Mencintai karena Allah..

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, Sholawat dan salam tercurah kepada junjungan kita Rasulullah , Muhammad Sholallahu’alayhi wassalam, keluarga beliau, para sahabat beliau, para ulama dimasa lalu dan masa sekarang yang berjalan dengan tuntunan beliau, dan seluruh kaum muslimin dimanapun berada, yang menjadi manusia-manusia akhir zaman, yang berhadapan dengan bermacam-macam ideologi “gila” dari segala penjuru, sekulerisme, pluralisme, liberalisme, materialisme, atheisme, dsbnya baik dalam rupanya yang “lembut” sampai kepada rupanya yang “kasar”, yang berusaha menjauhkan seorang muslim dari identitas yang sebenarnya. Alhamdulillah..kita masih ditakdirkan Allah Subhanahu wata’ala sebagai seorang muslim, dan semoga dimudahkan untuk melihat yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

Agama Islam yang kita yakini adalah agama fitrah. Dien ini ada karena kehendak Allah Subhanahu wata’ala kecintaanNya kepada kita. Tidaklah Allah Subhanahuwata’ala mengabarkan sebuah larangan kecuali tersimpan dibaliknya keburukan-keburukan yang dapat merendahkan manusia, menyusahkan manusia, merusak manusia, bahkan menghancurkan manusia dan lingkungannya. Dan tidaklah Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan sesuatu kepada kita kecuali ianya untuk memuliakan manusia, memudahkan manusia, memperbaiki manusia, bahkan memberi manfaat yang sangat besar kepada manusia dan lingkungannya.

Allah Subhanahu wata’ala juga telah menurunkan seorang manusia yang sempurna, pengemban pertama dan utama risalah dinul Islam ini, figur nyata bagaimana mengimplementasi tuntunan Al Quran, tauladan yang tiada tandingannya, yang tidak berbicara kecuali dengan kejujuran dan kebaikan, dsbnya. Mencintai Allah Subhanahu wata’ala, berarti mencintai Rasulullah Sholallahu’alayhi wassalam, dan mencintai seseorang karena Allah, berarti menjaga kesesuaian cinta itu dengan tuntunan Allah Subhanahu wata’ala serta tuntunan Rasulullah Sholallahu’alayhi wassalam.

Berbicara tentang perasaan cinta, tidak ada yang berbeda antara mereka yang beriman dan mereka yang tidak beriman. Fitrah manusia untuk mencintai dan dicintai dikaruniakan Allah Subhanahu wata’ala bagi setiap manusia. Fitrah manusia untuk saling merindui, berkasih sayang, merasakan sentuhan, .. dsbnya juga adalah fitrah manusia yang telah Allah tetapkan dan mesti dipenuhi. Tetapi penyikapan dan pemenuhan fitrah tadi, seharusnyalah dalam koridor keimanan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala. Itulah kenapa ketika kita mengetahui bahwa Islam memberi batasan-batasan yang ketat dalam kaitannya dengan cinta pra nikah ini, kita berusaha untuk memenuhinya, karena inilah bentuk cinta Allah Subhanahu wata’ala yang sangat mengetahui tentang karakter ciptaanNya dari ciptaanNya itu sendiri.

Apakah sama keadaannya antara orang yang sekedar ‘mengakui’ adanya Tuhan dengan orang yang berkata “kami telah beriman” ? Tidak!, karena konsekuensi perkataan “kami telah beriman” itu akan mendatangkan ujian demi ujian yang jika seseorang itu sabar(menyelesaikan ujian tersebut dengan sikap yang terbaik dan pilihan2 positif serta ikhlash), maka ia akan beroleh nikmat yang berlipat-lipat dari Allah Subhanahu wata’ala. Lain halnya dengan orang yang sekedar ‘mengakui’ adanya Tuhan tetapi tidak beriman..beribu-ribu kalipun ia berbuat baik, tetapi perbuatan itu tidak akan ada nilainya disisi Allah.

