Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahirabbil ‘alamin, Sholawat dan salam tercurah kepada junjungan kita Rasulullah , Muhammad Sholallahu’alayhi wassalam, keluarga beliau, para sahabat beliau, para ulama dimasa lalu dan masa sekarang yang berjalan dengan tuntunan beliau, dan seluruh kaum muslimin dimanapun berada, yang menjadi manusia-manusia akhir zaman, yang berhadapan dengan bermacam-macam ideologi “gila” dari segala penjuru, sekulerisme, pluralisme, liberalisme, materialisme, atheisme, dsbnya baik dalam rupanya yang “lembut” sampai kepada rupanya yang “kasar”, yang berusaha menjauhkan seorang muslim dari identitas yang sebenarnya. Alhamdulillah..kita masih ditakdirkan Allah Subhanahu wata’ala sebagai seorang muslim, dan semoga dimudahkan untuk melihat yang benar itu benar dan yang salah itu salah.
Agama Islam yang kita yakini adalah agama fitrah. Dien ini ada karena kehendak Allah Subhanahu wata’ala kecintaanNya kepada kita. Tidaklah Allah Subhanahuwata’ala mengabarkan sebuah larangan kecuali tersimpan dibaliknya keburukan-keburukan yang dapat merendahkan manusia, menyusahkan manusia, merusak manusia, bahkan menghancurkan manusia dan lingkungannya. Dan tidaklah Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan sesuatu kepada kita kecuali ianya untuk memuliakan manusia, memudahkan manusia, memperbaiki manusia, bahkan memberi manfaat yang sangat besar kepada manusia dan lingkungannya.
Allah Subhanahu wata’ala juga telah menurunkan seorang manusia yang sempurna, pengemban pertama dan utama risalah dinul Islam ini, figur nyata bagaimana mengimplementasi tuntunan Al Quran, tauladan yang tiada tandingannya, yang tidak berbicara kecuali dengan kejujuran dan kebaikan, dsbnya. Mencintai Allah Subhanahu wata’ala, berarti mencintai Rasulullah Sholallahu’alayhi wassalam, dan mencintai seseorang karena Allah, berarti menjaga kesesuaian cinta itu dengan tuntunan Allah Subhanahu wata’ala serta tuntunan Rasulullah Sholallahu’alayhi wassalam.
Berbicara tentang perasaan cinta, tidak ada yang berbeda antara mereka yang beriman dan mereka yang tidak beriman. Fitrah manusia untuk mencintai dan dicintai dikaruniakan Allah Subhanahu wata’ala bagi setiap manusia. Fitrah manusia untuk saling merindui, berkasih sayang, merasakan sentuhan, .. dsbnya juga adalah fitrah manusia yang telah Allah tetapkan dan mesti dipenuhi. Tetapi penyikapan dan pemenuhan fitrah tadi, seharusnyalah dalam koridor keimanan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala. Itulah kenapa ketika kita mengetahui bahwa Islam memberi batasan-batasan yang ketat dalam kaitannya dengan cinta pra nikah ini, kita berusaha untuk memenuhinya, karena inilah bentuk cinta Allah Subhanahu wata’ala yang sangat mengetahui tentang karakter ciptaanNya dari ciptaanNya itu sendiri.
Apakah sama keadaannya antara orang yang sekedar ‘mengakui’ adanya Tuhan dengan orang yang berkata “kami telah beriman” ? Tidak!, karena konsekuensi perkataan “kami telah beriman” itu akan mendatangkan ujian demi ujian yang jika seseorang itu sabar(menyelesaikan ujian tersebut dengan sikap yang terbaik dan pilihan2 positif serta ikhlash), maka ia akan beroleh nikmat yang berlipat-lipat dari Allah Subhanahu wata’ala. Lain halnya dengan orang yang sekedar ‘mengakui’ adanya Tuhan tetapi tidak beriman..beribu-ribu kalipun ia berbuat baik, tetapi perbuatan itu tidak akan ada nilainya disisi Allah.
