December 23, 2007 at 9:20 am (Artikel, pacaran islami)
Karya : Redaksi Buletin Studia
STUDIA Edisi 021/Tahun I
tentang-pernikahan.com – Bagi remaja, bila istilah itu disebut-sebut bisa membuat jantung berdetak lebih kencang. Siapa sih yang nggak semangat bila bercerita seputar aktivitas pacaran ini? Semua orang yang normal pasti seneng. Apalagi yang digambarkan dalam cerita film dan novel, baik yang happy ending maupun unhappy ending kisah-kasih itu. Tetap mengasyikan. Pokoknya aktivitas baku syahwat yang memang bukan barang baru di kalangan remaja itu terus diekspos dan dibuat seolah-olah legal.
Punya tampang sekeren personelnya “Westlife”? Dijamin bakal dikejar-kejar kaum Hawa. Baik yang mengejar ingin dikencani maupun yang ingin nagih utang (hua..ha..ha..). Coba aja bayangin, wanita mana sih yang nggak deg-degan kalo lihat tampangnya si Mark atawa Kian? Wuih, histeris, Brur! Maklum cowok ABG yang tergabung dalam kelompok Westlife ini cool banget. Jadi nggak heran kalo anak cewek merasa nyaman dapat gacoan model begitu. Read the rest of this entry »
Leave a Comment
December 22, 2007 at 3:49 pm (Artikel)
source : diambil dari sini..
Oleh: Iwan Yanuar
“Maaf Akhi, bukannya saya tidak menghormati permintaan akhi. Tapi rasanya kita cukup menjalin ukhuwah saja dalam perjuangan. Saya doakan semoga akhi menemukan pasangan lain yang lebih baik dari saya.”
Amboi, bagaimana rasanya bila kalimat di atas dialami oleh para ikhwan? Bisa saja langit terasa runtuh, hati berkeping-keping. Sang pujaan hati yang kita harapkan menjadi teman setia dalam mengarungi perjalanan hidup menampik khitbah kita. Segala asa yang pernah coba ditambatkan akhirnya karam. Cinta suci sang ikhwan bertepuk sebelah tangan.
Ya drama kehidupan menuju meghligai pelaminan memang beragam. Ada yang menjalaninya dengan smooth, amat mulus, tapi ada yang berliku penuh onak duri, bahkan ada yang pupus ditengah perjalanan karena cintanya tak bertaut dalam maghligai pernikahan.
Ini bukan saja dialami oleh para ikhwan, kaum akhwat pun bias mengalaminya. Bedanya, para ikhwan mengalami secara langsung karena posisi mereka sebagai subyek/pelaku aktif dalam proses melamar. Sehingga getirnya kegagalan cinta –seandainya memang terasa getir- langsung terasa. Sedangkan kaum akhwat perasaanya lebih aman tersembunyi karena mereka umumnya berposisi pasif, menunggu pinangan. Tapi manakala sang ikhwan yang didamba memilih berlabuh dihati yang lain kekecewaan juga merebak dihati mereka. Read the rest of this entry »
4 Comments
December 18, 2007 at 7:38 pm (Artikel, Renungan, pacaran islami, ta'aruf)
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Ketika membaca judul tulisan SPPI yang berjudul “begitukah definisi pacaran yang benar”, saya berharap bahwa SPPI akan menjelaskan dengan gamblang, 2 ide “besar” yang sangat umum, yang beliau sandarkan pada arti “pacaran” yang tercantum didalam KBBI. Kedua ide itu adalah “bercintaan” dan “kekasih tetap”. Artinya jika ingin dikatakan “halal”, beliau harus menjelaskan dengan gamblang “bercintaan” seperti apakah yang dimaksud?? dan “kekasih tetap” yang seperti apakah yang dimaksud??
Tetapi sekali lagi kita harus “kecewa”, karena tulisan itu tidak hendak menjelaskan maksud dari definisi yang beliau “yakini” itu. Tulisan itu hanya “sekedar” pembelaan dengan beberapa asumsi subjektif SPPI, jauh dari kebenaran ilmiah, bertolak belakang dengan kenyataan dan terlihat sangat terburu-buru. Read the rest of this entry »
3 Comments
December 14, 2007 at 2:25 pm (Artikel, Renungan, pacaran islami, ta'aruf)
oleh: Syaikh Aidh Al Qarni
Jangan pernah merindukan sesuatu secara berlebihan. Karena, yang demikian itu menyebabkan kegelisahan yang tak pernah padam. Seorang muslim akan bahagia ketika ia dapat menjauhi keluh kesah, kesedihan dan kerinduan. Demikian pula ketika ia dapat mengatasi keterasingan, keterputuasaan dan keterpisahan yang dikeluhkan para penyair. Betapapun yang demikian itu adalah tanda kehampaan hati.
“Tidakkah kamu melihat orang2 yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Rabbnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?” (QS Al Jatsiyah: 23) Read the rest of this entry »
3 Comments
December 11, 2007 at 1:39 pm (Artikel)
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Pertanyaan “siapa sajakah ulama terkemuka yang menetapkan fatwa haramnya ‘pacaran’?” disini mengandung beberapa konsekuensi.
Pertama, yang terkait dengan ke-termuka-an seorang ulama. Standard apa yang harus dimiliki oleh seorang “ulama terkemuka”? Dan siapakah “ulama terkemuka” menurut SPPI?? .
Kedua, apakah pacaran itu term “syariat”/”fiqh”? Ataukah hanya istilah lokal indonesia yang mewakili sebuah fenomena hubungan laki2 wanita tanpa/belum nikah? Sehingga untuk itu, yang perlu kita kenali adalah, fenomena apakah yang diwakili oleh kata “Pacaran” itu, dan merujuknya kepada penjelasan para Ulama terhadap fenomena yang terjadi, sebagai sebuah cara untuk menarik kesimpulan apakah “Pacaran” itu halal ataukah haram. Read the rest of this entry »
2 Comments