awam melihat hal ini, tentu mereka akan menjadikannya sebagai pembenaran dan akhirnya orang akan berkata, “yang ngerti agama ma yang ga ngerti ternyata beti alias beda tipis”, rusaklah izzah yang bukan saja si aktifis tetapi merembet kepada lembaga dakwah yang bersangkutan, na’udzubillah.

Kembali ke pembahasan kita, diawal-awal tulisan itu, SPPI justru membuat pertanyaan yang provokatif “Benarkah para aktivis dakwah dari kalangan Tarbiyah tidak suka melakukan pacaran secara islami atau “bercinta sebelum khitbah?” Inilah jenis pertanyaan yang tidak perlu dijawab, pertanyaan yang sekaligus melabelkan(baca: menuduh) orang yang ditanya. Pertanyaan seperti ini hanya akan mengarahkan pembaca yang kurang kritis kepada sebuah kesimpulan “ooo..ternyata aktifis tarbiyah itu suka pacaran juga”, na’udzubillah.

Sebagai nasihat bersama, tidak seharusnya bagi seorang yang mengaku sebagai da’i, mubaligh, penulis buku2 islam, bertanya seperti ini? Ini adalah pertanyaan yang menyudutkan para aktifis dakwah secara umum. Istilah Tarbiyah bukanlah ‘monopoli’ salah satu lembaga dakwah, istilah tarbiyah adalah milik umat. Janganlah bersikap seperti musuh-musuh Islam yang mendistorsi istilah-istilah islami dengan maksud sekehendak hati. Sebagai contoh, pada istilah “Islam”, sebagian masyarakat diluar lazim mengidentikkan “Islam” dengan “teroris”, padahal Islam sekali-kali tidak pernah sedikitpun mengajarkan hal-hal yang berbau(baunya saja tidak) sebagai “terorisme”, malah tanda-tanda terorisme itu justru ada pada mereka yang mendefinisikannya(tuduhannya kembali kepada si penuduh). Aktifis tarbiyah (lebih kurang) adalah setiap muslim/ah yang mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan Islam dalam arti yang luas, mencakup ritual dengan ragam nilainya, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, ntah mereka berada dijamaah NU, Muhammadiyah, HT, PKS, Persis, Salafy dan masih banyak lagi lainnya. Mereka adalah bagian dari Al Jama’ah umat Islam. Kenapa tidak dikatakan “Pacaran ala sebagian aktifis tarbiyah”?, tentunya hal ini dapat menjaga perasaan saudara-saudara kita sesama muslim, yang berusaha menjaga izzah diri dan lembaga dakwah dimana mereka beramal jama’i.

Kembali kepada pertanyaan SPPI diatas, pertama ada perbedaan mendasar antara definisi pacaran ala SPPI dengan fakta yang terjadi dilapangan, sehingga definisi itu harusnya dibenahi terlebih dahulu sebelum menambahkan label lain semacam ‘islami’. Kedua, istilah ‘bercinta sebelum khitbah’ yang dipahami oleh SPPI, yang disandarkan pada ucapan Ustadz Abu Syuqqah ternyata berbeda maksud dengan apa yang telah dijelaskan oleh Ustadz Abu Syuqqah sendiri dalam buku KW beliau. Sehingga “konklusi” dari pertanyaan SPPI itu tidak bisa kita terima. Artinya, meskipun pacaran itu terjadi di sebagian kecil ikhwah, tidak dapat kemudian disimpulkan “aktifis tarbiyah suka berpacaran”. Ini yang kami sebut dengan sikap prejudice.

