Tinjauan komentar SPPI CS di” Awas!Ta’aruf ..”

Komentar pertama

akh aldo berkomentar “ah anda saja yang terlalu mencari-cari kesalahan

coba liat deh, semua bagian yang di kutip dari buku itu juga sebenarnya gak salah, dan juga gak ada pewajiban so bukan bid’ah.

Masalah bahasa aja, anda seorang penulis seharusnya mengerti, terutama jika ditujukan ke kalangan muda, kata-kata “wajib” belum berarti wajib, dan semua orang udah paham itu cuma penganjuran aja (kecuali yang picik, dan emang ingin cari kesalahan, he3x”

Tanggapan SPPI : “Bersangka baik sih baik-baik saja. Tapi kalau tanpa bukti sama sekali, itu sama saja dengan membiarkan orang mempermainkan agama.

Memang bahasa perempuan pada umumnya tidak eksak. Namun hampir setiap hari saya bergaul dengan aktivis dakwah yang “bersemangat tinggi” seperti sang penulis tersebut. Dari diskusi dengan mereka, saya dapati bahwa mereka justru memperlakukan yang “wajib” itu sebagai “sangat wajib”, bukan sekadar anjuran. Karenanya, saya menganggapnya bukan sekadar persoalan bahasa.”

Tanggapan kami atas komentar SPPI : Read the rest of this entry »

Tinjauan : “Pacaran Islami ala Aktivis Tarbiyah”

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Tulisan SPPI mengenai hal ini sebenarnya sudah agak cukup lama, februari 2008. Dan pada awalnya, saya tidak terlalu menganggapnya penting, karena fenomena ‘pacaran’ yang dikira ‘islami’ itu sebenarnya terjadi dihampir semua elemen dakwah islam, apakah itu di pesantren, pengajian, lembaga dakwah kampus, ormas pemuda islam, dari dahulu hingga sekarang dll. Meskipun jumlahnya dilapangan sebenarnya tidaklah terlalu besar, artinya secara organisasitoris dan secara jama’i insyaAllah fenomena tersebut tidak akan dianggap wajar(orang yang melakukannya akan dinasehati oleh ikhwah lainnya), tidak akan dilegalkan, tidak akan didakwahkan, apalagi diislamisasikan, na’udzubillah tsumma na’u dzubillah.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah ketika ada fakta bahwa sebagian aktifis(yang mungkin sudah pernah tahu bagaimana Islam mengatur tentang hijab, khalwat, menahan pandangan, dll) itu berpacaran, lantas pacarannya pasti benar(baca: pasti islami????)? Lantas jika dikarenakan nasehat yang sampai kepada mereka menyebabkan mereka mundur dari aktifitas dakwahnya, apakah pacaran mereka harus dibenarkan agar mereka tetap eksis dalam ‘dakwah’? na’udzubillah. Read the rest of this entry »

Ta’aruf vs Pacaran.. bag 2

(lanjutan dari yang ini)

Yang perlu dipahami adalah bahwa Ta’aruf itu sendiri bukanlah amaliyah semacam ibadah Mahdah yang telah tetap rukun dan tata caranya, tetapi ia adalah anjuran Qurani agar kita saling mengenal dengan cara yang ma’ruf, dimana dari perkenalan itu, ketaqwaan seseoranglah yang menjadi ukurannya. Apakah itu ta’aruf dalam arti dan maksud yang umum atau dalam arti dan maksud yang khusus seperti ta’aruf pranikah. Allah SWT dan rasulNya hanya memberikan batasan-batasan terkait bagaimana interaksi yang sesuai dengan syariat, dan mengenai detail teknisnya seperti apa, dikembalikan kepada yang bersangkutan. Lantas apakah benar penalaran SPPI tentang kesimpulan beliau yang menyatakan adanya sejumlah aktifis dakwah yang berusaha menetapkan aturan yang tidak berasal dari Allah dan RasulNya(atau jangan-jangan SPPI sendiri yang justru melakukannya..)??, untuk itu kami hendak menyoroti 10 bentuk (yang katanya) bid’ah (sesat!!!..tung..tung..tung..hehehe) yang ditemukan SPPI didalam buku itu : Read the rest of this entry »

Ta’aruf vs Pacaran.. bag.1

(Jawaban atas 3 tulisan, ‘Pacaran Sesudah Menikah Lebih Nikmat?’,‘Ta’aruf dan Pacaran Islami, mana yang lebih efektif’, dan ‘Awas, Taaruf praNikah = bid’ah sesat!!!’)

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Jawaban ini akan disusun berdasarkan urutan sub judul diatas, kebenaran hanyalah dari Allah Azza wajalla.

1. Tinjauan ‘Pacaran Sesudah Menikah Lebih Nikmat?’.

SPPI berkata “Benarkah pacaran sesudah menikah itu nikmatnya melebihi pacaran sebelum menikah? Benarkah pacaran itu halal hanya jika sesudah menikah?

Eh, saya tidak hendak memperdebatkannya. Di sini saya hanya mengajak kita semua untuk kembalikan makna kata pacaran ke makna aslinya (bukan makna palsunya). Lalu Anda bisa menilai sendiri apa benar bahwa pacaran setelah menikah itu nikmat banget, bla bla bla.

Kata “pacar” berasal dari bahasa Kawi (Jawa Kuno). Artinya: “calon pengantin“. Kata ini kemudian mendapat akhiran “-an” yang bermakna kegiatan. Jadi, pacaran adalah aktivitas persiapan menikah.

Nah, mungkinkah persiapan menikah dilakukan sesudah menikah? Mustahil. Titik.” Read the rest of this entry »

Mencintai karena Allah..

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, Sholawat dan salam tercurah kepada junjungan kita Rasulullah , Muhammad Sholallahu’alayhi wassalam, keluarga beliau, para sahabat beliau, para ulama dimasa lalu dan masa sekarang yang berjalan dengan tuntunan beliau, dan seluruh kaum muslimin dimanapun berada, yang menjadi manusia-manusia akhir zaman, yang berhadapan dengan bermacam-macam ideologi “gila” dari segala penjuru, sekulerisme, pluralisme, liberalisme, materialisme, atheisme, dsbnya baik dalam rupanya yang “lembut” sampai kepada rupanya yang “kasar”, yang berusaha menjauhkan seorang muslim dari identitas yang sebenarnya. Alhamdulillah..kita masih ditakdirkan Allah Subhanahu wata’ala sebagai seorang muslim, dan semoga dimudahkan untuk melihat yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Read the rest of this entry »