Begitu juga dengan keadaannya dengan orang yang jatuh cinta, apakah sama keadaannya orang yang hanya mengatakan ‘aku cinta padamu’ tanpa ia menikahinya, dengan orang yang berkata ‘aku mencintaimu’ dengan pendahuluan ta’aruf yang syar’i dan disahkan dalam pernikahan? Tidak!Karena bagi 2 orang yang saling mencintai dan menjaganya hingga masuk ke dalam gerbang pernikahan, maka mulai dari pernyataan cintanya, berpegangan tangannya, saling menatapnya, dsbnya bernilai pahala dan menggugurkan dosa. Sedangkan pada kondisi yang pertama, hal itu justru akan menghilangkan malu(baca: tanda2 keimanan seseorang) diantara kedua insan lain jenis itu sedikit demi sedikit, silaki-laki akan memandang si gadis dengan berulang-ulang, si laki-laki akan mencari cara untuk memegang tangannya, dan seterusnya yang tidak lain semua itu adalah zina-zina kecil, penghulu terjadinya zina yang besar, na’udzubillah.

Katakanlah sekarang banyak yang berpacaran dibandingkan yang tidak, atau bahkan pelakonnya seorang kiayi sekalipun, atau seorang profesor sekalipun, dll, hal itu tidak menjadi ukuran bahwa pacaran itu kemudian menjadi benar. Karena kebenaran dan kemaksiatan itu diukur kesesuaiannya dengan tuntunan yang ada di dalam Al Quran dan Sunnah. Wallahu’alam.

wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

9 Comments

  1. Tinisyifa said,

    July 20, 2008 at 9:49 am

    Assalamu’alaikum warrahmatullah wabarakatuh,

    Hanya ingin bertanya,
    bagaimana kalo seandainya kita taaruf jarak jauh?, hanya di antara ikhwan dan akhwat yang tau , mungkin bisa di katakan tanda kutip “pacaran jarak jauh”, jika “pacaran ini di laksanakan dalam waktu lama, satu atau dua tahunan misal dan setelah siap baru akan melaksanakan pernikahan?

    adakah zinah yang telah di lakukan? apakah Islam melarang perwujudan cinta atau taaruf jarak jauh ini?
    tolong penjelasanya…..

    Jazakallah
    Wassalamu’alaikum

    admin:
    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    jazakillah khoir..

    Pastikan kembali tujuan ta’aruf itu untuk apa? Jika hanya sebatas teman dan hanya untuk berteman, jalinlah setiap komunikasi dengan si ikhwan atas sebuah manfaat yang jelas, tujuan yang jelas, dan bahasa yang jelas.

    Kalaulah pernikahan masih jauh diujung mana(blm jelas kapannya), sebaiknya batasi interaksi dengan si ikhwan. Interaksi yang intens meski itu dilakukan dengan jarak yang jauh, tetap saja akan membuaikan kita, apakah itu melalui kata-kata, ataupun angan-angan, sedangkan sebagian dari perkataan dan angan-angan itu pasti ada padanya zina mulut dan zina hati. Seberapa besar zina (meski kategorinya kecil) yang kita lakukan, wallahu’alam, tetapi tentu tidak kecil lagi, jika terus menerus kita lakukan, apalagi dalam jangka waktu yang lama. Dan semakin sering hal itu kita lakukan, semakin jauh kita dengan tujuan mulia yang hendak diraih. Harapan yang telah terlanjur dibawa tinggi, tiba-tiba dibuyarkan oleh kenyataan yang sebaliknya, pernikahan tidak terjadi, setelah ‘hubungan’ terjalin 1,2 atau lebih tahun. Pertama, waktu yang dihabiskan selama ini menjadi tak bernilai..kedua, ada banyak kerugian yang didapat..ketiga, frame kita tentang calon pasangan yang ‘ideal’(kalo dalam bahasa Islam..cari yang agamanya baik) telah terdistorsi sedemikian rupa akibat sakit hati(entah disadari atau tidak) yang kita alami, sehingga seringkali kita tidak siap dengan ‘kekurangan’ orang lain, dan cenderung menganggap bahwa dengan “pacaran” lah seseorang bisa lebih dikenali. Padahal tidak ada orang yang berpacaran yang akan menunjukkan kekurangannya seperti apa.

    Itulah mungkin, salah satu sebab kenapa mereka yang berpacaran itu sangat sulit untuk menyegerakan pernikahan, karena komunikasi yang mereka bangun adalah komunikasi pura-pura. Pura-pura menjadi manusia terbaik, pura-pura yang paling perhatian sama kita, pura-pura yang paling baik perkataannya(melalui puisi, rayuan, sms tausiah, tahajud’s miscall..hehehe), dsbnya. Sehingga ada keraguan(ntah disadari atau tidak) yang besar pada saat (terutama) si ikhwan ‘ditantang’ untuk segera menikahi si akhwat.