Pertanyaan SPPI yang kedua “Benarkah bagi mereka, satu-satunya jalan menuju pernikahan adalah taaruf?”, jawabannya benar, bahkan Allah SWT dan RasulNya lah yang telah mensyariatkan ta’aruf ini. Selanjutnya kami akan bertanya ‘tetapi apakah pemahaman ta’aruf yang dilakukan oleh aktifis dakwah, seperti “frame” sempit SPPI dalam memahami ta’aruf?’, jawabnya tentu saja tidak. Artinya, agar SPPI dapat memahami proses ta’aruf yang disyariatkan oleh Islam itu seperti apa dan bagaimana, pahami seluruh dalil yang berbicara tentang perkenalan dan batasan2 pergaulan didalam Islam secara utuh dan tidak parsial. Bagaimana mungkin ketika ada dua insan yang mau menikah tetapi mereka tidak diperbolehkan berkenalan(baca: ta’aruf)? malah mereka disuruh berpacaran ‘islami’, disuruh ‘bercinta sebelum khitbah’, dan sejenisnya seperti yang dipahami SPPI, padahal semua itu adalah bagian dari ta’aruf(perkenalan) secara umum. Tetapi kan perkenalan itu sendiri meliputi yang (mendekati) halal dan haram, untuk itu sejauh mana perkenalan itu bersesuaian dengan syariat, menjadi dasar kesimpulan kita untuk menentukan mana bentuk ta’aruf yang sesuai syaariat. Dengan pemahaman yang benar itu lah kemudian kita membuat sebuah kesimpulan apakah pacaran yang katanya islami itu benar-benar islami atau masih terdapat banyak syubhat yang mesti kita jauhi?

Pertanyaan ketiga SPPI “Benarkah semuanya menentang mati-matian gagasan pacaran islami?”
Kalaupun “benar semuanya menentang mati-matian gagasan pacaran islami” terus kenapa? kalaupun salah juga kenapa?hehehe. Banyak sedikitnya yang mendukung gagasan pacaran islami ala SPPI, hal itu tidak dapat dijadikan ukuran bahwa pacaran ala aktifis yang ada dalam tulisan SPPI itu menjadi halal. Seorang Al Akh yang melihat akh lainnya berbuat sesuatu yang menyimpang dari syariat, maka ia akan berusaha mendekati, dan memberikan masukan serta nasehat. Seorang da’i bukanlah nabi apalagi malaikat, hasrat untuk berbuat maksiat itu tetap ada. Yang membedakannya adalah ketika ia berada dilingkungan orang-orang yang berusaha untuk sholeh, maka penjagaan dirinya akan lebih kuat dibandingkan mereka yang ‘sendiri’ (tdk berjama’ah). Cuma memang terkadang, cara penyampaian nasehat boleh jadi tidak sesuai dengan harapan orang yang dinasehati. Tetapi ketika yang dinasehati itu sendiri mau berfikir positif, bahwa ada 1001 alasan yang baik yang melatarbelakangi al akh yang menasehatinya, insyaAllah dia akan berterima kasih, dan mendengarkan nasehat itu.

Pertanyaan ketiga SPPI “Apa dampak dan konsekuensinya, baik bagi pribadi maupun kepentingan dakwah?”
Tentu saja ada dampak dan konsekuensinya. Nasehat yang disampaikan dengan cara yang kurang baik, tentu akan berkurang bahkan kehilangan “pesan” utamanya. Hikmah dari nasehat itu tidak tersampaikan seperti yang dikehendaki dari nasehat dan oleh yang memberikan nasehat. Disisi lain, seseorang yang dinasehati dengan cara yang kurang tepat (saya tidak mengatakan bahwa cara yang keras itu pasti salah, ada kalanya cara yang keras itu diperlukan) cenderung melakukan ‘pembelaan’ demi ‘pembelaan’ karena ketidaksanggupannya memahami pesan yang hendak disampaikan.

Orang yang hendak menasehati, sebaiknya memahami kondisi orang yang hendak dinasehati. Misalnya dengan mengukur tingkat pemahaman seseorang, suasana hati(mood) dll untuk kemudian memilih cara menasehati dan isi nasehat yang tepat. Tentunya berbeda cara menasehati orang yang tidak tahu, orang yang paham dan ia lupa, orang yang tahu dan sengaja melakukan pembangkangan, dsbnya atau pada orang yang hendak melakukan kesalahan, orang yang melakukan kesalahan untuk pertama kali, orang yang melakukan kesalahan berulang-ulang dsbnya.