Begitu juga dengan keadaannya dengan orang yang jatuh cinta, apakah sama keadaannya orang yang hanya mengatakan ‘aku cinta padamu’ tanpa ia menikahinya, dengan orang yang berkata ‘aku mencintaimu’ dengan pendahuluan ta’aruf yang syar’i dan disahkan dalam pernikahan? Tidak!Karena bagi 2 orang yang saling mencintai dan menjaganya hingga masuk ke dalam gerbang pernikahan, maka mulai dari pernyataan cintanya, berpegangan tangannya, saling menatapnya, dsbnya bernilai pahala dan menggugurkan dosa. Sedangkan pada kondisi yang pertama, hal itu justru akan menghilangkan malu(baca: tanda2 keimanan seseorang) diantara kedua insan lain jenis itu sedikit demi sedikit, silaki-laki akan memandang si gadis dengan berulang-ulang, si laki-laki akan mencari cara untuk memegang tangannya, dan seterusnya yang tidak lain semua itu adalah zina-zina kecil, penghulu terjadinya zina yang besar, na’udzubillah.
Katakanlah sekarang banyak yang berpacaran dibandingkan yang tidak, atau bahkan pelakonnya seorang kiayi sekalipun, atau seorang profesor sekalipun, dll, hal itu tidak menjadi ukuran bahwa pacaran itu kemudian menjadi benar. Karena kebenaran dan kemaksiatan itu diukur kesesuaiannya dengan tuntunan yang ada di dalam Al Quran dan Sunnah. Wallahu’alam.
wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Tinisyifa said,
July 20, 2008 at 9:49 am
Assalamu’alaikum warrahmatullah wabarakatuh,
Hanya ingin bertanya,
bagaimana kalo seandainya kita taaruf jarak jauh?, hanya di antara ikhwan dan akhwat yang tau , mungkin bisa di katakan tanda kutip “pacaran jarak jauh”, jika “pacaran ini di laksanakan dalam waktu lama, satu atau dua tahunan misal dan setelah siap baru akan melaksanakan pernikahan?
adakah zinah yang telah di lakukan? apakah Islam melarang perwujudan cinta atau taaruf jarak jauh ini?
tolong penjelasanya…..
Jazakallah
Wassalamu’alaikum
admin:
wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh
jazakillah khoir..
Pastikan kembali tujuan ta’aruf itu untuk apa? Jika hanya sebatas teman dan hanya untuk berteman, jalinlah setiap komunikasi dengan si ikhwan atas sebuah manfaat yang jelas, tujuan yang jelas, dan bahasa yang jelas.
Kalaulah pernikahan masih jauh diujung mana(blm jelas kapannya), sebaiknya batasi interaksi dengan si ikhwan. Interaksi yang intens meski itu dilakukan dengan jarak yang jauh, tetap saja akan membuaikan kita, apakah itu melalui kata-kata, ataupun angan-angan, sedangkan sebagian dari perkataan dan angan-angan itu pasti ada padanya zina mulut dan zina hati. Seberapa besar zina (meski kategorinya kecil) yang kita lakukan, wallahu’alam, tetapi tentu tidak kecil lagi, jika terus menerus kita lakukan, apalagi dalam jangka waktu yang lama. Dan semakin sering hal itu kita lakukan, semakin jauh kita dengan tujuan mulia yang hendak diraih. Harapan yang telah terlanjur dibawa tinggi, tiba-tiba dibuyarkan oleh kenyataan yang sebaliknya, pernikahan tidak terjadi, setelah ‘hubungan’ terjalin 1,2 atau lebih tahun. Pertama, waktu yang dihabiskan selama ini menjadi tak bernilai..kedua, ada banyak kerugian yang didapat..ketiga, frame kita tentang calon pasangan yang ‘ideal’(kalo dalam bahasa Islam..cari yang agamanya baik) telah terdistorsi sedemikian rupa akibat sakit hati(entah disadari atau tidak) yang kita alami, sehingga seringkali kita tidak siap dengan ‘kekurangan’ orang lain, dan cenderung menganggap bahwa dengan “pacaran” lah seseorang bisa lebih dikenali. Padahal tidak ada orang yang berpacaran yang akan menunjukkan kekurangannya seperti apa.