    Kalau memang jodoh, toh tidak akan lari kemana kan? Judul “Ketika cinta bertasbih” menurut saya memiliki filosofi, bahwa ketika cinta itu ‘dihunjamkan’ Allah SWT ke dalam hati insan yang merasakannya, maka dengan segera penyikapannya dijaga agar sesuai dengan tuntunan Allah SWT, bahasanya “cinta bertasbih”. Orang yang benar cintanya, tentu tidak akan melupakan Zat yang telah menganugrahkan cinta itu. Cara perkenalannya adalah cara yang ma’ruf, cara-cara yang jauh dari terjadinya khalwat(baik langsung maupun virtual/chating/sms mesra, telpon mesra dll), tidak berdua-duan, tidak mengumbar pandangan dan kata-kata, menyertakan muhrim, dan yang terpenting tujuannya adalah menyegerakan pernikahan.

    Jadi Islam bukan melarang/membatasi sebuah ta’aruf berdasarkan jauh dekat, tetapi lebih menekankan kepada tujuan dan cara yang ditempuh. Karena diterimanya sebuah amal, selain masalah niat, tentu saja kesesuaian cara harus menjadi pertimbangan yang utama, wallahu’alam.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

  2. Tinisyifa said,

    August 7, 2008 at 12:24 pm

    Subhanallah

    Syukran akh/ukh
    Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dunia akhirat, amin.

    admin:
    alhamdulillahirabbil’alamiin
    aamiin ya Allah..
    wa iyyakum
    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

  3. Quddus said,

    August 28, 2008 at 1:07 pm

    Assalamu’alaikum,
    jazakillah khair . .
    tulisanny alhamdulillah mengajarkan sesuatu pada saya,

    saya ingin nanya, gmn agar menjaga kesucian cinta kita pada orang yg kita cintai?
    jujur, saya mencintai seorang akhwat, namun saya dan dia tidak menjalin hubungan apa2, saya juga tidak menyatakan perasaan saya padanya, walaupun sebenarnya saya ingin, namun . . saya takut, takut malah menjerumuskan si akhwat dan saya, karena tidak bisa lagi menjaga fitrah dari Allah,

    mohon penjelasannya . .

    Jazakillah khair . .

    admin :
    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    alhamdulillah.. semoga tetap istiqomah..

    Sejatinya perasaan cinta itu sendiri adalah fitrah. Dan perasaan cinta diawal itu laksana bibit sebuah bunga. Bibit itu akan tumbuh dan berkembang jika ia terus-menerus kita sirami. Tetapi bibit itu membutuhkan sebuah legitimasi yang bernama “ijab qabul” agar ia tumbuh dengan indah dan sempurna, jika itu tidak dilakukan, maka tumbuhan cinta itu akan berbarengan dengan tumbuhnya berbagai macam rumput liar, dan ‘hama’ yang menyertai, yang setiap saat mengincar “keindahan” bunga cinta itu, merusaknya, mengurangi nilai keindahannya, dan bahkan dapat menjadikannya mati.

    Kembalikanlah perasaan cinta itu dalam penjagaan Allah SWT. Adukanlah kepada Allah SWT, dan jauhkan pikiran kita dari khayalan-khayalan mengenai si dia, hal ini berguna untuk menetralkan gejolak hati kita. Sehingga dengan itu, antum dapat melihat dan menimbang segala hal secara objektif tanpa terintervensi oleh nafsu semata. Disamping itu juga untuk menghindarkan diri kita dari harapan yang tinggi terhadap si akhwat. Jika kesiapan dan kemampuan menikah sudah ada, usahakanlah proses menuju “katakan cinta” itu dengan proses yang syar’i. Mungkin bisa dengan menjajaki melalui teman si akhwat, apakah si akhwat sudah siap untuk “proses”, ataukah justru sedang berproses dsbnya?. Jika belum siap atau memiliki kemampuan, teruslah memperbaiki diri, dan berpuasalah.