Karena salah satu nikmat dari agama ini adalah nasehat. Bahkan Allah SWT menjadikan perkara nasehat-menasehati ini sebagai salah satu indikator umat terbaik “Kalian umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kalian menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS. Al-Imran: 110).

Kembali kepada adanya fenomena pacaran yang terjadi dikalangan aktifis, yang perlu dipahami adalah bahwa bukan cintanya yang salah, tetapi penyikapan terhadap perasaan cinta dan rasa suka itu yang tidak tepat. Kalaulah kemampuan menikah itu sudah ada, apa lagi yang dapat dijadikan alasan oleh mereka untuk menunda-nundanya dengan berpacaran, HTS, “cem-ceman” dsbnya?

Karena dalilnya tidak mengajarkan seperti itu, diantaranya Allah SWT berfirman “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata. (Qs. Al Ahzaab : 36).

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur : 32)

Rasulullah SAW bersabda “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).”HR. Al-Bukhari (no. 5066) kitab an-Nikaah.

Ya, berpuasalah bagi mereka yang belum mampu. Dengan berpuasa, usaha kita untuk menahan pandangan dan menjaga kemaluan akan semakin optimal. Bukan seperti anjurannya SPPI, “pacaranlah bagi mereka yang mampu menjaga syahwat, dan jangan berpacaran bagi mereka yang tidak bisa menjaga syahwat”.

Konteksnya bukan pada  “bisa atau tidaknya” seseorang menjaga syahwat, tetapi kemampuan untuk menikah itu yang menjadi ukurannya. Yang jika ia telah mampu menikah maka menyegerakannya akan menyelamatkan dia dari dosa zina, yang jika ia tidak atau belum mampu menikah, maka menahan pandangan dan zina-zina kecil lainnya lah yang akan menyelamatkan dirinya dari dosa zina, bukan dengan berpacaran. Karena zina-zina kecil ini pasti tercatat pada setiap anak adam/manusia, apakah dia seorang muslim atau tidak, apakah dia aktifis dakwah atau tidak, tanpa terkecuali.

Sabda Rasulullah SAW Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata adalah dengan memandang, zina lisan adalah dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan dan berangan-angan, lalu farji (kemaluan) yang akan membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Pertanyaannya kemudian, jika zina-zina kecil tadi pasti mengenai manusia tanpa terkecuali, sebagaimana persaksian Allah SWT dalam Al Quran, surat al Ashr “Demi Masa, Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi..”(ahli tafsir menjelaskan, bahwa ketika Allah SWT bersumpah atas nama makhluknya-dalam hal ini waktu- maka tidak diragukan lagi, bahwa makhluk itu sangat berarti. Kemudian pada kata “Inna..’ yakni “Sesungguhnya..” menunjukkan bahwa hal itu pasti tanpa terkecuali), lantas apakah orang yang berpacaran jauh lebih baik keadaannya dibandingkan mereka yang berpuasa, dalam menjaga pandangannya, dalam menjaga pergaulan dengan lawan jenis agar sesuai syariat Islam dsbnya? selanjutnya, berapa besar prosentase kemungkinan orang yang berpacaran untuk mendekati zina dibandingkan mereka yang tidak berpacaran? Apakah akal sehat kita menafikan hal ini?