Itulah mungkin, salah satu sebab kenapa mereka yang berpacaran itu sangat sulit untuk menyegerakan pernikahan, karena komunikasi yang mereka bangun adalah komunikasi pura-pura. Pura-pura menjadi manusia terbaik, pura-pura yang paling perhatian sama kita, pura-pura yang paling baik perkataannya(melalui puisi, rayuan, sms tausiah, tahajud’s miscall..hehehe), dsbnya. Sehingga ada keraguan(ntah disadari atau tidak) yang besar pada saat (terutama) si ikhwan ‘ditantang’ untuk segera menikahi si akhwat.
Kalau memang jodoh, toh tidak akan lari kemana kan? Judul “Ketika cinta bertasbih” menurut saya memiliki filosofi, bahwa ketika cinta itu ‘dihunjamkan’ Allah SWT ke dalam hati insan yang merasakannya, maka dengan segera penyikapannya dijaga agar sesuai dengan tuntunan Allah SWT, bahasanya “cinta bertasbih”. Orang yang benar cintanya, tentu tidak akan melupakan Zat yang telah menganugrahkan cinta itu. Cara perkenalannya adalah cara yang ma’ruf, cara-cara yang jauh dari terjadinya khalwat(baik langsung maupun virtual/chating/sms mesra, telpon mesra dll), tidak berdua-duan, tidak mengumbar pandangan dan kata-kata, menyertakan muhrim, dan yang terpenting tujuannya adalah menyegerakan pernikahan.
Jadi Islam bukan melarang/membatasi sebuah ta’aruf berdasarkan jauh dekat, tetapi lebih menekankan kepada tujuan dan cara yang ditempuh. Karena diterimanya sebuah amal, selain masalah niat, tentu saja kesesuaian cara harus menjadi pertimbangan yang utama, wallahu’alam.
wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Tinisyifa said,
August 7, 2008 at 12:24 pm
Subhanallah
Syukran akh/ukh
Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dunia akhirat, amin.
admin:
alhamdulillahirabbil’alamiin
aamiin ya Allah..
wa iyyakum
wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Quddus said,
August 28, 2008 at 1:07 pm
Assalamu’alaikum,
jazakillah khair . .
tulisanny alhamdulillah mengajarkan sesuatu pada saya,
saya ingin nanya, gmn agar menjaga kesucian cinta kita pada orang yg kita cintai?
jujur, saya mencintai seorang akhwat, namun saya dan dia tidak menjalin hubungan apa2, saya juga tidak menyatakan perasaan saya padanya, walaupun sebenarnya saya ingin, namun . . saya takut, takut malah menjerumuskan si akhwat dan saya, karena tidak bisa lagi menjaga fitrah dari Allah,
mohon penjelasannya . .
Jazakillah khair . .
admin :
wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh
alhamdulillah.. semoga tetap istiqomah..
Sejatinya perasaan cinta itu sendiri adalah fitrah. Dan perasaan cinta diawal itu laksana bibit sebuah bunga. Bibit itu akan tumbuh dan berkembang jika ia terus-menerus kita sirami. Tetapi bibit itu membutuhkan sebuah legitimasi yang bernama “ijab qabul” agar ia tumbuh dengan indah dan sempurna, jika itu tidak dilakukan, maka tumbuhan cinta itu akan berbarengan dengan tumbuhnya berbagai macam rumput liar, dan ‘hama’ yang menyertai, yang setiap saat mengincar “keindahan” bunga cinta itu, merusaknya, mengurangi nilai keindahannya, dan bahkan dapat menjadikannya mati.
Kembalikanlah perasaan cinta itu dalam penjagaan Allah SWT. Adukanlah kepada Allah SWT, dan jauhkan pikiran kita dari khayalan-khayalan mengenai si dia, hal ini berguna untuk menetralkan gejolak hati kita. Sehingga dengan itu, antum dapat melihat dan menimbang segala hal secara objektif tanpa terintervensi oleh nafsu semata. Disamping itu juga untuk menghindarkan diri kita dari harapan yang tinggi terhadap si akhwat. Jika kesiapan dan kemampuan menikah sudah ada, usahakanlah proses menuju “katakan cinta” itu dengan proses yang syar’i. Mungkin bisa dengan menjajaki melalui teman si akhwat, apakah si akhwat sudah siap untuk “proses”, ataukah justru sedang berproses dsbnya?. Jika belum siap atau memiliki kemampuan, teruslah memperbaiki diri, dan berpuasalah.