    Jadi..nyatakanlah cinta itu diwaktu yang tepat dan dimoment yang tepat. wallahu’alam

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

  4. febee...^ said,

    September 18, 2008 at 3:41 pm

    wew..
    saiia mmg bkn trmsug
    org2 yg sgd briman,
    krn org yg briman.. hny
    ALLAH swt yg twu,
    ..
    setau saiia,
    qta trlhir dr kakek n ne2k moyang
    qta, yaituu..
    nabi Adam n Hawa..
    dan qta tdak trlhir
    dg sihir ato “bimsalabim”..
    tpii, dg cinta..
    dan cinta itu, krn sbwah proses hubungan ssorg..
    dan pcran yg
    indah.. adlah, sbwah proses utk mghdirkan
    cinta yg indah..

    admin:
    puasa ngga? kalo puasa insyaAllah termasuk orang2 beriman.. :) . Cuma memang tingkatan iman itu berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain, dan siapa yang paling baik keimanannya diantara kita, hanya Allah SWT yang tahu :) .

    mmm.. terus terang saya agak bingung dengan maksud yang hendak disampaikan, tapi kira2 jawaban saya begini: Nabiyullah Adam AS dan Ibunda Hawa tentu tidak lahir dengan “sihir” ato “sim salabim” (meminjam istilah anda), tetapi diciptakan oleh Allah SWT, Rabb Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang kemudian menganugrahkan cinta kepada kedua insan itu, hingga lahirlah anak keturunannya sampai saat ini. Artinya cinta itu tidak datang dengan sendirinya juga layaknya “sihir” ato “sim salabim” tadi, tetapi ada yang menganugrahkannya, yakni Allah SWT, dan seyogianyalah perasaan cinta itu disikapi sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan Allah SWT, dan penyikapan itu tentunya bukanlah dalam bentuk berpacaran, tetapi dengan pernikahan, sebagai bentuk ketaatan dan rasa syukur kita terhadap anugrah dan nikmat yang telah Allah SWT berikan. wallahu’alam

    wassalamu’alaykum warahmatullah

  5. Laila said,

    September 19, 2008 at 2:59 pm

    assalamualaikum…
    stelah membaca blog tersebut alhamdulillah saya menjadi lebih tau dan lebih mengerti.yang saya tanyakan:bagaimana cara berpacaran yang benar menurut pandangan islam? apakah kita salah apabila kita mencintai seseorang dengan tulus apa adanya? dan bagaimana cara kita agar kita tidak bersedih apabila seseorang yang kita cintai itu meninggalkan kita ? dan satu lagi, bagaimana cara kita untuk mencintai seseorang itu karena ALLAH dengan sempurna ?
    trimakasih…wassalamualaikum.

    admin:
    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    alhamdulillahirabbil’alamiin..

    pertanyaan : “bagaimana cara berpacaran yang benar menurut pandangan islam?”. Apakah yang dimaksud dengan “berpacaran”? Apakah hal itu cara untuk menjemput jodoh, ataukah “pertunjukkan” kemesraan bagi mereka yang belum menikah dengan dalih “perkenalan”? Jika jawabannya adalah cara untuk menjemput jodoh, maka Islam menawarkan perkenalan (ta’aruf) yang syar’i. Pilihan teknisnya ada berbagai ragam, tetapi Islam hanya memberikan batasan bahwa perkenalan itu harus jauh dari perkara mendekati zina(tidak berdua2an, tidak bersentuhan, tidak saling mengumbar pandangan, dll), tujuannya jelas untuk mengarah kepada pernikahan, tidak berkhalwat, bersegera dalam pernikahan (tidak berlama-lama dalam perkenalan), dsbnya. Untuk lebih lengkap, antum dapat membaca langsung buku KW Ustadz Abu Syuqqah, atau Taman Orang yang Jatuh Cinta dan memendam Rindu, Syaikh Ibnul Qayyim Al Jauzy, penerbit Darul Falah, dan buku2 yang membahas tentang cinta dalam perspektif Islam yang benar lainnya. Atau..berpacaran yang benar menurut pandangan islam adalah hanya setelah menikah.

    pertanyaan : “apakah kita salah apabila kita mencintai seseorang dengan tulus apa adanya?”. Apakah “tulus” disini bermakna “ikhlas” atau karena Allah SWT? jika pengertian tulus disiini adalah karena Allah SWT, maka cinta seperti inilah yang mesti kita raih. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW “Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lainnya; orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah; dan orang yang tidak suka kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke Neraka. (Mutafaq ‘alaih)”. Tetapi jika kemudian makna “tulus” itu diartikan bahwa hanya karena “cinta”, tidak peduli bahwa kemudian (katakanlah) si laki-laki tidak pernah memiliki ketegasan untuk menikahi si wanita dalam waktu dekat, pokoknya sudah kadung cinta, atau ‘yang penting jalanin ajah..’ maka “ketulusan” seperti ini bukanlah bentuk ketulusan karena Allah SWT, jangan ragu-ragu untuk meninggalkan “cinta” seperti ini.