Niat dan tujuan seorang aktifis dakwah yang berpacaran akan perlahan tapi pasti terdistorsi sedemikian rupa. Karena tidaklah hubungan yang intens antara dua insan yang saling mencintai, kecuali darinya pasti akan menuntut perhatian, kemesraan, kerinduan dsbnya yang ke semuanya itu membutuhkan waktu, usaha, pikiran, dan bahkan biaya. Padahal dakwah juga membutuhkan perhatian yang sama, membutuhkan waktu, usaha, pikiran, biaya dsbnya. Lain halnya jika hubungan kedua insan itu adalah hubungan yang halal layaknya pernikahan, maka hubungan itu dapat menjadi pendorong, penguat, dan pengokoh dakwah yang selama ini diemban. Sedangkan hubungan yang tidak halal semacam pacaran, dapat dipastikan amanah dakwah itu sedikit demi sedikit tapi pasti akan dikalahkan dan menjadi berantakan, yang celakanya, ada kemudian sebagian dari aktifis junior menjadikan hal itu sebagai pembenaran untuk mereka, na’udzubillah.

Karena ketika kita menjauh dari tuntunan Allah SWT dan RasulNya, maka sejatinya kita pasti akan menggantikannya dengan ‘tuntunan’ iblis, ntah disadari atau tidak. Iblis akan jadikan kemaksiatan itu terlihat menjadi lebih indah, lebih ‘berwarna’, lebih ‘hidup’ dsbnya, hingga manusia itu menjadi lalai dalam mengingat Allah SWT. Dan ketika manusia itu tergelincir akibat perbuatannya, iblis tinggal tertawa terbahak-bahak sambil berujar “satu lagi anak adam yang akan menemaniku dineraka”, na’udzubillah.

Ada atau tidaknya seseorang didalam sebuah jamaah dakwah, sejatinya seorang muslim adalah tetap seorang da’i. Kewajiban untuk beramar ma’ruf nahi munkar, menjaga kesesuaian kata dan prilaku dsbnya itu tidak terbatas hanya bagi mereka yang dikenal aktifis, tetapi berlaku bagi seluruh kaum muslimin, sebagaimana yang dinyatakan (QS: Al Imran : 110) diatas.

Teruntuk ikhwahfillah dimanapun antum berada, dibawah “bendera” apapun, tetaplah istiqamah, tetap ngaji, tetap belajar dari mana saja, perbanyaklah bergaul dengan orang-orang sholeh, berhati-hatilah terhadap fitnah dunia yang bernama wanita(begitu juga bagi wanita..berhati-hatilah terhadap fitnah dunia yang bernama laki-laki) dan bagi antum yang ‘terlanjur’ pacaran..segeralah menikah, jangan terlalu menghawatirkan masalah biaya, insyaAllah janji Allah SWT itu pasti (ya iya lha..masa ya iya donk hehehe). Bagi antum yang belum diberikan kemampuan, semoga Allah SWT memampukan antum, dan berusahalah untuk memiliki kemampuan kearah itu. Jagalah pandangan, perbanyaklah puasa, bekerjalah lebih giat, belajar lebih giat, dan jangan mencoba-coba untuk pacaran apapun labelnya :d. Kembalikanlah setiap perasaan yang kita rasakan kepada Allah SWT, curhatlah hanya kepada Allah SWT, Sesungguhnya Allah azza wajalla Maha mendengar doa, keluh kesah, dan rintihan hati kita. Tidaklah Allah SWT memberikan ujian kecuali sebatas kemampuan hambaNya. Laa ila ha illa anta, subhanaka, inni kuntu minadz dzolimin. wallahu’alam.

wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

About these ads

6 Comments (+add yours?)

  1. Wafiq
    Jul 24, 2008 @ 12:39:51

    Salamun’alaik
    Apa benar, benar pacaran tidak diperlukan di masa-masa sekarang :D
    Apa benar, dengan tidak pacaran terlebih dulu akan menjauhkan kita dari perceraian. Tapi, jika pacaran dapat meningkatkan kesetiaan, why not?