Jadi..nyatakanlah cinta itu diwaktu yang tepat dan dimoment yang tepat. wallahu’alam
wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.
febee...^ said,
September 18, 2008 at 3:41 pm
wew..
saiia mmg bkn trmsug
org2 yg sgd briman,
krn org yg briman.. hny
ALLAH swt yg twu,
..
setau saiia,
qta trlhir dr kakek n ne2k moyang
qta, yaituu..
nabi Adam n Hawa..
dan qta tdak trlhir
dg sihir ato “bimsalabim”..
tpii, dg cinta..
dan cinta itu, krn sbwah proses hubungan ssorg..
dan pcran yg
indah.. adlah, sbwah proses utk mghdirkan
cinta yg indah..
Laila said,
September 19, 2008 at 2:59 pm
assalamualaikum…
stelah membaca blog tersebut alhamdulillah saya menjadi lebih tau dan lebih mengerti.yang saya tanyakan:bagaimana cara berpacaran yang benar menurut pandangan islam? apakah kita salah apabila kita mencintai seseorang dengan tulus apa adanya? dan bagaimana cara kita agar kita tidak bersedih apabila seseorang yang kita cintai itu meninggalkan kita ? dan satu lagi, bagaimana cara kita untuk mencintai seseorang itu karena ALLAH dengan sempurna ?
trimakasih…wassalamualaikum.
soraya said,
March 5, 2009 at 2:06 pm
asslm. kak.. terimakasih banyak ya.. saya jadi paham, insyaAllah mau merubahnya, doakan agar istiqomah ya..
makasih sekali lagi.. semoga Allah membalas kebaikan kk.
Bitok said,
April 11, 2009 at 1:12 am
Assalamu’alaikum warrah matullah
sya mw tnya. Gmna ch cranya agar kita lbh mncntai Allah dri pda mncintai pcr?? Spt coment2 d ats, bhwa bla qt ingn mncntai pcr krn 4jj. Mka qt hrs mncntai 4jj dngn smprna, krn bla qt mncntai 4jj dgn smprna, mka qt jga akn mncntai mnusia dngn smprna pla. Gmna ??
Wasalamu’alaikum warrah matullah
anis septiani asla said,
April 19, 2009 at 10:34 pm
salam , akh/ukh .
saya ingin bertanya ! saat ini saya sdng suka sm ssorang , ttpi sy msh bingung , dosakah kita mencintai dia ? karena kita tidak blh mncintai seseorang melebihi cinta kita kepada ALLAH SWT.
Jazakumullah .
Ukhti G said,
June 3, 2009 at 12:11 am
Assalamualaikum wr wb..
Subhanallah, nice article..
Saya ingin bertanya.
Bagaimana kita meyakini bahwa seseorang itu adalah jodoh yang Allah tunjukan kepada kita? Karena ternyata, begitu kuat keyakinan yang saya rasakan bahwa dia adalah jodoh saya namun selalu ada saja ujian yang membuat kelegalan mencintai dan dicintai menjadi sulit diwujudkan (pernikahan).
Dan bagaimana jika dikaitkan dengan hadits yang mengatakan: Biarpun bumi dan seluruh isinya berusaha untuk menyatukan dua insan, jika Allah tidak berkehendak maka mereka tidak akan bersatu. Dan biarpun bumi dan seluruh isinya bersatu untuk memisahkan dua insan, jika Allah berkehendak menyatukan mereka maka mereka akan bersatu juga.
Contoh kasus yang saya alami:
Saya meyakini seseorang itu yang akan mejadi jodoh saya, namun ternyata semua orang terdekat saya tidak ada yang setuju karena ikhwan tersebut belum siap menikah. Di lain sisi, mereka setuju jika yang saya pilih adalah ikhwan yang lain (yang telah siap menikah).
Jazakallah khairan..