    pertanyaan: “dan bagaimana cara kita agar kita tidak bersedih apabila seseorang yang kita cintai itu meninggalkan kita ?”. Kembalikanlah segala persoalan itu hanya kepada Allah SWT. Jangan membebani diri dengan pikiran-pikiran bahwa ketika seseorang yang dalam pandangan kita adalah orang yang kita “cintai” kemudian dia meninggalkan kita, maka hilanglah “cinta” kita selama-lamanya. Sesungguhnya, ketika kita mengalami episode hidup seperti itu, yakinlah bahwa hal ini adalah salah satu “pengajaran” langsung dari Allah SWT tentang makna cinta. Jike kemudian dengan Kehadiran “cinta” orang tersebut, menuntut berbagai bentuk “kemesraan” mulai dari bentuknya yang paling halus(rindu dan pandangan mata) sampai kepada sentuhan2 “terlarang”, yang sejatinya adalah perbuatan mendekati zina, sedangkan Allah SWT Yang Maha Penyayang memerintahkan kita untuk menjauhi zina, karena begitu kejinya perbuatan itu, maka “cinta” seperti ini tidak pantas kita pertahankan. Bukankah karena “cinta” kita kepada laki-laki itu telah membuat kita meninggalkan cinta kita kepada Allah SWT?, padahal Allah SWT Maha Pencemburu, Rasulullah SAW bersabda ” Tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pujian daripada Allah maka oleh karena itulah Dia memuji Zat-Nya sendiri. Dan tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah maka karena itu Allah mengharamkan perbuatan keji. (Shahih Muslim No.4955)”. Jadi buat apa bersedih terhadap “cinta” laki-laki itu? justru kita harus bersedih jika kita meninggalkan cinta kita kepada Allah SWT, karena hanya Allah SWT lah yang akan menunjukkan cinta laki-laki yang benar dan tepat untuk kita.

    pertanyaan: “bagaimana cara kita untuk mencintai seseorang itu karena ALLAH dengan sempurna ?”.
    Sempurnakanlah cinta kita kepada Allah SWT, niscaya cinta kita kepada manusia akan sempurna. Dan semua itu adalah proses yang terus menerus serta akan penuh dengan ujian. Bersama-samalah dengan orang-orang shaleh, insyaAllah kita akan lebih kuat sampai ditempat tujuan (kampung akhirat).

    wallahu’alam.
    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

  6. soraya said,

    March 5, 2009 at 2:06 pm

    asslm. kak.. terimakasih banyak ya.. saya jadi paham, insyaAllah mau merubahnya, doakan agar istiqomah ya..
    makasih sekali lagi.. semoga Allah membalas kebaikan kk.

  7. Bitok said,

    April 11, 2009 at 1:12 am

    Assalamu’alaikum warrah matullah

    sya mw tnya. Gmna ch cranya agar kita lbh mncntai Allah dri pda mncintai pcr?? Spt coment2 d ats, bhwa bla qt ingn mncntai pcr krn 4jj. Mka qt hrs mncntai 4jj dngn smprna, krn bla qt mncntai 4jj dgn smprna, mka qt jga akn mncntai mnusia dngn smprna pla. Gmna ??

    Wasalamu’alaikum warrah matullah

    admin :
    ‘Alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Pertama, perlu diluruskan bahwa Islam tidak mengenal istilah “pacaran” dan turunannya. Jadi tidak akan pernah ada pemikiran “mencintai pacar karena Allah”.
    Kedua, adapun jika yang dimaksudkan adalah orang yang dicintai(karena mencintai lawan jenis itu adalah fitrah), maka jika ingin mencintainya karena Allah, haruslah dipahami juga dengan tuntunan yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Misalnya harus dimulai dengan niat/ motivasi yang benar..bukan sekedar nafsu antara perut dan lutut. Kemudian haruslah pula ditempuh dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan aturan Allah dan RasulNya. Bagaimana kemudian pemenuhan kita terhadap hak-hak Allah menjadi “ukuran” bahwa kita siap mencintai orang lain karena Allah. Artinya, “konsentrasi” kita mencintai orang lain karena Allah itu, adalah proses perbaikan diri sendiri, bukan terfokus kepada orang yang dicintai. Sehingga ketika mungkin hasil usaha kita tidak “sesuai” dengan apa yang kita harapkan, maka kemudian kita tidak berburuk sangka kepada Allah, tidak kecewa, dsbnya. Allahu’alam