    Wassalam

    Admin:
    Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Wah..ada pujangga berkunjung, ahlan wasahlan akhi :). Alhamdulillah ana sudah membaca pandangan antum tentang pacaran. Ya sebenarnya, setiap orang “sah-sah” saja mendefinisikan kata “pacaran” itu apa, bagaimana, dsbnya. Sebagaimana SPPI yang kadang menyebutnya dengan ‘bercinta sebelum khitbah’, ‘bercinta dengan kekasih tetap’, ‘aktifitas persiapan pernikahan’, atau mungkin ditempat lain dikatakan “aktifitas menanam tumbuhan pacar” :).

    Tetapi alangkah bijaknya, jika kita pahami terlebih dahulu esensi dari kata “pacaran” itu sendiri. Sebagai contoh, ketika orang menyebut kata “makan”, maka akan terlintas dibenak kita suatu aktifitas yang memasukkan makanan/sesuatu yang agak/cukup/memang padat ke dalam mulut. Atau ketika orang menyebut kata “minum” maka akan terlintas dibenak kita suatu aktifitas yang memasukkan minuman/sesuatu yang cair ke dalam mulut.

    Tetapi ketika kita mendengar kata “gerhana”, apa yang terlintas dibenak kita? “Gerhana” adalah sebuah kata yang mewakili sebuah fenomena, dan sebuah fenomena hanya akan terdefinisikan dengan benar ketika kita menunjukkan tanda-tanda, fakta, dan kenyataan yang mewakili kejadian(gerhana) itu. Kata “pacaran” juga adalah sebuah fenomena. Dimana tanda-tanda, fakta dan kenyataan yang terjadi pada “pacaran” di Indonesia juga terjadi pada belahan negara yang lain, baik ditimur maupun dibarat, dari masa sebelum Islam hingga masa sekarang, dengan ragam istilahnya.

    Diantara tanda-tanda orang yang berpacaran itu adalah :
    1.adanya pengakuan masing2 sebagai pacar. Kalo bagi mereka yang berpacaran, hukumnya “fardhu ‘ain”. Sehingga ada ‘status’ baru bagi mereka yang pacaran yakni ‘akyu pacarmyu..dan kamyu pacarkyu..yuuu’. Padahal status hubungan percintaan lain jenis yang syar’i hanya ditetapkan oleh pernikahan, lain tidak.
    2.adanya “komitmen” pada ‘pacar’ untuk saling setia, jujur, informatif, terhadap sang pacar. Jika ada salah satu yang ‘diduga’ tidak jujur, maka akan diragukan “cintanya”, bahkan boleh berujung kepada ‘dicabutnya’ status pacar tersebut. Dan ujung-ujungnya, kalo ‘pasangannya’ sudah tidak tahan, biasanya akan berujar ‘siape sih loh..suami bukan istri bukan..nyuruh gw lapor-lapor..emangnya gw hansip apa…’ hehehe.
    3.adanya pertunjukan “romance” diantara keduanya. Mulai dari perasaan dan khayalan hatinya, pandangan matanya (dua hal ini pasti banget..:d), tutur rayu katanya, pegangan tangannya, langkah kakinya(boleh jadi yang seperti tidak dilakukan), yang kesemuanya ini adalah ditetapkan oleh Allah sebagai perkara mendekati zina. Banyak diantara kita yang tidak dapat membedakan “romantisme” dengan “cinta”. Dilain kesempatan akan kami sampaikan apa itu romantisme dan apa itu cinta, tetapi secara sederhana dapat kita pahami bahwa cinta itu fitrah, ketika ada cinta, maka secara fisiologis ada hormon-hormon didalam tubuh yang merespon naluri itu, jantung jadi berdebar-debar, tubuh serasa lebih hangat, pikiran terasa lebih segar, pandangan terasa lebih terang, dll sehingga hati akan berujar “gilee..cantik bener tuh cewek..lihat lagi ah”, mata langsung merespon “blink..blink..sekejap dua kejap..pandangan kedua, ketiga, melotot dsbnya”, informasi itu langsung dikirim ke otak dan memerintahkan untuk segera mengambil tindakan..”kenalan ape ngga ye..” dll. Singkat kata romantisme boleh jadi masih ada cinta, tetapi sebenarnya porsi fisiologisnya jauh lebih besar. InsyaAllah dalam kesempatan yang lain, kami akan buatkan dialog imajinatif hati dan mata berdasarkan buku “Taman-taman orang yang jatuh cinta dan memendam rindu” buah karya Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah.
    4. dll.

