May 18, 2008 at 3:25 am (Artikel, Renungan, ta'aruf)
Oleh Yunni Touresia
Teringat saat pertemuan kami untuk pertama kalinya, suatu sore di bulan Ramadhan yang cerah di tahun 2002. Ifthor yang paling berkesan sepanjang kenangan di kepala saya. Pertemuan pertama saya dengan Abi, panggilan sayang saya untuk suami tercinta. Melalui proses yang cukup singkat, ta’aruf, bertemu orang tua sekaligus khitbah hingga Walimatul ‘Ursy, hanya memakan waktu tak lebih dari dua bulan. Subhanalloh…
Mungkin karena proses singkat itulah, menyebabkan kami berdua sampai saat ini masih menjalani proses yang namanya ‘pengenalan diri lebih dalam’. Karena selalu ada hal-hal baru yang kami berdua temukan. Sehingga kalimat pemakluman sering kali benar-benar diperlukan. Kalau tidak, maka akan ada kesedihan yang tertoreh karenanya. Akan ada derai airmata yang menghujani malam-malam saya, setiap saya merasa di ‘acuhkan’.
Sebagai seorang wanita, saya sudah menepis harapan untuk sosok romantis yang selalu bisa hadir di setiap momen penting dalam hidup saya. Karena untuk Abi, jangankan mengingat tanggal anniversary kami, atau ulang tahun saya. Ulang tahunnya sendiri saja beliau selalu terlupa. Read the rest of this entry »
Leave a Comment
May 18, 2008 at 3:16 am (Artikel, Renungan, pacaran islami, ta'aruf)
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Ta’aruf forever..! Ya..:) berbicara ta’aruf dengan pasangan..adalah pembicaraan yang tidak pernah usang. Kali ini kita tidak hendak berbicara mereka yang ta’aruf terus tetapi ngga nikah-nikah :p, tetapi ta’aruf pranikah yang ‘berakhir’ dengan pernikahan. Bahwa adalah dugaan yang salah, dengan berta’aruf pranikah yang singkat dan padat itu, menjamin kita mengenal secara detail pasangan kita.
“Tuh kan..makanya pacaran..kenali dulu luar dalamnya.. gimana sifat-sifatnya..ga perlu segera nikah..ntar cerai lagi..”(pro pacaran said)
…eit..nyamber aja yah.. :hmmm:..emangnya kalo pacaran, butuh berapa lama untuk bisa saling kenal?
“Nah..kalo itu sih tergantung ‘pelakunya’, apakah udah merasa cukup atau belum..kadang setahun..kadang 5 tahun..kadang 12 tahun..kadang hamil duluan..kadang..mmmm…yang penting jalanin aja dulu deh..” (pro pacaran said again
) Read the rest of this entry »
1 Comment
May 13, 2008 at 9:04 am (Artikel, Renungan, pacaran islami)
Source
Uneq-Uneq – Thursday, 13 January 2005
Tanya: Assalamu’alaikum Wr Wb…
Mba Ade Anita yg dirahmat Allah SWT, aku masih bingung mengenai hubungan pra nikah yg syar’i itu seperti apa? apakah seperti yang aktivis dakwah kampanyekan yaitu melalui murobi ataukah seperti konsep manajemen cintanya Aisha Chuang, jd dikonsep mgt cintanya aisha memapaparkan bahwa kita dapat mencari pasangan hidup kita tanpa proses murobbi , dibuku itu hujjahnya sangat rasional sekali dgn bdasarkan pada alquran dan assunnah..
mohon dijawab… Af1 apabila ada kata2 yg menyakiti ukhti..
Syukron Jazakumulloh ….
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Jawab:
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Aku tidak tahu apa isi panjang lebarnya buku Manajemen Cinta Aisha Chuang Read the rest of this entry »
4 Comments
May 13, 2008 at 1:43 am (Artikel, pacaran islami)
“Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata itu bisa berzina dan zinanya adalah pandangan. Lidah itu bisa berzina dan zinanya adalah perkataan. Kaki itu bisa berzina dan zinanya adalah anyaman langkah. Tangan itu bisa berzina dan zinanya adalah tangkapan yang keras. Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.”(Diriwayatkan Bukhari-Muslim, An Nasa’iy dan Abu Daud).
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Anda pernah mendengar ada ungkapan “Bagaikan membangun rumah pasir ditepi pantai” ? Nah..apa pula itu, kata orang melayu. Ungkapan itu kira-kira bisa kita artikan sebagai berikut, kita mengusahakan sesuatu yang “baik” tetapi ditempat yang kurang baik. Kita sedang membangun rumah pasir, ketika rumah pasir itu baru berdiri setengah, ianya disapu ombak. Kita perbaiki lagi bagian yang rusak itu, tidak lama kemudian disapu ombak kembali, begitu seterusnya, hingga tenaga kita habis, bangunan itu pun tak jadi-jadi, sedangkan kita berfikir bahwa usaha kita “sangat” bermanfaat. Itu kalau bicara membangun rumah pasir, yang tidak ada sangkut pautnya dengan perkara baik atau buruk, perkara pahala atau dosa, perkara manfaat atau mudharat. Bagaimana jika kemudian perkara yang kita usahakan itu terkait dengan pahala dan dosa?? Seharusnyalah diri kita lebih hati-hati dalam berkata-kata dan menyampaikan sesuatu.
Ada yang menarik dari tulisan “Dosa kecil = perkara kecil”, Read the rest of this entry »
1 Comment