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

  8. anis septiani asla said,

    April 19, 2009 at 10:34 pm

    salam , akh/ukh .
    saya ingin bertanya ! saat ini saya sdng suka sm ssorang , ttpi sy msh bingung , dosakah kita mencintai dia ? karena kita tidak blh mncintai seseorang melebihi cinta kita kepada ALLAH SWT.

    Jazakumullah .

  9. Ukhti G said,

    June 3, 2009 at 12:11 am

    Assalamualaikum wr wb..
    Subhanallah, nice article..

    Saya ingin bertanya.
    Bagaimana kita meyakini bahwa seseorang itu adalah jodoh yang Allah tunjukan kepada kita? Karena ternyata, begitu kuat keyakinan yang saya rasakan bahwa dia adalah jodoh saya namun selalu ada saja ujian yang membuat kelegalan mencintai dan dicintai menjadi sulit diwujudkan (pernikahan).

    Dan bagaimana jika dikaitkan dengan hadits yang mengatakan: Biarpun bumi dan seluruh isinya berusaha untuk menyatukan dua insan, jika Allah tidak berkehendak maka mereka tidak akan bersatu. Dan biarpun bumi dan seluruh isinya bersatu untuk memisahkan dua insan, jika Allah berkehendak menyatukan mereka maka mereka akan bersatu juga.

    Contoh kasus yang saya alami:
    Saya meyakini seseorang itu yang akan mejadi jodoh saya, namun ternyata semua orang terdekat saya tidak ada yang setuju karena ikhwan tersebut belum siap menikah. Di lain sisi, mereka setuju jika yang saya pilih adalah ikhwan yang lain (yang telah siap menikah).

    Jazakallah khairan..

    admin: ‘alaykumussalam wr wb
    tanda-tanda cinta diantaranya adalah “pengorbanan”. Pada posisi ini, seharusnya si ikhwan telah memiliki sikap yang jelas, akan dibawa ‘kemana’ perasaan cinta yang sudah ada. Jika si ikhwan memang bersungguh2 mencintai mbak dengan segala kelurusan niat, maka setidaknya ada 2 sikap yang mbak bisa lihat, pertama, si ikhwan akan “bersegera” memampukan diri, mempersiapkan segala hal yang terkait dengan persiapan pernikahan, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya sambil menjaga intensitas pertemuan hanya untuk sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan. Atau, jika ternyata kemampuan masih dirasa jauh dari kenyataan, si ikhwan kemudian tidak berusaha ‘memberikan’ harapan apapun kepada mbak, apakah dalam bentuk janji-janji dan sebagainya yang bisa ‘mengikat’ perasaan mbak hanya kepada si ikhwan, tetapi justru sebentuk pemahaman bahwa kalau jodoh itu adalah bagian dari rahasia Allah SWT. Kita sebagai hambaNya, hanya dituntut untuk menjemput jodoh itu sesuai dengan aturan Allah dan RasulNya. Kedua pilihan sikap diatas menunjukkan sebuah “pengorbanan”, “pengorbanan” yang ditujukan untuk sebuah niat yang lurus, pernikahan yang barokah dan diridhoi Allah SWT, insyaAllah balasan Allah sungguh indah.

    Disamping itu menikah bukanlah semata2 menyatukan 2 insan, tetapi sesungguhnya menyatukan 2 buah keluarga. Untuk itu masing2 keluarga dari tiap pasang harus dikondisikan untuk dapat memahami keinginan dan pilihan yang telah kita tetapkan, tanpa kemudian mengabaikan segala nasehat keluarga yang sampai kepada kita. Dan yang perlu diingat-ingat, bahwa segala nikmat dan karunia yang kita dapatkan selama ini, sejatinya adalah bentuk kasih sayang Allah SWT kepada hamba2Nya, banyak2 bersyukur dan bersabar, insyaAllah akan membuat kita lebih fokus pada tujuan dan proses, dan menyerahkan ketetapan hasilnya dalam timbangan Allah SWT. Allahu’alam.

    wassalamu’alaykum wr wb


Post a Comment