    Kembali kepada pertanyaan akhuna Wafiq

    “Apa benar, benar pacaran tidak diperlukan di masa-masa sekarang :D?”

    Iya..sangat tidak diperlukan :D. Karena terbukti tidak efektif, efisien, dan cenderung kepada perbuatan mendekati zina.

    “Apa benar, dengan tidak pacaran terlebih dulu akan menjauhkan kita dari perceraian. Tapi, jika pacaran dapat meningkatkan kesetiaan, why not?”

    Ketika Allah SWT dan RasulNya menetapkan sesuatu, seperti pada ta’aruf dan pernikahan, maka tentu ada banyak hikmah didalamnya. Janji Allah SWT diantaranya, orang yang menyegerakan pernikahan akan lebih dapat menjaga pandangan dan kemaluannya dibandingkan mereka yang belum/menunda-nunda pernikahan, kemudian orang yang menyegerakan menikah akan Allah SWT kayakan (dalam arti yang luas lho ya..bukan hanya masalah uang :d), kemudian orang yang menyegerakan pernikahan akan Allah SWT limpahkan kebarakahan, Allah SWT tentramkan hatinya, Allah SWT ganti jadikan pahala yang berlipat-lipat ganda, bahkan berpegangtangannya sepasang suami istri(yang jika dilakukan oleh mereka yang belum menikah akan berbuah dosa) akan menggugurkan dosa-dosa melalui jari jemarinya, dan masih banyak kebaikan-kebaikan lainnya.

    Dimana perkenalan /ta’aruf syar’i itulah yang lebih dekat dengan tuntunan menyegerakan pernikahan, daripada pacaran atau dating dsbnya. Dan menurut saya, tidak ada pacaran yang dapat meningkatkan kesetiaan. Yang ada justru pacaran itu dapat meningkatkan ketidaksetiaan, karena apa? karena mereka yang berpacaran menghendaki sesuatu(romantisme dengan berbagai tingkatannya) yang seharusnya mereka dapatkan setelah pernikahan. Sehingga ketika romantisme itu sudah sampai pada titik kulminasinya, maka tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi kesetiaan, tidak ada lagi romantisme, dsbnya.

    Tapi bolehlah antum sampaikan apa yang antum pahami tentang kesetiaan, kesetiaan dalam hal apa? dan bagaimana mengukur si fulan/ah itu setia?

    Akhirnya..apa-apa yang benar hanyalah dari Allah SWT, dan apa-apa yang salah adalah karena kurangnya kehati-hatian saya dalam memahami sesuatu. Semoga Allah SWT mengkaruniakan kita pemahaman yang baik atas dien ini, wallahu’alam :).

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  2. Nina
    Oct 03, 2008 @ 22:16:49

    Assalamu a’laykum

    “bahwa bukan cintanya yang salah, tetapi penyikapan terhadap perasaan cinta dan rasa suka itu yang tidak tepat”
    Setuju berat!!!
    kalo’ belom siap nikah yaudah, Simpan aja dalam hati.

    Aneh banget yah… di tengah banyaknya beban dakwah yang harus dipikul dan permasalahan besar lain yang menyita pikiran, masih sempet cem-ceman sama someone di balik hijab.
    Ngerusakin bangunan dakwah aje…!

    Kalo butuh perhatian yawdah nikah aja…
    Tapi kalo belom sanggup emang harus menahan diri. Namanya juga aktivis, kalo mau sll nurutin hawa nafsu mending ga usah aja jadi aktivis kali ya?

    Reply

  3. wahyu
    Oct 14, 2008 @ 17:02:20

    terus maju akhi..!!!
    walaupun kalau kita melihat apa yang dilakukan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna terhadap orang asbun dan cari popularitas (baca: MINTA PERHATIAN, kurang kasih sayang? :)) ) adalah mendiamkannya. karena orang-orang yang berkata tanpa ilmu (walaupun dia merasa berilmu tinggi) hanyalah akan membuatnya semakin beringas (hukum aksi-reaksi) dan ini kata beliau sebenarnya akan semakin menutup seseorang dari pintu hidayah.
    semoga diskusi antum dengan sppi itu sehat, mereka juga open mind terhadap masukan/kritik dari manapun sehingga kebenaran itu akan tampak nyata.

    admin:
    takbir !! Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar !!! :)

    Iya ana setuju akhi, tetapi memang ada kalanya kita diam dan ada kalanya kita bicara. Ada hak dan kewajiban untuk mendapatkan dan menerima nasehat bagi dan diantara kita sesama umat Islam khususnya dan kepada manusia secara umum. Jika nasehat itu telah tersampaikan,dan orang yang dinasehati tidak menerima, itu urusan lain, setidaknya hak dia untuk mendapatkan nasehat, dan kewajiban kita untuk menyampaikan nasehat telah terlaksana. Begitu juga sebaliknya, kita berhak mendapatkan nasehat dari manapun, tanpa terkecuali.
    Kami pun berharap dan menjaga agar “diskusi tak langsung” ini tetap sehat, mengedepankan kebenaran, demi kemashlahatan bersama dibandingkan popularitas atau yang lebih rendah dari itu (na’udzubillah), dan itu tidak mungkin terlaksana tanpa nasehat, saran, kritikan dsbnya dari antum semua para pembaca yang mulia.

    Disini ana hanya sekedar sharing sedikit tentang apa yang ana ketahui, adapun pendalamannya haruslah melalui orang yang benar-benar ahli agama, kepada para ulama. Semoga Allah SWT menjaga kita semua, aamiin.

    wallahu’alam
    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  4. gendut1mu3t
    Nov 03, 2008 @ 13:03:08

    Vee bukan seorang Aktivis, Tapi ya namanya manusia yang mengaku muslim, tntu tetap di wajibkan untuk berlaku secara islam pula,, bukan begitu Pak??
    Tapi, Sepertinya, saya masih hrs trs belajar, dan menerapkan.
    Tulung d bntu ea Pak,,,
    Kan katanya mesti dekat2 ma org baek,,,,

    admin :

    iya.. bener banget tuh vee, setiap muslim harus berlaku sesuai dengan standar syariah.. mulai dari pemikirannya, penampilannya, gaulnya, omongannya, dsbnya deh :). Dan tidak perlu “dikuasai” semuanya dahulu baru dilaksanakan, apa yang udah kita pelajari langsung coba diterapkan. Dan juga yang perlu diingat, mulailah sedikit demi sedikit, dari diri sendiri dan sekarang.

    Semoga Allah SWT memudahkan kita dalam menyegerakan kebaikan-kebaikan, aamiin.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Reply

  5. putrisangpejuang
    Nov 09, 2008 @ 13:44:02

    Assalamu’alaikum.
    pacaran itu ga ada gunanya.
    nambah masalah aja.
    hoho..

    admin:
    wa’alaykumussalam warahmatullah

    iya.. bener banget. cuma emang diakhir zaman yang benar itu malah sedikit yang ngelakuin.. so jadilah yang sedikit itu.. tetep semangat berjuang!.. ho oh :).

    wassalamu’alaykum warahmatullah

    Reply

  6. windu
    Dec 06, 2008 @ 17:18:03

    saya sangat setuju sekali dgn situs sprti ni.smaga dgn mbca ni qt smkin jauh dr p’buatn zina

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 27 other followers

%d bloggers like this: